
"....sekarang aku berpikir kau harus mengurangi pertemanan mu sekarang juga, Steyf. Aku adalah kakak mu. Marcues adalah ayahmu. Sekaligus sebagai sebuah nama keluarga yang kau sandang selama ini. Keluarga kita adalah keluarga keturunan raja. Setiap keluarga harus menghormati mereka yang lebih tua. Jadi berikan cairan itu sekarang dimanapun kau menyembunyikannya. Ayo kita berikan itu kepada ayah bersama-sama, Steyf. Kau ingin membalas dendam karena kau selalu dibully bukan? Iya. Kau bukan pembunuh. Kau harus membuktikan itu. Sekarang. Atau tidak akan pernah. "
Mungkin saja dia memengaruhi pikiran ku. Mungkin saja aku terpengaruh oleh perkataannya. Aku tidak suka di bully. Aku tak menyukai sorotan mata yang selalu memandangiku seperti itu. Setiap orang mengataiku pembunuh. Semenjak kejadian itu. Aku tak di terima oleh negeri manapun. Di sekolah manapun. Tak ada yang mau menerima aku. Bahkan diri ku sendiri. Jiwa ini memberontak ingin keluar dari raga yang menyedihkan ini. Dan aku pula, tak mampu keluar dari kehimpitan ruang dunia kehidupan. Haruskah aku memberikan itu? Haruskah aku mengikuti perkataan nya yang senonoh itu?
Iya, aku mengikuti perkataan busuk itu. Aku mengurungkan niat ku untuk membunuhnya di tempat. Aku melangkah melewati mayat-mayat yang berhamburan di depan rumah ku. Dan aku masuk ke dalam rumah dengan penuh perasaan dilema. Aku tetap angkuh tak ingin di sebut sebagai pembunuh. Tapi, aku tetap harus membunuh mereka yang memperlakukan aku sebagai hewan ternak yang dapat di manfaatkan oleh seorang majikan. Aku tak dapat melakukan apapun sekarang. Bumi itu kasar. Kehidupan itu kejam. Sempit hingga tak ada ruang untuk bernapas.
Baru kali ini pula aku merasakan tangan ku bergetar setelah sekian lama aku tidak merasakan apa pun tetang ketakutan. Hingga seakan-akan aku merasa otak perangsang ku telah mati. Dan hati ku telah membusuk. Namun, aku salah. Aku takut sekarang. Ragaku seakan-akan telah kehabisan tulang. Wajahku memucat dengan keringat dingin yang mengalir perlahan. Apa yang harus aku lakukan? Sedangkan disana, di luar sana, Leo menungguku dengan gembira.
Aku pun menyerahkan botol yang aku simpan sebaik mungkin. Sebuah botol yang aku benci itulah penyebab dari kejadian masa lalu itu. Ibu ku mati karena botol itu. Semua orang membenciku karena botol itu. Marcues itu pintar. Memang pintar. Keturunan ilmuwan yang sangat hebat. Namun, akibat ketololan dari merekalah, yang membuat dunia ini semakin hancur. Leo mengajak ku melangkah menyusuri hutan, sampai lembah untuk menemui seseorang yang sudah tidak sabar aku temui sekarang juga. Aku ingin melihat, sudah seperti apa dirinya sekarang di penjara tersembunyi itu? Mungkin saja dia terlihat kurus kering dengan kepala yang mulai botak. Tapi aku salah. Harusnya aku tau. Para polisi, tentara, hingga pasukan keamanan manapun pasti mati menghadapi tumbuhan maut itu. Mereka pasti telah masuk ke dalam serapan nya. Dan ayahku tentunya melarikan diri tanpa adanya pertanggung jawaban. Dia bersembunyi di balik hutan yang tiada penghuni nya sama sekali. Dimana hanya ada binatang-binatang liar. Dan pohon-pohon yang menjulang tinggi seperti sebuah gedung.
Aku di buat nya jatuh terduduk di atas lantai yang terbuat dari kayu. Seseorang memukulku dari belakang.
" Steyf anak ku, kenapa kau lama sekali tidak menjenguk ayah? Padahal kau masih hidup sehat sampai sekarang. Dan kau pun tidak sampai tercium oleh tanaman maut itu. Steyf, ayah berubah pikiran. Mungkin ayah menyesal membuat tanaman itu. Seperti yang kau tau itu adalah sebuah kecelakaan dalam laboratorium. Tapi, ayah sangat puas akan hal itu. Sesungguhnya anak ku, itu adalah sebuah uji coba untuk menaklukan dunia ini. Awal nya ayah ingin membuatnya kecil-kecil saja. Sekedar tanaman kecil biasa yang dapat memangsa manusia keparat yang ada di samping rumah kita dulu. Namun, ayah salah. Harusnya cairan ekstra penumbuh tidak terjatuh dan tercampur ke dalam nya. Ayah tidak suka keluarga kita di rendahkan. Ayah akan membalas kan dendam mu itu. Dan mari kita selesaikan bersama-sama."
__ADS_1
Iya. Dan ayah ku lebih bejat dari orang tua manapun. Dia buta. Dia sudah buta. Otak nya seakan-akan telah bergeser. Dia sungguhan gila. Apa yang telah dunia lakukan padanya hingga membuat semua itu terjadi? Racun apa yang di keluarkan tanah saat dahulu dia di ciptakan? Tuhan telah memberikan sebuah ketidak adilan di sini.
" Bajingan." ucap ku dalam kabut raut wajah yang marah. Memerah darah. Aku di rantai seperti seekor binatang buas yang berusaha untuk di jinak kan oleh majikan kasar. Lantas aku di buang begitu saja ke sebuah ruangan yang gelap. Begitu gelapnya hingga aku tak dapat melihat apapun. Seperti seakan-akan aku telah buta.
