Laboratorium - Merah

Laboratorium - Merah
Chapter 30 Maria Aggy


__ADS_3

Ketegangan masih tak henti-hentinya menyelimuti kami berdua. Sebentar, aku menatap Erina. Keringat dingin membasahi. Kulihat betapa lelahnya wajah wanita itu. Masih kuatkah kami melawan banyaknya pengikut Neny?


"2-6 jam, Aggy!" Sekali lagi Erina mengingatkan, menandakan dia sudah siap.


"Pecahan itu berguna. Maka bawalah".


Aku mengangguk mengerti kemudian mengekor wanita itu. Pintu itu di dekatinya. Dan untuk terakhir kali dia menghela napas, bersiap dengan serangan selanjutnya.


Pintu ruangan itu telah di buka olehnya. Namun ternyata sepi. Semua alat laboratorium juga rapi. Aku dan Erina melihat ke segala arah dengan bersiap jikalau ada serangan mendadak.


Dimana para pekerja? Aku bertanya pada diri sendiri, juga kebingungan.


Erina, seperti tahu apa yang aku pikirkan. Dia mundur beberapa langkah, kembali menghela napas untuk kesekian kalinya dan sekarang dengan hati-hati dia berjalan maju. Dan aku mengekornya.


"Menunduk!" Belum sempurna kata menunduk itu, segala penjuru tempat sudah di tembaki oleh peluru. Kami berdua tiarap. Berlindung di tempat seadanya.


Aku paham. Mengapa berbagai alat laboratorium itu di singkirkan, mengapa para karyawan itu menyingkirkan bayangan mereka dari tempat ini. Ternyata memang benar ada serangan mendadak.


Aku menahan napas sambil menutup mata. God! Apa ini akhir dari semua? Aku merasa seluruh karyawan Neny memegang pistol dan berusaha menembaki kami.


Tapi Erina yang cekatan itu menarik lenganku membuat kami berpindah tempat berlindung di balik meja laboratorium.


"Dari mana mereka mendapat pistol?" Pertanyaanku tak di gubris olehnya. Erina tetap was-was.


Belum sempat aku melempari pertanyaan lagi, Erina sudah melompat, berdiri melindungi tubuhku. Sebuah moncong senjata tepat mengarah ke kami.


Seorang karyawan pria kelihatan sedang mengancam. Gerakan serta caranya memang amatiran, menandakan dia bukan penembak yang handal. Atau mungkin malah memang tak tahu menahu cara menggunakan pistol dengan jitu.


"Letakan!" Erina berseru memberi peringatan. Tapi pria itu tak menggubris, malah bergetar hebat dengan keringat yang membasahi seluruh badannya.


"Aku bilang letakan. Atau kau mau kepalamu itu meledak?!"


Peringatan yang kesekian kalinya tak di gubris. Maka wanita muda itu dengan lihai menendang pistol dari tangan lawan, lantas merebutnya. Sekarang Erina menyodorkan pistol itu, balik mengancam.


Pria yang payah. Sudah kuduga memang seorang yang amatiran. Dia sekarang mengangkat kedua tangannya, tapi Erina seakan tak memberi ampun malah benar-benar menembak kepalanya. Darah mengalir begitu deras, dan seketika tubuhnya ambruk.


Tidak! Sama sekali belum selesai. Karyawan disini bukan hanya pria payah itu. Maka Erina kembali menarik lenganku dan kami berlari.


Sepersekian detik, serbuan tembakan peluru masih saja menyertai. Menembakan peluru elit, mengenai lawan sulit. Untuk apa coba menghambur-hamburkan peluru mereka tapi tak mampu mengenai kami berdua? Tak tahu sasarannya, tapi hanya berlagak sok mengancam. Padahal kami sama sekali tak gentar.


Kami masih terus melompat kesana-kemari. Menghindar. Terkadang Erina juga balas menembaki, tapi percuma. Seberapa tangkas dan jitu tembakan wanita itu, tak akan mampu menandingi jumlah karyawan Neny yang banyak.


"Jalan terakhir adalah lari!" Dia berseru padaku, menandingi suara tembakan peluru di segala penjuru tempat.


Aku mengangguk, tetap mempererat genggamanku pada tangannya. Kami dengan gesit berlari dan menghindari peluru-peluru itu. Bahkan jeda beberapa detik sekarangpun berguna.


Erina berhasil menarikku keluar. Erina sembarangan membuang pistolnya. Dan pada saat itulah aku sadar, sepintar-pintarnya otak seorang Neny, dan sepenurut apapun bawahannya itu, tak akan pernah mampu menandingi semua keturunan keluarga Marcues. Sebesar ambisinya untuk menjadi terhormat dan seberapa gilanya dia pada kedudukan pangkat, juga tak akan pernah bisa mengalahkan seorang Marcues.


Mobil melaju perlahan-lahan kemudian membelok persis saat tikungan. Seketika kami melewati jalan tol dan segala pemandangan hanya sebatas jalanan beraspal dan kendaraan-kendaraan besar. Panas dari terik matahari masih saja menyengat.

