
Jam weker sialan. Itu menghancurkan mimpi indahku. Aku mengambilnya lantas membantingnya hingga pecah dan hancur berkeping-keping. Aku segera bangkit dari tidurku. Berusaha mengumpulkan nyawa ku yang berterbangan di udara. Aku tak akan melupakan mimpiku. Sungguh. Aku tidak akan lupa.
Pukul 5.20 pagi. Aku menatap wajahku di cermin. Nampak kusut dengan darah yang sudah mengering di sekitarnya. Aku segera mengambil handuk ku, dan memandikan tubuhku. Rasanya aneh. Tapi aku menyukainya. Tenang. Pagi ini begitu tenang. Mungkin karena para lalat sudah ku bunuh. Mungkin saja.
Aku memakai seragam ku. Tak beberapa setelahnya, aku memasuki sebuah bis. Aku duduk di sebuah kursi penumpang seraya memainkan ponsel ku. Bis melaju dengan kecepatan sedang. Lalu berhenti di halte berikutnya. Seorang perempuan menaiki tangga bis. Dan duduk di sampingku. Cukup jelas dengan mukanya yang terlihat masih lah kekanak-kanakan. Jelas sekali dia adalah anak smp. Aku tak terlalu menggubrisnya. Aku tidak peduli.
Ketika bis telah berhenti, aku turun dari tangga. Memasuki gerbang sekolahku yang begitu luas halamannya. Aku berjalan menuju kelas. Namun, kelas sudah begitu ramai akan sebuah berita baru.
" Emmi? Anak kelas 10? Si cantik itu? " Seorang anak perempuan mulai bertanya tentang kebenaran gosip itu.
" Ya. Kau tau sendiri bukan? Orang tua nya datang kemari, mereka bilang Emmi tidak pulang semalam. Kira-kira dia kemana? Tiba-tiba ngilang."
" Dia cantik kan. Apa dia habis di **** sama pacarnya?"
" Heh... Mulutmu!!"
" Aku pikir tidak. Dia selalu nya menganggu anak perempuan kelas sebelahnya. Desas-desus nya dia ikut melakukan pembullyan kepada anak itu. Kemarin, ada yang bilang anak cewek itu kesurupan dan Emmi mengira dia menangis karena dia. Dia lari. Jadi Emmi mengejarnya. "
" Anak jaman sekarang suka banget nge-bully orang. "
" Bukan kah ini sangat mencurigakan? "
Ya. Aku tidak tau apa-apa. Mungkin saja disini tak ada yang menyadari bahwa aku adalah seorang pembunuh. Tapi aku tidak pernah membunuh anak perempuan kelas 10. Aku memakai headset ke telingaku. Mendengarkan beberapa musik dan tidur sejenak sampai tiba-tiba bel berbunyi.
Cih. Hanya karena masalah Emma-Emmi polisi sampai berhamburan datang kemari. Seharusnya aku tak perlu masuk hari ini. Para polisi mengintrogasi satu per satu murid. Beberapa menanyakan apakah kami dekat dengan nya? Kapan terakhir kami melihatnya? Dan apakah kami dekat dengan nya? Itu-itu saja sampai pelajaran pertama berakhir. Membosankan.
Bahkan sampai di kantin, gosip Emma-Emmi ini tidak ada ujungnya.
" Jadi merinding. Katanya Emmi di bunuh. Polisi menemukan jasadnya di belakang sekolah. Hihh ngeri banget. "
__ADS_1
" Apa jangan-jangan Aggy yang membunuhnya? Dia yang terakhir kali bersama dengan Emmi."
" Jangan su'udzon. Dia kan perempuan. Mana mungkin dia membunuh. "
" Siapa tahu bukan? Dia kelihatan seperti orang gila. Kau tidak ingat? Kemarin dia tiba-tiba menjerit-jerit seperti kesurupan."
" Iya sih... Tapi sepertinya tidak mungkin. Dia saja bersaksi tadi pagi kalau Emmi di bunuh seseorang. "
" Jujur saja ini kasus yang membingungkan. "
Karena sudah tak tahan dengan siklus per-gosipan itu, aku memutuskan untuk membawa makanan ku ke kamar mandi. Duduk di atas toilet sambil memakan sotoku. Makan di toilet enak juga rupanya.
Tapi tetap saja. Gosip Emma-Emmi ini sedang hits satu sekolah. Saat aku tengah makan di atas toilet, aku mendengarkan para lelaki di depan wastafel berbicang tentang Emma-Emmi itu.
" Cih. Aku belum sempat menjadikannya sebagai pacar, siapa pula lelaki yang berani membunuh gadis secantik dia?"
" Itu cukup di sesali kan? Aku menyesal kita terlalu lambat untuk nembak dia jadi pacar."
" Baik. Kita sekongkol."
Baiklah. Untuk sekarang, rasa-rasanya aku ingin melakukan sit up sampai 1000 kali seraya berkata ' Ya Tuhan... Siapa lah Emma-Emmi ini? Mengusik sekali di telinga ku.'
