
Kami sampai di Belanda. Pukul 4.15 kami sampai di rumah. Kami berencana untuk menemui dokter ahli torakoplastik besok pagi saja. Kami sudah membuat janji sebelumnya. Maka akan ada waktu bagi Eliza untuk istirahat sebentar. Aku masuk ke dalam rumah itu. Eliza hanya terdiam dari tadi. Dia bahkan tak mengucap satu kata pun. Ketika ku tanya, jawaban nya hanya sekedar mengangguk atau menggeleng. Rumah itu sepi. Hanya ada kami berdua. Aku menatap Eliza yang menunduk dalam-dalam.
" Dimana nenek Marcues? Sepertinya mereka keluar. Disini sangat sepi."
Aku masuk ke dalam sana. Meletakkan koper kepunyaan Eliza. Aku hanya membawa beberapa pakaian saja di tas ransel ku. Aku tidak membawa berlebihan. Aku hanya sebentar. Aku menatap Eliza yang hanya terdiam menunduk dalam-dalam di ambang pintu.
" Ada apa? Kau tidak masuk?" Aku bingung sendiri dengan yang di perbuat nya itu.
Patah-patah dia berjalan masuk ke dalam ruangan. Aku segera saja merapikan berbagai pakaian Eliza ke kamarnya. Saat aku akan kembali ke ruangan depan, aku sudah melihat dia berdiri di depan pintu kamar. Dia terus menunduk. Bedanya dengan membawa sebuah kapak. Dari mana dia dapatkan benda itu?
" Apa yang kau lakukan disana?"
Aku masih terkurung oleh kebingungan. Dia mau apa? Itu yang beberapa detik aku pikirkan. Dia mendongakkan kepala nya menatapku. Bibirnya pucat. Matanya cekung. Dia mengangkat kapak itu tinggi-tinggi. Lantas melayangkan nya. Itu menancap di pinggang ku. Dia pun membeku. Aku pula mati kata.
" Ceritakan saja Eliza. "
Aku menoleh ke arah dapur. Aku sudah melihat sebelumnya. Mayat-mayat itu bertumpuk disana.
" Kau adalah gadis yang selalu berubah-ubah sifat. Kau tidak jelas. Kau mengatakan padaku banyak omong kosong. Dan membohongiku banyak hal. "
Dia menatap darah yang mengalir dari pinggang ku itu dengan raut wajah kebingungan. Bagaimana aku tidak mati? Mungkin itu yang ia pikirkan. Karena aku juga demikian.
" Sebelumnya aku tau. Maksud dari kedatangan mu ke rumah ku. Kau tidak perlu mengubah-ubah ceritamu. Dari kau yang awalnya ingin menemui Marcues dan menjadi ilmuwan hebat sepertinya. Lalu mengubahnya lagi menjadi ingin menemui Marcues karena dia satu-satunya orang yang punya jantung buatan yang lebih bisa bertahan lama.
"Aku tau Eliza. Kau hanya kesepian. Kau kesal karena kau lemah. Kau di kucilkan di keluarga ini. Aku tau. Lebih dari tahu. Semua ini berhubungan dengan mentalmu. Kau takut aku akan tau tentang rahasiamu bukan? Kita sama-sama memiliki hal itu. "
Dia menatap ku. Dia kembali menunduk. Kemudian menangis sendu.
" Kau istirahat saja di dalam. Aku yang akan membereskan itu."
Aku berjalan menuju dapur dengan kapak yang masih terus menempel di pinggang.
__ADS_1
Mary. Justine. Nenek Marcues. Dan seorang pria Spanyol. Dia menghabisi semuanya. Dia telah menemukan caranya untuk membela diri.
Aku membakar habis semua mayat itu. Lantas kembali masuk ke dalam. Aku melihat Eliza yang sudah tertidur di kasurnya. Aku duduk merenung di sofa. Leo hanya mencontek. Soal jantung buatan itu bukanlah hasil karya nya sendiri. Dia mencontek. Dengan cara dia membunuh Zorzetto, dia menemukan cara bagaimana agar dia terus dipuji. Jantung buatan. Itu bukan karya Leo. Itu buatan Zorzetto. Setidaknya itu yang aku tahu dari buku jurnal Marcues yang ku pegang saat itu.
" Jantung buatan yang di pakai nona Eliz digunakan sebagai 'jembatan menuju transplantasi', yang membuatnya tetap hidup, memberinya waktu, sampai dia menerima transplantasi jantung manusia. " Begitulah kata seorang dokter di samping ku dengan bahasa Belandanya.
Aku menatap Eliza di kasur rumah sakit. Tidur dengan selang infus di tangan itu sangat tidak nyaman. Aku tidak berbohong.
" kami akan melakukan pemeriksaan sampai beberapa hari. Apakah anda berniat ingin mengganti jantung buatan itu dengan jantung manusia? Apakah anda sudah menemukan pendonor?"
