Laboratorium - Merah

Laboratorium - Merah
Chapter 50 Steyfano Marcues


__ADS_3

Aku sampai di rumah. Apalagi yang dilakukan gadis itu? Ia bahkan tidak kesulitan mengatasi kekacauan ini sendirian. Seperti sudah biasa baginya. Karel yang tengah mengamuk itu di peluknya dengan nyaman. Hangat sekali bagi siapapun yang melihatnya. Mengelus dengan lembut kepalanya. Bahkan tak segan-segan untuk mencium keningnya. Sudah seperti seorang ibu. Apa itu adalah sebuah efek samping dari donoran jantung yang ia terima?


"Semuanya baik-baik saja?" Tanya ku padanya.


"Semuanya berjalan baik." Katanya


Aku hanya mengangguk.


"Kau sudah makan?" Tanyaku kembali.


Ia mengangguk. Aku duduk di sampingnya. Terdiam sejenak. Hening. Tak ada percakapan.


"Bagaimana keadaan mu sekarang?"


"Aku sangat baik. Apalagi setelah aku mendapat jantung ini. Aku sudah tak lagi kesulitan bernapas. Aku sungguhan sudah sehat." Katanya dengan raut wajah yang amat gembira.


Aku kembali terdiam. Aku menatap tv yang sudah dari tadi menyala. Berita itu menayangkan kabar terbaru hari ini. 'Bloodfiend. Hilangnya seorang wanita di apartemen kota S. Dan di temukannya jasad seorang lelaki dewasa dengan tangan nya yang hilang salah satu. '


Sangat mengesankan. Aku pernah mendengarnya tapi tak akan pernah aku peduli tentangnya. Akan tetapi itu cukup membuatku risau. Eliza bisa saja menjadi santapan lezat baginya di kemudian hari nanti. Karena yang aku tahu, dia cukup mengerikan untuk di bilang sebagai Paedofil. Meskipun ini sangat mengejutkan. Tapi keluarga kecilku tidak boleh hilang. Selepas aku amat begitu berat melepaskan Mama yang sudah bertahun-tahun meninggalkan aku sendirian di rumah ini, tentang Marcues, dan Tania.


"Aku hanya ingin kau mengunci pintu saat aku tidak ada di rumah. Jangan buka pintu jika kau memang tak membutuhkannya. Jangan hiraukan jika ada orang yang tak kau kenal datang kemari. Jangan buka pintu meskipun itu adalah tukang pengirim paket." Aku mulai membuka suara ku untuk itu.

__ADS_1


Eliza terdiam sambil masih tetap fokus menatap layar tv di depannya.


"Aku tahu. Aku juga cukup takut. Tapi aku akan lebih berhati-hati." Katanya. Ternyata dia masih mendengarkan ucapanku.


Aku bangkit dari duduk ku. Tiba-tiba saja aku merasakan rasa geli berasal dari kakiku. Kucing jalanan yang sempat aku lupakan itu kembali lagi kerumah ini. Kucing lusuh yang dulunya selalu menemaniku tinggal disini. Mungkin saja ini adalah tempat yang hangat dan nyaman baginya. Dia sampai kembali lagi. Aku mengelus bulu-bulu nya yang berdebu beberapa saat. Aku berjalan menuju kamar ku. Handphone yang sudah lama tak ku buka itu hanya tergeletak di meja belajar yang penuh dengan debu. Layarnya menyala. Itu membuatku tertarik dan aku mendekatinya. Riwayat telepon dari siapa? Dari dalam layar itu hanya tertera beberapa deret nomor, tidak ada nama. Siapa ini? Berkali-kali ia menelepon. Itu cukup membuatku terkejut dan kebingungan. Aku bahkan sudah tak punya teman. Tak ada yang tahu nomor telepon ku kecuali Edra dan teman-teman ku yang dulu. Aku tak peduli selama itu tak mengganggu ku.


Aku meletakkan handphone itu kembali ke atas meja. Membuka seragam dan hendak mengganti dengan baju lain yang lebih santai. Seragam ini cukup membuatku berkeringat. Aku belum sempat mengambil baju santai dari dalam lemari, tiba-tiba saja handphone ku berdering. Ku tatap layar nya yang menyala. Lagi-lagi yang ku lihat adalah nomor-nomor yang berderet itu. Aku segera mengangkat nya. Ku letakkan dan ku dengarkan baik-baik di telinga.


"Siapa?" Tanya ku. Tak ada jawaban. Aku terus saja menunggu. Berharap seseorang berkata dengan nada santai dan mengatakan apa tujuan nya menelepon ku. Tapi tak ada. Hening. Meski sudah 2 menit itu berlalu.


"Halo?" Aku kembali menyapa. Tetap tak ada jawaban. Tiba-tiba saja telepon di tutup. Aneh. Benar-benar aneh. Apalah maksud dari semua ini?


