
Dan aku merangkum semuanya dalam buku catatanku. Beginilah isinya :
-Edward Marcues keturunan keluarga bangsawan terhormat dan terpintar ke-169. Seorang pria asal Belanda yang terhormat. Di karuniai dua orang anak laki-laki yang di akui dalam hukum.
-Sejarah keluarga Marcues yang tak banyak di ketahui orang ini kadang memang menimbulkan rasa penasaran. Namun, dalam karya Mark Steffano di jelaskan dengan rinci bahwa : Keluarga Marcues memiliki nafsu yang tinggi sebagaimana seorang manusia, dan lelaki. Keturunan yang ratusan jumlahnya itu terus berkembang hingga sekarang.
-Mark Steffano juga menceritakan bahwa kematian Marcues itu hanya sebuah kebohongan. Mark memberanikan seorang diri menelusuri jejak lelaki yang amat terkenal itu. Mulai dari tempat kediaman keluarganya, hingga dari media luar manapun.
-Mark mewawancarai masyarakat yang tinggal di blok sekitar rumah kediaman Marcues sebelum mereka semua pindah ke daerah lain. Dia menuliskan bahwa : masyarakat setempat akan segera berkemas dan pindah ke daerah lain karena merasa takut. Alasannya adalah, mereka mengetahui bahwa putra kandung Marcues masih hidup dan melakukan segala aktivitas dalam rumah yang tak karuan bentuknya sekarang.
-Mark kembali memperoleh informasi dari masyarakat setempat. Dia mulai menulis dalam buku catatan, seperti apa yang di katakannya dalam naskah ini. Mark bilang : Masyarakat takut terhadap putra Marcues, satu-satunya korban yang masih hidup dalam peristiwa mencengangkan beberapa tahun lalu. Putranya ini di duga adalah pelaku. Banyak sekali orang yang mengatakan. Jadi, sesuai kepercayaan masyarakat setempat, anak laki-laki yang masih anak-anak ini di duga adalah anak yang sial, pembawa petaka, bocah kematian. Demi kepercayaannya itu, masyarakat setempat meninggalkan tempat mereka masing-masing. Pakaian, harta berharga, ternak mereka, semuanya di bawa seakan berniat mengungsi dari gempa bumi.
Lembar pertama sudah penuh dengan catatan mengani Marcuesm. Belum lengkap ku tulis semua karena memang naskah pemberian Mark Steffano belum lengkap ku baca. Aku memutuskan beristirahat sebentar dengan memejamkan mata.
Entah mengapa juga kesedihan, kekecewaan, kemarahan menyeruak dalam otak. Ibu, kakak, atau Marcues mereka asuk dalam otakku. Memintaku membayangkan wajah masing-masing.
***
Jam 4 pagi dan aku terbangun dari tidur lelap. Dengan menguap dan rambut yang kusut aku berjalan menuju kamar mandi. Sayang air mengalir dengan volume yang kecil. Dan baru teringat olehku, ini musim panas dan air sungai hanya sedikit mengaliri pipa rumah.
Selesai berurusan dengan mandi, aku menyambar seragam di tumpukan pakaian di lemari.
Kelas sudah ramai, dan ini baru pertama kali. Biasanya jam sepagi ini murid-murid pemalas belum berangkat.
"Hei! Pelaku pembunuhan Emmi sekarang di ragukan oleh banyak orang," si ember bocor, bocah tercerewet yang tak lain adalah Amar itu mengawali percakapan dengan teman sebangkunya. Mampu ku dengar karena volumenya cukup keras.
"Oh ya? Tapi dia kan di penjara, anggap saja kasus ini selesai"
"Tidak. Mana ada maling yang mau ngaku. Tidak semudah itu juga pelaku pembunuhan mengaku pada pihak berwajib"
"Huh? Lalu maksudmu polisi menangkap sembarangan orang agar kasus ini di anggap sudah selesai oleh banyak orang?"
"Ya, ya, tepat sekali. Mungkin polisi beranggapan bahwa menangkap orang asal agar kasus di anggap selesai oleh masyarakat. Kan unjuk rasa itu sudah tak ada. Atau, polisi bisa saja memaksa si lelaki itu menyerahkan diri".
Aku menoleh pada bangku di sampingku itu. Makin lama pembicaraan Agam dan teman sebangkunya, maka makin ramai juga kelas. Sekitar 8 orang sekarang berdebat sok menghakimi dan sok tahu tentunya.
__ADS_1
"Lantas kalau begitu, siapa pembunuh Emmi itu?" Agatha ikut nimbrung.
