
"Aggy! Kau lupakan kotak makan siangmu!" Erina berseru dari dalam dapur, membuatku menoleh. Kotak makan siang? Astaga. Sungguh aku sengaja melupakan kotak makan siang dengan warna merah muda itu. Andai dia mengerti, aku hanya tak ingin seperti anak SD. Ayolah.
"Aduh, bagaimana kau bisa lupa? Aku sudah bilang padamu untuk tidak jangan makan makanan di kantin sekolah. Kita tak tahu bahan apa saja yang mereka campurkan, bukan?" Erina memasukan dengan agak paksa ke dalam tas ranselku. Astaga. Pagi-pagi begini dia sudah mengoceh.
"Kau sudah bawa sweatermu? Atau hoodie? Atau jaket? Siapa tahu cuaca berubah jadi dingin."
"Sudah." Aku agak sebal.
"Baiklah, kita berangkat sekarang."
Aku mengekornya, hingga mobil yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan standar. Cuaca pagi ini sedang cerah. Entah kenapa ramalan cuaca di televisi tak pernah salah.
***
Aku memasuki kelas yang lengang. Semua orang sedang sibuk mempersiapkan diri dengan mempelajari seisi buku biologi. Ah! Benar juga, bukankah hari ini ulangan?
Entahlah. Peduli setan dengan ulangan itu. Bahkan jika aku membaca ratusan kali materi dalam buku biologiku, tak ada satupun materi yang mampu aku pahami. Ini juga salah satu alasan mengapa aku merasakan perbedaan yang dominan dari susunan keluarga besar Marcues.
Aku menyenderkan punggung di bangku kelas. Aku tak punya teman sebangku. Seorangpun tak sudi untuk duduk bersampingan dengan bocah sepertiku. Autis. Begitulah mereka memanggilku.
"Bukankah itu keluaran baru? Kemarin PC-nya masih terlalu mahal." Amar menyeletuk sepagi ini. Aku meliriknya sekilas. Berbincang dengan Agam dan anak-anak lain. Agam? Bukankah dia tak mau berteman denganku lagi?
"Sial. PC dengan model seperti itu masih sulit di dapat. Sedangkan mama masih susah untuk di bujuk. Ayolah, aku iri padamu karena bisa memiliki PC dengan model keluaran terbaru." Agam menjawab. Dia agak berbeda. Sungguh. Aku tak pernah melihatnya seheboh ini. Lebih asyik mengobrol ketimbang serius belajar untuk ulangan nanti.
"Well. Aku doakan saja semoga kau dapat membeli, Agam."
Yang lain terkekeh, sementara anak perempuan nampaknya juga sudah bosan dengan buku-buku bertumpuk itu. Mereka berkumpul, membicarakan hal tak jelas lain.
Agam? Kau serius tak mau mengobrol denganku lagi? Padahal aku sempat berpikir bahwa hubungan 'pertemanan' kita bisa berkembang menjadi hubungan yang lebih spesial.
Yah. Mungkin ini adalah balasan karena aku melakukan sebuah dosa yang tak termaafkan. Aku sudah membunuh putri seorang pejabat kota X. Orang penting yang sangat berjasa bagi kota tempat aku tinggal. Pejabat? Meski aku benci pemimpin seperti mereka, tapi jika aku membunuh putrinya sendiri tanpa ada tanggung jawab, aku rasa itu tetap saja tak benar.
Ya Tuhan... ini betulan sulit. Mengapa aku harus terjerat masalah macam ini? "Kau terlalu muda untuk tindakan kriminal." Begitukah? Aku akan selalu ingat semboyan bodohmu itu, Emmi.
Bel bernyanyi nyaring memekakan telinga. Jam pelajaran pertama adalah biologi. Bodoh sekali, sekarang aku harus hadapi ulangan dengan soal-soal sulit yang aku tak paham sama sekali.
***
"Ya. aku sedang bawakan buku itu dalam tas ransel." Aku agak menjauh dari keramaian di depan gerbang sekolah. Sekolah kami di pulangkan agak pagi lagi. Dan alasannya juga masih sama. Ada rapat mendadak bagi para guru.
"Kita tak akan ke cafe?" Aku bertanya dalam panggilan dengan Mark Steffano itu.
"Cafe yang biasa kita gunakan itu sekarang sedang mengadakan acara anniversary ke-15 tahun. Jadi mereka memberi kopi gratis bagi para pendatang. Yeah, secara otomatis pastilah cafe sedang ramai pengunjung. Kita bisa banyak yang mendengar, dan itu bahaya."
