
Dua hari sudah aku tinggal di rumah Erina, lebih baik. Erina memperhatikanku, mengingatkan makan, mandi, dan apalah itu. Sudah seperti ibuku sendiri.
Konflik dengan Amar terus menjadi permasalahan utama untuk saat ini, seakan menghalangi semua masa-masa hidup tenang milikku.
Benar. Aku mulai tenang. Erina meracik obat penawar untuk hasrat membunuhku yang tak dapat di tahan. Membuat langkahku serasa ringan. Sehingga aku merasa semua sudah baikan. Namun kecuali satu. Amar.
Astaga! Jujur saja aku sudah lelah dengan sikap si cecunguk itu. Hanya karena anak seorang pejabat? Sungguh terlalu. Semua guru, semua orang, semuanya seakan melindungi spesies macam itu. Sudah seperti hewan yang terancam punah saja.
Aku menimang-nimang kembali, aku rasa juga tak ada pilihan lain selain membicarakan ini dengan Erina. Ini agak sulit. Tapi Bu Disa, wali kelaku agaknya sudah kecewa. Maka lebih terlalu lagi jika aku tidak memberi surat keterangan panggilan wali murid itu.
"Nah, aku mendapat resep racikan ini dari Kak Catrina sih... bagaimana menurutmu?" Erina sibuk mencoba sup iga, menyeruput kemudian selalu merasa ada yang kurang.
Aku tersenyum getir, dengan pandangan kosong.
"Hmm, aku rasa sudah cukup. Nah. Sup iga sudah siap!" Erina bersemangat menyiapkan makan malam, menyajikan semangkuk sup iga di depanku. Asapnya mengebul, menggugah selera makan. Aku selalu suka semua makanan jika itu di makan bersama dengan orang yang berbaik hati.
Aku mulai mengapresiasi, mengatakan apa saja yang membuat lawan bicara senang. Ayolah, aku sudah 'numpang' hidup dengan Erina, serta makan gratis pula. Lagi pula sup iganya memang enak, tak kurang sedikitpun. Maupun itu rasa asin, pedas, atau manis, semuanya tercampur dengan sempurna.
"Bagaimana sekolahmu hari ini? Apakah menyenangkan? Maafkan aku terlalu sibuk dengan pekerjaan. Aku sedang mengawasi pembangunan proyek untuk tempat praktikum nanti." Erina membenahi posisi duduk, siap menyeruput kuah sup.
Aku sedikit tercenung. Sekolah? Ah, semuanya sungguh buruk. Bahkan hari ini juga termasuk hari terburuk di lingkungan sekolah. Aku menelan ludah. Sepertinya aku harus menceritakan semua. Dari A hingga Z. Semua! Tanpa terkecuali. Bahkan tentang Emmi payah itu.
"Dan, yeah. Proyek kerjaku akan segera selesai. Para petugas mahir dalam mendesain ruangan praktikum agar aman, nyaman, dan enak di pandang. Aku rasa tak terlalu sulit untuk mendapat beberapa karyawan di awal." Erina menambahkan, masih dengan mata berbinar-binar. Sesekali membenahi anak rambut di dahi.
"Apa sekolahmu buruk? Kau baik-baik saja 'kan?" Begitu tambahnya setelah mendapatiku yang terdiam cukup lama. Aduh, bagaimana ini? Astaga! Mengapa semuanya menjadi runyam?
"Anu..." bibirku kaku. Tapi mau tak mau harus ku lakukan. Ayolah...!
"Ya? Kau mau memberitahukan sesuatu, bukan?"
Aku mengangguk pelan. Menatap matanya perlahan.
"Aku sebenarnya benci dengan diriku sendiri, Kak. Aku benci semuanya, bahkan takdir. Keberuntungan? Entahlah. Tak pernah menyertai diriku." Aku memulai dengan sedu sedan.
Erina memandangku prihatin, namun tak menyela, justru memperhatikan dengan seksama dan senyum tulus yang mengambang.
"Terutama Marcues! Ya. Mengapa aku membencinya? Karna dia menciptakan diriku seperti ini. Menjadikanku kelinci percobaannya. Teramat kejam! Bukankah hidup ini tidak adil? Aku hanya ingin hidup normal seperti gadis lain. Hanya itu. Tak lebih."
