Laboratorium - Merah

Laboratorium - Merah
Chapter 44 Steyfano Marcues


__ADS_3

Wanita itu berhasil menjalani pemeriksaan. Dia sungguhan sehat seperti yang di katakannya padaku beberapa jam yang lalu. Aku gila. Sungguhan gila. Aku merasa sangat tidak nyaman. Dia seperti hanya seorang wanita biasa. Tidak berkecukupan. Dan bersusah-payah menghidupi dirinya. Aku sungguhan bertanya-tanya mengapa aku harus melakukan ini?


Aku menghampirinya yang duduk termangu di ruang periksa. Aku mendekat ke wajahnya. Sungguhan wanita 20 tahun-an.


" Aku, sangat berterimakasih. Aku sebenarnya tak nyaman. Tapi.. ini hanya untuk, satu-satunya orang yang aku punya dibumi ini. Terimakasih. "


Dia hanya terdiam.


" Apa kau punya keluarga?" Tanya ku padanya.


Dia langsung mendongakkan kepalanya.


" Tidak! Tidak! Tolong jangan apa-apa kan keluargaku. Aku mohon. Aku akan melakukan apa saja, tapi tolong jangan dengan keluargaku..."


" Ayo lah. Aku hanya bertanya padamu. Aku tidak akan mengusik keluargamu. Aku hanya bertanya soal itu. Aku hanya ingin kau. "


Dia memegang ujung baju ku dengan amat sangat. Dengan nafasnya yang tak beraturan. Dia mulai menganggukkan kepala dengan terus terisak.


" Anak ku masih kecil. Suami ku sudah meninggal. Anak ku adalah seorang anak autisme. Dia tidak tahu apa-apa. Aku mohon. Jangan apa-apa kan dia. "


Katanya masih terus memohon. Lantas seketika aku terdiam.. bingung harus bagaimana aku berkata. Antara bagaimana bisa aku menjadi seorang membunuh wanita ini secara halus. Hidupnya sudah berat. Tapi semua itu berlalu begitu saja.


" Oprasinya akan di mulai besok. Aku ingin kau, untuk menginap di rumah ku. Cepat ikuti aku."


Tentu saja. Aku mengikat wanita itu di rumah ku. Mengikatnya dengan tali yang amat erat. Karna mungkin aku tahu. Dia pastinya akan melarikan diri. Semalaman. Dia hanya menangis. Tanpa suara. Awalnya aku berpikir pasti dia teringat akan anaknya. Dia. Memang sungguhan ibu yang hebat. Lantas malam-malam begini pula aku rela berjalan menuju ke tempat khusus penitipan anak-anak penyandang autisme. Ku lihat anak itu. Seorang anak laki-laki yang mempunyai nama Karel Defras. Yang memiliki arti seseorang yang kuat dan sangat baik hatinya dalam bahasa Belanda. Aku membawanya ke tempat ku. Membawanya ke hadapan ibunya.

__ADS_1


Tangisan lah yang saat ini mengisi suasana. Malam yang mencekam ini dicairkan antara ibu dan anak nya. Terkadang aku merasa tak ingin melakukan hal ini. Tapi aku... Masih teringat saja pada ibu ku.


" Aku akan menjaga anak mu selama kau pergi. Kalau kau tak suka dengan segala tindakanku, tinggalkan pesan melalui alam. Maaf jika.. aku.."


Tidak. Aku tidak dapat berkata-kata.


Pagi itu. Aku menghampiri Eliza di ranjangnya. Kini wajahnya penuh senyuman. Manis. Seperti gadis-gadis kecil pada umumnya. Aku menatap nya dengan penuh kekhawatiran. Apakah... Semua ini akan menjadi hal yang... Berakhir cukup disini?


" Oprasinya akan di mulai sebentar lagi. " Kataku padanya.


Dia terus-terusan tersenyum dan mengangguk.


" Satu hal yang ingin aku katakan padamu. Hujatan seseorang itu hanyalah sekedar kata-kata. Tidak mempunyai arti dan penuh dengan omong kosong. Meskipun keluargamu tak menginginkan mu. Membandingkan mu dengan gadis-gadis normal pada umumnya. Ingatlah. Di sebuah lembah besar pegunungan Himalaya, ada makhluk yang disebut Abarimon. Mereka memiliki telapak kaki yang menghadap ke belakang. Namun bisa berlari kencang. Begitu juga dengan mu, Eliz. Kau istimewa. "


Oprasi pun di lakukan. Semuanya berjalan begitu saja. Aku menunggu. Sudah lebih dari 4 jam. Aku tetap duduk di ruang tunggu dengan perasaan yang campur aduk. Aku merenung. Tidak akan ada orang yang mau mendengarkan cerita keji dan menjijikkan ini. Aku hanya tidak tahu. Bagaimana caraku untuk melampiaskan segala dendam yang aku pendam kepada Marcues. Bahkan kepada seluruh manusia. Dengan segala ilmu nya yang telah membuat bumi semakin kehilangan kendali. Bumi sudah tua. Dia bahkan sudah merasa kelebihan beban dan tak kuat lagi untuk menopangnya. Maka tak lama lagi tentu akan segera hancur begitu saja. Manusia mungkin saja ber-ilmu, tapi ber-pemikiran pendek. Itu semua karena mereka yang terlalu mementingkan pendapat pribadi dan mengejar dunia yang tanpa batas. Uang, derajat, dan tahta. Itu lah yang mereka mau. Akan tetapi mereka lupa. Semesta lah yang memberikan semua itu. Hingga mereka pun menjadi lalai.


