
" Apakah kita harus memeriksa jantung buatan mu? " Aku tak punya kata-kata lain.
Dia hanya terdiam beribu bahasa di depan ku. Menunduk dan seperti seakan-akan ingin menangis.
" Bagaimana menurutmu?"
Kini aku yang terdiam. Bagaimana menurutku? Entahlah aku saja tidak tahu.
" Kita bisa mencoba."
Ya. Hanya itu yang aku bisa katakan.
Matahari kembali menyinari bumi. Hari kembali berjalan seperti biasa hari ini. Meskipun begitu aku masih merasa tidak nyaman dengan kejadian kemarin yang membuat Eliza sungguhan tak berdaya. Gadis perempuan lemah lembut itu harus menghadapi ini sendirian dan aku tidak bisa membantunya. Meskipun begitu aku masih tetap memikirkan sebuah rencana. Bagaimana caraku untuk memberi pelajaran pada lelaki itu? Dan melakukan penerbangan ke Belanda sesuai yang di jadwalkan besok pagi. Setidaknya aku masih punya waktu 1 hari. Yaitu hari ini. Ini cukup susah. Dengan cara memberi pelajaran pada lelaki itu, dan sekedar menemui sinar untuk membicarakan sesuatu yang belum sempat aku katakan. Serta memastikan bahwa Eliza sungguh baik-baik saja.
Aku masuk ke dalam kelas.
" Steyf... Ini jadwal piket mu. Bagian mu membuang sampah dan mengelap kaca jendela."
Sebenarnya cukup lancang anak perempuan itu berteriak padaku yang di jauhi banyak orang. Aku mengerjakan semuanya. Setidaknya sampai bel jam pelajaran pertama berbunyi. Bu Rena. Guru matematika ku itu masuk ke kelas ketika aku baru saja akan menaruh ember dan kain lap ke gudang sekolah. Tiba-tiba dia memanggil ku.
" Steyf... Mau kemana?" Tanya nya. Yang aku tahu dia memang guru matematika yang cukup ramah.
" Ke gudang. " Jawabku singkat.
" Bisakah ibu meminta tolong?"
Aku hanya menatapnya lamat-lamat. Dia menyodorkan lembaran-lembaran kertas ke arah ku.
" Tolong berikan ini ke kelas 10-3. Sebetulnya hari ini jadwal saya mengajar kelas 10, tapi karena guru matematika kalian sedang tidak enak badan dan kalian akan segera menjalani try out, saya di beri tugas untuk mengajar kalian. Jadi tolong berikan itu ke kelas 10, dan katakan segera dikumpulkan dimeja saya setelah bel istirahat berbunyi."
Siapa pula yang peduli dia mau mengajar kelas apa. Aku ambil saja kertas-kertas yang bertumpuk itu. Sebelumnya aku berjalan ke gudang. Setelahnya aku berjalan ke kelas 10 yang cukup jauh dengan kelas ku. Ayolah. Ini harus menuruni tangga yang melelahkan untuk menuju lantai 1. Kenapa pula gedung sekolah ini harus bertingkat?
Yah. Aku sampai di lantai 1 dengan kecepatan lambat untuk mengulur waktu. Aku memasuki ruangan itu. Kelas 10-3. Tentu saja. Kelas itu begitu ramai. Padahal bel sudah berbunyi. Mungkin saja mereka senang karena Bu Rena tidak mengajar di kelas mereka. Siapa pula yang tidak senang ketika jam matematika kosong? Meskipun begitu. Itu bukanlah keramaian kesenangan biasa. Keramaian yang dipenuhi olokan. Aku tetap bisa mendengarnya dari kejauhan. Aku melangkah ke ruangan itu dan masuk kedalam.
" Hei! Kau pikir Emmi gadis cantik pujaan banyak lelaki itu mau dengan bocah seperti mu?" Sepertinya itu yang sebelumnya ku dengar sebelum aku berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
Semua mata langsung tertuju ke arahku setelah aku masuk kedalam keramaian itu. Tatapan mereka sangat mengejutkan. Bocah lelaki yang tubuhnya pendek (menurutku) memandangku dengan wajah yang sedikit tersentak lantas menyeringai.