Tidak. Harusnya aku sedang mendengarkan lagu Under the same sun sekarang. Serta merenung nasib seraya memakan mie instan. Lalu membanting segala nya yang ada di depan ku sampai aku sulit bernapas karena terus-menerus terisak tangis. Mama. Harus bagaimana aku?
Aku kelaparan. Namun tak ada makanan. Yang ada hanyalah kegelapan. Yang menyelimuti ruang dan hati manusia. Aku ketakutan. Sampai mati pun aku akan terus mengingat ini. Aku ingin tau ada apa dengan kehidupan di luar sana. Sudah dua hari berturut-turut aku di biarkan seperti mayat hidup. Seperti beruang sirkus yang di biarkan kurus agar mereka menurut kepada tuannya. Di biarkan dan tidak di beri makan sampai mereka meminta-minta dan bersujud-sujud di hadapan majikannya. Lantas mereka hanya di pukuli dan di biarkan begitu saja. Aku tak menyukai sirkus. Sangat tidak menyukainya. Karena hewan-hewan di sana sedang sama tersiksanya seperti sekarang.
Hanya saja aku tak dapat berhenti untuk bertanya pada diriku. Apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Aku telah memberikan cairan itu. Dan aku di rantai di sini karena aku telah berbuat baik? Mereka membantu ku atau kah tambah menyiksaku?
" Steyf.. tolong!! Tolong bantu aku masuk aku kesusahan..." Suara itu berbisik padaku. Aku mengulurkan kakiku untuknya. Beruntung saat itu kaki ku tidak di rantai. Itu mempermudah sebuah keadaan.
" Apa yang kau lakukan disini, Tania?? Kau sudah gila? Atau kah kau bagian dari mereka?"
__ADS_1
Tidak. Aku terlalu membanjiri dirinya dengan banyak pertanyaan yang dapat saja aku tanya di akhir penyiksaan ini.
" Mungkin saja aku terkejut. Mungkin saja aku ketakutan. Tapi itu bukan salah mu dan aku tak perlu takut akan hal itu. Steyf, hanya kau yang paling waras disini. Aku akan membantumu. Sebisaku. " Tania. Parasmu begitu cantik untuk ku terima. Hatiku tertusuk sangat parah akan perbuatan mu. Wanita yang belum pernah aku temui sebelumnya di kehidupan manapun.
" Jahat sekali otak mu sampai memerintahkan mu untuk berjalan ke sini sendirian. Aku bisa melewati ini sendiri, Tania. Setidaknya aku akan terus mengingatmu. "
Gadis itu memeluk ku dengan kehangatan yang tidak dapat di jabarkan dengan kata-kata yang penuh dengan rasa cinta. Aku menyukai ini dan membuat ku kembali teringat pada Mama. Alangkah sangat baiknya Tuhan menurunkan seorang malaikat kepadaku. Hingga aku serasa ingin bersujud sambil menangis pedih dengan apa yang terjadi barusan. Aku ingin menumpah kan segala rasa yang aku pendam selama penyiksaan ini terus berjalan. Di dalam dekapan hangat bidadari bumi yang memelukku sekarang. Aku menumpahkan tangisan yang tidak dapat lagi ku umpat. Sungguhan aku ingin berteriak namun takut jika penjaga di luar harus terpaksa masuk ke dalam.
" Tania, maaf kan aku jika kau terkejut hingga membawa mu sampai kesini. Kau ketakutan dan kau melawan rasa takut itu sendirian. Aku menyukaimu lebih dari berlian. Maaf jika aku menyusahkan perasaan mu dan menimbulkan banyak tanda tanya di pikiran mu. Maaf jika aku membuatmu bingung setengah mati. Tentang perasaan ku kepadamu yang selalu ku umpat karena tidak tau harus bagaimana aku menumpahkan nya kepadamu."
Bibir lembut itu mencium ku. Paras yang cantik itu tak akan pernah berubah mau sebagaimana pun raut wajahnya di buat. Senyuman yang tiada ada banding nya itu di perlihatkan nya kepadaku yang masih merasa tersiksa. Membunuh lubuk hati ini hingga tak berdaya.
" Bukan saat nya untuk mengatakan hal yang seperti itu. Kita harus keluar dan kau harus selamat. " Begitu katanya seraya memutuskan rantai itu dengan menggunakan sebuah alat pemotong rantai.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya kami sama-sama keluar dari penjara maut itu melewati lubang yang di buat Tania untuk masuk ke dalam sana tadinya.
Di sepanjang jalan aku berlari, aku mulai berfikir. Semua ini membuat aku mengerti. Aku hanya selalu merasa kesepian. Ayahku telah menumbuhkan rasa kehilangan yang amat dalam. Aku tidak tau bagaimana cara nya mengutarakan perasaan ku. Hanya saja aku tau satu hal. Bahwa tidak ada satupun manusia di bumi ini yang mau mendengarkan perasaan itu. Aku selalu menangis dan menjerit sia-sia. Setiap kenangan itu datang, akan dengan cepat membuat aku sesak dan sulit untuk bernapas. Aku sudah gila. Sama gilanya dengan dunia ini. Dan aku tidak tau bagaimana caranya berpaling. Aku bodoh. Semua perkataan hingga perlakuan manusia itu lah yang membuat aku bodoh. Dan berbagai kepingan masa lalu itu pula yang membuat aku tak menyukai apapun yang telah Tuhan buat untukku. Tidak ada yang mengajarkan aku bersyukur di sepanjang hidupku.