
Esok paginya aku dan Erina tanpa pikir panjang ikut serta mendatangi apartemen. Kami mendapatkan alamat kakak angkatku setelah mendapatkan kabar dari banyak sekali media.
Semua orang panik. Penjahat yang di duga melakukan tindakan kriminal itu kabur dari sel tahanan. Tidak lain. Orang itu adalah pria yang di duga membunuh Emmi.
Esok paginya semua media menyebarkan kabar mengejutkan itu. Membuat para wartawan berbondong-bondong menanyai siapa saja yang sekiranya terlibat.
Polisi juga dalam keadaan genting. Semua media mewajibkan untuk melapor apabila menemukan si buronan. Aparat keamanan menyebar ke semua daerah.
Maka pada hari itu juga, apartemen di kota S menjadi ramai akibat di kerumuni oleh massa. Ruangan yang di duga adalah kamar kakak angkatku itu dilingkari garis polisi.
Bagaimana dengan kakak iparku? Ini lebih mengerikan. Dia meninggal secara mengenaskan, berlumuran darah dengan kehilangan salah satu tangan. Jasadnya di evakuasi, menyisakan garis polisi.
Tidak hanya aku dan Erina. Si pujangga, Mark juga penasaran dengan mengecek lokasi langsung setelah belasan menit membujuk salah seorang petugas memberi ijin kami masuk.
Mark bilang namanya Aryo. Atasan sipir, juga bertugas mengevakuasi tempat kejadian. Mark juga bilang bahwa Aryo adalah rekannya.
Aku tidak menangis saat itu. Aku tertunduk dalam. Bertahun-tahun lamanya aku jarang bertemu, hanya sebatas telepon setiap hari. Dan kini kakak angkatku sudah hilang entah kemana. Erina bilang aku harus ikhlaskan, karena tidak ada harapan lagi. Dalam artian, kami tidak bisa berbuat hal lain. Si pelaku benar-benar licik, tak menyisakan bukti sedikitpun.
"Berdasarkan hasil analisa. Kasus pembunuhan atau penculikan keluarga Yuwono pada tahun 2009 di kota B. Gadis 12 tahun dengan inisial M dinyatakan hilang. Pelakunya sama. Kasus sekarang juga serupa dengan kasus 13 tahun silam yang menimpa putri Tuan Yuwono." Polisi yang di sebut dengan Aryo itu membuka catatan yang di bawanya. Suaranya tak terlalu keras, karena wartawan saling berebut tanya di luar sana.
"Sama? Jadi maksudmu, penjahat yang kabur itu juga sekarang sedang melakukan hal serupa?" Mark bertanya.
"Ya. Kemudian pada tahun 2010. Wanita usia 25 tahun juga di nyatakan hilang di kota B. 2 wanita lagi di kota C, dan yang lain belum tercium jejaknya." Begitu tambah Aryo sambil membolak-balik catatan pada kertas yang penuh coretan dan foto polaroid di atasnya.
"Kami temukan barang ini lagi." Aryo menunjukan sebuah barang. Itu kalung perak! Yang di bungkus dalam pengaman sebagai barang bukti.
"Ini bukan hanya sekali saja, Mark. Setiap aku dan rekan-rekanku mengevakuasi tempat kejadian perkara, pastilah tak luput dengan barang ini. Sama. Panjangnya sama. 16cm."
Dia benar. Kalung perak itu mungkin juga tak dapat dibilang murah.
Mark menyeka pelipis, meraih kertas catatan yang di bawa Aryo. Sementara aku dan Erina hanya memperhatikan. Selebihnya menyimpulkannya sendiri dalam hati.
"Nah. Sekarang kau tahu sendiri, dan tentu dapat simpulkan sendiri. Pelakunya adalah orang yang sama. Aku tak tahu apa yang di lakukan olehnya dengan menculik banyak sekali wanita. Yang sering kami temukan adalah jasad seorang pria yang kehilangan tangan kanannya, kemudian menghilangnya seorang wanita tanpa ada jejak. Kami belum bisa menyimpulkan teori ini."
Kami diam sejenak, saling berpikir. Sementara para wartawan dan petugas masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
__ADS_1
"Akan aku selesaikan pekerjaanku dulu. Kalian bisa tunggu, bukan? Setelah itu akan aku jelaskan tentang teorinya nanti." Aryo melambaikan tangan, meninggalkan tempat kami.