Bulu kudukku berdiri. Seluruh badanku bergetar hebat. Sekali lagi kepanikan ini menyelimuti tubuhku membuatku tertunduk layu. Tidak! Mereka tak boleh tahu bahwa aku pelakunya. Se-tak pentingnya diriku, setidaknya aku tak ingin di akui sebagai pembunuh. 2 orang yang mati sia-sia di tanganku itu, akan menyimpan misteri tersendiri bagi mereka.
"Aggy" Amar menyambar asal membuat seketika kumpulan 8 orang itu menoleh padaku. Semakin hebat juga getaran dalam tubuhku. Tidak. Ini situasi buruk!
"Kalian jangan percaya dengan gadis pendiam sepertinya. Pendiam bukan berarti polos dan seorang autis seperti yang kalian kira. Dia yang terakhir kali bersama Emmi dan kebetulan sebelumnya Emmi juga keluar dengannya sebelum mereka berdua menghilang. Sus..." Amar menyeringai memojokkanku.
"Kau masuk akal juga. Tapi dia bilang Emmi menyelamatkannya dari pembunuhan. Tapi tunggu dulu sob, seorang Emmi Hannabelle yang anggun itu sepertinya tak mungkin melakukan aksi seperti itu. Aku paham betul, meski kawannya itu seorang bangsawan, sahabat sejati, atau saudarapun, tak mungkin Emmi mengorbankan dirinya sendiri demi nyawa si orang lain itu". Seorang teman menimpali. Dan matilah aku. Mereka mulai mengangguk-angguk seperti setuju dengan argumen itu.
Apa yang mereka katakan benar. Emmi Hannabelle sang anak pejabat kota X, si kaya, pintar, dan terhormat itu akan lebih memilih menjadikanku samsak jikalau memang kami berdua di kejar. Mungkin dengan cara mendorongku agar dia bisa lolos.
Aku bahkan masih terdiam menunduk menatap buku-buku pelajaran. Wajahku masam. Harapanku hanya satu : ingin secepatnya bel tanda pelajaran akan di mulai segera berbunyi demi lari dari pernyataan-pernyataan sialan ini. Mereka semua memojokkanku yang masih terdiam menunduk. Ahhh...betulan sial!
"Lihat kawan, dia mungkin takut kalau tindakan kriminalnya itu terungkap" Amar terkekeh dan di susul yang lain.
Kau terlalu muda untuk tindakan kriminal. Lagi. Kata-kata itu menyeruak masuk dalam pikiranku membuatku teringat dengan caraku membunuh gadis sialan itu. Kehormatan itu akan selalu menyertainya meski nyawanya telah melayang. Membunuh Emmi ternyata sama saja menjerumuskanku ke dalam lubang permasalahan yang tak akan usai.
"Mengakulah kau penjahat!"
"Kalian menuduhku karena kalian membenciku, bukan? Mengapa?! Karena aku jelek?! Karena aku bodoh?! Karena aku aneh?! Karena aku suka membaca novel?! Atau karena aku pendiam?!" Aku berseru-seru membuat seisi kelas terdiam memandang aku yang masih tertunduk. Dan pada akhirnya aku menangis.
Kelas menjadi lengang. Semua mata tertuju padaku. Sesekali murid perempuan membisikan sesuatu pada temannya sambil menatap ke arahku.
"Karena..." Amar memulai lagi. Menyeringai. "Kau payah!" Seisi kelas tertawa terpingkal-pingkal setelahnya. Cukup lama, tak peduli denganku yang masih tersedu-sedu.
Cukup lama sehingga bel berbunyi membuat mereka tergesa-gesa berlari untuk segera duduk di bangku masing-masing. Dan aku yang payah ini menyeka air mata dengan kasar. Membuat wajahku kelihatan semakin payah! Telat! Bel itu tak mampu menyelamatkanku. Semuanya hanya menangis, dan menangis.
***
5 menit berlalu dengan semua ejekan-ejekan basi itu. Sayang tak membuatku lega karena salah seorang guru pun seperti enggan masuk dalam kelas penuh drama ini. Yang ada aku makin stres karena ejekan Amar dan yang lain. Sangat di sayangkan juga, andai Agam hari ini tidak mengikuti lomba seni lukis dan dapat melihat semua kelakuan hina ini padaku. Mungkin saja dia akan membantu dengan sekedar melerai atau membelaku. Tetap mungkin.
