Laboratorium - Merah

Laboratorium - Merah
Chapter 45 Maria Aggy.


__ADS_3

Setelah berlama-lama sesak dan berkeringat di ruang bimbingan kesiswaan, akhirnya selesai juga masalah itu. Dengan menuju batasnya, yaitu anti *******.


Lelaki dengan perawakan Indo-Eropa itu mungkin sudah kesal atau apa. Dia memang tak sopan, tapi berani. Aku mendapat rasa berani dan percaya diri itu pada dirinya. Selebihnya penasaran dengan latar belakang itu. Siapa tahu masa lalunya kelam.


Guru bimbingan kesiswaan membubarkan seruan tajam Amar, menyuruh lelaki perawakan Indo-Eropa itu keluar ruangan, lantas mengikuti pelajarannya. Begitu juga dengan Amar. Bu Disa juga ingin bicara empat mata dengan Erina.


Ada banyak hal yang kuurus, terutama dengan rumah lamaku yang menyempil di hutan. Terbengkalai, banyak berdebu juga sangat kotor dan bau.


Aku memaksakan langkah kakiku menjejali ruangan-ruangan pengap itu. Laptop hitam mengkilatku hancur, kacanya retak parah. Tapi bukan itu tujuanku.


Yang paling parah adalah: aku lupa mematikan televisi selama berhari-hari. Dengan menelan ludah aku memberanikan diri mencabut listriknya. Alhasil memang sangat panas, betulan membuat tanganku kesetrum. Agak sakit, tapi ini tetap bukan tujuanku.


Aku berjalan membuka pintu kamar yang terkunci, memutar kunci lantas membukanya. Pintu berderit. Maklum, memanglah pintu yang sudah tua dan karatan. Kasurku lusuh, seprei berwarna kecoklat-coklatan menandakan seberapa kotor dan menjijikan ranjang tidurku. Kipas angin juga belum mati, patah-patah berputar. Aku rasa tagihan listrik akan bertambah banyak sepuluh kali lipat.


Naskah milik Mark Steffano. Betul. Itu tujuanku kembali ke tempat lusuh ini. Jangan sampai hilang. Aku melupakan banyak sekali barang penting karena kejadian beberapa hari lalu. Tragedi di laboratorium milik Neny sialan.


Beruntung kertas itu masih bersih dan terselip di tas sekolahku. Aku memungutnya, membolak-balik. Mengecek apakah masih lengkap atau tidak. Bagus. Aku menghembuskan napas lega. Kalau kertas ini hilang semua bisa hancur. Masih banyak misteri yang belum terkuak. Aku punya banyak rencana dan wacana, harus terlaksana dengan lancar dan mulus.


Ada sesuatu yang harus aku lakukan untuk saat ini. Menghubungi kakak perempuan 'angkat'ku. Sudah berhari-hari aku tidak memberi kabar. Siapa tahu dia punya berita baru, atau sedang mengkhawatirkanku.


Sambil terduduk di ranjang lusuh aku menjejali ponselku, mencari kontak itu. Rumah sudah lengang, hanya menyisakan suara kipas angin tua berderit patah-patah.


Eh? Berhari-hari aku tidak menghubungi dan tidak ada riwayat telepon sama sekali? Ini aneh. Aku yakin sekali kakak pasti sangat mengkhawatirkanku, meskipun tidak pernah menjenguk. Rekeningku juga kosong. Tidak ada saldo masuk. Tidak. Aku rasa aku tak membuat kesalahan apapun. Ada apa dengannya?


"Ayolah... kenapa lamban sekali?" Aku mendesis menyadari telepon hanya berdering. "Cepat, ayo, angkat! Sialan!"


5 menit berlalu tanpa balasan. Aku mulai berdiri mencengkeram kertas erat-erat. Sialan. Dia membuatku khawatir. "Ayolah, kumohon!!"


Telepon diangkat! Aku berseru tertahan, tergesa berseru.


"Kak! Kau baik-baik saja 'kan?" Aku memulai. Namun tak ada balasan selama beberapa detik. Lengang. Apa yang terjadi?


"Kak?" Aku mengulangi. "Kak! Jawab aku! Kau baik-baik saja?"


"Maria Aggy..." bukan. Itu bukan suara kakak perempuanku. Itu mungkin suaminya atau apa. Jelas itu suara berat dari seorang lelaki. "Maria Aggy...?" Dia sepertinya sedang membaca nama kontak atau apalah itu. Aku jelas mendengar suara ejaan yang terpatah-patah menyebut namaku.


"KAK!!!" Aku berteriak kalap mulai khawatir. Aku rasa ini juga bukan suara suaminya. Ada apa?!


Sayang telepon di matikan. Hanya meninggalkan nada pendek selama beberapa detik. Astaga. Otakku belum sampai untuk memahami semua ini. Apa yang terjadi?


Aku berlari keluar rumah, tanpa sekalipun mengunci kamar ataupun pintu depan. Peduli setan dengan hewan-hewan liar ataupun pencuri merangsek masuk dalam rumahku. Aku tak peduli dengan 'gubuk' ini.


