Laboratorium - Merah

Laboratorium - Merah
Chapter 51 Maria Aggy


__ADS_3

"Kau sedang apa?" Erina bicara dalam telepon.


"Aku..." sementara aku akan merahasiakan darinya. Terpaksa aku harus berbohong pada wanita baik itu. Aku hanya tak ingin membuatnya khawatir, juga sebenarnya tak ingin Erina ikut serta dalam kasus misterius bloodfiend itu.


"Aku baru saja selesai makan dan sekarang ingin membaca novel." Ya. Aku mengarangnya. Sekarang aku di halte bus, menunggu bus lewat di bawah terik matahari yang menyilaukan.


"Ah. Bagaimana dengan ayam bakar buatanku? Apakah enak? Atau kau menemukan kekurangan dalam resepnya?"


"Tidak. Semua masakan buatan Kak Erina selalu sempurna."


Aku mendengar tawa merdu Erina dalam telepon. Asal kau tahu, aku benar-benar kelaparan untuk saat ini. Selebihnya mood-ku hancur karena Agam. Sialan dengan si bebal itu.


"Benarkah? Oh ya, di dalam kulkas ada kue susu. Cobalah!"


"Kue susu? Kakak yang membuat?"


"Tidak, Aggy. Yang itu aku membelinya."


Aku menyeringai, tertawa juga akhirnya. Hingga kemudian Erina bilang sedang sibuk dan segera menutup telepon. Aku yakin satu atau dua jam kedepan dia akan berusaha menghubungiku.


***


Aku masuk melalui pintu yang terbuka di rumah lamaku. Hutan belantara ini lama-lama menjadi lembab. Tak ada orang yang berani masuk kawasan ini. Palang bertuliskan 'Hati-hati! Banyak binatang buas!' Terpampang di pinggir jalan.


Aku yang sudah bertahun-tahun hidup di tengah kebosanan ini bahkan tak pernah merasa takut jika mungkin saja hewan buaa mencabik-cabik dan memangsaku. Aku sekalipun tak pernah merasakan pertarungan dengan hewan buas. Seolah-olah mereka tak mengaggapku sebagai mangsa.


Mungkin itu kebetulan. Ataukah memang di takdirkan. Entahlah. Untuk saat ini tak akan terlalu aku pikirkan.


Aku duduk di depan televisi, meletakkan tas dengan beban yang amat berat. Aku mengeluarkan buku sejarah tentang kota X dan buku catatan. Masih kosong, karena aku malas belajar.


Dalam buku tertulis:


'Pada tahun 1999 kota X pernah di nobatkan sebagai kota ternyaman dan bebas polusi oleh negara kami. Untuk saat itu, kota X adalah kota impian yang menjadi pusat utama kunjungan turis dari luar kota maupun luar negri.


Namun menginjak era 2000-an, banyak trend baru muncul. Kota X yang semula di nobatkan sebagai kota ternyaman itu malah berbeda seratus delapam puluh derajat. Para turis dari luar kota maupun luar negeri jadi tak berselera lagi.


Pada tahun 2001, kota X mencatat sejarah kelam yang pernah terjadi. Sebuah insiden yang tak akan pernah di lupakan.'


Aku mulai mencatat bagian ini. Aku rasa ini adalah garis besar yang menghubungkan semua konspirasi-konspirasi yang akan aku simpulkan. Meski otakku lemot dan suka hilang konsentrasi, tapi untuk memecahkan masalah ini, aku yakin aku bisa.


'Pembunuhan keji yang di alami oleh keluarga besar Hendrick. Yang sejarahnya tak akan pernah di lupakan oleh kami semua penghuni kota ini.


'Motif pembunuhan yang rumit, teori konspirasi yang tak berujung. Serta korban yang hilang begitu saja tanpa ada jejak. Para aparat kepolisian tak sanggup untuk menemukan korban, lantas memberi hukuman yang adil. Meskipun kami semua tahu hukuman oleh Tuan lebih adil.


'Gadis usia 12 tahun dengan inisial C menghilang. Ayah dari gadis tersebut dengan inisial M terbunuh gantung diri. Ibunda dengan inisial B juga hilang. Sanak saudara seperti sepupu yang ketiga-tiganya adalah laki-laki juga di temukan gantung diri. Masing-masing orang di tempat yang berbeda. Sepupu satu di kamar mandi. Sepupu dua di kamar tamu. Dan sepupu tiga di dapur. Sementara sang ayah di kamarnya sendiri.