" Wah! Sepertinya Aggy akan bertemu dengan ahlinya."
Apa yang dia sebut ahli? Ahli dalam merenungkan masa lalu? Ya. Itu aku? Ada apa dengan bocah itu sebenarnya? Apa dia masih waras atau kah sedang kesurupan seperti rumor yang baru-baru saja tersebar?
" Ahli?" Seorang gadis ber... Hei. Sebentar. Dia yang dihukum karena telat datang ke sekolah. Dan tentunya yang aku lihat saat dia menjadi penjaga suka rela perpustakaan dan bertengkar dengan beberapa anak laki-laki.
" Ya. Kau tak tahu laki-laki ini? Dia anak seorang pembunuh, sob. "
Ah. Lagi-lagi. Kata-kata itu terus muncul bila aku menampakkan diri di keramaian. Mencengangkan. Dan ini membuatku sedikit muak. Semua mata kembali tertuju padaku.
" Apa jangan-jangan kalian pelaku pembunuhan Emmi ya ?" Pertanyaan macam apa pula itu? Lagi pula siapa Emmi itu aku sungguhan tak pernah melihat raut wajahnya sedetikpun.
" Apa yang kalian lakukan?" Tidak. Aku harus mengatur emosiku. Aku tak harus mengundang banyak masalah di sekolah ini sekarang. Ada banyak jadwal yang harus aku kerjakan. Apalagi soal memberi pelajaran pada lelaki itu.
" Jujur saja aku sudah muak dengan Emma-Emmi itu." Aku meletakkan kertas itu di meja guru. Aku menatap gadis itu. Wajahnya begitu kusut. Aku menghampirinya. Mengapa? Entahlah. Tidak. Ternyata ini bully. Dari yang ku dengar saja bocah laki-laki itu menyudutkan dia. Lagi pula dia terlihat seperti gadis yang sungguhan pendiam. Aku pula tak tahan ingin mengumpat.
" Kasus bully lagi? Cih, membosankan. "
" Kau siapa?" Anak itu bertanya kepadaku. Aku tak mau menjawab. Nanti juga tahu. Siapa pula yang tidak mengetahui aku? Putra buangan Marcues. Yah. Semua orang tahu. Aku pergi meninggalkan kelas itu tanpa berkata-kata. Ada banyak hal yang harus aku kerjakan dan selesai kan secepat yang aku bisa. Eliza menunggu ku di rumah dan ini adalah kondisi yang sangat penting.
" Dasar pembunuh! Hahahha.." bisa-bisanya dia mengatakan itu sambil tertawa. Tentu saja itu membuat ku menoleh. Masih kukuh pada diriku. Bahwasannya aku bukanlah seorang pembunuh.
Aku menghampiri mereka. Salah satu anak yang ku kenal sebagai anak laki-laki awal dari pembullyan di sekolah ini, ku cekik dan ku layangkan tubuhnya dalam sekali genggaman tangan ku. Rasa-rasanya aku ingin meluapkan emosiku sekarang. Apalagi di tambah dengan masalah ku dengan Sinar. Ini akan menjadi sesuatu yang menakjubkan bila aku membunuh dia di antara keramaian.
" Itu tugas matematika, segera di kumpulkan di meja bu Rena hari ini."
Aku melangkah keluar, dan kembali pada lamunan ku yang tiada ujungnya. Aku berjalan keluar melewati ambang pintu meninggalkan si anak laki-laki itu terkapar kesakitan di depan dinding yang retak. Di atas lantai yang di penuhi darah mimisan nya. Aku tidak peduli. Setidaknya jika tak ingin begitu berhentilah mengobrak-abrik emosiku.
Semua pemikiran ku ini berakhir ketika aku sungguhan pulang kerumah dan melihat dia lagi. Lelaki konyol dengan tubuhnya yang penuh perban. Dan Sinar, si wanita menjijikkan itu. Eliza. Tidak. Dia hanya terbaring dilantai dengan tubuhnya yang melemah. Dia hanya menangis tanpa suara dengan tubuh yang terinjak-injak. Bodoh. Kenapa dia tidak melawan?