Ada yang tak beres. Semuanya carut-marut. Ini bukan suatu kebetulan yang lazim. Aku butuh seseorang, terutama dengan Erina. Seseorang harus membantu mengatakan atau sekedar menenangkanku.


Aku berlari menerobos semak belukar dan akar kering di tanah, suara kicauan burung dan deritan serangga menggema di langit-langit. Meskipun ini siang hari, namun hutan serasa ramai oleh fauna. Aku berlari cepat, terus menuju jalan raya. Aku harus segera. Segera!


***

__ADS_1


"Dimana Kak Erina?" Aku berseru tergesa pada petugas di proyek setengah jadi laboratorium Erina. Dia menghentikan kerjanya sebentar, meletakan pensil dan kertas sketsa di meja.


"Kau sedang apa, Nak? Membawa tas ransel dan seragam sekolah. Kau baru pulang sekolah dan sudah bermain-main?" Pekerja itu menertawaiku. Ayolah, sialan sekali! Tak tahukah seberapa paniknya aku?


"Dimana Kak Erina?!" Aku mengulangi pertanyaanku, merapikan anak rambut di dahi.


"Nyonya Erina sudah pulang sejak beberapa menit yang lalu." Pekerja lain yang membalas, lebih sopan pula.


Astaga. Sungguh terlalu. Ratusan kilometer aku tempuh dengan berlari cepat, cemas menanti bus lewat di siang yang mendung seperti ini. Lantas berjalan puluhan kilometer lagi untuk sekarang menunggu bus dan pulang ke rumah Erina. Tapi aku harus melakukannya, daripada hanya melihat para pekerja mengerjakan proyek setengah jadi ini.


Aku langsung berlari, tanpa berpamitan, apalagi mengucapkan terimakasih atas respon pekerja yang lebih sopan tadi.


***


Bus berhenti di halte. Pintu terbuka secara otomatis, dan dengan tergesa aku berlari mencari tempat duduk. Tak terlalu sesak, mungkin hanya ada 8-9 orang di dalam bus, di tambah dengan pengemudi. Aku menghembuskan napas lega, setelah hampir setengah jam menunggu bus di depan halte.


Bus berjalan anggun membelah jalan raya di siang hari yang mendung, menyalip beberapa kendaraan seperti mobil dan pick-up. Aku menempelkan pipi di kaca, membuat embun terbentuk di sana. Jemari ku gerakan, membentuk sebuah bentuk melalui embun itu.


Ponselku berdering, memecah keheningan, membuat beberapa penumpang paruh baya menoleh. Entah karena kaget atau apa. Erina menghubungiku.


"Astaga. Kau dimana, Aggy? Kau sudah pulang sekolah? Lihatlah ini sudah jam berapa dan kau tidak ada di rumah." Erina cemas menanyakanku.


"Aku baik-baik saja, Kak. Sekarang ada di bus sedang menuju pemberhentian selanjutnya. Maaf tak memberi kabar. Aku tadi mampir sebentar ke rumah lamaku." Aku balas menjelaskan, dengan pipi yang masih menempel di kaca bus. Jalanan di luar ramai, dengan langit yang murung ingin segera menangis.


"Ah. Kau sebentar lagi sampai, 'kan? Pastikan sudah sampai rumah sebelum hujan turun. Aku mengkhawatirkanmu, tahu."


"Sesuatu? Seberapa penting?"


"Sangat penting."


Tapi aku belum memberitahukan detailnya pada Erina. Aku sengaja membiarkannya menunggu dalam penasaran. Hingga akhirnya telepon di matikan setelah basa-basi terakhir.


***


Bus merapat di halte, tempat yang dekat dengan rumah Erina. Aku turun, sekedar mengucapkan terimakasih pada pengemudi dan berlari tergesa menuju ke rumah.


Erina menunggu, aku tahu itu. Aku tak perlu mengetuk, dan pintu di luar memang tidak di kunci. Aku meluncur deras berlari ke arah dapur, mendapati Erina yang santai meneguk coklat panas sambil memandang diam ke luar jendela dapur.


"Aku tahu ada hal penting yang ingin segera kau katakan, Aggy. Tapi aku lebih yakin kau belum melahap apapun dari tadi. Lihatlah, kau saja masih memakai baju sekolah. Astaga, kalau kau mau keluar, alangkah lebih baiknya jika ganti baju dulu." Dia mulai mengomel. Baik. Itulah kebiasaannya mulai sekarang setelah benar-benar terpisah dengan Catrina. Mungkin penurunan sifat genetik, atau sifat yang menurun. Astaga! Aku rasa sebelumnya dia tak pernah mengomel sepanjang ini.


"Ganti baju dulu. Setelah itu kau makan siang bersamaku." Dia memberi instruksi dan aku mengalah. Aku berjalan lesu ke arah kamar, mengganti baju dan duduk nyaman di kursi dapur. Erina menyiapkan coklat panas.


