
Aku bangun dari tidurku yang tak nyenyak. Segala keresahan itu terbawa pula oleh arus mimpi semalam. Itu membuat kepala ku sedikit pusing. Aku duduk sebentar seraya mengumpulkan nyawa ku yang hilang. Jam berapa sekarang? Aku mengambil handphone yang ku letakkan di meja. Aku nyalakan handphone itu. Tapi apa yang aku lihat. Semua hanya tentang error, error, dan error. Layar handphone yang semula putih bersih itu menjadi berwarna biru ke hijau-hijau an. Apalagi? Setelah riwayat panggilan dari nomor berderet tanpa nama itu sekarang layar ini penuh dengan kata error.
Aku kehilangan kesabaran ku. Siapa pun itu tak akan ku beri ampun. Aku mungkin saja akan membelah tubuhnya, membuatnya menjadi seperti cacing. Atau pun mencokel matanya. Atau bahkan memasukkan nya ke dalam kolam yang penuh dengan ikan piranha. Memotong kakinya, bahkan mencabut semua tulang-tulang nya itu secara paksa. Bahkan bisa jadi aku akan memasukkan nya kedalam mesin penggiling daging. Aku muak. Ku banting handphone yang sudah lagi tak berguna itu ke dinding kamar ku. Alhasil, benda itu pecah dan mati. Maka aku tidak peduli lagi. Aku sungguhan pusing. Bukan hanya sekedar kata. Tapi aku bingung berjuta-juta bingung. Aku bahkan tak bisa tidur semalam. Ku tatap wajahku di cermin. Mata hitam ini menghiasi wajah ku. Muka ku terlihat benar bahwasannya aku betul- sakit. Aku juga bisa sakit? Tentu saja. Aku merasakan sakit tapi aku tak bisa mati. Itu lah keinginan Marcues.
Aku bangkit dari kasur. Berjalan hendak ke kamar mandi dan membasuh muka. Aku menatap jam dinding, pukul 4.50. Bahkan masih terlalu pagi untuk orang seperti ku. Aku berjalan melewati ambang pintu. Tapi langkah ku berhenti saat ku melihat Eliza dengan wajahnya yang juga pucat pasi. Ia tengah berjalan masuk ke dalam kamar Karel dan ia tidak melihatku di belakangnya. Ia masuk dengan se-baskom air. Ada apa? Aku berdiri di ambang pintu kamar itu.
"Ada apa?" Tanya ku padanya.
Ia menoleh padaku, dan ku tatap raut wajahnya yang benar-benar kelelahan.
"Karel sakit." Ujarnya.
Aku mendekati mereka. Ya. Karel terbaring lemas di tempat tidur. Biasanya ia sudah mengamuk di pagi buta begini. Dengan lembut Eliza meletakkan kain yang sudah di celup ke air hangat di baskom itu ke dahinya. Nampak sekali kelelahannya merawat bocah autis ini.
"Kau tidak tidur?" Tanya ku.
"Karel sakit. Bagaimana aku bisa tidur?" Katanya.
Ya. Jelas sekali bentuk kasih sayangnya kepada bocah autis itu. Aku duduk di antara mereka. Menempelkan punggung tangan ku ke dahi bocah itu. Sungguhan panas. Aku celupkan kain itu ke dalam kain, memerasnya dan menempelkannya lagi ke dahinya.
"Kau istirahat lah. Aku saja yang merawatnya." Ujar ku padanya.
"Kau tidak pergi ke sekolah?"
"Kau butuh tidur, Eliz. Istirahat lah." Kataku mungkin saja sedikit memaksa baginya.
Ia hanya mengangguk kemudian pergi meninggalkan aku dan Karel di sana. Aku tidak tahu. Mungkin akibat semalam ku tak bisa tidur membuatku benar-benar pusing. Aku memijat kepalaku beberapa kali.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Karel bangkit dari tidurnya. Lantas secara tiba-tiba memuntahkan isi perutnya di atas kasur. Aku terkejut. Aku gelagapan. Apa yang harus aku lakukan? Di tengah-tengah kebingungan ku, Eliza tiba-tiba datang seraya berlari-lari masuk ke dalam kamar itu. Dengan sigap, ia membereskan kekacauan ini. Eliz, kau sudah pantas menikah sekarang. Batin ku dalam hati.
Aku hanya menatap peristiwa ini. Menatap mereka berdua. Eliza. Entah kata pujian apa lagi yang harus aku keluarkan dari mulutku. Kasih sayang nya benar-benar melebihi seorang ibu. Kenapa? Seperti ada sebuah sesuatu. Tiba-tiba pintu di ketuk. Siapa itu? Aku segera berlari menuruni tangga. Segera membuka pintu. Ku tatap seonggok manusia yang ada di depan ku. Lagi-lagi gadis itu. Mengapa dia selalu datang kemari?
"Selamat pagi. Kau mau berangkat bersama dengan ku?" Tanya nya tiba-tiba.
Ia menoleh ke arah mobil nya yang menantinya di gerbang depan rumah ku. Tidak. Tunggu. Sejak kapan gerbang itu terbuka? Aku mengingatnya dengan jelas. Gerbang sudah ku tutup rapat dan ku kunci. Aku hanya terdiam. Gadis itu memandangiku dengan harapan nya. Aku menoleh ke belakang. Ku dengar lagi-lagi Karel menangis. Dan tentu saja, aku tak bisa meninggalkan Eliza sendirian.
"Adikku sakit. Aku tak akan pergi sekolah hari ini." Kataku padanya.
