
Pernahkah kau mendengar kata 'abadi'? Pikirkan dan renungkan seberapa besar keinginan itu. Misalnya menginginkan sebuah kebersamaan yang abadi, kasih sayang yang abadi. Atau mungkin hidup yang abadi. Sayang di dunia ini kata 'abadi' hanyalah sebuah goresan kata. Kurang lebih hanya sebuah tulisan. Alias tak ada sesuatu yang abadi, meskipun kita sebagai manusia terkadang menginginkannya.
Semua hanya soal waktu. Dan semuanya akan berganti sesuai waktunya. Perubahan pastilah ada, termasuk manusia yang menginginkan sebuah perubahan besar yang mampu mengubah hidupnya.
Aku benci kesepian. Aku suka dengan kesendirian, namun tidak dengan rasa sunyi yang selalu aku rasa kala di tengah keramaian. Aku benci keluarga, meskipun aku tahu keluarga adalah rumah. Aku hanya ingin kebersamaan, kasih sayang, tak lebih.
Aku membencimu, Marcues. Peduli setan dengan semua versi cerita yang menyanjungmu. Kalau bukan karna kau, semua ini mungkin tak akan terjadi.
***
Esok sore, petugas dan aparat keamanan berbondong-bondong mengevakuasi tempat kejadian (laboratorium milik Bu Neny). Menyelamatkan sisa korban yang berjatuhan dan meneliti dari puing-puing bangunan. Beruntung petugas menyelamatkan aku dan Erina, membantu sisa umur kami yang sudah di ujung tanduk. Luka bakar Erina segera di obati, beruntung tidak di amputasi karena memang sudahlah parah. Sementara aku, perawat bilang aku hanya mengalami luka gores yang tak terlalu parah dan luka bakar saja.
Mereka tak akan pernah tahu tragedi apa yang telah terjadi. Sepintar-pintar dan secerdik apapun, pengetahuan mereka tak akan bisa kemput menyelidiki permasalahan di lab.
Maka secepat kilat, berita itu menyebar ke mana-mana. "Kebakaran hebat di laboratorium baru kota X, menewaskan kurang lebih 134 jiwa. 2 jiwa berhasil di selamatkan oleh aparat keamanan dan petugas kebakaran. Dan sisanya tak di ketahui jejaknya". Begitu wartawan menjelaskan, dengan ekspresi menarik dan postur badan tegap. Aku tak menyangka, insiden secepat itu bahkan menyebar hingga ke negeri orang. China, Amerika, Vietnam, Malaysia, Pakistan, dan banyak lagi.
Sementara yang dapat di temukan oleh petugas adalah kemeja kasual Catrina. Hanya sebatas pakaian, dan tak ada yang bisa di lakukan selain menguburkannya. Maka hari itu aku dengan balutan perban, dan Erina yang sudah kepayahan melayat. Mengunjungi 'rumah masa depan'.
Gerimis membungkus kota, membuat pemandangan payung hitam begitu terlihat sendu. Awan hitam menghias langit, diiringi dengan burung-burung gereja yang berterbangan, secepat kilat mencari tempat berteduh. Irama yang sendu, suasana yang rapuh. Para pelayat menatap pusara Catrina yang bersisian dengan pusara yang nampaknya masih baru. Dengan taburan bunga yang nampak belum lama di taburkan pula.
Aku dan Erina makin mendekat, menunduk dalam-dalam. Duduk bersimbah lutut. Pandangannya kosong. Aku dapat melihat kehampaan yang betulan dalam, sangat menyayat hati bagi siapa saja yang memandang.
Makam makin sepi. Para pelayat hilir-mudik datang dan pergi meninggalkan pemakaman kota. Udara makin dingin, hembusan angin makin menusuk-nusuk pori-pori kulit. Diam, aku menyentuh bahu Erina. Menguatkan.
"Kak Catrina mungkin sudah bahagia bersandingan dengan Joseph." Erina bersuara parau. Kini hanya tinggal kami berdua di pemakaman kota, menyisakan luka hati yang begitu mendalam. "Joseph adalah cinta pertamanya. Sebuah perasaan yang belum sempat ia ungkapkan. Namun kisah itu berselaput sangat indah, sungguh luar biasa. Padahal baru beberapa hari Joseph gugur, meninggalkan kami."
Kematian Catrina sangat memukul kami.
"Ayo kita cari makan dulu, Aggy. Pihak rumah sakit sangat pelit sampai-sampai tak mau memberi sedikit makanan."
"Eh?" Aku memandang heran.
"Sudahlah. Lepaskan saja, ikhlaskan. Semua yang akan terjadi, maka terjadilah."
Aku mengangguk setuju.
__ADS_1
***
Aku sepakat menyetujui keputusan Erina dengan tinggal berdua di rumahnya. Membereskan beberapa pakaian dan seragam sekolahku, memasukannya ke dalam ransel, dan aku siap tinggal di sana.
Sesungguhnya banyak sekali kenangan. Berhubungan dengan jabatan Erina sebagai dokter hewan, maka foto-foto penting itu berjejeran tertempel di dinding. Tak masalah, Erina seolah-olah memang sudah ikhlas dengan kepergian Catrina.
Adalah malam pertama aku tinggal di rumah penuh kenangan itu, menyantap makan malam bersama Erina di dapur. Kami banyak berbagi cerita, melupakan masalah yang barusan terjadi.
Sekitar 15 menit kami berbincang, lantas bersama-sama membereskan dapur. Sungguh 15 yang hangat dan damai. Hingga pada akhirnya aku teringat oleh sesuatu yang mengganjal di hati dan otak.