Kekesalan itu pula mengikuti aku pada saat dikelas. Aku memasuki ambang pintu dan secara tidak menyenangkan orang-orang menatap aku seraya berbisik sinis. Apa? Apa sekarang? Aku tak menggubris. Aku duduk saja di bangkuku sambil mendengarkan sebuah musik yang ku ulang-ulang dari tadi.
Itu tak sepenuhnya dapat menghindarkan aku dari kegelisahan tatapan orang-orang. Bahkan aku berjalan menyusuri jalan di sepulang sekolah, aku menatap semua orang berbisik seraya memandang ke arahku. Sedikit aku berpikir. Apakah aksiku tadi malam yang membeli bensin dengan tubuh penuh darah itu sedang beredar? Yang pasti aku tidak ingin peduli.
Aku berjalan dengan telinga ku tutup dengan headset. Mengeraskan volume nya agar aku tak mendengar teriakan dan caci maki mereka yang melihatku sebagai seorang pembunuh. Tapi tidak. Yang meneriaki aku itu adalah anak-anak berandal yang tak tahu apa-apa mengenaiku aku yang sebenarnya. Entah apa yang dimaksudnya pembunuh itu sedangkan ia mendekati aku.
" Kau.. kau yang melukai putra kan? Kau mau cari mati yah?" Dia bahkan lebih pendek dari padaku. Aku harus menundukkan kepalaku saat aku menatap matanya yang penuh keberanian.
__ADS_1
" Apa urusan mu?" Tanyaku padanya.
" Kau yang melukai putra kan? Dia bilang kau ingin membunuhnya kan?" Yang lain menimpali.
" Dia masih hidup?"
" Katakan saja apa urusan mu hingga kau ingin membunuhnya, bedebah!!"
" Katakan padanya aku akan menghapiri dia lagi nanti malam. "
" Hei!! Kau dengar aku tidak? Apa urusan mu ingin membunuhnya? Kau pikir hanya karna kau lebih tinggi kau bisa melawan kami? "
" Urus saja urusan kalian sendiri. Bagian ku sudah cukup ku urus. "
" Anjing!! Kau si pembunuh masyarakat. Karena kau semua orang mati. Putra bilang kau membunuh seorang gadis tadi malam. Pasti kau yang membunuh Emmi iya kan? Dasar mesin pem.."
Mulut yang rusak itu sudah ku robek. Untung saja aku menemukan cutter di tas. Selanjutnya dia hanya menggeliat kesakitan dengan luka robekan yang begitu perih. Dan lantas beberapa orang temannya itu menghampiri aku sambil menakut-nakuti aku dengan celuritnya yang tajam. Mereka mengayun-ayunkan celuritnya dengan mata tertutup karena takut jika mereka akan membunuh seseorang. Nyatanya tidak. Aku yang akan membunuh mereka. Celurit itu ku pegang dengan tangan kiri ku. Aku ambil secara paksa dan ku bacok kepalanya yang kecil. Dia jatuh dan aku tidak peduli. Aku sama halnya mengayunkan celuritku kepada mereka. Aku menancapkan nya ke lehernya. Satu lagi ke perutnya dan mengoyaknya hingga nampaklah segala organ dalam tubuhnya. Hah... Melelahkan sekali berurusan dengan mereka. Sebenarnya ini masih sore untuk melakukan aksi pembunuhan kepada Putra. Aku akan pulang terlebih dahulu dan mengisi perutku yang menangis.
Malam hari yang kutunggu itu akhirnya datang dengan berjuta bintang. Aku melangkah menyusuri jalanan sepi hingga sampai lah aku diperkotaan. Aku mengambil sebuah jalan yang sebelumnya sudah ku tanya pada anak-anak berandal tadi sore. Aku masuk ke dalam gedung rumah sakit dan menghampiri salah satu suster disana.
" Kamar pasien bernama Putra."
" Di kamar nomor 199. "
Aku menaiki sebuah lift yang akan membawa aku ke lantai berikutnya. Dan aku cukup berjalan beberapa langkah maka sampailah aku di ambang pintu. Cukup mewah untuk sekedar rumah sakit biasa. Ini lah yang disebut sebagai bentuk rumah sakit bintang lima. Khusus dibuat untuk para keturunan demokrat dan politikus. Sebetulnya aku mendengarkan berbagai perbincangan dari luar sini. Ada banyak orang di dalam yang memperbincangkan tentang aku. Namun mereka tidak tahu bahwa sang pembunuh ini sedang di depan pintu mendengarkan percakapan itu. Itu polisi dan mereka menyusun rencana untuk menangkap aku. Pintu terbuka dan mereka cukup terkejut dengan keberadaan ku disana yang secara tiba-tiba.
" Mau cari siapa?" Seorang polisi bertanya padaku dengan suaranya yang cukup berat.
" Mau menjenguk putra. Ini saya bawa kan buah." Kataku sambil memperlihatkan sepaket buah yang aku gunakan untuk melancarkan aksi heroik ku.
__ADS_1
" Ah, nak.. kau pasti temannya putra yah, silahkan masuk. Kau sendirian? Saya ada urusan sebentar jadi bisa minta tolong jaga dia sebentar yah.." wanita tua yang malang.
" Dengan senang hati, Tante. "