Laboratorium - Merah

Laboratorium - Merah
Chapter 40 (Special Chapter/ Catrina Beatrice)


__ADS_3

'4 HARI SEBELUM KEMATIAN CATRINA BEATRICE'


Langit gelap murung. Burung-burung membuat formasi, mencari tempat berlindung dari guyuran air hujan. Berkali-kali kilat menyambar di sertai dengan guntur menggelegar. Langit tengah prihatin dengan keadaan. Langit tengah bersedih, sama seperti perasaanku.


Mungkin hanya untuk hari ini langit begitu peduli denganku, seakan ikut merasakan rasanya kehilangan. Aku tahu betul candaan semesta amat menyakitkan. Ujian di dunia betulan berat.


Disini aku tertunduk layu memandang pusara Joseph. Banyak sekali para pelayat, berbaju serba hitam. Sebagian tersendat, menangis dengan keras. Terkadang aku bertanya: 'sungguhkah mereka merasakan kehilangan seorang Joseph sepertiku?' Atau 'seberapa dekatnya mereka dengan sosok Joseph?'. Aku tahu, Joseph tak memiliki keluarga, sama sekali. Yatim-piatu sejak masih kecil.


Rekan kerja kami juga melayat, tertunduk mengelilingi pusara Joseph. Sebagian lagi aku tak kenal. Khususnya dengan kumpulan orang paruh baya yang membawa bunga, lantas menaburkannya.


Namun aku tak menangis, seakan air mataku sudah kering akibat semalaman menangis. Jauh di dalam lubuk hatiku, adalah rasa sakit yang luar biasa. Menggores luka lebih dalam ketimbang liang lahat itu.


Lambat laun, gerimis membungkus kota. Langit telah menangis. Sehingga memaksa para pelayat untuk berteduh, berlindung dari tetesan air langit. Erina menatap punggungku prihatin, lantas mengelus punggungku. Direntangkannya payung warna hitam. Kami merapat ke batu nisan, dan hanya kami berdua yang tersisa. Mendekat ke pusara itu.


"Aku turut prihatin. Aku tahu ini tak mudah. Mau bagaimanapun, Joseph adalah rekan kerja yang baik. Teman yang sangat baik." Erina menjelaskan. Buih-buih gerimis kini berganti menjadi guyuran air hujan yang amat deras. Pelayat berbondong-bondong meninggalkan tempat.


Sungguh terimakasih, Joseph. Terimakasih atas kehadiranmu dalam hidupku yang sunyi. Terimakasih juga atas perasaanmu padaku. Selebihnya maafkan aku belum mengutarakan perasaanku padamu jauh hari.


Lihatlah! para pelayat satu-persatu seakan tak peduli malahan secepatnya berlari-lari kecil meninggalkan pusaramu. Segera membersihkan noda di kemeja masing-masing, lantas naik mobil pribadinya. Para kenalanmu, rekan kerjamu, semua orang datang dan pergi.


Wajah ceriamu saat di klinik terlukis indah di pelupuk. Nyaris membuatku mengeluarkan air mata. Namun urung. Erina menepuk pundakku. Mencoba memberitahu dari gerakannya. "Sudah mulai petang, sore makin matang. Hujan juga sudah semakin deras, Kak. Kau harus beristirahat."


Sepatu kami basah sudah. Air merembes sampai ke ibu jari, menyentuh jari kaki dengan lembut. Hujan semakin deras. Langit benar-benar menangis. Dan aku berjalan bersandingan dengan Erina dan payung hitam.

__ADS_1


***


'HARI KEMATIAN ITU'


Hari-hari terus berjalan, tak peduli bagaimana para manusia dengan rakus menghabiskan Sumber Daya Alam yang melimpah. Tak peduli orang-orang tertinggi dan berkuasa leluasa untuk menindas para rakyat sengsara. Semua akan terjadi pada waktunya. Begitu dengan berputarnya bumi, tempat kita tinggal dan di besarkan.


Hal-hal tak terduga silih datang melengkapi serpihan hidupku. Erina berhasil menyelesaikan misi pertamanya. Atau permulaan misinya, yaitu dengan menyelamatkan gadis itu. Aku takzim menerimanya. Jatuh cinta malahan. Aggy, itu nama gadis itu.


Justru permulaan itu menjadi awal cerita buruk. Merangkai sebuah peperangan yang sebenarnya tak kuinginkan. Membuat episode dalam hidupku makin buruk. Erina memutuskan melawan (meskipun itu tanpa bantuan Joseph sekalipun). Kami harus saling mengerti keadaan, menjaga satu sama lain untuk saat ini.


***


Dan pada saat itu...


