Laboratorium - Merah

Laboratorium - Merah
Chapter 22 Maria Aggy


__ADS_3

"Ilmuwan terkenal, terhormat, bangsawan asal Eropa yang beberapa saat lalu menghebohkan dunia. Kau tahu siapa dia, Agg?"


Aku terdiam sebentar sambil terus memanaskan otakku. Tiba-tiba saja nama Marcues yang muncul. Seorang ilmuwan, asal Eropa, terkenal dan di hormati. Meski aku hanya mengira-mengira.


"Edward Marcues?" Aku bertanya asal. Namun entah mengapa juga tak berharap jawabanku benar.


"Tepat sekali, Maria Aggy".


Aku membelalak tak percaya. Tenggorokanku tercekat dan sebisa mungkin aku bernapas teratur kemudian menyeruput kopiku yang masih hangat. Marcues? Dirinya yang di tafsirkan adalah ayah kandungku banyak berhubungan dengan beberapa orang di muka bumi ini termasuk Mark.


"Kau kenal Marcues? Kau banyak mengetahuinya?"


"Saya punya ini" aku menunjukan buku filosofi karya Gladis. Buku itu masih rapi karna memang belum semuanya ku baca.


"Dia sangat terkenal pada saat itu. Sampai ada buku filosofi-nya. Sebenarnya saya baru tahu Marcues beberapa Minggu yang lalu" lanjutku.


"Kau sudah sedikit tahu, pastinya kau tak asing dengan berita kematiannya, bukan?" Dia menatapku sambil tersenyum. Aku menjawab dengan anggukan.


"Sejarah hanya di tulis oleh pemenang. Bagaimana jika yang kau ketahui itu hanya suatu kebohongan?" Dia kembali membuatku memanaskan otak.


"Maksut anda?"


"Begini. Bagaimana jika kematiannya hanya sebuah kebohongan? Bagaimana jika Marcues masih hidup? Apa benar niatanya menyumbang teknologi dan kepintaran itu mampu membawa maju bangsa ini? Apa kau percaya dengan semua kata-kata yang di ucapkan oleh seorang Marcues?"

__ADS_1


Bulu kudukku berdiri. Seluruh badanku bergetar kala nama Marcues itu di sebutkan. Sebuah kemisteriusan yang mengharuskan aku untuk memecahkan semuanya. Begitu juga dengan pernyataan Neny beberapa Minggu lalu mengenai sel-sel DNA yang di nyatakan olehnya di masukkan dalam tubuhku.


"Itu tak mungkin". Meski sulit aku tetap mengelak, lebih berhati-hati dalam mempercayai sesuatu. Mau bagaimanapun, Mark Steffano adalah pujangga, seorang pengarang cerita yang banyak di gemari oleh orang-orang. Seorang pengarang yang mestinya sudah terbiasa dalam hal mengarang.


"Beberapa tahun lalu aku menelusuri perihal kematian Marcues yang sekaligus menggemparkan dunia itu. Di kabarkan tanaman entah apa itu memakannya serta seluruh keluarganya. Kau sudah tahu soal tanaman itu?" Tanyanya. Aku mengangguk kemudian.


"Berita itu menjadi berita utama di media manapun. Koran-koran, buku, atau bahkan televisi dan radio di gemparkan dengan kematian ilmuwan secerdik Marcues.


"Dan lambat laun, kematiannya tak lagi di perbincangkan seolah seorang Marcues tak pernah ada. Banyak ilmuwan terkemuka menggantikan posisi seorang Marcues. Penemuan-penemuannya banyak di perbarui oleh orang lain juga.


"Dan aku masih saja menyangkal dia tak mati. Banyak kejanggalan yang terjadi. Mungkin saja dia melarikan diri dengan mengorbankan anak istrinya. Lagipula kalaupun dia berdiam di tempat kejadian, polisi bakal menangkapnya karna ya, dia pencipta tanaman aneh itu". Mark kembali menyeruput kopinya. Setengah cangkir sudah lenyap, dan dia mulai melanjutkan.


"Aku tak mungkin hanya berasumsi dengan pernyataan bodohku yang tak mungkin di percaya banyak orang. Aku butuh bukti.


"Aku ini orang yang sangat penasaran. Apapun yang aku cari, aku berambisi untuk dapat menemukannya. Sudah kebiasaan waktu kecil. Contohnya saat penghapusku hilang di kelas, dan aku mengintrogasi semua teman sekelasku. Padahal penghapus itu berada di bawah tasku. Ahahaha...dan beberapa waktu lalu, aku datang ke tempat kejadian perkara. Tepatnya kediaman Marcues itu. Rumah tinggi dan mewah yang ditinggal oleh penghuninya". Dia berhenti sejanak melanjutkan meneguk kopi sampai tandas.


