Laboratorium - Merah

Laboratorium - Merah
Chapter 28 Maria Aggy


__ADS_3

Semua sudah siap seadanya, begitu juga dengan mentalku.


Aku berjalan menuju arah pintu, mencoba membukanya, tapi terkunci. Aku masih berusaha melakukan segala hal seperti mendobrak. Tapi tetap saja tak mempan memyepadani berat badanku.


Sekali lagi, dan pintu itu terbuka. Tapi dari luar! Neny dengan menyeringai menatapku. Dia tak memakai kaca mata laboratorium, hanya menggunakan pakaian lengkap saja.


Kaget, aku mundur perlahan-lahan menjauh dari tubuhnya. Kakinya yang awalnya buntung itu kini di gunakan berjalam tegap dengan lancar. Kepalanya kemarin yang terpukul itu bahkan sama sekali tak di perban. Bahkan sekelibat pikiranku menyangka, bahwa ini bukan Neny.


"Mau kemana?" Dia berkata pelan masih dengan menyeringai. Tatapan itu, seperti menembus langsung ke badanku. Aku bergetar hebat mendapatinya semakin dekat denganku.


Dan sekarang dia menendang perutku sangat keras, membuatku terpental 3 langkah hingga tubuhku menabrak meja laboratorium. Lantas gelas laboratorium dan tabung reaksi itu bergelimpangan dan pecah di lantai.


Sulit ku percaya dengan kata-kata Erina bahwa Neny akan mengurusku. Membuatku mati dia saja bisa.


Dia mendekat lagi masih tetap dengan menyeringai. Dalam matanya dapat aku melihat kegairahan yang memanas itu. Seakan ingin membalaskan dendamnya terhadap kapak dan tongkat kasti yang aku gunakan demi menghabisinya.


Di cekiknya leherku dengan kedua tangannya dan di angkatnya aku tinggi-tinggi. Kemudian Neny tertawa, giginya yang semula rapi, putih, dan bersih, kini dapat ku lihat dengan jelas ke-4 taringnya yang begitu tajam. Entah perihal apa yang terjadi padanya sewaktu dia menghilang?


Nafasku mulai sesak. Bahkan menjerit saja aku tak sanggup. Perutku juga mual hebat, nyeri. Untuk sekarang, aku mohon. Tuhan! Dalam masa seperti ini mengapa filter merah itu tak muncul? Apa aku akan menyerahkan nyawaku cuma-cuma dengan wanita gila ini?


"Kau bisa lihat perubahanku?"


Ya. Aku bisa melihatnya. Kekuatannya bertambah berkali-kali lipat. Kegilaannya juga.


"Kau mau tahu bagaimana bisa aku mendapat sepasang kaki ini? Maria Aggy! Aku ilmuwan! Aku pintar! Bahkan lebih pintar daripada Marcues".


Di kencangkannya cekikan itu lagi. Semakin aku memukul-mukul tangannya semakin kencang pula cekikkannya.


Namun aku teringat dengan asam sulfat itu. Aku mengambil nya dan menumpahkan seluruhnya ke wajah Neny.


Tapi yang mengejutkan, sama sekali dia tak bereaksi, malah kembali mengencangkan cekikkannya pada leherku. Dia biarkannya tumpahan cairan itu seperti merelakan wajahnya basah terkena air hujan.


Untuk saat ini tak ku pikirkan dahulu. Ada yang lebih penting, yaitu nyawaku!


"Aku ceritai kau kembali" dia berhenti tertawa.


"Aku dan karyawan-karyawanku mengasingkan diri ke luar pulau. Bersama-sama membuat banyak percobaan juga, terutama dengan membuat kaki palsu dan stamina untukku. Mereka budakku, mereka, para karyawan itu adalah anjing-anjingku yang menurut pada majikannya".


"Gila!!! Kau gila! Kau manusia bedebah yang haus akan kekayaan dan pangkat!" Meskipun pangkal tenggorokan tercekat, aku masih menyempatkan diri untuk menghujatnya. Bahkan napasku saja, tak mampu ku kendalikan, atau lebih tepatnya aku kesulitan bernapas.

__ADS_1


"Ya. Kau benar. Aku haus akan kekayaan dan pangkat yang tinggi. Namun tahukah kau, Aggy? Aku sejak kecil di besarkan dengan tuntutan menjadi pintar, tuntutan menjadi manusia terhormat, dan aku sendiri harus merubah derajat keluargaku.


