
Wajah datar dan dingin itu sekarang berubah menjadi wajah pecundang yang payah. Keringat dingin tampak jelas memgalir deras membasahi pelipisnya.
Ragu-ragu bedebah itu menarik pelatuknya, dengan tangan yang gemetar hebat. 3 kali peluru itu di tembakan dengan posisi yang sama. Tepat di depanku.
Aku sedikit mengelak, menunggu. Kemungkinan 30% atau kemungkinan 70%? Tidak. Aku berhasil. Peluru itu melewati badanku, sungguh ajaib. 3 peluru sekaligus! Dan entah mengapa terlihat membelok dari posisi awal.
DOR! DOR! DOR!
Bedebah itu tanpa ragu menembakan 3 peluru lagi. 6 peluru telak di tembakan ke arahku lagi. Namun anehnya, peluru-peluru itu terus meleset bagaikan medan magnet dengan arah kutub yang sama. Saling tolak-menolak. Apakah ini suatu kebetulan? Ataukah ini sebuah keajaiban? Aku merasa pandangan merah ini sedikit berkembang. Rasa sakit luar biasa itu juga makin menyusut.
Bedebah itu terlalu bodoh dengan menghambur-hamburkan pelurunya. Bergaya memberiku tembakan bertubi-tubi. Justru hanya satu peluru yang mengenai kaki kiriku. Sedangkan yang lain, entah hilang kemana.
Sebelum semua terlambat, sebelum harga dirinya terluka, dan memilih untuk kabur, maka aku bergegas melompat menubruk tubuh tinggi itu. Seperti menindas, aku lebih leluasa memukul kepalanya, membuat darah segar mengalir di pelipis, mulut, dan hidung. Kekuatanku memang tak besar, namun ini lebih dari cukup untuk membalaskan dendam, lantas membuatnya terkapar di tanah becek dengan muka konyol itu.
Sialan! Anggap saja ini sebuah pembalasan karna merusak ponselku.
***
Keadaan sudah ricuh. Beberapa mobil polisi dengan sirene yang menggema memenuhi tempat ini. Aku melihat Mark dan Aryo ikut serta. Tak luput juga denan mobil ambulan, dan para petugas keamanan.
Garis polisi membentang di area tersebut, menyisakan aku, bedebah itu, dan aparat keamanan serta tenaga medis di tengah-tengahnya. Mereka menduga peristiwa ini terjadi karena ledakan gas.
"Tenang saja, Nak. Kami akan menyembuhkan lukamu." Seorang perawat dengan wajah menyenangkan menenangkanku. Membopongku. Mark mengangguk, memberi persetujuan dengan wanita ramah itu.
"Kau akan baik-baik saja, Aggy. Aku akan menemanimu." Mark mengikuti, sesekali membantu.
"Bagaimana dengan Erina? Astaga. Kau jangan beritahu berita yang sebenarnya. Kau jelas tahu mengapa aku terkapar disini dengan bedebah sialan itu."
Mark memandangku prihatin, lantas mengangguk. "Aku akan berhati-hati. Percayakan semua padaku."
"Astaga, Tuan Mark! Kau tahu?! Bedebah itu tahu namaku, dia memanggilku 'Maria Aggy'. Dia juga memperkenalkan namanya dengan cara yang absurd." Aku panik berseru tak sabaran. Sementara perawat sibuk menyiapkan tempat.
"Kita bicarakan ini nanti. Kau harus di obati sebelum kehabisan darah. Dan, untuk bocah itu... dia di tangkap karena dugaan penyalahgunaan senjata api."
Sebelum aku genap membalas kata-katanya, mobil ambulan sudah di tutup, menyisakan aku dan para perawat yang sibuk menghentikan pendarahan. Aku menyumpahinya dalam hati. Sialan. Bedebah itu merusak segalanya.
Aku dilarikan ke rumah sakit dengan segera. Mobil melaju cepat dengan kecepatan 200km/jam, membelah jalan raya di sore hari. Meski semua menjadi buruk, meski lukaku separah ini. Namun setidaknya, setidaknya aku terbebas dari marabahaya tadi. Aku tak berani membayangkan kalau dia betulan membunuhku.