'Anggota keluarga lain seperti paman atau bibi dan nenek kakek mengalami luka tusuk.


'Polisi masih tak dapat temukan motif pembunuhan hingga pelakunya sampai sekarang. Tapi kami semua, masyarakat kota X yakin bahwa ini adalah kasus pembunuhan berencana.'


Aku mengernyitkan alis, nyaris tak percaya. Betulkah ini yang terjadi dengan kota yang sudah belasan tahun aku singgahi? Mengapa ibu atau kakak ataupun Erina tak pernah mengatakannya?


Aku melirik tahun terbit buku sejarah itu. Tahun 2003. Itu sudah cukup lama. Aku memang belum pernah membaca sejarah tentang kota yang aku tinggali, tapi aku tak akan jadi munafik. Aku berani katakan bahwa kota X fantastis dan menyimpan sejarah yang kelam.


Namun bukankah kasus pembunuhan itu agak tak asing di telinga? Bloodfiend? Tunggu. Aku rasa tidak. Ingatlah saat Aryo bilang tentang kalung perak dan kasus salah satu tangan yang hilang. Ini memang agak berbeda.


Aku melipat kembali buku-buku itu, memasukkannya dalam tas ransel dan bersiap pergi. Aku tak bisa berlama-lama di dalam rumah ini. Erina mengkhawatirkanku.


***


"Kau sekarang sedang apa?"

__ADS_1


Aku mendengus sebal. Baru saja makan sesuap, dan Erina sudah melontarkan banyak pertanyaan.


"Aku..." astaga. Aku sudah kehabisan ide untuk mengarang. "Aku ingin membaca novel."


"Sepertinya kau suka membaca. Katakan. Genre apa yang kau suka."


"Ah, aku rasa misteri." Aku menjawab sambil mengempit ponselku di bawah telinga dan di atas pundak. Sementara kedua tanganku sibuk memegang garpu dan sendok.


"Baik. Baik. Nanti aku mampir ke toko buku sebentar. Kau baik-baik saja di rumah, 'kan, Aggy?"


"Iya. Aku baik-baik saja. Terimakasih atas bukunya."


"Sama-sama. Jangan lupa jaga diri baik-baik. Kau harus tetap di rumah untuk menjaga dirimu sendiri."


Telepon di matikan. Aku meletakkan ponsel di atas meja makan. Langit mulai mendung, cahaya matahari yang bersinat terik mulai tergantikan dengan gumpalan awan hitam di langit. Sebentar lagi mungkin hujan akan membungkus kota. Aku tahu karena warna hitam mendungnya sangat pekat.


Baiklah. Aku rasa aku tak bisa melibatkan Erina dalam pencarian ini. Mungkin Mark Steffano dapat membantu banyak. Sebagai seorang pujangga, dia juga sudah seperti detektif. Apalagi dengan Aryo, seorang polisi yang benar-benar terampil. Mereka bisa menjadi rekan yang sangat berguna.


Setelah menghabiskan makanan, aku berjalan menuju teras. Memandang taman bunga di depan rumah Erina. Langit mendung mulai menurunkan gerimis. Hujan yang deras akan segera datang.


Aku menyenderkan punggungku pada kursi teras. Aku menutup mata, merenung.


Bukankah rasanya seperti baru kemarin aku melawan monster laboratorium si Neny menyebalkan itu? Bukankah rasanya seperti baru terjadi kemarin saat aku di culik olehnya? Bukankah rasanya seperti baru terjadi kemarin saat aku berbuat bodoh dan malah percaya padanya?


Ah, Marcues. Jika memang benar kau adalah ayahku. Maafkan jika aku harus membencimu. Ya. Aku benci kau karena telah membuat hidupku makin runyam. Aku juga benci kau karena tak becus menjaga aku. Dimana letak tempat tinggal ibu kandungku sekarang saja aku tak tahu.


Bukankah Neny bilang bukan hanya aku satu-satunya anak dari Edwars Marcues? Itu artinya ada lebih dari satu. Maksudku adalah, keturunan Edward Marcues bukan hanya aku. Betul juga. Tapi siapa? Aku baru saja terpikirkan oleh hal ini.


Itu artinya apakah aku juga memiliki saudara? Mungkin saja itu benar. Saudara kandung! Tapi untuk saat ini aku belum mampu menyimpulkan. Selebihnya aku tak tahu apakah saudaraku itu kawan atau lawan.


Karena aku sungguh jauh dengan keluarga besar Marcues. Aku di besarkan oleh ibu angkatku, di asuh juga oleh kakak angkat dan ayah angkat yang tak tahu diri. Sudah sinting.