"Tapi ayahku itu terlalu keras dengan mendidikku sehingga membuatku stress dan aku membunuhnya saat usiaku 12 tahun. Dan itu fantastik.


"Di umur semuda itu, tak seorangpun menyadari bahwa aku membunuh ayah, bahkan ibu juga tak tahu menahu siapa pelakunya".


Di kendorkannya cekikan itu dalam leherku, seakan memintaku memberikan respon.


"Bukan hanya kau yang punya masa lalu buruk!" Aku berusaha mengumpat.


"Karna kau anak Marcues, penghancur hidupku, penghancur martabat dan pangkat-pangkat berhargaku!!" Dia berteriak-teriak kembali mengencangkan cekikannya.


"Kau tahu mengapa aku membencimu, heh?! Karna kau memiliki darah Marcues! Karna kau bahan percobaannya!"


"Dan kau, apakah kau tahu mengapa aku membawamu ke mari? Karna aku ingin menyuntikkan cairan penemuanku di tahun lalu dan membuatmu tunduk pada sang penyuntik, yaitu aku. Agar aku bisa menjadikan bahan percobaanku nomor 50."


Sialnya dia menjatuhkanku dari cekikannya. Aku kepayahan terbatuk-batuk sambil terus memegangi leherku yang luar biasa sakit. Sayangnya aku juga tak mampu mengatur napasku.


Di ambilnya suntik dari saku jas laboratorium miliknya, kemudian dengan kasar dia menginjak tubuhku. Sial. Dia berhasil mengunciku.


"Dan ini, aku tunjukkan padamu cairan yang aku maksud".


Ketegangan menyelimuti seluruh tubuhku. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku kembali mengingat wajah ibu angkatku yang baik hati. Kembali mengingat kehidupan keluarga angkatku saat usiaku masih 7 tahun. Dan untuk terakhir kalinya aku mengingat Sang pencipta. Tuhan Yang Maha Esa. Untuk terakhir kali. Apakah selamanya setelah ini aku tak sadar bahwa aku Aggy? Dan yang ku pikirkan hanya Neny si majikan yang harus ku patuhi semua perintah-perintahnya?


Kemudian Neny mencengkeram rambutku lalu membentur-benturkan kepalaku ke lantai. Darah segar mengalir dari hidungku. Aku hanya lemas, masih tak dapat pingsan.


Tak henti-henti dia dengan raut muka jahatnya. Namun tak lama. Erina! Ya. Aku melihat Erina berjalan perlahan tanpa suara dari ambang-ambang pintu. Sebuah balok kayu di bawanya.


Dan BUUKK! Telak Neny di pukul bagian leher belakang oleh Erina. Tak semudah itu tentu. Neny berdiri lantas melepaskan cengkeramannya dari rambutku. Aku masih menatap pertengkaran mereka, entah mungkin akan pasrah dengan apa yang kemungkinan terjadi nanti.


Satu tendangan berhasil mengenai perut Erina hingga membuatnya mundur beberapa langkah. Wanita muda itu, dengan paras cantiknya sekarang kelihatan garang dengan balok kayu yang di pegang erat olehnya.


Erina balas memukul tapi Neny secepat kilat menghindar, membuat satu pukulan telak mengenai wajah Erina. Satu pukulan lagi menyusul mengenai pelipisnya. Dan di tambah satu tendangan dengan sasaran perut.


Erina yang kepayahan hanya bisa berusaha membela dirinya. Aku tahu, kemampuan Neny tiga kali lipat lebih besar dari Erina. Meski wanita itu juga sepertinya bisa bertarung.


Erina bangkit. Sekuat tenaga memukulkan balok kayu yang tepat mengenai pelipis Neny. Kali ini Neny berhasil di pukul. Dia terpental, menubruk rak buku di sebelah jendela ruangan.


Aku menyeka darah mimisanku. Merapikan rambut, meski itu percuma. Aku mulai berusaha berdiri walau agak sempoyongan. Erina butuh bantuan, kami harus bebas dari Neny.