Aku menghela napas.
"Ah, baiklah. Jadi kemana kita harus pergi?"
__ADS_1
"Aku jemput kau ke sekolah. Dan kita akan membicarakan ini dengan Aryo."
Eh? Kantor polisi? Ini adalah momen canggung, aku benci. Tapi mau buat apa lagi? Aku sedang berusaha memecahkan masalah ini dengan ikut serta dalam pencarian Bloodfiend.
"B-baik. Aku sekarang di depan gerbang sekolah."
Mark masih terus berbicara. Namun aku sulit mendengarkan. Ayolah. Suara ocehan anak-anak sangat terdengar ramai, semua kelas di pulangkan secara bersamaan.
"Aggy? Aggy? Kau dengar aku? Hallo. Ada masalah?"
"Maaf, Tuan. Keadaan sedang ramai. Aku akan sedikit menjauh."
Aku betulan menjauh dari gerbang sekolah. Duduk di atas bebatuan sambil memandang jalanan yang ramai.
"Hei! Pendek!"
Pendek? Aku mendengus sebal. Tapi aku rasa itu bukan dari Mark. Seseorang sepertinya memanggilku. Samar-samar aku mendengar derap sepatu. Sepertinya dia berlari.
"Oy, Pendek! Kau ini tuli atau bisu, sih?"
Aku mendongak ke atas. Benar. Seseorang memanggilku. Aku sejenak hanya mengamatinya. Aku tak mengenal lelaki ini. Mungkin dia seorang senior. Tubuhnya tinggi dan tegap.
Aku mengenggam ponselku, mengecilkan volume. Akan sangat bahaya jika seseorang mendengar percakapanku dengan Mark Steffano.
"Tas kita tertukar." Dia menyodorkan tas yang sama seperti yang aku gendong sekarang. Tertukar? Itu wajar. Warna dan model tas kami sama.
"Tas ransel ini, maksudmu?" Aku tak akan percaya begitu saja dengan mentah-mentah memberikannya. Semula aku membuka resletingnya, hingga kemudian memeriksa barang satu-persatu. Dia tak berbohong. Semua isi dalam tas ransel ini bukan milikku. Nihil. Hanya barang-barang lelaki.
"Aggy?" Aku rasa Mark juga sudah tak sabaran.
"Ya, maaf. Tadi ada sedikit insiden kecil."
"Ah, baik. Kau bisa naik bus, bukan? Sekarang aku sudah di kantor polisi. Kami harus bergerak cepat. Sementara untuk menuju sekolahmu demi menjemput kau, aku butuh waktu yang lama untuk memutar rute." Mark cepat menjelaskan. Aku menghela napas kecewa. Astaga. Hari ini begitu panas. Kepalaku sudah pusing. Aku bahkan tak tahu akankah masih kuat untuk berjalan beberapa kilometer lagi.
"Maafkan aku, ya."
Aku mengiyakan dengan mengangguk dan menutup panggilan.
***
Aku duduk sendiri di halte bus. Sesekali menyeka peluh di keringat. Sudah hampir sejam aku menunggu, dan belum ada satupun bus yang melewati jalanan agak lengang ini. Padahal jadwalnya sudah lewat beberapa menit yang lalu. Aku akan berbaik sangka. Mungkin tinggal menunggu beberapa menit kedepan.
Ternyata aku cepat bosan jika harus diam menunggu dan membals semua pesan dari Mark yang tak sabaran, dan Erina yang non-stop menanyakan kabarku hari ini. Aku tahu dia pulang larut malam. Jadi sampai jam setengah sembilan malam aku punya waktu sendirian mengurus misteri ini dengan Mark dan Aryo.
Aku tak punya insting kuat seperti Catrina. Aku juga tak dapat berpikir cepat di saat genting seperti Mark Steffano. Tapi hari ini dan detik ini juga, aku merasa ada hal aneh. Aku merasa seseorang sedang mengawasi atau membuntutiku. Tapi siapa? Aku berjaga-jaga menggenggam erat cutter-ku, sambil menjejali semua arah. Jalanan lengang. Perasaan ini juga tak seperti biasa.
Nihil. Tak ada siapapun. Tapi selama beberapa menit kedepan...
__ADS_1
"Astaga. Aku senang sekali menghitung mundur."