"Udara sedang dingin. Kenapa kau tak memakai syal atau hoodie?" Dia mengaduk gelas coklat panas, lantas meneguknya lagi.


"Aku belum sempat, dan aku juga lupa dengan hoodie-ku."


"Mulai besok aku yang siapkan barang-barang di sekolahmu."

__ADS_1


Astaga! Aku tersedak makanan. Secepatnya aku meraih gelas coklat panas. "A-apa?!" Aku tak percaya Erina bisa mengasuhku sedemikian rupa.


"Kenapa? Aku hanya akan menyiapkan hoodie dan kotak makan siang."


"Kotak makan siang?" Ya Tuhan, ini terlalu. Aku bukan anak kecil lagi.


"Iya. Kenapa? Bukankah jika membuat sendiri akan lebih sehat daripada kau harus beli di kantin. Kita tidak tahu bahan apa saja yang di campur oleh si penjual. Dan bakteri adalah musuh terbesar, bisa saja alat masaknya penuh dengan bakteri dan tercampur pula dalam makanan kantin. Coba bayangkan, sangat tidak sehat, 'kan?"


Aku menyeringai, menghela napas.


"Baiklah. Terimakasih sudah menyempatkan waktu." Hanya itu. Dan kami diam untuk sementara, fokus pada makanan di depan kami.


10 menit makanan dan coklat panas sudah tandas. Erina membereskan, sesekali aku ikut membantu mencuci piring.


"Kau mau bicara dimana? Di teras?" Dia menawarkan.


"Dimana saja boleh. Ah, duduk disini saja bahkan sudah boleh." Aku tak mau berlama-lama dengan basa-basi tak penting, aku benar-benar ingin tahu kejadiaan janggal tadi.


"Apa yang ingin kau katakan? Masalah dengan sekolahmu?"


"Bukan."


"Lantas?"


Aku membuka ponselku, menunjukan riwayat panggilan yang kosong. Lebih tepatnya hanya riwayat panggilan yang mulai dulu.


"Apa maksudnya?" Erina mengernyitkan dahi, tidak mengerti.


"Ini nomor ponsel kakak perempuan angkatku. Sudah tiga hari aku tidak memegang ponsel.


"Setiap hari dia menanyakan kabarku, meskipun aku tak tahu mengapa dia tidak langsung saja menjenguk ke rumahku saja. Tapi anehnya, selama tiga hari itu kakak perempuanku sama sekali belum menghubungi. Bahkan uang bulanan juga tidak dikirimkan olehnya.


"Sungguh bukan uang bulanan itu yang aku tunggui. Namun aku hanya merasa khawatir saja padanya setelah tiga hari berturut-turut itu sama sekali tak memberiku kabar. Dan lebih anehnya lagi ketika tadi aku mencoba menghubunginya.


"Kau tahu hasilnya, Kak? Selama 5 menit panggilan hanya berdering, tidak di angkat. Dan aku mencoba menghubungi lagi, mencoba lebih bersabar. Dan untuk panggilan terakhir itu, dia mengangkatnya.


"Aku lebih terkejut saat mendengar suara jawaban. Suara lelaki! Berat. Awalnya aku mengira hanya suami dari kakak angkatku, namun aku baru menyadari hal ganjil ketika dia mengatakan namaku, tapi seperti mengeja. Aku menduga dia mengeja nama di daftar kontak penelepon. Bukankah itu aneh? Bagaimana bisa ponsel kakak angkatku di pegang oleh lelaki asing."


Aku tak peduli wajah heran Erina. Aku menyeka peluh di pelipis, menenangkan napasku secara mandiri. Aku agak lega telah bercerita. Aku hanya takut sesuatu yang buruk terjadi pada kakak perempuanku.


"Aku ingin berkunjung ke rumahnya. Mencoba memastikan keadaannya." Aku memberi usul. Menatap wajah tegang Erina.


"Aku akan ikut. Kau tak boleh pergi sendirian terus, Aggy. Aku akan pastikan keadaanmu baik-baik saja."


Aku mengangguk setuju. Untuk masalah ini, aku rasa adalah sebagai prioritas. Perasaanku menjadi buruk. Untuk masalah yang lain, seperti naskan milik Mark Steffano, pelaku pembunuhan Emmi yang keliru, biarlah nanti aku mengurusnya.


Aku hanya ingin hidup tenang. Dengan segala aktivitas rutin yang sederhana. Tanpa dibebani oleh kecemasan apapun, sungguh. Akankah aku bisa merasakan hidup damai seperti itu? Mengapa ******* selalu saja mengejarku?

__ADS_1


Sebenarnya cukup banyak yang aku butuhkan dari Erina. Termasuk dengan menganalisis naskah pemberian Mark Steffano dan kertas serta buku yang aku curi dari laboratorium terkuruk itu beberapa waktu lalu. Cukup banyak, hingga aku tak sempat memilih yang mana dulu untuk menyelesaikannya.


__ADS_2