
Tidur dalam posisi banyak pikiran memanglah tak memuaskan. Tapi tetap saja seluruh tenagaku habis tersedot karena peristiwa kemarin. Apalagi adegan tembak-tembakan yang membuat maraton jantung.
Setelah mandi dan tidak mengganti pakaian, aku duduk di meja makan. Tak lebih. Hanya memperhatikan Erina dan Catrina menyiapkan sarapan, sebelum mereka berdua melontarkan pertanyaan-pertanyaan padaku.
Akhirnya sarapan sudah siap. Nasi goreng dengan bau sedap itu tentu menggugah selera makanku. Bahkan meski bau pakaianku tak sedap, meskipun aku juga tak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Tapi makan tetaplah nomor satu.
"Jadi kapan aku bisa pulang, kak?" Sebelum benar-benar menyantap nasi goreng buatan Catrina, aku bertanya.
Erina hanya menggeleng.
"Eh? Mengapa begitu?"
"Hanya karena Bu Neny aku tak bisa tidur nyenyak semalaman. Maafkan jika harus melibatkan gadis seusiamu dalam aksi nekat ini. Tapi tak ada cara lain lagi seain menghabisi beliau".
Lengang sejenak. Kami bertiga memilih melahap masakan Catrina yang tak karuan bikin laparnya. Sungguh enak. Setelah itu, kami akan lanjut mengobrol.
"Aku akan ikut". Catrina menyela, yang tentu membuatku tersedak, terbatuk-batuk. Segeralah aku mengambil air putih segelas untuk diminum. Pikirku, bagaimana mungkin seorang dokter hewan cantik dan lemah lembut itu yang sama sekali tak terlibat dalam masalah ini, harus ikut campur berjuang hidup dan mati demi melawan wanita laboratorium itu.
"Tak perlu khawatir, Aggy" Catrina tersenyum, masih teguh dalam pilihan. Apalagi, sepertinya Erina juga tak mempermasalahkannya.
"Menurut orang lain, dalam pendapat massa...Bu Neny ini hanya wanita biasa yang kehadirannya dalam dunia ini tak akan memberi efek negatif besar. Meski sekarang beliau masih mengasingkan diri, tapi aku, yang akan tetap mengakuinya sebagai sahabat sekaligus atasan, tentu akan membantah semua eksperimen-eksperimen sembrono itu.
"Tak apa jika beliau akan memotong tanganku, tak apa jika asam sulfat yang panas bukan main itu mengenai langsung pada kulitku, bahkan tak apa jika aku harus mati. Dengan resiko yang besar, dengan jantung yang berdegup kencang ini, aku akan berusaha membunuhnya. Meski harus mengorbankan nyawa."
Aku dan Catrina hanya merespon dengan diam berjuta bahasa saling pandang-memandang. Dan akupun dapat mengerti. Meski Erina bersiteguh dalam melawan Neny, dia tetap menjadi satu-satunya karyawan paling waras yang masih menghormati atasan.
Dua hari bersama keluarga kecil ini mengajariku bagaimana makna keluarga, cinta, dan persahabatan itu. Aku disini kan hanya beban? Tak ada pentingnya sama sekali bagi mereka. Apalagi aku tak punya hubungan darah dengan Erina maupun Catrina. Tapi nyatanya mereka berdua menerima kedatanganku dengan senang hati dan tulus tentunya. Betapa menyenangkan jika bisa selamanya tinggal dengan Erina dan Catrina.
Tak dapat ku deskripsikan secara panjang lebar. Namun, Erina. Wanita usia 24 tahun yang baik itu. Rambutnya panjang bergelombang, hitam lebat. Hidungnya mancung, dan matanya begitu tajam.
Meski kelihatan lemah lembut, ternyata kemampuan bertarungnya cukup baik. Ketahanan tubuh juga sangat kuat. Dan staminanya itu. Beginilah wanita idaman yang sesungguhnya.
Dan Catrina. Setiap berada dekat dengan kakak kandung dari Erina ini membuatku merasakan rumah yang sebenarnya. Bukan rumah yang memiliki atap dan alas, namun suatu kenyamanan yang belum pernah ku dapat sebelumnya.
Banyak perbedaan antara kedua wanita ini, bukan hanya soal bentuk fisik, namun juga kepribadian. Catrina lebih lembut. Dan sepertinya tak sekuat adik perempuannya itu.
Dan setelah usai sarapan, mungkin karena bosan ataupun ingin menyiapkan mental, aku perhatikan Catrina terdiam di teras dengan pandangan kosong. Seakan memikirkan suatu hal. Tak ada aktivitas lain yang terpikirkan, jadi aku menghampiri wanita itu, lantas duduk di sampingnya.
"Aku hanya khawatir dengan adikku, bukan diriku seorang" katanya, masih dengan tatapan kosong, mengiba mungkin.
"Tapi kak Erina wanita yang tangguh. Dan sebetulnya masalah ini tak akan kelar kalau bukan kak Erina yang menangani".
