Laboratorium - Merah

Laboratorium - Merah
Chapter 48 Steyfano Marcues


__ADS_3

Pagi itu tertutup oleh kabut tebal. Sekarang sudah masuk musim dingin. Hujan deras dari semalam membuatku tertidur dengan nyenyak. Aku baru saja turun dari lantai atas, dan ku tatap meja makan saat ini. Eliza sudah ada disana. Bersama dengan Karel, si bocah autis kesayangannya.


"Sudah sehat?" Kataku menatapnya yang sibuk meletakkan beberapa lauk yang dimasaknya pagi ini.


Dia tersenyum.


"Aku baik-baik saja. Bahkan lebih. Ayo sarapan bersama. Kita tak pernah sarapan bersama bukan?" Katanya.


Aku menatap kearah dua bocah itu berkali-kali. Karel hanya diam saja di kursi rodanya. Dan Eliza yang menanti jawaban ku disana.


"Tidak. Aku harus segera berangkat." Kataku.


Gadis itu hanya merengut.


"Lain kali saja." Ucapku.


Ia hanya mengangguk pelan. Aku berjalan ke arah bocah laki-laki autis itu. Mendekat ke arahnya. Dan kemudian mengelus rambutnya perlahan.


Aku sampai di sekolah pagi itu. Lagi-lagi satpam itu menghadangku. Dengan muka yang lebih serius.


"Kau di tunggu di ruang bimbingan konseling oleh Bu Disa, Steyf. Kali ini kau tak boleh mengabaikannya."


Cih. Padahal ini masih terlalu pagi. Aku segera saja masuk ke ruangan itu, dengan tas ransel yang masih ku gendong di punggung. Kosong. Tak ada Bu Disa disini. Yang ada hanya Amar, dan beberapa guru bk. Aku duduk di sebuah kursi. Tak peduli akan apapun.


Lantas pintu di ketuk dan muncul lah guru itu. Kali ini membawa berbagai berkas yang entah untuk apa. Ia membiarkan ku sejenak. Tak sekalipun menyapa ku atau pun mengataiku dengan nada tingginya. Mungkin dia sangat sibuk pagi ini. Sampai pula pada saat ketika dua orang masuk ke dalam ruangan itu secara tiba-tiba. Yang satunya adalah gadis berambut pendek itu lagi. Bersama dengan... Orang tuanya mungkin saja. Terlihat benar-benar masih muda dan... Seperti aku benar-benar mengenalnya. Tapi tidak. Dimana?


"Permisi.." wanita itu memberi salam dengan hormatnya.

__ADS_1


Guru itu duduk di bangkunya. Disamping Amar yang hanya diam tak berani berbicara sama sekali. Guru itu mempersilahkan kedua wanita ini duduk. Aku memperhatikan mereka di setiap langkah mereka menderu di ruangan itu. Dan gadis lugu itu duduk benar-benar di sampingku. Lantas guru sialan itu menatapku.


"Aku sudah memintamu untuk datang bersama orang tua mu, Steyf! Dimana mereka?" Guru tak beradab itu mengatakannya dengan sedikit membentak.


Cukup untuk membuatku memutar kepala menatap ke arah gadis lugu di samping ku yang tengah bersama dengan seorang wanita cantik di sampingnya.


"Kalau kau mau, gali saja makam nya." Kataku sungguhan tak dapat mengatur napasku.


Seisi ruangan penuh dengan keterkejutan. Guru itu tak mampu mengatakan apapun. Harus aku apakan dengan sebuah cutter yang sempat ku masukkan ke celana tadi?


"Kalau begitu dengarkan baik-baik, Steyf. Sebagai seorang senior kau cukup sombong, apa alasan mu membuat Amar babak belur seperti itu?"


Dia kembali bertanya. Dan aku menjawabnya tanpa ada celah keheningan sedetik pun.


"Lantas apa yang harus dilakukan ketika kau..." Aku menunjuk ke arah guru di depan ku itu dengan jari telunjuk ku yang lumayan panjang.


Keheningan terjadi kembali. Aku menatap gadis lugu itu di samping ku.


"Jangan terlalu gegabah, Steyf... Kau sudah 2 kali membuat kesalahan. Kalau kau sampai 1 kali lagi membuat hal yang serupa kami tak akan segan-segan untuk mengeluarkan mu." Kata guru itu lagi mencegahku untu berkata sesuatu pada gadis berambut pendek itu.


"Keluarkan saja aku, maka akan sangat tenang hidup ku. Uang ku tak akan pernah habis, rumah ku ada dimana-mana. Aku cukup pintar sebagai seorang murid. Bahkan dunia luar menerima ku lebih adil."


Semua nya kembali terdiam. Bahkan tak ada satu pun orang yang ada di ruangan ini untuk berkata-kata. Ku lihat sekali lagi wanita itu yang sepertinya pernah ku lihat, mengelus punggung anak nya atau mungkin saja adiknya aku tak tahu. Mungkin saja mereka kaget akan sikap ku. Atau pun merasa tak nyaman dengan kata-kataku.


"Maaf nyonya. Kita bisa bicara berdua beberapa menit kedepan. Maafkan kami juga atas kelancangan siswa kami," guru itu berkata dengan nada yang lebih halus dari pada sebelumnya ketika berbicara dengan ku. Sialan.