Ya. Semua nya berjalan selama 6 jam. Dan itu berhasil. Kerja bagus untuk mu Eliz. Batin ku saat itu. Dia bertahan. Dia.. sungguhan istimewa.


Maka senja itu datang begitu saja. Dengan cahayanya yang redup. Seperti lampu tua. Matahari tenggelam dengan indah. Seperti yang selalu disukai Eliza. Harapan ku hanyalah. Hidup dan bertahan. Eliza. Dia harus bertahan dan hidup dengan layak. Hanya dia. Satu-satunya. Yang aku punya saat ini. Satu-satunya.


Dia membuka matanya perlahan. Mungkin saja bingung bagaimana ia harus mengutarakan kesenangan nya. Matanya silau akan cahaya matahari pagi. Dan di tatapnya aku. Berkaca-kaca seperti ingin sekali menangis. Air mata itu menetes perlahan dipipinya yang halus nan bersih. Aku memandanginya dengan senyuman yang tak dapat aku sembunyikan. Bersama dengan seorang anak laki-laki autis yang saat ini duduk di kursi roda samping ku.


"Aku masih hidup!" Seru nya.


"Jangan berkata-kata dahulu. Istirahatlah yang cukup. Atur nafasmu perlahan." Aku melihat dia tak dapat berhenti menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku bangga padamu, Tante kecil. Kau sudah berjuang dan kau berhak mendapatkannya." Kataku.


Ia menatap ku lekat-lekat. Lantas berganti menatap anak laki-laki itu yang kini memukul-mukul kepalanya sendiri. Dan berteriak histeris secara tiba-tiba. Eliza menatap ku dengan muka bertanya-tanya.


"Kau harus berterimakasih. Dia akan menjadi keluarga baru kita. Anak ini adalah anak dari orang yang mendonorkan jantung kepadamu Eliza." Kataku.


Kini ia sungguhan tersenyum.


Hari-hari terus berlalu. Kesehatan Eliza semakin pesat. Dan semuanya berubah. Dia tak perlu lagi risau untuk berlari kencang. Tak peduli akan seberapa besar pompaan udara dalam jantungnya. Dia sungguhan bahagia. Tentang anak laki-laki autis itu tak perlu di cemaskan. Eliza merawatnya dengan sangat baik. Dia mengajaknya bermain bersama. Menyuapinya. Membersihkan tubuhnya. Membuat anak laki-laki itu benar-benar nyaman ada disampingnya. Itu semua membuatku merasa tenang. Selama satu bulan ini aku hanya mengerjakan soal-soal dari sekolah secara daring. Dan kali ini aku bisa kembali ke sana. Kembali ke rumah yang penuh dengan sejuta kenangan buruk.


Kami sampai. Aku membuka pintu dan rumahku sungguhan berantakan. Apa? Apa ada pencuri? Persetan dan terkutuklah pencuri yang datang kerumah ku. Aku masuk ke dalam sana tanpa berkata-kata. Eliza hanya terdiam mengekoriku dari belakang seraya mendorong kursi roda bocah autis itu.


"Bawa Karel ke kamar saja, Eliz. Kau juga istirahat lah. Aku akan membersihkan rumah."


Eliza hanya mengangguk. Aku membersihkan beberapa barang mewah peninggalan Si Ayah setan itu. Menjumputinya satu persatu. Semua itu membuat aku sungguhan berpikir keras. Apakah ada anak-anak setan yang berani masuk dan bermain-main ke rumah ini? Padahal aku sudah mengunci pintu. Mengunci gerbang. Dan rumah ini sudah cukup terlihat sunyi dan menyeramkan. Bahkan tanpa ada tentangga dan semua orang tahu ini adalah desa terkutuk. Siapa yang berani datang kemari? Tikus sebesar apa? Segila apa dia dengan Marcues?


Aku sigap kali ini. Semua sudah bersih dan rapi seperti semula. Rumah yang mewah namun cepat sekali kotor dan satu hal lain dari semua ini adalah rumah ini tak memiliki cctv. Cih. Kenapa tak ku pasang saja cctv kecil andalan para lelaki bejat buatan Leo yang berlabel Edward Marcues.


Aku masuk ke ruang dapur. Ku rasa aku harus membeli sesuatu yang bisa ku masak dan ku makan. Aku pergi ke supermarket sebentar lantas kembali lagi. Cukup sederhana saja. Aku mempelajari ini dari Eliza. Dia mengajariku banyak tentang memasak selama ia menjalani pemulihan di Belanda.


Eliza dan Karel turun dari kamar mereka. Tepat setelah makanan tersaji di meja. Maka mereka pun duduk di kursi masing-masing. Dan ku persilahkan Eliza untuk menyicipi masakan ku kali ini. Dia menyeruput kuah itu. Lantas berdecap sesekali.


"Sempurna." Ucapnya kemudian. Aku tersenyum.


Itu lah yang aku sukai dari dirinya. Ia memang lah gadis cantik yang menawan. Namun dalamnya begitu rapuh. Ia memiliki banyak kekurangan namun ia adalah seorang gadis yang amat penyayang. Seperti yang aku lihat sekarang. Ia menyuapi anak lelaki autis itu dengan penuh kesabaran dan ketulusan dari dalam hatinya. Aku tak tahu mengapa bisa demikian. Mungkin saja karena Karel adalah anak dari wanita itu. Bisa juga karena Eliza sendiri memiliki sikap yang amat begitu sayang kepada siapapun.

__ADS_1


__ADS_2