"Hei payah!" Amar memulai lagi dengan tatapan tak ramah. Diikuti pula dengan lirikan seisi kelas seakan menunggu kami beradu mulut membela harga diri masing-masing.
"Sebelum kau mati sebaiknya mengaku saja dulu. Kelakuan busukmu itu tak akan selamanya tertutupi oleh muka palsumu" salah seorang laki-laki lain menimpali. Segera sekumpulan anak-anak itu menambahi dengan cekikikan.
__ADS_1
"Kalau tahu begini jadinya, harusnya aku menyatakan perasaanku dulu pada Emmi. Sekiranya, aku bisa menikmati waktu berharga kami, hahaha" sekali lagi laki-laki yang sama.
"Hei! Kau pikir Emmi gadis cantik pujaan banyak lelaki itu mau dengan bocah sepertimu" Amar cekikikan dan beberapa dari mereka mengiyakan.
Aku masih menatap dengan tatapan kosong. Serta pikiranku ini campur aduk. Aku bodoh. Apakah aku harus sukarela menyerahkan diri pada polisi? Meskipun iya, mungkin mereka akan terkejut setengah mati mendengar pernyataan seorang gadis usia 16 tahun membunuh teman sekelasnya karena kasus pembullyan.
Bully. Terdengar sederhana namun bagi korbannya sangat merusak mental, jiwa, dan raga. Menusuk sampai ke hati mematikan susunan otak polos dan lugu seorang manusia dalam berbuat baik. Seorang sepertiku yang dulu baik-baik saja, dengan konspirasi campuran DNA-DNA oleh Edward Marcues yang membuatku menjadi seperti monster, hingga tak dapat ku temukan dimana letak manusiawi dalam jiwaku sekarang ini.
Murid yang mencelakakan temannya sendiri, seperti hanya sekedar memukul. Yang kebanyakannya adalah korban bully. Justru merekalah yang di salahkan, dianggap keji, dianggap orang yang tak punya jiwa manusiawi. Tapi andai orang-orang tahu, bagaimana rasanya rusaknya jiwa manusiawi itu ketika di bully. Kata-kata yang sederhana. Tapi rasa dan pernyataan yang keji.
Seorang lelaki memecah keheningan yang sebentar. Ku tafsirkan kemungkinan usia 17-18 tahun. Sudah jelas dia kelas 12. Dengan postur tinggi dan mata yang seperti bersinar itu membuatku benar-benar terdiam, merasa ada sesuatu dalam seorang yang kelihatannya dingin ini.
Dia membawa beberapa lembar kertas di tangannya yang kelihatan kokoh. Sungguhan, dari wajahnya ini, sepertinya bukan orang Indonesia tulen. Meski wajah itu seperti dominan lokal, tapi jika dilihat sekilas seperti tercampuri darah Eropa, entah berapa tetes.
"Wah! Sepertinya Aggy akan ketemu dengan ahlinya" Amar lagi-lagi memulai.
"Ahli?"
"Ya. Kau tak tahu laki-laki ini? Dia anak seorang pembunuh, sob".
Seisi kelas menatap lelaki itu. Dan anehnya juga tak ada respon sama sekali. Dia malah menatapku dengan tajam seperti ingin menerkam. Jujur saja, kontak mata membuatku agak grogi. Jadi aku mengalihkan perhatian ke arah mana saja.
Lagi. Amar tak mau berhenti juga. Dia bertepuk tangan sangat keras membuat bising saja. "Apa jangan-jangan kalian pelaku pembunuhan Emmi ya?" Dia menatapku kemudian lelaki tinggi berparas Indo-Eropa itu.
"Wah, jadi menarik" seorang lagi menimpali, hingga mereka bersorak-sorak dengan kegembiraan masing-masing. Sungguh bodoh. Orang yang tak tahu menahu bukti, hanya ikut dengan argumen tak jelas.
"Apa yang kalian lakukan?" Dia berbicara. Menatap masih dengan tatapan dingin, hingga seisi kelas lengang balas membisikan sesuatu pada teman sebangku masing-masing.
"Jujur saja aku sudah muak dengan Emma-Emmi itu" dia meletakkan kertas di meja guru balas maju dua langkah ke depan mejaku.
"Kasus bully lagi? Cih, membosankan." Sekarang bukan ke arah Amar, melainkan aku. Aku bahkan hanya diam seperti tak dapat membuka kunci di dalam mulut.
"Kau siapa?". Pertanyaan pertamaku, tak di gubris.
"Hoho! Bravo! Bravo! Ternyata mereka sekongkol, sob".
__ADS_1