***
"Kau tidak akan menjadikan kasus ini sebagai referensi novelmu 'kan, Mark?" Aryo terkekeh. Menyenderkan punggungnya pada kursi di ruang kantor polisi.
Sipir sibuk hilir-mudik menyampaikan laporan, dengan membawa kertas catatan dan sebuah walkie talkie.
"Tentu saja, iya! Kau tahu, terlepas dari ngerinya kasus penghilangan itu, aku agak bergidik ngeri serasa ingin mencomot ide cerita ini." Mark balas menjentikan jari.
"Ayoh, Aryo. Cepat beritahukan pada kami. Nona ini sudah rela meninggalkan proyeknya demi menuntaskan kasus ini." Mark sembarangan menunjuk Erina dengan dagunya. Wanita itu hanya menunduk, tersipu. Selalunya memang seperti itu, merasa canggung dengan lelaki yang baru di kenal.
"Baik. Baik. Aku beritahu kau juga sekarang ini." Aryo beralih mencari sesuatu di arah laci meja. Sepertinya mencari kertas yang terselip.
"Ini dia! Nama aslinya Roger Arnold. 35 tahun. Ada catatan pernikahan pada 15 Februaru 2018. Dia menikahi seorang wanita yang usianya 5 tahun lebih muda darinya setelah keluar dari sel tahanan." Aryo menunjukan selempiran kertas dengan wajah dan identitas dari buronan itu. Aku agak tercekat, memegang lengan Erina. Bukankah hanya soal waktu, dia terbukti tak bersalah dalam pembunuhan Emmi itu? Melainkan adalah aku yang di tangkap?
"Roger Arnold. Lahir 20 Maret 1987. Tinggi 172 dan berat 68kg." Erina membaca sekilas, meneliti. Lantas kemudian dia membungkam mulutnya sendiri. "IQ 170?!"
"Iya, Nona. Dia memang di atas rata-rata manusia biasa. Itulah mengapa kami sulit sekali menangkap buronan seperti Roger." Aryo membalas dengan wajah terlipat.
"Apa yang terjadi?" Mark menyela, tak sabaran menunggu jawaban dengan menggedor meja. Sontak para petugas menjadikannya pusat perhatian sementara.
"Astaga! Kau jangan buat keributan disini!" Aryo mengumpat. "Sabarlah aku belum selesai bercerita. Pada 25 Desember 2019, terjadi kasus mengerikan di kota M saat itu. Pukul 04.12. Saat pagi hari. Terjadi teriakan pilu dan tangisan sendu dari dalam rumah besar itu. Kau tahu apa yang terjadi?"
"Sial. Aku tanya kau serius, tapi kau malah balas aku dengan pertanyaan pula. Hei! Sejak kapan kau bersekolah dan diajarkan bahwa pertanyaan di balas dengan pertanyaan?!" Mark berseru. Ya Tuhan, ini hanya masalah sepele dan dua lelaki itu seperti sedang mendatangi sidang.
"Roger mengambil parang dan mencoba membunuh anak dan istrinya! Ya Tuhan itu kejam dan biadab sekali. Setelah kami para aparat kepolisian menyelidiki, ternyata masalahnya karena dugaan KDRT. Roger sering memukul istrinya demi melampiaskan amarah. Malam itu, sang istri minta dijemput oleh kedua orang tuanya. Naasnya pada pagi hari dia sudah harus menghadapi fenomena mengerikan.
"Tapi beruntungnya, istrinya selamat. Meskipun harus di rawat dengan serius karena kritis. Tapi bayinya, Mark! Bayinya meninggal dunia! Bukankah itu sangat biadab?! Demi mendapat perhatian para warga di sekitar, istrinya harus menyeret kedua kakinya yang berdarah-darah, terluka dan bolong. Dia berteriak dari dalam amat kerasnya."
Aku melihat sendiri Erina menunduk dalam, seolah merasakan betapa menyakitkan menjadi wanita itu. Sementara para petugas masih sibuk hilir-mudik, serius mengerjakan pekerjaannya.