Aku tercekat, berseru tertahan menggenggam erat cutter-ku. Siapa? Aku mendengar suara lelaki. Tapi tak terlalu berat. Benar. Aku makin yakin ada yang sedang membuntutiku.
Aku berdiri dengan tegap, hati-hati melangkah mencari asal suara itu.
"10 detik!"
Dimana? Aku menunduk mencari. Di bawah tempat duduk halte? Tidak. Di atasku? Tidak juga! Di jalan raya? Tak mungkin.
"9..."
Aku sontak menoleh, mendapati... lelaki itu lagi?! Sebenarnya siapa dia? Mengikutiku hingga ke sini. Ini mencurigakan, sudah yakin 100% bahwa dia tak punya niat yang baik dengan datang-datang kemari dengan wajah santai.
"8..." dia mendekatiku perlahan. Tapi tak terlalu dekat. Lelaki yang mengaku tasnya tertukar dengan punyaku itu bersandar di bawah pohon. Delapan meter dari halte.
Aku bersiap dengan cutter yang aku selipkan di saku baju. Aku memandangnya lekat-lekat.
"7... sepertinya kau belum sadar, Maria Aggy."
Tunggu! Dia tahu namaku? Bagaimana bisa?!
"Siapa kau keparat?! Beraninya kau mengikutiku, heh?!" Aku berseru lantang menggertak (meski aku tahu itu akan percuma).
"6..." dia kelihatan santai melepas resleting di jaket bisbolnya, membuatnya menjadi outer yang tak kelihatan seperti orang yang sedang kedinginan. "Beliau adalah penjahat yang mandiri. Alias tak membutuhkan rekan ataupun bawahan. Tapi sebagai bentuk balas budi, aku suka rela melakukan ini."
Aku tercekat. Ini bahaya. Jika saja aku berlama-lama memandangnya di bawah pohon, mungkin sama saja dengan membuka pertahananku. Untuk sekarang, mungkin minta tolong pada Mark lebih baik.
Makin lama sikap dan nada bicaranya mengandung bibit-bibit permusuhan, membuatku makin bergidik ngeri. Dia pasti memiliki misi dan rencana yang matang. Tapi mengapa denganku? Apakah dia berhubungan juga dengan Pak tua Marcues payah itu?
"Pastinya kau juga memiliki rencana yang tersusun. Sama sepertiku, Aggy. Namun kau tak akan mungkin bisa menang di sesi ini." Matanya menyelidik. Seperti memperhatikanku dengan seksama tanpa jeda sekalipun. Akupun juga. Aku memperhatikan semua gerak-geriknya. Jika kakinya bergeser sedikit ke depan, maka aku akan segera lari dari halte bus ini. Ini jalan raya. Pastinya ada celah untukku berlindung.
Meski pertanyaan utamaku, yaitu 'bagaimana caranya dia biaa tahu namaku?' Itu belum terjawab, tapi otakku lebih sibuk bekerja mencari celah keluar. Ayolah. Keringat dinginku sudah membasahi tubuh.
"5... dengarkan! Tinggal 5 detik." Dia berseru.
Apanya? Apanya yang lima detik? Aku mundur beberapa langkah. Tidak. Jika aku bergerak sedikitpun, bagaimana kalau rencananya yang masih menjadi misteri itu berhasil? Lalu aku harus apa? Menghubungi Mark? Tapi bagaimana jika memancingku untuk menghubingi rekanku termasuk salah satu rencananya juga? Aku menelan ludah, aku harus bisa mengambil keputusan yang tepat.
"Siapapun yang berani mencoba mengungkap identitas beliau, maka tugasku hanya satu." Dia menatapku dingin. Tatapan itu betulan mencekam. "Yaitu dengan, membunuhnya."
Badanku lemas, makin panik dengan wajah pucat pasi dan tangan-kaki yang bergemetar hebat. Mungkinkah...? Mungkinkah dia bukan berhubungan dengan Edward Marcues, namun malah dengan Bloodfiend?
Tidak. Ini gawat. Ini betulan gawat!
"4..."
Dia menghitung mundur. Bagaikan sedang mengikuti hitungan mundur di timer bom. Tunggu. Bom? Atau jangan-jangan dia memasang bom? Tidak mungkin 'kan kalau ada orang segila itu dan memasang bom di pinggir jalan raya?
__ADS_1
"3..."
Aku rasa aku akan mengambil keputusan bulatku. Iya. Hanya itu. Dan aku harap itu bukan termasuk dari salah satu rencananya yang aneh ini.