Laboratorium - Merah

Laboratorium - Merah
Chapter 55 Maria Aggy


__ADS_3

Dengan keteguhan hati dan optimisme, aku benar-benar percaya diri memilih rencana ini. Tanpa pikir panjang. Hanya berbekal firasat yang aku utamakan.


Aku segera membalik badanku, lantas berlari cepat menghindari jarak dekat dengan lelaki aneh itu. Jalan raya yang lengang bukanlah kabar baik buatku. Tak ada seorang yang dapat membantu. Maka sekarang aku hanya dapat mengandalkan diriku seorang.


"Dasar Pendek! Payah! Kau mau terbang menggunakan pesawat antariksa-pun akan tetap percuma!"


Aku tak menggubris seruan itu, apalagi berpikir keras mengapa dia tak memilih untuk mengejarku saja? Aneh. Semakin jauh aku menghindari jarak dengannya, maka semakin buruk juga firasatku. Ragu-ragu aku memperlambat langkah kakiku, dan...


BOOMM!!!


Suara ledakan itu memang tak sekeras di film-film Amerika action. Namun getarannya membuatku terpental puluhan meter. Entah sekarang apa yang akan di perbuat.


Tapi dimana? Jikalau dia meletakkan bom atau petasan, mengapa aku tak melihatnya beberapa menit yang lalu.


Sekarang aku terkapar di tanah, memandang sekelilingku. Tempat ini mulai berbeda. Bukan jalan raya dengan halte bus yang menjadi pemandangan utama. Namun pepohonan tinggi dan tanah becek. Aku berusaha mencari pegangan untuk berdiri. Namun tak ada satupun benda yang mampu ku raih dengan kondisi seperti ini.


Aku melirik tas di punggungku. Hancur tanpa ada sisa sedikitpun. Potongan barang-barang yang tersisa juga sudah hancur berserakan di tanah. Kotak makan siangku juga hangus.


Tas? Mengapa seolah radiasi ledakan itu lebih parah di tasku? Apakah...? Aku mulai menduga-duga. Bedebah itu mungkin saja sengaja menukar tasku dengannya, lantas memasukan sebuah bok rakitan yang meledak di tas ransel milikku. Sialan! Mengapa aku baru menyadari semua ini?


"Namaku Dion. Itu nama asli. Namun nama lengkapku untuk sementara tak akan aku sebutkan."


Aku tak paham apa yang tengah terjadi. Namun tubuh tinggi itu sudah berdiri tegap di depanku. Bukan. Lebih tepatnya sekarang menginjak punggungku dengan sepatunya yang mungkin saja bisa dibilang berat. Bedebah! Ini sangat perih.


"Usiaku 19 tahun. Aku gagal naik kelas saat masih duduk di bangku SMP. Tinggiku 170 cm, dan berat badanku 63kg. Aku tidak akan memberitahu alamat rumahku. Tapi aku bukan siswa yang berprestasi dan membanggakan sekolah. Aku menyukai mie instan. Adalah salah satu hal yang paling aku sukai. Serta hal yang paling aku benci adalah menghabiskan waktu beberapa menit untuk merebus mie instan dan waktu yang lebih sedikit untuk menghabiskan mie instan tersebut. Yang dapat aku peroleh adalah ketidakseimbangan dan ketidakpuasaan." Dia berkata datar dan panjang lebar sembari terus menginjak punggungku. Apakah ini dapat disebut sebuah perkenalan yang jamak? Aku yakin dia mengerahkan seluruh tenaganya demi menginjakan kaki sialannya di atas punggungku.


"Tidak hanya itu. Aku menyukai minuman dingin dalam kaleng. Namun aku benci jika harus membuatku memilih satu diantara belasan merk minuman di minimarket yang menggoda. Itu membuatku merasakan kembali ketidakseimbangan dan ketidakpuasaan tersendiri."


Sial! Bahkan berteriak merintih minta tolong-pun akan membuatku terlihat seperti pecundang di matanya.


"Tuan Roger Arnold yang mengajarkanku berkenalan dengan cara tersebut. Mengenalkan diri dengan memberitahukan hal sepele itu kepada lawan bicara. Tentu ada maksud tertentu. Bukan sembarangan aku memberitahukannya." Dia seakan dapat membaca pikiranku, menggeser sedikit kakinya demi menginjak punggungku pada bagian lain.


"Sebenarnya apa maumu, bedebah?!!" Aku berteriak ketus. Antara sebal dengan rasa perih akibat bom rakit itu, karena punggungku sakit, dan tentu sebal karena bedebah itu mengotori seragam sekolahku.