Aku kembali menatap bocah laki-laki ingusan itu. Mengapa dia hanya diam? Kenapa dia tak mengeluarkan sepatah dua patah kata sekalipun? Apa yang membuatnya membeku hanya terdiam sebagai seorang pengecut disana. Sungguhan. Aku sudah muak sekarang. Dengan sikapnya yang sok polos ia membohongi semua orang. Memanipulasi keadaan.

__ADS_1


"... Apalagi dirimu. Amar. Aku mengenalimu lebih dari seorang junior ku. Sudah seperti seorang kakak yang selalu membuntuti adiknya. Lihat dirimu baik-baik. Sebagai seorang laki-laki pengecut, kegilaan mu itu tidaklah penting. Suka kau pada Emmi? Bahkan kau merelakan rumah mu di gusur karena keluarga bocah cantik nan anggun itu? Sampai rela tak menangis kau mendapati seluruh barang-barang berharga mu hancur? Cantik betul gadis itu sampai tak peduli seberapa terlukanya orang tua mu. Benar begitu? Tergusurnya rumah mu itu kau anggap sebagai kisah romantis pertemuan pertama mu dengan gadis seperti dirinya? Aku lebih tahu dari pada kau, Amar. Lebih tahu dari pada seorang kakak. Lebih tau dari pada orang tua. Lebih tahu dari pada Marcues."


Ku tatap lekat-lekat bocah laki-laki itu. Seorang bocah laki-laki yang aku buntuti setelah aku mendapat peringatan kemarin. Ya. Tak ada yang tahu soal itu. Dan hanya aku saja yang mengetahuinya.


"Aku memukulmu berusaha untuk menyadarkan mu pada kebutaan dunia. Berusaha mengingatkan mu pada adik mu yang terbengkalai di rumah kumuh. Dan ibu mu yang mati-matian menghidupi keluargamu yang tak lagi utuh dan sempurna. Bahkan itu pun tak membuat mu sadar. Kau menyebutku sebagai seorang anak pembunuh? Kau bahkan lebih dari seorang pembunuh, Amar."


Benar-benar sudah seperti plot twist bagi mereka. Semua hanya berisi tentang keheningan dan diam berjuta bahasa. Antara terkejut dan tak tahu harus apa mereka bicara. Lagi-lagi aku menatap gadis lugu dengan seorang wanita di sampingnya. Entah apa yang lagi-lagi ku rasakan. Menatap tubuhnya yang ramping dan wajahnya yang tergambar jelas dengan riasan wajah yang natural itu ku rasa pernah melihatnya tak jauh dari kehidupan ku di masa lalu. Namun, kapan itu terjadi? Mungkin saja dia juga sama. Menatap ku seperti tahu suatu hal dari ku yang aku sendiri bahkan tak tahu. Apa pula hubungannya?


Arahan pandangan ku berubah seketika menuju gadis itu. Rambut pendeknya itu menunjukkan keanggunannya. Ia menatapku dengan tatapan yang entah apa maksudnya. Mungkin saja ia tak percaya bahwasannya aku benar-benar membuntuti Amar.


"A-apa? Tidak mungkin.."


Ya. Bu Disa mungkin saja muak dengan ku. Dia hanya menyuruh kami semua keluar dan kembali mengikuti pelajaran. Membiarkan yang tersisa di sana hanyalah mereka berdua. Guru-guru tak beradap itu dan seorang wanita yang bisa saja ku sebut sebagai wali dari gadis lugu itu. Dari kejauhan ku tatap punggung nya kokoh berjalan. Mengikuti langkah Amar. Tidak. Bagiku masalah ini belum berakhir karena istirahat nanti aku diminta lagi untuk menghadap Bu Disa. Meskipun aku sendiri tak mau melakukannya.


Aku masuk ke dalam kelas ku. Langsung saja aku duduk di bangku kelas itu. Tak ada pembicaraan apapun karena memang aku tak punya teman sebangku. Tak ada yang mau sebangku dengan ku. Kecuali Edra waktu itu. Hm. Edra yang malang.


Pintu tiba-tiba saja di ketuk. Terlihatlah seorang gadis berkaca mata. Dengan rambutnya yang panjang tergerai sempurna.


"Oh... Saya hampir lupa. Ayo masuk." Guru di depan kelas ku itu berkata padanya. Maka ia pun masuk ke dalam.


Ia menghadap ke kami. Siapa lagi ini? Tercium sudah bebauan perusak hidupku. Ia tersenyum menatap kami.


"Anak-anak, maaf sebelumnya saya lupa memberi tahu. Jadi anak-anak, sekolah kita ikut serta dalam melakukan pertukaran pelajar. Ini sebagai bukti dan contoh bentuk kerja sama dalam ASEAN. Untuk saat ini, negara kita sedang bertukar pelajar dengan negara Vietnam. Tak perlu khawatir, selain cantik dia juga sudah mahir berbahasa Indonesia." Guru itu mengoceh tiada henti.


Sampai pada akhirnya, semua orang terdiam menanti mulut kecil nan manis itu mengatakan siapa namanya.


"Halo, saya Anh."

__ADS_1


__ADS_2