Lagipula dalam buku karya Gladis itu, keluarga besar Marcues bukan sembarangan orang biasa. Anak-anak keturunan Edward Marcues juga berpendidikan tinggi. Apalah denganku? Di bandingkan saja kalah jauh. Perasaan ini membuatku merasa seperti anak yang paling terbuang diantara keluarga besar Marcues. Meskipun itu memang benar.


Ponselku secara tiba-tiba berbunyi, memecahkan lamunanku seketika. Aku melirik siapa yang memanggilku. Mula-mula aku mendesis sebal. Berpikir bahwa itu panggilan dari Erina yang non-stop menanyakan kabarku. Tapi ternyata tidak. Mark Steffano menghubungiku.


"Iya?" Aku memulai dahulu, dengan sopan. "Ah. Baik. Baik. Aku segera ke sana." Aku bergegas berlari-lari kecil mengganti seragam sekolah dengan pakaian yang lebih santai.


***


Hujan mulai reda. Tanah menjadi becek dan berbekas air karena guyuran air hujan tadi. Namun mentari mulai bersinar, dan hari makin sore. Aku melirik jam di ponsel, memastikan untuk dapat mengatur waktu demi berbincang sebentar dengan Mark di cafe.


Aku melepas tudung di hoodie-ku. Celingak-celinguk mencari Mark di dalam cafe. Sepertinya dia sudah ke dalam, lagipula Mark bukanlah orang yang ingkar janji.


Ternyata benar. Dia sudah seperti biasa, meninggalkan salah satu kopi dan satu cangkir lagi sudah setengah tandas di seruput olehnya. Dia melambaikan tangan, memintaku untuk duduk.


"Selamat siang. Eh bukan. Maksudku selamat sore." Aku kikuk, menggaruk kepala yang tidak gatal. Rasanya rambutku hampir basah karena terkena sedikit tetesan bekas guyuran air hujan di dahan pohon tadi.


"Siang menjelang sore maksudmu?"


"Begitu juga boleh."


"Baiklah, Aggy. Aku pesankan kau kopi hangat. Kopi susu. Aku tahu anak seusiamu bukan penggemar kopi hitam. Tapi karna aku pecinta kopi, menurutku semuanya bisa masuk ke dalam perut. Asalkan itu enak." Mark mengedipkan salah satu matanya padaku. Dan demi kesopanan, aku meminumnya. Ayolah. Aku tak terlalu suka minum kopi, dia betulan salah.


"Apa yang Tuan Mark ingin bicarakan?" Aku rasa langsung masuk ke dalam inti pembicaraan lebih baik daripada basa-basi tak penting. To the point saja.


"Ini mengenai kabar terbaru dengan kasus yang heboh kemarin. Terkait dengan Bloodfiend." Mark membuka tas kantornya, menunjukan sesuatu padaku. Itu hanya beberapa kertas hasil print yang sudah tercoret-coret oleh bolpoin.


"Aku menulis dalam computer-ku, kemudian memberi sedikit tambahan dengan bolpoin. Maafkan kalau kurang rapi."


Aku hanya mengangguk paham. Kemudian memandang kertas itu lamat-lamat.

__ADS_1


"Kota X menjadi kota paling terbanyak dengan kasus penculikan ketimbang kota S, D, ataupun B." Mark menunjuk kertas dengan bolpoin. Aku membaca sekilas. Hanya sedikit keterangan identitas korban dan bagaimana kasus penculikan itu berlangsung.


"Apakah ada kalung perak itu lagi?"


"Ada! Aryo menemukan di laci meja. Selalunya laci meja. Aku juga tak tahu mengapa. Beruntung orang tua korban selamat."


Mark membalik kertas itu, menunjukan kertas lain yang juga berisi keterangan.


"Ini update korban terbaru, Agg. 12 jam yang lalu. Seorang gadis berusia 10 tahun yang menjadi korban sekarang. Ibunya di temukan gantung diri dengan salah satu tangan kanan yang hilang. Gadis itu hanya tinggal berdua dengan ibunya." Wajah Mark sangat serius.


Aku membacanya, namanya Joy. Anak kelas 4 SD. Tunggu! Bukan soal namanya atau apa. Tapi... gantung diri? Aku merasa tidak asing. Tunggu. Gantung diri? Bukankah kasusnya hampir sama dengan yang aku baca di buku sejarah kota X? Tapi mengapa di buku tidak tertulis bahwa di temukan juga kalung perak dengan ukuran 16 cm itu?