Sekolahku! Betul. Ya Tuhan, sudah berapa hari aku absen dari kelas. Ada dua, atau mungkin tiga. Ah, aku tak ingat sama sekali. Apalagi dengan kasus Amar kemarin, pastilah menghebohkan seisi sekolah. Mengingat bahwa Amar adalah anak seorang yang penting. Kalau tak salah, pejabat atau apalah itu.
Aku bergegas memasuki pintu kamar tamu, yang sekarang di sulap sebagai tempatku beristirahat. Aku mencari-cari tas sekolah, buku pelajaran, dan apa saja yang berhubungan dengan sekolah!
Aduh, aku mulai panik tak karuan. Bagaimana? Apa kata Bu Disa nanti? Bagaimana pula satpam meneriakiku? Dan sialnya besok adalah hari rabu!? Ah, mengapa saat aku baru saja merasa damai ada banyak hal yang terjadi? Sial! Sial! Sial!
***
Pagi-pagi sekali aku mandi, membersihkan badan yang sudah bau. Aku menyengir mengingat bahwa sekarang aku tak perlu berjalan ratusan kilometer, lantas harus pagi-pagi menjejali hutan dan naik bus. Tentu Erina membantu banyak, bersedia memberi tumpangan mobil.
"Bagaimana sekolahmu?" Erina tiba-tiba bertanya.
"Eh? B-buruk. Aku bukan murid berprestasi yang dapat membanggakan sekolah." Aku membuang muka, tetap memandang jendela mobil. Wiper kaca mobil bergerak ke kanan dan ke kiri.
"Sekarang, Kakak kerja dimana? Tak mungkin di laboratorium, 'kan?" Aku menyelidik.
"Aku masih bekerja di lab, Aggy. Sia-sia prestasiku selama ini jika tidak aku kembangkan dalam bidang kimia. Aku berencana membuka ruang praktikum sendiri. Dengan mengembangkannya, dan membuka lowongan kerja untuk para calon pekerja."
Ide bagus. Aku takzim mengangguk. Sementara mobil mulai melambat, lantas berhenti di depan gerbang. Sekolah sudah ramai, banyak payung di rentangkan. Aku tak peduli, hanya gerimis, bukan hujan badai. Cukup berlari menuju kelas dan semua sudah beres.
Aku meremas jemari ketika mobil Erina sudah hilang di perempatan jalan. Jantungku berdegup kencang bak tetabuhan. Aku perlahan berjalan, menghampiri satpam yang menjaga keamanan sekolah.
"Tunggu sebentar!" Satpam menghentikan langkahku. "Kau Maria Aggy anak kelas 10, 'kan? Aduh darimana saja kau setelah namamu terkenal?"
"Aku?"
__ADS_1
"Siapa lagi yang bernama Aggy selain kau?"
Aku menelan ludah, khawatir.
"Kau di tunggu wali kelasmu di ruang bimbingan kesiswaan. Juga dengan Amar anak Bapak pejabat kota D. Secepatnya kau datang, upacara hari ini di tiadakan karna hujan" satpam itu berkata dengan wajah galaknya. Sementara aku hanya menurut. Ya Tuhan, sedari tadi perasaanku memang tak enak.
***
Bu Disa memandangku kecewa, wajahnya merah padam. Ruang bimbingan kesiswaan terasa pengap, seperti ada seorang yang jahil menutup celah guna masuknya udara. Aku mendesah risau.
"Ibu kecewa padamu, Aggy!" Bu Disa berseru ketus dengan wajah masam. "Aku tak percaya kau bahkan bisa melakukan hal ini."
Apa yang aku lakukan? Amar sialan! Kalau saja tak ada Bu Disa dan guru bimbingan kesiswaan disini, aku tak segan-segan untuk menghabisi cecunguk itu. Lihat! Bahkan dia menyeringai puas. Keparat!
"Dari mana saja kau beberapa hari terakhir ini, Aggy? Mau lari dari masalah. Kau tahu pengecut, 'kan?!" Berkata, Bu Disa memelototiku.
"Eh? A-aku demam tinggi." Aku menjawab asal.
"Demam? Bukankah jika kau sedang sakit, selalunya ada surat ijin? Dan Ibu sudah dapat banyak laporan dengan kasus Amar yang babak belur."
"Eh? Aku tidak memukul Amar."
"Siapa bilang kau yang memukulku? Bukankah kau bersekongkol dengan si berandalan itu?" Amar menyela, menudingku dengan telunjuknya.
Aku mengernyitkan alis. Hei! Siapa yang dia maksud?
"Jadi kau sudah lakukan apa pada teman sekelasmu, Aggy? Katakan saja sejujurnya." Guru bimbingan kesiswaan menengahi. Mencari titik permasalahan.
15 menit aku hanya menjawab: "apa?", "siapa?", "dimana?", "kapan?", dan, "mengapa?". Sejujurnya aku sama sekali tak paham apapun. Seingatku lelaki perawakan Indo-Eropa itu anak kelas 12. Tapi siapa?
Bu Disa menghela napas kecewa. Dan bilang, "kamu di skors selama seminggu. Dan jangan lupa dengan wali murid yang segera menemui pihak sekolah. Tentu juga dengan wali murid Amar."
Aku tak kurang sebal lagi. Tentu si cecunguk itu yang membuat semua carut-marut. Apa lagi? Kalaupun aku bisa mengulang waktu, lebih baik aku membunuh Amar, seratus kali lebih menyiksa. Daripada membunuh Emmi (meskipun mereka sama saja).
Lagi pula, tak mungkin aku memanggil kakak perempuan (angkat)ku. Mana mungkin? Atau Erina? Itu juga mustahil. Lantas alasan apa yang jitu untuk menanganinya?
__ADS_1
***