"Namun sebelum aku mengerti apa yang terjadi padaku, sayang sekali aku sudah melenceng, berbuat hal yang tak manusiawi. Bukankah itu juga salah Marcues?"
Aku menghembuskan napas. Sekarang saatnya aku memberitahu. Tak peduli bagaimana respon Erina nanti.
"Percayakah, Kau, Kak, jika aku mengatakan bahwa aku adalah gadis pembunuh? Yang jejaknya sama sekali belum tercium oleh manusia?" Aku menggigir bibir. Ini sulit.
Lihatlah! Sekarang wajah Erina terlipat, memandangku lamat-lamat. Sepertinya belum mau berkomentar, jadi aku melanjutkan.
"Aku tidak tahu, dan aku tidak ingat apapun sebelumnya. Aku merasa terpojok dan aku menghabisi teman sekelasku. Aku membuang jasadnya di tong sampah, membiarkannya membusuk hingga ada seorang yang menemukan pemandangan mengerikan itu. Namun setelah kejadian mengerikan itu, entah mengapa tubuhku bergetas hebat. Napasku terengah-engah seperti sehabis maraton. Dan aku sangat ketakutan."
__ADS_1
Lengang. Meja makan menjadi hening. Lenyap sudah suara sendok makan beradu dengan mangkuk kaca. Hanya menyisakan suara serangga yang berderit dari luar rumah, serta hembusan angin yang menerpa wajahku.
"Aku sungguhan tidak tahu apa yang terjadi padaku, Kak! Aku benci diriku. Aku benci Marcues. Kenapa aku tidak mati saja? Mengapa?!" Aku mencengkeram rambut, tertunduk dalam. "Kejam sekali, bukan? Aku tahu aku tak bersikap manusiawi."
"Tidak, Aggy. Sungguh aku sudah tahu semua gejala-gejala itu. Aku sudah tahu sebelum kau menyadari secara mandiri. Aku sendiri mempelajarinya, mencari cara agar kau bisa sembuh dan menjadi gadis biasa seperti impianmu."
"Benarkah?" Aku membelalak terkejut. Mata itu, mata itu hitam dan indah, menusuk hatiku sangat dalam seolah memberikan secercah harapan.
"Jika kau gadis biasa, mungkin aku tak akan sejauh ini membawamu. Bukan karena apa-apa, tapi Catrina sudah jatuh cinta padamu. Lantas memintaku menjadikanmu seperti adikku sendiri. Sayang aku rasa aku juga merasa jatuh cinta padamu." Erina menyentuh ujung-ujung jemariku, tersenyum.
Hatiku sumringah. Bukankah ini pertanda baik? Orang yang dengan senang hati menerimaku meskipun tahu betapa mengerikan dan menjijikannya diriku.
"Aku berjanji akan selalu menjagamu. Aku tahu bahaya akan mengincar. Percayalah. Kematian Bu Neny bukan akhir dari semua. Kita akan bertemu dengan hal baru, dan aku yakin itu.
"Oh, ya. Aku yakin bukan ini topik utama yang ingin kau katakan padaku. Aku yakin pasti ada hal lain. Bukankah tentang sekolahmu?" Erina menyelidik. Benar juga, aku mengagumi caranya membaca pemikiran lawan bicara.
"Sudah dua hari aku absen dari kelas. Dan aku lupa, teman sekelasku menyebabkan konflik di antara kami. Wali kelasku memintaku memanggil wali muridnya." Aku menjelaskan.
"Ah, begitu. Mungkin aku bisa membantu dengan berkomunikasi baik-baik dengan gurumu."
***
Pagi hari, jam 6 pagi. Erina sudah berteriak memintaku cepat mandi, tidak lupa mengingatkan dengan gosok gigi atau apalah itu. Padahal bau masakan hangat sudah tercium dari kamarku.
Dengan terkantuk-kantung aku menyambar handuk, masuk melewati pintu celah kamar mandi yang semula terbuk sedikit.