Ia memperlihatkan wajahku dengan jelas. Ia kembali menoleh ke belakang. Lagi-lagi menatap mobilnya yang menunggu. Aneh.
"Apakah tak ada orang di rumah?" Tanya nya.
"Aku tinggal sendirian. Hanya dengan adik ku." Kataku padanya.
Ia terdiam beberapa saat. Kemudian mengangguk dan tersenyum simpul.
Ia berjalan seraya melambaikan tangannya kepadaku. Tapi aku tak menghiraukannya sama sekali. Aku kembali menutup pintu. Terdiam sejenak. Perasaan ini sungguhan aneh dan berkesan menyeramkan. Sejak kapan? Aku ingat. Masih sangat ingat bahwa aku tadi malam menutup dan mengunci gerbang itu. Apakah Eliza yang membukanya?
Pagi itu aku memilih untuk mengambil pendapat bahwa Eliza memang sengaja membukanya. Lantas pagi itu aku pun memesan taxi lewat telepon rumah dan mengantar Karel ke rumah sakit. Mungkin akan lebih baik jika itu di obati. Tapi tidak. Belum sempat aku menekan tombol telepon. Mobil hitam mewah itu sudah berhenti di depan rumah ku. Apa lagi sekarang?
Seseorang turun dari mobil. Aku tersentak. Aku membelalak. Aku terkejut untuk beberapa saat. Itu lah orang yang aku lihat kemarin. Seorang pria dengan jas hitam nya yang rapi. Terlihat betul seperti seorang pekerja keras. Aku hanya memperhatikan nya yang berjalan melewati halaman rumah ku yang luas. Hatiku lagi-lagi gundah. Aku mulai merasakan keringat dingin ku menetes deras membasahi tubuhku saat orang itu berdiri tegap di depan ku. Kenapa? Kenapa tinggi sekali?
"Kau temannya Anh, bukan?" Tanya nya padaku.
Aku terdiam. Tak tahu harus bagaimana aku menjawab. Aku bukan teman nya. Aku bahkan tak menyukainya.
__ADS_1
"Anh mengatakan kau tidak pergi ke sekolah karena adik mu sakit, mari ku antar." Katanya sambil menatapku dengan tatap harapan nya yang amat-sangat lah kuat. Ya. Terlihat seperti itu.
"Kenapa hanya diam. Ayo." Kenapa dia begitu memaksa?
Tapi aku tak punya pilihan lain. Eliza hanya menatapku. Ia pun tak tahu harus bagaimana ia merespon. Sedangkan Karel ada di pangkuan nya. Aku menatap kedua bocah itu yang benar-benar mengharapkan aku seorang. Baiklah. Dari pada Karel terbangun dan malah mengamuk.
Aku berjalan mengikuti orang itu. Di belakangnya dengan wajah bingung dan tak tahu harus apa aku sekarang. Apakah aku harus mengucap terimakasih, atau malah bertanya siapa ia sebenarnya. Namun setelah ku pikir, sepertinya ia adalah seseorang yang sangat dekat dengan Anh.
Aku menggendong karel sambil membuka pintu mobil. Aku masuk ke dalam kemudian di ikuti oleh Eliza. Setelah pintu mobil kembali di tutup, mobil pun melesat cepat meninggalkan jalan kumuh depan rumah ku itu. Hening. Tak ada percakapan.
"Kau pasti bertanya-tanya siapa aku bukan?" Ia kemudian membuka suara seraya menyetir mobil itu di tengah-tengah jalan raya.
Aku hanya terdiam. Begitu pula dengan Eliza yang hanya duduk mendengarkan kata-kata itu.
"Maaf karena belum pernah sama sekali aku memperkenalkan diri." Katanya menambahi.
"Aku Thony. Sebelumnya aku pernah tinggal di daerah itu. Itu sebelum aku pergi ke Vietnam. Setelah ku kembali, aku begitu bingung kenapa daerah itu sangat sepi dan kumuh. Bahkan banyak sekali rumah-rumah kosong yang di tinggalkan begitu saja. Bangunannya pun banyak yang sudah tua atau bahkan sudah ambruk. Tapi aku melihat satu-satunya rumah megah yang dulu nya benar-benar istimewa bagi orang-orang yang tinggal disana. Bagaimana tidak? Hanya dia satu-satunya orang yang mampu membangun rumah semegah itu di permukinan sempit itu. Dan aku mengenal nya. Tidak lain kau pasti Steyf bukan?"
Itu lah cerita nostalgia yang aku dengar darinya. Membuat ku teringat dengan jelas bagaimana orang-orang mulai menyalahkan Marcues dan pergi meninggalkan permukiman itu.
"Apa hubungan mu dengan Marcues?" Tanya ku untuk yang pertama kali nya.
"Marcues? Ah. Edward. Ayah mu itu atasan ku." Katanya.
Eliza nampak benar bahwa dia sangat terkejut. Dari situlah, segala perasaan aneh itu kembali muncul.
"Hahahah... Tidak perlu terkejut begitu. Ayah mu itu memang sangat ceroboh, Steyf. Dia meninggal karena ke ingin tahuannya sendiri. Dia tidak pernah berubah."
__ADS_1
Suasana kembali hening. Aku hanya menatap Eliza yang ia sendiri tengah menatapku seakan-akan tak percaya.
"Sangat canggung sekali untuk saat ini. Tapi aku berharap untuk ke depannya kita bisa sangat akrab seperti aku dan ayahmu. Ini benar-benar suatu pertemuan yang mengejutkan. Aku pun sangat bingung bagaimana caramu bisa selamat dari kecelakaan maut itu. Tapi kau benar-benar beruntung."