"Anda sangat berani" aku mengapresiasi.


"Jadi pemberani itu bagus. Maka aku secara pelan-pelan mendekati pelataran rumah mewahnya. Ternyata indah sekali jika dilihat dari dekat. Tapi tentunya aku tak memasuki rumah itu. Terlalu lama di tinggal menjadi berkesan angker.


"Tapi, Agg. Aku merasa seperti ada kehidupan di dalam rumah itu. Entah benar atau tidak, tapi aku merasa ada suara jauh di dalam ruang dalam rumah itu. Aku tak dapat pastikan apa itu hantu atau manusia".


Aku terus mendengarkan sesekali menyeruput kopiku. Cafe menjadi sepi pelanggan. Hanya ada aku, Mark Steffano, dan dua sejoli yang sedang asik menikmati masa remaja mereka dengan pacaran.

__ADS_1


"Kau paham?" Dia beralih dengan pertanyaan.


Aku menggeleng. "Maaf. Saya hanya susah mempercayainya, Tuan".


"Tak apa. Aku berikan kau naskah yang di tolak itu. Kau pasti penasaran dengan kelanjutan Jean Martin" dia menyodorkan sebuah naskah. Betulan naskah! Langsung dari pengarangnya. Memang tak tercetak sebagai novel, tapi karna aku sudah tak sabaran mengetahui lanjutan perjalanan Jean Martin, jadi aku menerima dengan sangat, sangat, sangat, senang hati.


"Aku menulis banyak sekali kaitan cerita dengan keturunan Marcues ke-169 itu. Banyak sekali misteri" tambahnya.


"Dan..." dia menghembuskan napas, mungkin karna kelelahan berbicara panjang. "Alasan naskahku di tolak dan di kecam adalah karena aku menyangkal banyak rahasia tentang Marcues dan berasumsi bahwa Marcues mempunyai ambisi dengan menghancurkan dunia ini. Aku juga berargumen bahwa dirinya ingin di sanjung secara berlebihan. Serta naskahku mempunyai kritikan tentang pemerintah, pejabat, dan semua yang mencakup dunia politik. Sudah jelas novelku di tolak. Apalagi orang-orang hanya mengira bahwa season-3 Dead in my room ini terlalu sadis".


Aku mengamati raut mukanya yang masam. Kekecawaan mungkin saja menyelimuti hatinya. Ya, memang dapat ku maklumi, membuat novel dengan kata-kata seindah ini tak semudah menjentikkan jari. Apalagi pujangga satu ini sangat terkenal, dan di kucilkan seperti ini sangat menyakitkan.


"Terimakasih kau sudah mau mendengarkan keluh kesahku, Maria Aggy. Aku hanya dapat memberimu hadiah berupa naskah".


Ahhh...Tuan Mark Steffano, anda memberi saya hadiah terbaik yang sangatlah saya butuhkan.


"Ini nomor teleponku. Hubungi jika kau membutuhkan. Aku tak sesibuk dulu yang terus menghadiri acara menjelaskan karya-karya milikku di depan publik" dia meberiku kertas kecil dan sekaligus aku menerimanya dengan sopan.


***


Aku menyimpan salinan naskah milik Mark Steffano dalam laci milikku. Aku kadang berpikir apakah harus di laminating karena naskah ini sangat penting bagiku? Tapi aku menebas pikiranku sendiri. Berlebihan.


Aku mulai membacanya. Bab awal hanya menceritakan kelanjutan perjalanan Jean Martin. Aku terpana ketika adegan pembunuhan keluarganya sendiri. Begitu kejam dirinya dan dendam pada Jean yang akhirnya terbalaskan. Seluruh orang yang bersangkutan hal buruk dengannya mati.

__ADS_1


Dan lebih terkejutnya aku ketika bab-bab selanjutny menceritakan siapa itu Marcues. Ini cerita fiksi, tapi aku benar-benar merasakan kebenaran itu. Apapun rahasia Marcues di hubung-hubungkan dalam naskah ini.


Aku mengambil salah satu buku catatan tebal dengan sampul warna hitam polos, dan sebuah bolpoin. Aku mulai menulis, merangkum semua argumen-argumen Mark Steffano dalam buku ini mengenai Marcues dan laboratorium miliknya.


__ADS_2