Jikalau memang benar pembunuhnya sama, yaiti Bloodfiend. Harusnya salah satu tangan korban hilang, dan juga di temukan kalung perak ukuran 16cm di laci meja. Karena itu memang kebiasaan si pembunuh biadab itu, bukan? Tapi mengapa ini lain namun hampir sama? Apakah ini juga berhubungan?


"Ada apa? Kau mengetahui sesuatu?" Mark membuyarkan lamunanku (lagi). Sepertinya karena beberapa detik aku terdiam dengan pandangan kosong.


"Eh?" Aku rasa aku harus menjawabnya. "Aku tadi barusan pergi ke toko kios buku. Dan aku dapatkan buku terbitan tahun 2003 tentang hal-hal yang mengenai kota X. Tapi dalam buku itu di sebut sejarah.


"Dan barusan aku membacanya. Di halam 12-14 tertulis bahwa pernah terjadi pembunuhan pada keluarga Edrick. Dan entah mengapa aku merasa ada hubungannya dengan kasus ini. Kasus yang di perbuat oleh Bloodfiend.


"Disana tertulis bahwa keluarga lain di temukan gantung diri. Keluarga yang berjenis kelamin wanita hilang tanpa jejak. Bukankah itu terlihat sama, Tuan? Namun anehnya aku tak menemukan tulisan dalam buku yang menuliskan kalung perak dan salah satu tangan korban yang hilang. Tapi bukankah ini terlihat sama dan entah mengapa seperti berhubungan satu sama lain?"


Mark membelalak menatapku. Mungkin saja dia juga tertarik dan merasakan yang sama sepertiku.


"Kau benar. Kapan kejadian itu terjadi?"


"Kalau tak salah pasa tahun 2001."


"Boleh aku lihat bukunya?"


"Aku tak membawanya, Tuan. Mungkin kapan-kapan aku akan bawakan buku itu."


Mark mengangguk, menyeruput kopinya hingga tandas. Dia melirik keluar jendela, kemudian menatapku lagi.


"Kota ini banyak menyimpan misteri. Alangkah baiknya jika membicarakan hal sesensitif ini, gunakan saja dengan volume yang pelan." Mark memberi usul, dan aku membalas dengan anggukan.


"Tapi aku berjanji akan pecahkan itu semua. Iblis sepertinya harus di kalahkan. Apalagi banyaknya korban. Dan aku tak mau salah satunya adalah kakakmu."


Eh? Aku agak bingung dengan pernyataannya barusan. Kakakku? Bukankah kakak angkatku sudah menjadi korban?


"Kakak?" Aku mengernyitkan dahi tidak mengerti.


"Ya. Aku tak ingin wanita itu jadi korban. Dia terlalu lugu."


Sejenak aku mulai berpikir. "Kak Erina yang anda maksud?"


Mark tidak menjawab, hanya tesenyum memalingkan muka. Tapi aku melihat mukanya agak memerah. Well. Itu tak terlalu aku pikirkan untuk saat ini. Ada banyak sekali hal yang perlu di kerjakan. Aku sependapat dengan Mark. Erina terlalu lugu, baik pula. Aku tak akan sampai hati untuk tak melindunginya. Dia yang terakhir, dia harus aku lindungi.


"Ah, ada yang aku lupakan. Bukankah kau membeli buku bajakan selama ini, Aggy?" Mark berkata dengan ketus secara mendadak. Menunjuk mukaku dengan telunjuknya yang panjang.


"Apa?" Aku tak percaya kalau dia bakal tahu. Benar juga, selama ini aku membeli buku palsu, non-original. Bagaimana ini? Dia penulis asli dari 'Dead In My Room' yang aku beli secara ilegal.


"A-aku-"


"Apa? Kau pikir aku tak tahu? Kau juga membeli novelku dengan harga yang lebih murah."


Aku harus bagaimana? Rasanya semakin canggung saja.


"Maafkan aku, Tuan. Aku mohon. Sungguhan aku tak punya uang untuk membeli. Maafkan, ya?" Aku merengek, sudah seperti bayi. Tapi mau bagaimana lagi? Dia adalah penulis favoritku, dan sekarang aku ketahuan olehnya telah membeli barang buatannya secara ilegal.


Tapi di luar dugaan, Mark malah tertawa. Astaga! Kau ini sedang mengejekku?!

__ADS_1


"Kau sentimental sekali, Aggy."


***


__ADS_2