__ADS_1


Aku membuka jendela mobil kemudian menyegarkan wajahku yang sudah babak belur dengan angin. Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Erina menyodorkan sebotol air mineral, dan tanpa pikir panjang aku meneguknya. Ku lihat raut mukanya yang mendadak santai sembari menyetir dengan kecepatan standar.


"Mereka tak mengejar?" Tanyaku khawatir sambil terus mengintai ke arah belakang. Namun Erina menggeleng.


"Sebentar lagi" jawabnya.


Aku kembali meneguk botol air mineral itu sampai habis setengahnya. Hari ini sungguh aneh dan betulan menyiksa jiwa ragaku. Apalah maksud Neny dengan mengeksekusiku, heh?


"Untuk sementara kita ke rumah kakakku dulu saja. Percayalah kau tak akan aman kalau pulang ke rumahmu".


***


Perjalanan selama 15 menit itu usai. Kami memasuki permukiman, kemudian melewati sungai yang panjang, dan akhirnya mobil memasuki pelataran sebuah rumah sederhana namun berkesan sangat nyaman.


Erina turun dari mobil, mengawali, kemudian membuka pintu tempatku duduk. Dan tanpa ragu, aku mengikutinya masuk ke dalam rumah itu. Dipersilahkannya aku untuk duduk.


Selang beberapa menit, Erina datang dengan seorang wanita yang postur dan wajahnya agak mirip dengannya. Hanya saja rambutnya lurus dan matanya sipit. Kulitnya kuning langsat.


Mereka berdua berbincang sejenak kemudian menoleh padaku.


"Maria Aggy?" Wanita berambut lurus itu bertanya padaku dengan wajah ramah. Dan aku hanya mengangguk.


"Aku Catrina Beatrice, kakak perempuan Erina. Kami selisih dua tahun saja. Dia 24 dan aku 26." Wanita itu (yang sekarang akan ku panggil dengan Catrina) mengambil kotak obat.


Dia mengambil perban dalam kotak, kemudian mengobati dahiku. Mengelap sisa darah dan tak lupa dengan obat merah.


"Menginaplah disini untuk beberapa hari kedepan" Catrina menawari, dan aku mengangguk.


"Ya, ya, aku tahu banyak yang akan kau tanyakan Aggy. Tapi tahan dulu sebentar. Kita makan saja dulu, aku tahu kau lapar karna tak memakan makanan buatanku tadi" Erina tersenyum.


Dan yah. Siapa pula yang menyangka akhirnya akan jadi seperti ini? Dan siapa pula yang mau memakan makanan pemberian dari musuh. Meski aku belum tahu sifat Erina saat itu, tapi aku bersikeras untuk tidak mempercayainya.


Kami bertiga sudah berada di meja makan menyantap masakan Catrina. Wanita itu luwes dan masakannya khas. Sudah tak pernah aku makan seenak ini setelah ibu dan kakak meninggalkanku. Hanya berupa mie instan atau masakan ngawur yang aku coba-coba.


"Kami tinggal hanya berdua. Ayah ibu sudah meninggal saat usiaku masih 12 tahun. Ya memang waktu itu nenek kami mengurus, tapi beliau sudah wafat saat aku berusia 18 tahun" Catrina memulai.


"Aku bukan ilmuwan seperti adikku. Aku dokter hewan, dan kebetulan hari ini klinik sedang tutup. Jadi untuk hari ini sampai dua hari kedepan aku akan menetap di rumah".


"Ngomong-ngomong, kak Erina, apa benar hubunganmu dengan Neny hanya sebatas atasan dan bawahan?" Aku mulai bertanya pada Erina demi memuaskan rasa penasaranku.


Erina berhenti menyendok nasinya, kemudian menjawab, "sebenarnya bukan hanya itu. Memang benar Bu Neny menawariku pekerjaan dan dengan gaji sepuluh kali lipat dari karyawan lain. Tapi dia juga berjasa besar bagiku saat itu.


"Dulu...aku bisa di bilang sebagai orang yang agak kekurangan dana setelah lulus kuliah. Siapa juga yang tak mau dengan tawaran sepuluh kali lipat dengan gaji para karyawan itu?


"Aku pun juga sudah bertahun-tahun bekerja pada Bu Neny, dan sudah menganggapnya sebagai kakakku sendiri. Sudah banyak dia mengajariku tentang pelajaran sains yang belum aku ketahui.


"Bertahun-tahun lamanya lagi. Seperti yang ku ceritakan padamu sebelumnya tentang Edward Marcues itu. Ilmuwan terkenal, dan katanya keturunan Marcues ke-169. Fantastik!

