Laboratorium - Merah

Laboratorium - Merah
Chapter 27 Steyfano Marcues


__ADS_3

Cukup melelahkan untuk hari sekolah yang begitu panjang. Tamat lah. Sebentar lagi akan ada try out tapi aku belum ada persiapan sama sekali. Memang nya setelah lulus nanti apa yang akan aku lakukan? Mungkin berdiam diri dirumah saja sampai mati. Cih. Aku sudah tak ingin mengingat cita-cita ku.


Aku berjalan menyusuri jalan setapak. Hingga sampai lah aku di depan pintu rumah. Aku akan membukanya. Tidak. Pintu itu sudah terbuka. Siapa? Yang berani memasuki rumahku? Apakah itu pencuri? Tidak. Itu perempuan. Tidak. Itu Tante kecil.


Alvragos de Eliza Marcues. Aku pernah melihatnya waktu masih belajar merangkak di Belanda sana. Sekarang dia berumur 15 tahun. Hampir 16 tahun. Dan sekarang aku bertanya-tanya mengenai kedatangan nya kemari. Aku memandangnya dengan tertegun sejenak melihatnya menatap-natap foto dan berbagai macam riasan dinding yang cukup mewah untuk nya. Dia melihat aku yang mematung di ambang pintu.


" Kau sudah pulang? Maaf aku masuk tanpa izin. Habis pintu mu tak kau kunci. " Katanya dalam bahasa Belanda sana.


" Hm. "


" Rumah mu sangat bau. Dimana kak Marcues? Aku mau bertemu dengannya untuk berlatih menjadi ilmuwan. Kakak ku yang itu adalah ilmuwan yang sangat menghayati pekerjaan nya."


" Kau tidak tahu? Dia sudah mati. Termakan tanaman maut yang diciptakannya sendiri." Aku sungguhan tak tahu apa yang membuatku lancang membual.


" Maksud mu apa?"


" Marcues tidak ada disini. Dia sudah mati. Termakan percobaan tanaman maut nya sendiri."


" Apa maksudmu hah? Kau membual? Iya kan?"


" Aku sedang tidak bercanda. Jangan mencari Marcues disini. Dia sudah di alam kematian."


Dia mundur beberapa langkah dengan tubuhnya yang bergetar. Hingga punggung kurus nya itu membentur sebuah tembok besar di belakangnya. Dia terjatuh dan menangis. Setahuku, dia adalah adik Marcues yang penyayang. Tidak seperti Mary Marcues yang galak dan Justine Marcues yang amat tegas. Kakek Marcues meninggal 3 tahun sebelum peristiwa tanaman maut itu. Nenek Marcues adalah wanita yang masih muda. Dalam riwayat dikatakan dirinya menikah dengan kakek Marcues disaat dirinya berusia 14 tahun karena terpaksa untuk menyelamatkan keluarganya yang di ambang krisis ekonomi. Tentunya hal itu tidak menjadi sebuah dampak buruk akibat di tinggal sang suami dan hanya tinggal bersama dengan ketiga anaknya. 2 bulan setelah kematian Kakek Marcues, ia menikah dengan seorang Pria berkulit coklat berkebangsaan Spanyol. Saat itu usia ku 7 tahun, lahirlah dia sebagai keturunan entah keberapa itu dari keluarga Marcues yang berdarah Spanyol dan Belanda.


Aku menghampirinya dan membantunya kembali berdiri. Tubuhnya lemas. Jadi aku membantunya duduk di atas sofa.


" Sejak kapan? Kenapa.. tak ada yang memberi tahu kami? "


" Sudah beberapa tahun yang lalu. Aku tak tahu bagaimana caranya menghubungi keluarga di Belanda sana. Karena aku bukan bagian dari mereka."


" Maksudmu apa?"


" Yah.. aku dari keturunan Marcues yang di cap sebagai keluarga simpanan. Aku sudah cukup di hina seperti itu oleh keluarga Marcues di Belanda sana. "


" Itu adalah kesalahan Marcues, kau tidak perlu merasa begitu."


" Tidak, Tante kecil. Aku pula sudah muak berurusan cukup banyak dengan Marcues. Dia tidak pernah melihat aku dari sudut pandang yang menyenangkan. Dia juga tidak mempedulikan Mama dan adik. Aku cukup tersakiti melihat Mama yang terus-terusan menangis setiap malam. Itu sudah cukup. Lihat. Apakah aku sudah melihat Mama tersenyum bahagia sekarang dengan tidak berpura-pura bahagia? Tidak. Aku belum sempat melihatnya. Jadi kalau kau ingin mencari Marcues, jangan kau cari disini. Kami bukan keluarga Marcues. Kami hanyalah keluarga simpanan Marcues. Saat itu aku tidak tahu apa-apa tentang apa yang di katakan kepada kami sebagai keluarga simpanan. Tapi aku baru saja mengetahuinya. Dan bodohnya semua keluargamu mengakui hal itu."


Kini aku yang tertunduk ingin menangis. Keheningan melintas seketika.

__ADS_1


" Maaf. Jika itu benar-benar menyakitimu. Aku sedikit terkejut mendengar kematian Marcues. Tapi bagi kami, Marcues memang bodoh memperlakukan seorang wanita dan anak seperti itu. Entah itu keluarga sah atau tidak sah kau tetaplah bagian dari Marcues. Karna sudah cukup terbukti dengan nama yang kau sandang selama ini. Kau berlindung dengan nama Marcues. Kau di takuti banyak orang karna namamu Marcues. Kau di segani banyak masyarakat umum karena nama mu Marcues. Itu memang tidak menyenangkan. Tapi manfaatkan saja sebuah keberuntungan yang ada. Dia memanglah kakak sulung tiri yang bernafsu parah. "


Aku hanya berdeham. Mengangkat kepalaku dan kemudian kembali merasakan hawa yang hening.