Aku hanya duduk membenahi posisi di kursi dapur, mulai menyantap masakannya.
"Sial dengan pihak sekolah. Jadi Kakak akak meninggalkan proyeknya?" Aku mulai bertanya, meneguk susu hangat.
"Lagipula hanya satu hari aku tidak mengawasi para pekerja. Dan tidak setiap hari 'kan gurumu memberi surat keterangan seperti itu?"
Aku hanya mengangguk, lanjut menyantap sarapan.
***
Mobil merapat di halaman depan. Satpam sialan memberi petunjuk lewat tangan, mengisyaratkan posisi parkir mobil.
Aku dan Erina turun hampir bersamaan, menatap halaman sekolah dengan takzim. Sialnya kami menjadi tontonan, membuat para siswa merapat ingin tahu. Ya Tuhan, mereka ini menjadi orang serba penasaran, seperti tak pernah melihat manusia saja.
Aku memimpin Erina masuk dalam ruang bimbingan kesiswaan, menatap Bu Disa, Amar si cecunguk sialan, guru bimbingan kesiswaan, dan hei! Lelaki dengan perawakan Indo-Eropa juga sedang ada disini.
"Permisi..." Erina berkata pelan, ijin duduk di bangku. Sedangkan aku hanya mengikuti, lantas membenahi posisi duduk di sampingnya.
Sebenarnya aku agak heran. Ya. Biang kerok dari permasalahan ini memang Amar, dan seniorku itu hanya sekedar membantu, atau mungkin juga sebal dengan ujaran Amar yang di luar batas wajar. Ayolah, siapa yang tak geram jika di sebut anak pembunuh? Padahal, semua orang juga tak pernah membicarakan itu padaku.
Dia hanya duduk membisu untuk sekarang, wajahnya merah padam, menatap dingin ke arah Bu Disa. Telunjuknya panjang, dan perawakannya memang tinggi. Yah. Mungkin memang di atas rata-rata seorang pribumi.
__ADS_1
Sekilas dia menatapku, membuatku tercenung. Tatapannya dingin, seperti benar-benar menusuk dan mengendalikan.
"Aku sudah memintamu datang dengan orang tuamu, Steyf! Dimana mereka?" Bu Disa membentak. Intonasinya menaik. Aku dan Erina hanya diam memperhatikan lelaki perawakan Indo-Eropa itu.
Cukup membuatnya menoleh padaku, kemudian menatap Erina. Jujur saja dia agak aneh, berlagak sok misterius namun nyatanya juga brutal. Seisi ruangan tertuju padanya. Ruang bimbingan kesiswaan hening sejenak.
"Kalau kau mau, gali saja makam nya." Dia kelihatan sangat marah. Buktinya dengusan napasnya saja tak beraturan, memandang Bu Disa dengan sinis.
Seisi ruangan penuh dengan keterkejutan. Bu Disa tak mampu mengatakan apapun. Bahkan Amar, diam membisu dengan keterkejutannya.
"Kalau begitu dengarkan baik-baik, Steyf. Sebagai seorang senior kau cukup sombong, apa alasan mu membuat Amar babak belur seperti itu?"
Bu Disa melirik agak prihatin sekarang. kembali bertanya. Dan lelaki Indo-Erop menjawabnya tanpa ada celah keheningan sedetik pun.
"Lantas apa yang harus dilakukan ketika kau..." dia menunjuk ke arah Bu Disa dengan jari telunjuk ku yang lumayan panjang.
"....Dikatai sebagai seorang anak pembunuh yang sebenarnya kau sendiri tak tahu siapa orang tua mu."
Lengang sejenak. Suasana berubah menjadi tidak nyaman. Aku tahu. Aku dapat menarik kesimpulan dengan cepat, bahwa: tak lain dia tidak memiliki latar belakang yang baik. Atau sangatlah buruk.
"Jangan terlalu gegabah, Steyf... Kau sudah 2 kali membuat kesalahan. Kalau kau sampai 1 kali lagi membuat hal yang serupa kami tak akan segan-segan untuk mengeluarkan mu." Bu Disa menghentikan lamunannya yang sepertinya juga sibuk memandangku lamat-lamat.