__ADS_1
Lengang sejenak, kemudian kami berdua menghela napas sambil menikmati embun pagi.
"Kau tahu, Agg? Sebenarnya aku takut, takut untuk bertarung karena memang sebelumnya tak pernah aku lakukan." Sekarang dia menatapku, masih dengan wajah terbaiknya yang tak akan pernah bikin aku bosan memandangnya. "Tapi pasti lebih menakutkan lagi kalau aku kehilangan adikku".
Aku mengusap punggungnya balas tersenyum, seakan kami adalah sahabat karib yang saling menyemangati, saling menguatkan satu sama lain. Karna jujur saja, semua kehangatan ini belum pernah aku rasakan. Belum pernah aku senyaman ini juga dengan wanita yang baru aku kenal dalam hitungan hari. Dan sekarang aku lebih berharap; agar Catrina baik-baik saja kedepannya.
"Kak Erina pernah ikut les beladiri?" Aku melontarkan pertanyaan asal demi mencairkan suasana. Cukup sudah deh, dia khawatirkan adiknya.
"Erina otodidak. Semuanya mandiri, bahkan aku kagum pada kemampuannya bertarung juga".
Jadi aku hanya mengangguk mengerti.
***
Dan siang akhirnya tiba. Setelah selesai menyiapkan semuanya, termasuk fisik dan mental (mungkin), kami bertiga naik mobil milik Erina. Masih dengan kecepatan standar.
Dan saat itu jantungku berdegup kencang, seperti seluruh badanku terbakar karena gairah ataupun kecemasan, sama halnya yang di rasakan dengan Catrina tadi. Sial. Kami menghampiri tempat musuh, dan aku yakin Neny sudah menyiapkan semua, seperti sudah menanti-nanti kedatangan kami.
Dan mobil itu berhenti. Sama halnya seakan jantungku rasanya berhenti berdetak. Tangan kosong! Serius aku bertarung dengan tangan kosong? Hanya bermodal mental saja? Tapi aku rasa Erina sudah memikirkan dengan matang sebelum-sebelumnya.
Dan Erina yang keluar pertama. Aku takjub melihat tubuhnya yang di balut dengan APD. Begitupun aku dan Catrina yang akhirnya menyusul.
Dan pintu itu di tendang oleh Erina, membuat jantungku makin berdegup keras. Namun memang sepi, selalu seperti ini sebelum serangan mendadak datang. Sungguh taktik yang basi menurutku.
Dan akhirnya tembakan banyak pistol itu menyambut, ketika kami sudah memasuki lab. Membuatku tiarap. Tapi Catrina menarik lenganku, membuat kami melompat, sesegera menghindar. Dan lagi, aku dibuat kagum dengan gerakan lincah mereka.
"Tak perlu tiarap! Menghindar saja lah!" Erina berseru.
Aku bahkan tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, entah apapun rencananya juga. Tapi Erina lebih dulu memukul salah satu karyawan dan merebut pistolnya. Menantang karyawan lain dengan tegas.
Jujur saja aku kagum dengannya, tapi tak dapat ku sampaikan dalam situasi macam ini. Aku dan Catrina hanya diam memperhatikkan semua taktik Erina dari belakang badannya.
"Letakan!" Dia berseru lebih keras, suaranya yang lembut itu berubah menjadi menggelegar, menakuti semua karyawan. Anehnya mereka hanya menurut dan meletakkan pistol.
"Hei, tak ada yang bisa ku jadikan samsak disini" dia menggerutu tetap waspada dengan moncong pistol yang terangkat.
Erina mundur perlahan-lahan, kemudian berjalan setengah berlari menuju salah satu ruangan. Dan itu ruangan tempat kami bertarung kemarin. Tempat di mana aku di geletakkan di ranjang. Dan mungkin akan menjadi arena pertempuran kami selanjutnya. Sekarang hanya tinggal membuka pintu, dan bersiap dengan rencana Neny.
Pintu itu tidak di kunci dari dalam, jadi Erina leluasa masuk. Lalu denganku dan Catrina, hanya di mintanya untuk tak berpencar dan tetap waspada karena sewaktu-waktu Erina akan membutuhkan kami.
"Dia tak disini?" Erina berbisik padaku, mengetahui bahwa ruangangan itu sepi, termasuk dengan meja yang sebelumnya terdapat banyak alat-alat laboratorium, kini hanya tinggal beberapa saja. Seperti jarum suntik, pipet tetes, dan tabung reaksi saja.
__ADS_1
Namun ternyata jantungku lebih kencang berdetak dari sebelumnya. Bulu kudukku pada berdiri, dan tentunya aku ternganga. Kami terkejut!
Neny lebih dulu menendang Erina dari belakang, entah dari mana dia datang. Wanita itu terlihat bugar, terlihat lebih segar, dan tak luput dengan senyuman mengerikannya.
"Kau mau melawanku dengan tangan kosong? E-RI-NA?" Begitulah ujarannya dengan memberikan penekanan pada kata terakhir.
Hanya tendangan biasa, hanya untuk mengejutkan lawan. Jadi Erina berdiri mengelus punggungnya. Dia menatap Neny dengan tajam.