" Aku kemari karena aku ingin menjadi seorang profesor seperti dirinya. Berguru dengan nya sampai aku menjadi seperti dirinya juga. Tapi.. yah sudah lah.. apakah kau tidak keberatan jika aku mengatakan ini pada ibu?"


" Aku harap kau tak mengatakan dari aku. "


" Itu bisa di atur. "


" Bagus. "


" Semoga dia baik-baik saja di alam sana. "


Ah. Tidak. Aku tidak mau berharap demikian.


" Berbicara tentang masalah keluarga, sebenarnya tadi aku juga datang ke rumah kakak ipar, Mara. Dia bilang Leo juga sudah bertahun-tahun tidak pulang. Dia bilang sedang bersama Marcues. Tapi nyatanya Marcues sudah.. " dia berhenti bicara seperti seakan-akan tak bisa menerima kenyataan itu. Tetapi dia berusaha menahan tangisnya sekuat tenaga. Dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya secara teratur.


" Apakah mungkin Leo itu kabur dari rumah? Atau mungkin saja dia pusing tinggal di rumah? Dia mengalami masalah dengan rumah nya itu yang mengharuskan dia untuk pergi? Mungkin saja dia di cela ayah tirinya. "


Hei. Aku terkejut bukan main.


" Ayah tiri? " Tanyaku.


" Begitukah? "


" Ya. Leo pernah bercerita. Dia ingin sekali bertemu dengan mu. Tapi tidak tahu dimana kau tinggal, karna Marcues juga menyuruh aku dan ibu serta kakak-kakak yang lain untuk merahasiakan keberadaan para keluarga simpanan nya itu kepada keluarga Mara dan Mara sendiri. "


Dan sebejat itu lah Marcues. Si pengguna handal otak kiri. Otak kanan nya bahkan sudah mati. Hatinya juga. Sungguh. Aku ingin mengeluh. Aku menghembuskan nafasku dengan keras.


" Kenapa dia mencariku?"


" Entah. Dia bilang ada yang ingin di katakan padamu. "


" Dari mana dia tau kalau aku adalah keluarga simpanan Marcues?"


" Ibu ku bercerita, setelah beberapa tahun mempunyai banyak keluarga simpanan, Mara tahu dan terjadilah pertengkaran di antara mereka. Dan akhirnya Marcues memenangkan debat itu dengan mendapatkan izin dari Mara. Dengan sebuah syarat untuk tidak merugikan Mara dan anak-anak sah nya. Serta tidak mengucilkan atau berpilih kasih diantara sesama keluarga Marcues. Mungkin saja Leo sudah mengerti, atau mungkin dia di beritahu ibunya. "


" Begitukah?"

__ADS_1


" Menurutmu kemana Leo pergi?"


Aku terdiam beberapa saat. Kemudian menatap lekat-lekat wajah Tante kecil di samping ku ini.


" Mati. "


Jawaban ku membuatnya agak sedikit terkejut. Dia tersentak.


" Kenapa kau berpikir begitu?"


" Aku kan cuma menebak. Dan aku sedang menyatakan argumen ku. "


" Bagaimana mungkin dia bisa mati? Dia anak yang pintar. "


" Dia pintar. Tapi tidak selama nya pintar dalam hal beretika. Itu bisa menimbulkan banyak musuh. Dan itu selalu terjadi disini. "


Dia tertunduk.


" Aku berharap semoga tidak demikian. Dia hanyalah anak baik-baik yang di perbudak oleh ayahnya sendiri."


" Maksudmu kepintaran nya di paksa?"


" Bukan. Sejak lahir Leo memang sudah pintar. Lebih pintar dari bayi-bayi lainnya. Tapi, kepintaran nya membuat Marcues gila dan memperbudak nya untuk mengembangkan segala ide di otak Marcues. Mulai dari apa kegunaan ini dan apa yang akan terjadi dengan ini. Karna yang pasti jawabannya selalu benar. "


" Jadi maksudmu.. segala proyek Marcues yang sampai saat ini berkembang itu adalah buatan Leo?"


" Seperti yang kau tahu, Marcues hanya berkecimpung di dalam ilmu kimia dan sains. Sedangkan Leo pintar dalam hal apapun. Dia membuat banyak teknologi modern yang di pakai semua orang saat ini, tapi itu atas nama Marcues. Itu yang membuat Marcues semakin panas untuk terus melakukannya. "


Aku sungguhan tenganga tak mengerti dengan orang tua itu. Segila itu dengan dunia. Dia gila dengan ketinggian derajat. Bahkan hanya karena satu orang yang berniat ingin menyaingi nya dalam hal itu pun dia musnahkan.


" Dari mana kau tau akan hal itu? Kau yakin tidak sedang membual?"


" Aku adik kepercayaan Marcues. Aku bisa saja tau tentang apapun rahasia yang di pendam olehnya. Yah... Mungkin saja dia sudah menyesal di sana. Aku harap begitu dan Tuhan memberinya kemudahan."


Aku terdiam. Masih tidak percaya. Bingung sejuta bingung aku rasakan sekarang. Kepalaku sudah mulai pening dan hari sudah mulai malam. Aku merasakan perutku bergemuruh. Aku kelaparan.


" Apa kau sudah makan?" Tanya ku padanya yang ikutan terdiam dari tadi.


" Belum juga. "

__ADS_1


" Bagaimana jika kita makan di luar? Aku akan mengajakmu makan makanan enak di negeri nusantara ini. "


" Sepertinya itu hal yang bagus. Sekaligus aku ingin berbicara dengan mu."


__ADS_2