"Tinggalkan aku. Yakinlah kau akan baik-baik saja bersama Aggy. Pastikan kalian saling menjaga satu sama lain" Erina menahan tubuhku, menjaga jarak di antara kami. Hendak melepas pelukan.


"Tidak, Erina. Tidak! Apa yang kau katakan? Kita bisa keluar dari tempat ini dengan selamat. Bersama! Kau dengar aku? Bersama!" Aku berteriak histeris. Mendesah tertahan. Aku dapat rasakan cairan itu. Betulan merobek kulit, membuat darah menetes deras. Sangat menyakitkan.


Kau tahu bagaimana caranya menyelamatkan diri dalam situasi macam ini? Aku pernah dengar semboyan: "Sebuah perjuangan pastilah membutuhkan sebuah pengorbanan." Aku mulai mencari titik terang. Seakan menemukan semburat cahaya dari gelapnya terowongan panjang tanpa ujung. Aku menyeka air mata, memeluk Erina (untuk terakhir kalinya).


"Aku tahu. Kau mungkin berpikir bahwa hidup itu tak adil. Kau mungkin akan cenderung menyalahkan takdir Tuhan. Jangan berpikir demikian, Erina. Semua indah. Sungguh indah, meskipun sebuah kehilanganpun. Aku tak menyesal lahir dan di besarkan di dunia. Awalnya memang sulit, tapi lambat laun kau akan paham dengan sendirinya."


Erina menelan ludah, mungkin tak paham apa maksud perkataanku dalam situasi macam ini. Erina menangis lebih keras, mencengkeram lenganku.

__ADS_1


"KAK CATRINA!! KUMOHON!! JANGAN BUAT HAL-HAL DI LUAR DUGAAN! JANGAN! JANGAN PERGI!" Erina berteriak kalap, menangis lebih keras.


Situasi makin genting.


"Hidupmu terus berlanjut. Dengar! Aku menyayangimu, begitu dengan kehadiran Aggy yang menumbuhkan semangat baru. Jaga gadis itu seperti adikmu sendiri. Jadilah Erina yang mandiri. Erina yang selama ini aku kenal". Suaraku makin lemah, sulit mengatur napas di tengah isak tangis.


"J-jangan katakan itu, Kak! Apa yang akan kaulakukan!??" Panik. Wajah Erina makin panik, dia mencengkeramku lebih kuat.


Erina makin gemetar, menangis lebih keras lagi. Sungguh aku tak menyesal untuk melakukan ini, Erina. Semua harapan-harapanku tertanam di dirimu.


Sekuat tenaga aku melepas cengkeraman itu, menyambar korek api lantas terjadilah tragedi memilukan itu. Semua indah, pengorbanan begitu indah. Lihatlah, Joseph. Aku berhasil menjadi pelindung hidup mereka berdua.


Keberuntunganku terletak pada korek aku yang berhasil tersambar olehku. Nyaris saja jatuh, beruntung dengan gesit aku mendorong tubuh Bu Neny, dengan teliti pula menutup pintu ruangan itu.


Dan berakhir kisah-kisah dalam hidupku. Aku selesai. Semuanya tetap indah meski kehilangan. Erina, kau tidak sendirian. Camkan itu, adikku.


Ledakan itu besar sekali, membuat tubuhku terpental puluhan meter, menghantam dinding dan kobaran api merambat secepat kilat. Menghanguskan semuanya.


"KAU BODOH! BEDEBAH! KEPARAT KAU!" Bu Neny sempat berseru keras, sebelum tubuh itu benar-benar terpental.


Bajuku basah dan amis oleh darah, begitu juga dengan mengenaskannya luka di kepalaku yang belum sepenuhnya sembuh. Belum sampai sempat mencari pegangan, tanganku sudah tak kuasa menahan, roboh dengan tetesan darah di lantai. Api makin panas, kobarannya makin besar. Namun entah mengapa aku merasa sejuk. Percikan api sama sekali tak melukaiku, rasa panas akibat percikan itu rasanya bagai tetesan salju.


Hari ini adalah terakhir aku tersenyum di atas lantai yang sudah tak karuan bentuknya. Iya. Aku tersenyum, semuanya memang indah. Tuhan selalu punya cara terbaik. Mungkin besok Erina akan menangisiku, merasa hampa dan kesedihan luar biasa menyelimutinya. Namun bersabarlah. Semua hanya soal waktu, dan kau akan tersenyum.

__ADS_1


Mungkin juga besok klinik akan ramai. Berbincang-bincang, mengatakan betapa malangnya nasibku dan Joseph, ikut prihatin dengan menepuk pundak Erina. Adik perempuanku yang baik, tak akan ku biarkan hal sial menimpa kau. Untuk hari ini dan selamanya. Selamat tinggal, Erina, Aggy.


__ADS_2