"Ya, ya. Silahkan saja, lagi pula jika nanti aku mati, aku tak akan menyesalinya" Erina balas menyeringai, bersiap dengan kuda-kuda. Sebelumnya dia menyuruhku dan Catrina untuk menjauh beberapa meter, namun tetap waspada. Ya Tuhan! Jika ada sesuatu yang akan terjadi kedepannya, bagaimana aku bisa melindungi Catrina?
"Aku akan bertarung secara biologis, bukan kimia" Neny menambahkan.
Pertarungan ini, ketegangan ini, aku hanya dapat menyaksikan dengan berharap semua baik-baik saja. Aku ingin membantu! Sebetulnya sangat ingin, tapi aku hanya manusia biasa. Gadis remaja yang lemah dan tak tahu apa-apa, apalagi dengan bertarung.
Pertarungan keduanya tak dapat dihindari. Tangan kosong! Keduanya tangan kosong, mereka saling pukul-memukul dan tangkis-menangkis.
Untung menit-menit pertama, Erina lebih unggul, dia terus memukul dengan lihai membuat lawan menghindar kualahan. Tapi hanya untuk beberapa menit, dan seterusnya Neny lebih unggul, terus menggunakan kaki kanannya. Kaki palsu. Aku yakin bukan kaki palsu biasa yang di terapkan di rumah sakit untuk pasien yang harus di amputasi. Itu terlihat semacam robot, lebih keras dan dengan kecepatan maksimal.
Aku rasa jurus unggulannya ada di tendangan. Dan Erina yang memiliki daging yang di balut dengan kulit, tak akan mampu menandingi kemampuan kaki buatan milik Neny.
"Khilaf-lah! Maka kita akhiri segala konflik persahabatan ini" Erina melirih. Dan dari suaranya pula aku tahu dia sedang kepayahan. Lalu apa rencananya? Dia bilang bisa mengatasi? Lantas mana buktinya? Aku merasa keputusasaan ada di air mukanya.
"Sekali pengkhianat tetaplah pengkhianat, Erina. Sekali kau buat hal itu padaku, maka tak akan pernah ku maafkan kau" Neny menyibakkan rambut pendeknya yang menutup mata.
Masih belum lelah, Neny menghujam tubuh Erina dengan tendangan. Entah berapa kali ia menendang, aku tak dapat menghitung karena kecepatannya.
Erina terjatuh sempoyongan, darah segar mengalir dari mulutnya membuat Catrina histeris. Namun aku harus mencegah Catrina, harus melindunginya, menunggu rencana Erina yang tak pasti.
"Biar aku membantu adikku, Aggy..." wanita itu merangsek dari kuncianku.
Ya Tuhan. Aku yang sudah pernah membunuh dua nyawa. Menghabisinya tanpa jejak, serta memanipulasi orang lain agar tak menuduhku, haruskah kini aku hanya menyaksikan pertarungan dua wanita ini? Apakah aku sedikitpun tak mampu untuk membantu?
Aku kembali berpikir matang, terus mencari celah. Ruangan ini tak terlalu luas. Sekitar kamarku saja. Jika aku melawan seharusnya akan menjadi arena yang lebih menyudutkan lawan. Tapi iya, jika itu Neny kualahan, tapi jika aku yang malah kualahan? Kan jadi ambyar!
Aku terus memanaskan otakku. Ingat! Aku terus mengingat. Aku memang manusia, tapi beda dari yang lain. Neny bilang aku anak dari Edward Marcues, Neny bilang aku di suntikkan DNA hewan-hewan bermacam-macam agar aku bisa jadi sekuat yang diinginkan. Namun sekarang apa yang harus aku lakukan? Mengerti guna kekuatanku saja aku tak paham, apalagi melawan Neny si ahli kimia.
Tidak! Seharusnya Erina bahkan tak terlibat. Erina hanya bahawannya yang sudah menjadi sahabat selama bertahun-tahun. Seharusnya jika bukan karna Marcues Neny tak akan jadi semacam ini. Tak akan punya ambisi besar untuk menjadi ilmuwan terhebat di belahan bumi ini. Lalu jika dia tidak menjadi wanita segila ini, tak mungkin juga Erina akan bermusuhan dengannya lalu berusaha menentang segala penemuan-penemuannya yang sembrono yang fungsinya bahkan nyaris dapat menghancurkan muka bumi ini.
Jadi semua karena Marcues? Apakah betul? God. Seharusnya bukan Erina yang rela mengorbankan nyawa, rela melibatkan kakak perempuannya demi menghancurkan monster laboratorium itu. Malahan harus aku! Ya! Aku lebih terlibat daripada Erina Beatrice dan Catrina Beatrice. Mereka tak sedikitpun bersalah. Justru karena aku, karna Marcues membuat bayi tabung semacamku.
Jadi...aku, Maria Aggy, aku yang akan melawan. Aku akan menghabisinya, lantas daging-daging itu akan ku koyak.
__ADS_1