Aku terdiam. Pertanyaan rumit. Aku tidak tahu. Yang aku lakukan hanya menemani Eliza disini.
" Aku tidak menemukan pendonor. " Kataku dalam tundukan dalam-dalam.
" Tapi aku hanya ingin kau memeriksanya. Jika itu kelihatan baik-baik saja, aku akan menjaganya sebisaku. Jika itu kelihatan tidak baik aku akan mencari pendonor. Menyogok jika perlu." Ucap ku padanya.
Dia menyeringai.
Aku tetap memandang Eliza dengan tatapan sendu.
" Permisi." Ia berjalan keluar ruangan itu.
Kini hanya ada aku dan Eliza yang terbaring lemah. Hanya ada satu yang aku pikirkan. Apakah aku harus mencari pendonor dan memaksa mereka dengan menyogok seperti yang aku katakan pada dokter itu?
Hari berganti pula menjadi besok. Aku masih saja sibuk membolak-balik halaman buku jurnal Marcues itu. Tapi aku tak menemukan apapun tentang jantung buatan itu selain tentang Leo yang mencontek jantung buatan milik Zorzetto dan tulisan-tulisan tidak berguna. Jika saja. Jika saja ada orang yang harus ku jadikan sebagai musuh. Maka aku akan melukainya. Dan mencopot jantungnya untuk Eliza.
Ya. Aku berjalan melewati jalan yang sepi. Itu seperti hutan. Tapi sangat indah. Tidak seperti hutan-hutan di Indonesia yang terlihat sangat suram. Aku berjalan sambil mendengarkan sebuah musik yang keluar di headset yang ku pakai. Aku tetap berjalan seperti orang-orang pada umumnya. Tidak macam psikopat seperti di film-film yang akan mengerudungi kepala dan mukannya dengan jaket hitam. Aku tetap harus bersikap normal.
" Tuan, barang mu terjatuh. "
Seorang wanita. Terlihat jelas berumur 20 an. Dia masih muda. Berdiri di depan ku dengan... Ya. Itu barang ku yang sengaja aku jatuh kan. Aku membungkam nya dengan sebuah kain. Hah. Astaga. Aku menculik seorang wanita di jalanan yang sepi. Aku menggendongnya ke rumah. Melewati jalanan yang ramai pula. Akan tetapi tidak ada yang mengetahui niat ku. Semua orang hanya berpikir itu hanya kehidupan indah masa muda. Ya. Seorang lelaki menggendong pacarnya yang tidur. Mungkin karena kelelahan berjalan. Semua orang menatapku sambil membungkam mulut nya dan tersenyum. Mereka pikir ini adalah hal yang romantis.
__ADS_1
Ah. Tentu tidak. Aku masuk ke dalam rumah. Mengikat wanita itu di sebuh kursi. Dan menunggunya siuman. Tiba-tiba saja ponsel ku berdering. Aku menempelkan nya ke telinga.
" Tuan, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada anda. "
Maka aku segera saja menuju ke rumah sakit. Dengan berjalan setengah berlari aku seperti mengejar waktu ku yang mepet.
" Berita yang buruk, tuan. Kami telah memeriksa jantung buatan nona Eliz dan itu sudah tidak bisa bekerja dengan stabil. Jantung buatan model A ini adalah jantung buatan yang belum sempat di uji. Terpaksa kita harus mengeluarkan jantung buatan nya juga, mengangkat pengendali dan ini bukan lah oprasi yang sederhana. "
" Kalau begitu cepat lakukan saja. "
" Tapi tuan. Tidak semudah itu. Apalagi dengan pasien yang muda. Untuk keberhasilannya itu sangatlah minim. Lalu kami baru saja melakukan pindai CT. Nona juga mengalami kanker paru-paru stadium atas. "
" Hah. Itu tidak mungkin. Bahkan dia tidak menampak kan gejala apapun. "
" Mungkin saja itu terjadi di luar sepengetahuan anda tuan. "
" Lantas apa yang akan terjadi?"
" Untuk melakukan oprasi mengganti jantung buatan itu, butuh waktu antara 8-9 jam. Akan tetapi karena nona Eliz mengidap kanker paru-paru, kita tidak bisa membiusnya sampai 8-9 jam. Kita harus cepat. Sedangkan dengan mengganti jantung buatan itu saja bukan lah oprasi yang sangat sederhana. "
Aku terdiam beberapa saat.
" Kira-kira, berapa lama lagi dia bisa bertahan hidup?"
Dokter menatapku lamat-lamat.
" 3 bulan."
Aku kembali terdiam.
'' padahal penerima jantung buatan, harus cukup kuat untuk bertahan dari operasi, dan pemulihan yang butuh kekuatan fisik dan emosional. "
__ADS_1
Aku berdiri tanpa mengatakan apapun dan berjalan keluar ruangan itu tanpa pamit.