"Setelah itu dia di tangkap. Untuk ketiga kalinya. Malamnya, setelah sidang panjang pada pukul 12.00 siang, kami setuju kalau Roger di hukum mati pada malam pukul 00.00. Sayangnya dia kabur sebelum eksekusi itu mulai. Lihai, licik, dan tentu saja pintar. Kami juga belum tahu dari mana dia bisa menerobos keluar dari benteng penjagaan para aparat keamanan.
Serta kasus pembunuhannya pada gadis itu juga termasuk agak membingungkan".
__ADS_1
Aku tercekat. Napasku jadi tak beraturan. Gadis itu? Emmi? Sepintar-pintarnya polisi, aku yakin Erina bisa memalsukan semuanya. Tapi hanya soal waktu, dan segala kejahatan akan terungkap dengan sendirinya. Aku tahu Emmi selalu berbuat tak adil padaku. Tapi apa boleh buat? Membalasnya dengan membunuh dapat membawaku ke masalah yang besar.
"Roger mengakui kesalahannya?" Erina bertanya. Dari gerak-geriknya aku tahu bahwa dia mencoba melindungi fakta sebenarnya.
"Iya, Nona. Kau benar. Aku juga tak tahu, setelah kabur tanpa jejak, tiba-tiba dia datang dengan baju yang amat rapi, licin, dan wangi. Kemudian mendadak bilang bahwa dia adalah pembunuh dari gadis SMA, putri pejabat kota X itu."
Erina manggut-manggut.
"Kami terbiasa menyebutnya dengan bloodfiend. Anak remaja nakal sok kriminal yang mengajarkan. Sumpah aku tak tahu apa arti dari 'bloodfiend'."
"Ada fakta lain lagi? Atau konspirasi?" Mark membenahi posisi duduk, meraih kertas dan bolpoin sembarangan di meja. Lantas mencatat satu-persatu.
"Nah! Itu yang sebenarnya ingin aku katakan, Mark. Begini." Aryo mendeham pendek, duduk dengan posisi tegak sambil melipat tangan.
Apa? Aku sudah sangat pensaran. Perasaanku berkecamuk.
"4 kali dia di tangkap. 2 kali akan di eksekusi mati, atau tembak di tempat. Namun sayang dia kabur dengan lihai. Entah kenapa aku merasa dia bisa membaca pikiran orang. Atau trik manipulasi, mungkin? Dan mungkin saja bisa menyandera orang."
"Menyandera?"
"Ya, Mark. Kami bekerja secara totalitas menjaga sel tahanan sebelum proses eksekusi di laksanakan. Totalitas! Dengan senjata dan tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun."
Hujan mulai turun. Langit-langit kantor polisi menggemakan suara tetesan air langit. Aku menoleh keluar, melihat gerimis yang mulai membungkus kota.
"Itu teori kami untuk pertama kalinya. Kemudian yang kedua, Mark." Aryo menyisir rambut dengan jari-jarinya. "Dia paedofil."
Aku, Erina, dan Mark jelas terkejut. Meskipun itu menjijikan, namun tak dapat di pungkiri jika itu adalah Roger (atau mungkin sesekali aku akan sebut dengan panggilan kerennya, 'bloodfiend').
"Ini." Aryo memperlihatkan pada kami beberapa kertas dengan foto polaroid dan di lengkapi keterangan di atas meja. "Kebanyakan korbannya wanita. Dan ini ada laporan kehilangan anak usia 9-12 tahun".
"Hei! Belum tentu itu perbuatan Roger biadab, 'kan? Ini hanya kasus kehilangan anak perempuan." Mark mengusul.
"Bukan Mark. Ini jelas perbuatan Roger. Aku sudah bilang padamu. Aku dapat mengetahui siapa pelakunya karna kalung perak yang aku temukan di rumah korban."
Itu benar, tapi, "Jika memang benar Roger itu paedofil, mengapa dia menghilangkan kakakku? Mengapa juga membunuh kakak iparku? Dan korban yang lain juga bukan hanya wanita dan anak perempuan saja." Aku mengelak.
__ADS_1
"Aku respect. Kau gadis pintar. Itu hanya sebuah teori. Kita tak tahu kebenarannya. Aku dan rekan kerjaku hanya menduga saja. Tapi yang bisa kami lakukan untuk sekarang adalah menjaga diri sendiri. Dan motif pembunuhan itu, kami juga belum kemput." Aryo membalasku dengan sopan. Maka aku balas mengangguk juga.