"Apa aku akan di operasi?" Aku bertanya santai, menyenderkan muka baba belurku di dinding mobil ambulan.
__ADS_1
Para perawat wanita memandang heran, namun akhirnya ragu-ragu mengangguk. Astaga! Aku tidak mau di operasi!
***
Ruang gawat darurat. Sore hari. Tepat pukul 17.30.
Aku sepatutnya bersyukur. Semua berjalan lancar. Operasi pada kaki kiriku juga berjalan baik. Sekujur tubuhku dililit infus, juga dengan tambahan perban yang... agak tidak nyaman sebenarnya. Aku menatap langit-langit ruang gawat darurat, mendapati Mark, Aryo, dan... Erina (?)
Astaga! Menyadari hal itu, aku bergegas duduk bersenderkan bantal empuk di ranjang rumah sakit. Aku menelan ludah, berseru tertahan. Apa yang terjadi? Bagaimana tiba-tiba Erina ada disini?
"Kau baik-baik saja? Bagaimana dengan kakimu? Kau tahu? Aku sangat khawatir hingga meninggalkan lab." Itu pertanyaan pertama yang dia lontarkan padaku. Erina menatapku dengan wajahnya yang cemas.
Aku mulai patah-patah mengangguk, melena ludah. Perlahan aku menolehkan mukaku ke Mark dan Aryo. Mereka membalas dengan senyum dan kedipan mata. Bukankah itu artinya Erina hanya tahu sebatas kecelakaan akibat ledakan gas? Mungkin saja benar. Aku yakin mereka dapat di andalkan.
Beberapa menit kemudian Aryo dan Mark ijin pamit. Sekedar melambaikan tangan dan bilang ada urusan penting yang harus segera di urus. Aku dan Erina mengangguk melepaskan.
"Apa yang mereka bilang padamu?" Aku bertanya setelah melihat kedua punggung itu hilang di ambang pintu.
"Ledakan gas dan... peluru itu..."
"Apa?! Mereka bilang apa perihal peluru itu?!" Aku menyela tak sabaran. Masalah ini akan runyam kalau Erina tahu kejadian sebenarnya.
Aku menghela napas lega, kembali santai menyenderkan punggungku pada bantal rumah sakit. Mark pastilah tahu tujuanku memecahkan misteri tentang Bloodfiend tanpa melibatkan salah satu pihak manapun.
"Tak apa jangan cemaskan aku. Keadaanku sudah mulai membaik. Aku serius."
"Ya. Kau benar."
Aku mengangkat kepalaku, bertanya-tanya sembari melipat dahi.
"Ya, itu benar. Aku mulai mempelajari soal daya tahan tubuhmu yang spesial. Bagaimana reaksi tubuhmu, sel metabolisme dalam tubuhmu yang tidak biasa."
Aku tak terlalu tertarik. Bahkan sama sekali tak paham apa yang Erina katakan.
"Biar aku perjelas. Sel makrofag adalah sel yang berperan sangat penting untuk penyembuhan luka. Setiap orang jelas pernah terluka, 'kan? Menurutmu seberapa lama jangka waktu yang di butuhkan untuk menyembuhkan lukanya?"
"Tergantung. Tergantung seberapa parah luka itu. Bukankah begitu?" Aku mulai menjawab, mengobati rasa heran.
"Ya. Kau benar. Lazimnya memang seperti itu. Dan daya tahan tubuh orang pastilah berbeda-beda. Termasuk kau, Aggy. Jika kau tidak mempunyai kemampuan seperti itu, mungkin aku sudah menangisi luka parah yang kau alami."
__ADS_1
Kemampuan? Aku mulai mengernyitkan dahi (lagi).
"Tubuhmu itu seperti 'terkendali'. Sudah bekerja sendiri, dan seakan dipaksakan supaya dapat menyembuhkan luka-lukamu secara mandiri. Secara gampangnya... sel dalam tubuhmu bekerja secara maksimal dan lebih cepat tinimbang orang lain.
"Begini. Bukankah baru pertama kau mengalami luka tembak itu?"
Aku mengangguk setuju. (Agak sulit mengerti). "Tapi luka bakar ini sudah dua kali."