"Aku dan Tuan Roger bukanlah orang yang menyepelekan lawannya, Maria Aggy. Kami berdua selalu menghargai lawan kami."


Aku menelan ludahku. Sepertinya dugaanku barusan memanglah benar. Dia berhubungan dekat dengan Bloodfiend.

__ADS_1


"Untuk remaja seusiamu kau begitu hebat dan berani. Namun ada hal yang membuatku sedikit heran. Mengapa tubuhmu tidak hancur saat terkena bom dengan radius tinggi itu?" Bedebah itu menyisir rambutnya dengan jari tangan. "Well. Tujuanku hanya mencari informasi tentangmu dan rekan-rekanmu. Serta melindungi informasi mengenai Tuan Roger Arnold."


Lagi-lagi pertanyaan-pertanyaan dan segala konspirasi mengerubungi kepalaku.


"Aku sudah mencurigaimu sejak awal, Maria Aggy. Dan demi keselamatan Tuan Roger, serta dengan taruhan nyawamu sendiri. Sekarang katakan dimana keberadaan rekan-rekanmu. Maka aku akan ampuni nyawamu." Bedebah itu sekarang benar-benar mengungkapkan tujuannya.


Aku menggigit bibir bawahku, menahan bibirku supaya tak menjerit kesakitan. Aku tahu, bedebah ini bisa saja tertawa puas di tengah rintihanku.


"Ayo segera katakan, Maria Aggy. Atau aku patahkan tulang punggungmu ini? Emm... badanmu ini kecil sekali, ya? Aku rasa dengan kekuatan anak usia 4 tahun saja, aku sudah dapat menghancurkan tubuh ringkihmu."


Sialan! Aku mengumpatnya dalam hati. "BODOH!!! Kau pikir aku akan menyerahkan temanku padamu? Sialan. Kau terlalu menganggapku rendah. Jika kau ingin membunuhku, maka bunuh saja sekarang! Aku tahu kalau keadaan akan terbalik." Aku merasa refleks berseru seperti itu. Seolah mulutku tengah hilang kendali.


Dengan begitu bedebah itu hanya membungkam mulutnya. Tatapannya tajam menusuk, kemudian aku melihatnya sedang celingak-celinguk memandang sekeliling. Dan tentu tanpa melepaskak injakan kakinya di atas punggungku.


Aku susah payah mengeluarkan cutter dari sakuku. Perlahan membukanya. Sekuat tenaga aku melemparkannya ke atas, mengincar kedua bola mata bedebah gila itu. Dan benar saja, dia mampu menangiksnya, membuat cutter milikku terlempar beberapa meter dari lokasi sebelumnya.


Tak masalah meskipun aku berhasil menyulut api kemarahannya, tak masalah juga jika wajahnya merah padam karena marah besar. Yang terpenting aku berhasil membuatnya refleks melepas injakan kakinya di punggungku.


Sekarang aku bebas bergerak, mampu berdiri meskipun harus menahan rasa perih ini dengan sisa tenaga. Aku berdiri, sejenak memandang wajah merah itu.


Sekarang yang dapat aku lakukan adalah memaksa kedua kakiku yang berdarah dan dengan luka bakar ini, berlari menjauh dari bedebah itu, lantas mengulur waktu demi menghubungi Mark Steffano.


Dia mengejarku, seperti seekor macan yang tak mau kehilangan mangsanya yang sudah sekarat.


Marcues!!! Kau ciptakan elemen aneh dan pandangan warna merah itu padaku! Berikan! Berikan itu sekarang juga dan kuatkanlah aku untuk melawannya.


Aku meraih ponselku sambil terus berlari menghindar. Untuk sekarang aku tak akan berpikir: mungkin saja ada sebuah pistol yang di genggamnya, atau bahkan bom lain. Yang terpenting adalah sebuah pesan untuk Mark dan Aryo. Mereka sedang menunggu.


"Sialan! Kenapa?! Kenapa ini terjadi?!" Aku menekan tombol on pada ponsel. Tapi semua percuma. Ponselku tak dapat loading sebelum menyala. Layarnya tetap hitam, seperti sedang kehabisan baterai. Mungkin saja. Atau mungkin juga sudah rusak akibat terkena radiasi bom rakit tadi.


Kakiku semakin sakit, yang membuat langkah kakiku melambat. Jaraknya semakin dekat. Sialan!


DOR!


Salah satu peluru menembus kulit kakiku. Membuatku bersimbah lutut di atas tanah yang becek itu. Benar. Dia membawa pistol. Mengapa juga aku bodoh? Berlari hanya akan membuang waktu. Padahal aku masih punya banyak waktu untuk melawan sebelumnya.