__ADS_1


"Bu Neny merasa kalah saing hanya karna banyak penemuan tekhnologi Marcues. Bu Neny yang tak mau kalah itu mencoba mengeksplorasi, mencoba mengalahi sang Marcues. Tapi tetap saja, dunia hanya mengakui Marcues sebagai ilmuwan terhebat pada masa itu." Dia meneguk susu hangat. Kemudian melanjutkan, "namun hari demi hari berlalu, dan ide gila Bu Neny muncul pada saat itu. Dia mencontek, plagiat dari karya-karya Marcues. Mencoba mencontek bayi tabungnya pada tahun berapa, eee... aku sudah lupa.


"Pokoknya Bu Neny memiliki catatan bayi tabung, tapi segala kemampuannya ada di luar nalar. Eumm...contohnya seperti kamu, tapi di lebihkan lagi oleh Bu Neny,"


"Maksutnya dia juga membuat bayi tabung?" Catrina menyela tak sabaran.


"Ya! Benar! Sayangnya aku tak tahu apakah bayi tabung buatan Bu Neny itu berhasil atau tidak. Entah apa jadinya penemuannya yang itu aku juga tak tahu".


"Jadi benar, aku putri Edward Marcues?"


"Sayangnya, iya."


Dan aku terdiam. Hanya mengaduk-aduk makanan di meja. Meski aneh, meski di luar nalar, tapi aku harus menerima kenyataan itu. Tak ada yang bisa ku perbuat lagi selain menerima takdir Tuhan. Meski aku hanya ingin menjadi anak kandung ibu angkatku, meski aku hanya ingin menjadi seperti gadis normal pada umumnya.


Makan siang sudah usai. Seluruh piring di cuci bersih oleh Catrina. Erina menunjukan kamar tamu bagian mana yang harus aku tempati. Dan dia menunjukan kamar bagian depan. Masih rapi dan wangi, meski kata Erina, kamar itu tak pernah di tempatinya.


Selang beberapa jam, matahari mulai tenggelam, di gantikan oleh bulan purnama. Cahayanya menerobos masuk lewat celah-celah dan menembus masuk dari kaca kamar ini. Aku memandang rembulan yang indah itu. Sambil terus merenung. "Apa Agam sudah pulang, ya?"


"Apa dia dapat juara ya?"


"Kalau iya, juara berapa?"


"Dan bagaimana kabar Agam, ya?"


Ahhh...begitu sunyinya malam. Harusnya kalau bukan karna Neny, aku sudah bisa mengayuh sepedaku secepat mungkin dan membeli buku bajakan di kios paman Agung. Dan jika aku beruntung, aku bisa bertemu dan berbincang dengan Agam. Ahh...semua karena Neny seorang.


Benar juga! Aku baru teringat dengan buku dan beberapa kertas yang aku curi dari laboratorium tadi.


Aku mennyambar hoodie yang ada di gantungan baju kemudian merogoh sakunya. Buku dan kertas-kertas itu masih utuh. Hanya sudah tak rapi dan warna kuning seperti hasil tumpahan kopi itu seakan menandakan berapa tuanya buku ini.


Buku itu mulai kubuka. Beberapa halaman awal memang kosong. Dan halaman berikutinya banyak tulisan yang agak susah aku baca.


Andai jika aku mengerti rumus-rumus kimia, mungkin aku dapat memahaminya. Tapi semuanya sama sekali tak ku pahami.


Namun yang jelas bagian buku hanya menunjukan dokumen hasil dari objek bayi tabung serta jenis kelamin yang diinginkan.


Tak ada yang menarik lainnya. Buku hanya berisi bagaimana cara melakukan proses bayi tabung sembari menyuntikkan zat-zat serta DNA lain dengan aman.


Aku menutup buku kusam itu. Menurutku, sama sekali tak memberi petunjuk. Kemudian aku beralih pada beberapa gumpalan kertas yang sengaja aku remas sedemikian rupa dengan tujuan melancarkan aksi pencurianku.


Aku mulai membaca salah satu. Ternyata sebuah teks laporan pembuatan bayi tabung. Demi apa? Bayi tabung lagi?


Tapi tersontak kembali mendapati nama Marcues dalam teks itu. Dan tak lain lagi, sudah jelas teks ini milik Marcues yang di curi Neny kan?


Dan ayolah! Aku masih tak paham apa itu fertilisasi, zigot, dan perbedaan DNA serta RNA itu. Padahal aku sudah pernah mendapat materi ini waktu SMP. Dan mulai saat itu aku menyesal tak menunjukan usaha apapun dalam belajar Ilmu Pengetahuan Alam. Seharusnya jika aku pelajari, mungkin saja buku tua dan kertas-kertas ini dapat aku mengerti.


Tapi ya sudahlah. Meski aku berbeda dengan gadis-gadis pada umumnya, aku tetap seorang manusia yang butuh tidur atau beristirahat. Jadi, daripada aku memikirkan perihal ini saja hingga otakku terbakar, mungkin, lebih baik aku tidur saja. Sialan kau Marcues! Sialan kau Neny! Enak saja memberiku masalah sebanyak ini.


***

__ADS_1


__ADS_2