"Keluarkan saja aku, maka akan sangat tenang hidup ku. Uang ku tak akan pernah habis, rumah ku ada dimana-mana. Aku cukup pintar sebagai seorang murid. Bahkan dunia luar menerima ku lebih adil."
Hei?! Untuk sekarang aku dan Erina benar-benar terkejut dengan pernyataannya. Ya Tuhan, lupakan dengan sopan santunnya dan attitude yang seperti sampah. Bukan itu masalahnya. Tapi keberaniannya. Sungguh fantastis, berani mengatakan hal semacam itu di depan guru, di depanku, Amar, bahkan Erina selaku waliku.
"Bukan masalah kau akan di keluarkan atau tidak. Aku hanya tak akan membenarkan sesuatu yang salah. Aku benci dengan kekerasan." Amar angkat bicara. Sungguh lama-lama perbincangan ini akan jadi terlalu dramatis. Aku sebal mendengarnya. Rasanya telingaku kebas.
Aku hanya sekadar memandang. Erina juga berkali-kali mengelus punggungku. Mungkin diam adalah hal terbaik untuk saat ini.
Namun ada yang ganjil. Pernahkah kau berpikir pernah bertemu dengan seseorang yang kau sendiri merasa tak pernah bertemu dengannya. Seolah ada tarikan di antara jiwa kami, sesuatu kasat mata, namun seakan terhubung dengan latar belakang dan masa lalu. Maka aku merasakan itu sekarang. Terlebih dengan lelaki perawakan Indo-Eropa yang misterius itu.
"Maaf Nyonya. Kami bisa bicara berdua beberapa menit kedepan. Maafkan kami juga atas kelancangan siswa kami," guru bimbingan kesiswaan menengahi. Raut mukanya benar-benar panik. Sudahlah dia itu kualahan.
"... Apalagi dirimu. Amar. Aku mengenalimu lebih dari seorang junior ku. Sudah seperti seorang kakak yang selalu membuntuti adiknya. Lihat dirimu baik-baik. Sebagai seorang laki-laki pengecut, kegilaan mu itu tidaklah penting. Suka kau pada Emmi? Bahkan kau merelakan rumah mu di gusur karena keluarga bocah cantik nan anggun itu? Sampai rela tak menangis kau mendapati seluruh barang-barang berharga mu hancur? Cantik betul gadis itu sampai tak peduli seberapa terlukanya orang tua mu. Benar begitu? Tergusurnya rumah mu itu kau anggap sebagai kisah romantis pertemuan pertama mu dengan gadis seperti dirinya? Aku lebih tahu dari pada kau, Amar. Lebih tahu dari pada seorang kakak. Lebih tau dari pada orang tua. Lebih tahu dari pada Marcues."
Lelaki itu kembali menyuara, percaya diri menampakan wajahnya. Sendu sekali wajah itu untuk sekarang, namun tak lepas dengan kemisteriusan dan tatapan menusuknya.
"Aku memukulmu berusaha untuk menyadarkan mu pada kebutaan dunia. Berusaha mengingatkan mu pada adik mu yang terbengkalai di rumah kumuh. Dan ibu mu yang mati-matian menghidupi keluargamu yang tak lagi utuh dan sempurna. Bahkan itu pun tak membuat mu sadar. Kau menyebutku sebagai seorang anak pembunuh? Kau bahkan lebih dari seorang pembunuh, Amar."
Amar berseru tertahan, membelalak menatap kami semua bergantian. Aku dapat lihat jelas, tubuhnya bergetar hebat.
Begitupun dengan Bu Disa dan guru bimbingan kesiswaan, menatap heran penuh pertanyaan menggantung.
"A-apa?" Bibirku kaku. Tidak. Masalanya tidak terletak pada benar tidaknya berita itu. Tapi bagaimana bisa dia menyimpulkannya? Apa dia serius? Atau bohong? Entahlah.
"B-bohong! B-bagaimana bisa kau lakukan ini padaku, heh? Setelah kau memukulku? Setelah aku berdarah-darah?" Amar beranjak berdiri memandang lelaki itu.
__ADS_1