"Aku tak suka mengulai kata-kataku, Maria Aggy. Tapi kau ini bebal dan terlalu memaksa. Aku 'kan sudah bilang; 'Kau mau terbang menggunakan pesawat antariksa-pun akan tetap percuma!" Bedebah itu mendekat padaku.

__ADS_1


Aku tidak bisa berlari dengan kondisi seperti ini. Sial! Sial! Sial! Dia berhasil membuatku terpojok. Pecundang. Aku akan menganggapnya sebagai pecundang yang lebih memilih lawan yang lemah.


"Nama lengkapku Dion Sukma Pangestu. Aku sudah beritahu padamu." Bedebah itu menarik rambut sebahuku, membuat wajahku terangkat. Tepat menatap wajahnya.


"Aku hanya memberimu satu pertanyaan. Dimana rekan-rekanmu? Dan sekarang aku yakin mereka juga berusaha melindungi gadis sepertimu, bukan?" Matanya tajam menatapku, sedikit melotot.


Sakit. Tertembak peluru itu memang sangat sakit luar biasa. Meledak bersama bom juga sangat sakit luar biasa. Aku, aku Maria Aggy. Aku tak mungkin mati dengan cara seperti ini. Tunggu saja dan akan aku catat perbuatan bedebah ini, lantas akan aku buat dia membayar semuanya tanpa terkecuali.


"Ah, begitu. Bagaimana kalau aku tidak akan memberitahukanmu?" Aku menyeringai menatapnya.


BUKK!!


Dia memukul pipi kananku. Darah segar mengalir di bibir dan hidung. Aku rasa aku juga sedang mengalami mimisan karna pukulan itu.


Diraihnya ponselku itu, entah apa yang akan dia lakukan. Namun tiba-tiba dia melemparnya membuat ponselku pecah berkeping-keping. Sialan! Andai dia tahu bagaimana kerasnya aku berusaha menabung demi ponsel keluaran terbaru itu.


Untuk sekarang aku benar-benar lega. Terakhir aku meneguk kapsul-kapsul pahit buatan Erina demi menghambat penyakit mata merahku yang kambuh itu sekitar 5 jam yang lalu. Sedangkan dosisnya yang rendah hanya bertahan sampai 5 jam saja. Untuk sekarang, aku dapat perkirakan. Jika aku tidak secepatnya meneguk kapsul penawar itu, maka penyakit mata merah itu akan timbul.


Segera. Dan sekarang aku mulai merasakan gejala-gejala menyakitkan itu. Aku tahu ini luar biasa sakit sehingga membuatku menangis. Aku terisak, tapi bedebah itu mengiraku menangis karena apa yang di perbuat olehnya.


"Bagaimana? Kau mau menyerah lantas memberitahu lokasi rekan-rekanmu itu padaku?" Dia terkekeh puas, memukul pipi kiriku. Sakit goblok.


Rasa sakit ini makin menyerang perut dan kepalaku, membuatku seperti di tusuk ratusan bahkan ribuan pedang dalam sekali tusuk. Aku menangis makin keras, membuat bedebah itu tertawa puas pula.


"Atau bagaimana kalau aku beri kau kesempatan satu kali, Maria Aggy...?"


Telat. Aku sudah telak memukul wajahnya, membuatnya terpental puluhan meter dari tempat asal. Sudah lama sekali aku tak merasakan penyakitku ini kambuh.


Dia sepertinya hanya kebingungan, menyeka darah di mulutnya yang mengalir deras. Sembari menatap tubuhku yang sempoyongan menghampirinya secara perlahan sambil menyeret kakiku yang sakit.


"Bodoh. Kau yang bodoh. Aku selalu benci lelaki yang memukul seorang perempuan. Siapapun itu. Bahkan ayahku sendiri."


Bedebah itu meraih pistolnya, mengarahkannya padaku dengan tangan gemetar dan wajah pucat pasi. Kenapa? Dia terlihat seperti pecundang yang panik memegang pistol.


Ini menguntungkanku. Ada kemungkinan 30% aku tidak tertembak peluru itu. Karena dengan keadaan panik sambil menarik pelatuk akan membuat kemungkinan besar pelurunya gagal menembak lawan. Tapi aku tak akan lupakan kemungkinan 70%-nya yang mungkin saja peluru itu mampu menembus kulitku.


Tak masalah. Jikalau kemungkinan 70% itulah yang terbukti. Aku akan relakan beberapa peluru masuk ke dalam tubuhku, membuat darah mengalir deras. Rasa sakit ini serasa hilang di telan semangat. Aku terus maju, tanpa peduli apapun di hadapanku.

__ADS_1


__ADS_2