"Ya, itu benar. Ingatlah saat insiden di laboratorium milik Bu Neny tempo hari itu. Bukankah rasanya agak beda, Aggy?"
Aku mengangguk lagi. Mungkin memang agak berbeda. Luka bakar pada insiden itu lebih menyakitkan, luar biasa sakit daripada luka bakar yang aku alami sekarang. Padahal menurutku radius ledakan itu terlihat sama.
"Jika kau belum merasakan rasa sakit itu untuk pertama kalinya, maka kedepannya sel dalam tubuhmu belum terbiasa dan tidak dapat bekerja secara maksimal. Misalnya luka bakar itu. Kau sudah pernah mengalami, maka jika kau mengalami untuk kedua kalinya, rasanya berbeda.
"Bukankah lebih sakit yang pertama daripada yang sekarang? Kemudian jika misal saja kau mengalami lagi, rasa sakit itu juga akan tambah berkurang. Begitu menurut hasil analisaku, Aggy."
Erina menghela napas sejenak, kemudian melanjutkan, "Aku yakin kau sulit mengerti. Jadi, begini saja. Anggap saja kau sedang melakukan latihan split untuk mengikuti kontes tari balet di sekolahmu. Untuk masa pertama latihan, ototmu belum fleksibel dan masih kaku. Alhasil, kau mendapatkan rasa sakit di ************.
"Tapi jika kau mencoba berulang-ulang kali secara rutin, terus berlatih dengan giat, maka rasa sakit itu akan berkurang. Bahkan beberapa hari kedepannya kau sama sekali tak merasakan rasa sakit di selangkanganmu. Alhasil ototmu akan lentur dan fleksibel."
Tunggu. Aku mulai mengerti. "Jadi apabila rasa sakit ini sudah pernah aku rasakan sebelumnya, maka kedepannya luka atau sakit yang sama itu akan pulih dengan cepat dan bisa saja sama sekali tak terasa. Bukankah begitu?" Aku mulai bersemangat.
"Hm? 'Bahkan tak terasa sakit?' Aku rasa kau benar juga, Aggy. Masih banyak hal dalam dirimu yang belum aku ketahui. Arsip dokumen di laboratorium banyak yang lenyap, jadilah aku sendiri yang meneliti."
"Ajaib! Benarkah ada hal luar biasa seperti itu?" Aku terlalu bersemangat mengatakannya.
"Tentu saja. Yakinlah, lama-lama rasa sakit saat pandangan merah kambuh luar biasa itu akan segera hilang. Kau hanya perlu waktu, dan aku akan membantu perkembanganmu."
Aku akui, ciptaan Edward Marcues memang luar biasa. Mampu bersaing dengan para ilmuwan yang mengembangkan banyak penemuannya, lantas menunjukkan kepada dunia. Kegilaan Marcues ini terkadang menguntungkanku
Ini adalah modal buatku. Modal untuk memecahkan misteri itu, bahkan bisa aku gunakan untuk menunjang keselamatanku. Dion bedebah itu mengingatkanku bahwa posisi kami sekarang sedang tidak aman. Bahaya akan datang kapan saja dan dimana saja. Bloodfiend pastilah tak mudah untuk ditemukan.
"Usiamu adalah 15. Sebentar lagi menginjak usia 16 tahun. Kau tahu mengapa pandangan merah itu mulai tampak saat usiamu 15 tahun?" Lagi-lagi Erina membuatku berpikir keras. Siapa peduli? Aku tak akan memikirkan hal itu sehingga membuat kepalaku rasanya mau pecah. Aku tak ingin kebanyakan beban pikiran.
"Itu sudah di tentukan sedari awal. Semenjak zat-zat kimia disuntikkan pada tubuhmu dahulu. Tapi camkan ini, Aggy. Jangan panik ketika bola matamu berubah warna!" Erina mengatakan dengan raut muka serius.
Eh? Berubah warna?
"DNA dari 'black dog' itu akan berpengaruh juga pada fisikmu. Terutama mata merah yang identik itu. Aku mulai mengamati bola matamu. Sedikit demi sedikit mulai berubah warna. Dan saat ulang tahunmu ke-16, bisa saja bola matamu berwarna merah."
__ADS_1