__ADS_1


"Beginikah balasan atas semua kebaikanku untukmu? Kau tahu apa yang lebih busuk dari sampah, Erina? Itu kau. Orang yang sudah ku berikan semuanya untukmu, sudah ku jadikan kau teman laboratoriumku. Tapi kau mengumpatku di belakang, malah sekarang berusaha menyakitiku".


Erina sama sekali tak membalas. Dia masih tetap bersiap dalam posisi bertarung. Balok kayu itu masih saja di pegang dengan erat.


"Jika bukan karena dendam ibu pada ayahku. Jika bukan karna paksaan mereka sewaktu aku kecil. Dan jika bukan karena Marcues yang menghancurkan mimpi-mimpiku..."


Neny menatap langit-langit ruangan dengan wajahnya yang sudah bersimbah darah. Di angkatnya kedua tangannya setinggi mungkin. Dia meraung-raung seperti monster memecah keheningan yang sebentar, membuat bulu kudukku berdiri.


"Lantas kau sekarang mau membunuhku, Erina?" Dia menatap Erina lamat-lamat.


"Dulu aku memang mengagumi anda, Bu. Tapi setelah Marcues menjadi ilmuwan terpintar di dunia itu datang, anda berubah seperti wanita kejam. Anda menyiksa hewan, membuat bayi tabung dan menyontek Marcues" .


Ketegangan masih saja menyelimuti. Tak ada habis-habisnya aku bergidik ngeri melihat kelakuan Neny meskipun hanya mengedipkan mata.


"Erina..." Neny kembali memulai. Menyiapkan tinjunya dengan raut muka kejam. "Kau pikir kau akan mengalahkanku semudah menjentikan kuku saja? Payah. Akan kuberitahu kau, manusia hina seperti kencing anjing, bagaimana cara balas dendam yang benar".


Di ayunkannya tinjunya itu, tepat mengenai perut Erina. Wanita itu kepayahan, mungkin juga kelelahan karna pertarungan ini. Dia terkapar seketika. Sementara aku, hanya bisa menonton, memperhatikan mereka seperti tegangnya menonton film aksi.


Erina pasrah. Dapat kulihat bagaimana ibanya wanita itu sekarang. Dan Neny, masih tak henti-hentinya pula dia menginjak tubuh wanita malang itu.


Aku masih terus berpikir bagaimana cara mengalahkan monster ini. Tak ada cara lain. Aku melihat pecahan tabung reaksi dan gelas kaca yang berceceran tak rapi di lantai. Seharusnya ada pisau, atau cutter atau apapun itu. Tapi dalam sakuku hanya ada selembar uang dan buku yang aku curi tadi.


Maka aku mengambil pecahan gelas kaca itu. Aku mulai berdiri. Aku melangkah perlahan mendekati mereka seperti zombie. Rambutku yang acak-acakak, mukaku yang kusut, darah mimisan dan di mana-mana. Bahkan sekarang aku membayangkan Jean Martin berjalan seperti zombie dan dengan ganas berniat melumpuhkan mangsanya.


Matilah kau Neny. Lenyaplah dari bumi ini. Kehadiranmu sama sekali tak menguntungkan bumi yang sudah tua ini. Sekarang aku mengayunkan pecahan gelas kaca itu. Telak mengenai kepalanya bagian atas. Tak peduli akan membantu atau tidak, apapun caranya, aku akan bertarung mati-matian dengan monster gila ini.


Dia meraung sejenak melupakan injakan kakinya dari tubuh Erina. Neny menghadapkan badanya ke aku. Dan saat itulah, aku menjadi lupa akan takutku pada kematian. Seakan aku berpikir bahwa diriku tak mungkin semudah itu mati.


Maka Neny kembali menendang perutku. "Parasit" katanya. Di abaikannya tubuhku yang tergeletak di lantai.


Namun tak selang lama kemudian, sebuah jarum suntik menembus kulit punggungnya dan seketika membuat wanita gila itu tak sadarkan diri. Tubuhnya ambruk seketika di lantai. Dia seakak tertidur layaknya bayi.


Erina. Lagi-lagi dia menolongku. Disuntikannya obat bius pada Neny.


"Ini tak akan lama. Hanya bertahan sekitar 2-6 jam. Kita bergegas habisi mereka setelah itu pergi dari neraka konyol ini"


"Mereka?"


"Karyawan Neny sudah menunggu kita di luar".

__ADS_1


__ADS_2