Aku berjalan cepat-cepat turun ke lantai bawah. Aku sampai pada Eliza yang saat itu tengah bermain dengan Karel. Tidak. Tidak terjadi sesuatu. Aku menatap ke jendela. Ku lihat halaman depan rumahku yang benar-benar sepi. Ya. Tidak ada siapapun yang mau tinggal di daerah ini kecuali aku. Semua orang sudah pergi. Tapi siapa itu? Ada orang? Siapa? Orang dengan jas super rapi itu dikenakannya di tubuhnya yang tinggi dan bagus. Raut wajah yang jelas dan begitu amat menggambarkan bahwasannya dia adalah seorang pekerja keras. Dia tampak sekali mengamati rumah ku. Dia seperti tengah menatap ku. Padahal yang aku tahu, kaca jendela rumah ku ini anti tembus pandang dari luar. Kaca yang semula pecah itu pun sudah ku ganti beberapa hari terakhir. Namun aneh saja, dia seperti tengah memperhatikan gerak-gerikku. Aku tiba-tiba saja merasa khawatir. Aku bergegas menuju jendela itu dan menutup semua gorden. Dan duduk lagi di sofa di samping Eliza dan Karel.


"Telepon mu berbunyi." Ucapnya menatapku dengan bingung.


Aku yang tengah gundah, menatap dirinya yang menatapku dengan tanda tanya berputar di kepalanya. Aku segera menatap layar handphone itu. Melihat siapakah yang menelepon ku? Lagi-lagi. Masih dengan nomor telepon yang berderet-deret tanpa nama. Dan nomor yang sama. Apa ini? Aku di teror? Aku pun bertekad bulat untuk tak mengangkatnya. Untuk beberapa kali, layar handphone tetap menyala. Dan Eliza pun mengingatkan ku beberapa kali tapi aku tak menghiraukannya sama sekali.


Hingga malam yang gelap itu tiba. Aku masih dengan banyak pikiran duduk di sofa ruang tamu sambil memperhatikan tv yang menyala itu. Film kartun. Dulu aku sangat menyukainya. Tapi sekarang semua itu terlihat sangat tidak masuk akal. Tikus itu berada di sebuah lembah. Awalnya ia sedang bersama dengan teman-teman nya. Tapi mereka tersesat dan mereka berpencar. Hari mulai gelap, dan jalan pulang tak kunjung di temukan. Satu hal yang sangat penting adalah tikus itu takut pada kegelapan. Dia sendirian disana. Siapa yang bisa menolongnya? Seekor burung gagak datang menghampiri nya. Burung hitam itu memberi kehangatan untuk tikus di rumahnya. Gagak mulai bercerita. Tetang malam yang amat menakutkan, penuh dengan teror dan kesedihan. Membuat tikus semakin takut.


Tiba-tiba saja Eliza mengejutkan ku. Aku menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Makan malam sudah siap." Katanya padaku.


Aku segera bangkit dari duduk ku. Eliza menghampiri Karel. Ia mendorong kursi roda itu hingga sampai di meja makan. Eliza memang sangat pandai dalam memasak. Enak. Dan ini adalah sup yang hangat yang beraroma sangat sedap. Dengan bumbu yang pas, sama seperti masakan Mama. Lagi-lagi aku rindu padanya. Aku baru saja menyeruput kuah sup itu, tiba-tiba saja pintu di ketuk. Siapa?


Aku menghampiri pintu besar itu dan membukanya. Gadis itu lah yang pertama kali ku lihat. Cantik.


"Steyf... Ternyata kau? Ahahahah.." ujarnya saat melihatku dengan tatapan nya yang menyenangkan.


Dan itu membuatku bingung. Apa yang dia lakukan di sebuah permukiman yang sudah lama di tinggalkan?


"Anh? Apa yang kau lakukan disini?" Tanyaku.


"Apa yang aku lakukan? Aku dan keluarga pindah kemari. Sekarang aku tinggal di beberapa gang rumah dari sini.


"Papa bilang, ingin kenal akrab dengan tetangga, jadi Mama membuatkan ini." Katanya sambil menyodorkan sepiring pai. Itu terlihat sangat enak.


"Terimakasih. Salam untuk keluargamu, Anh." Kataku padanya.


Ia mengangguk.


"Jangan lupa dimakan, yah." Katanya sambil melambaikan tangan dan pergi dari halaman rumah ku.

__ADS_1


Aku meletakkan sepiring pai itu di meja. Lantas cepat-cepat berjalan ke halaman depan rumah. Lantas menutup dan mengunci gerbang dengan rapat. Anh. Dia pindah kemari. Padahal tidak ada satu pun orang yang berani datang kesini. Permukiman terkutuk. Dan horor. Kedatangannya membuatku cukup resah.


__ADS_2