Aku segera berlari ke arah mereka seraya merogoh cutter di saku celana sekolah ku. Aku melayangkan itu ke kepala lelaki itu. Maka darah itu menguncur dengan derasnya. Seperti hujan yang turun dari awan yang sangat gelap. Merah pekat. Dan Sinar menatap aku serta pacarnya itu dengan terkejut dan ketakutan?
" Bagaimana menurutmu? Kau masih berani saja datang ke rumahku padahal aku sidah mengancam pacar gelapmu itu dengan segala luka di tubuhnya. "
__ADS_1
Dia menatapku lamat-lamat dan hanya terdiam. Dia menodong aku dengan pisau yang dia ambil dari meja di belakangnya. Sejak kapan ada pisau di sana?
" Menjauh. Aku akan membunuhmu kali ini. Sama seperti aku membunuh orang tua dan kakak ku malam itu. Menjauh! Aku sudah memperingatkan mu."
" Kau membunuh orang tua dan kakak mu setelah kejadian di restoran waktu itu?"
Dia menatap ku seperti berharap aku takut dan tunduk kepadanya. Nyatanya tidak begitu.
" Dan kau membanggakan nya?" Pertanyaan ku membuatnya tersentak.
" Aku mengerti yang kau rasakan. Kau bangga membunuh mereka. Kedua orang tua mu dan kakak mu itu. Karena aku juga bangga seperti dirimu. Aku membunuh semua orang yang mengataiku. Aku membunuh putra bandar korupsi waktu itu. Aku juga yang membunuh para anak pejabat yang mengataiku sebagai anak pembunuh dan menyebar fitnah kemana-mana. Kau tau aku? Putra ilmuwan pembunuh. Edward Marcues. Kau tidak mungkin tidak tahu. "
Memangnya apa yang dia tahu tentangnya? Dia hanya gadis lugu yang tak pernah mengikuti perkembangan dunia.
" Bahkan hanya dengan satu tusukan di dada saja kau akan mati. Lantas kenapa kau begitu sombong? "
Aku melayangkan pisau itu ke arah nya. Tidak. Eliza meremas kakiku.
" Jangan lakukan itu, Steyf. Kau tidak boleh melakukannya."
Apa pula maksud gadis ini?
" Jangan bertindak bodoh Eliza. Dia bahkan menginjak-injak tubuhmu tanpa ampun. Melukaimu dengan pisau. Kau mau membiarkan dia pergi tanpa menerima segala dampak dari perbuatan nya itu?"
Gadis itu hanya menangis. Ah. Dia hanya membuang-buang waktu ku secara percuma. Aku kembali menoleh pada Sinar. Ah. Aku kehilangan dia. Dia sudah lari menyelamatkan diri sebelum menerima serangan dariku. Maka aku pun hendak berlari mengejar dia. Tapi Eliza tetap saja melanjutkan tidakan bodohnya. Dia memegang kakiku yang pada akhirnya membuat aku terjatuh.
" Cukup! Aku mohon, Steyf. Biarkan saja dia pergi."
" Sebenarnya apa yang kau maksud kan? Apakah otak mu juga sama sakitnya dengan jantung mu itu? Dasar tidak berguna."
Apa yang barusan aku katakan? Aku tak sengaja memakinya. Itu sungguh berada di luar kendali ku. Dia hanya menatapku sambil menangis. Apa pula yang baru saja aku katakan? Aku sungguhan menyakitinya.
" Maaf. Maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu. Maaf."
Aku berjongkok demi meraih air matanya yang terjatuh. Apa yang harus aku lakukan? Dia menangis tersedu-sedu dan aku tidak dapat menenangkannya. Bagaimana aku mengatakan ini sebagai sebuah kesalah pahaman? Aku meraih tubuh kecil itu. Yang aku lakukan, hanya memeluknya. Sampai dia berhenti menangis dan hanya menyisakan isakan yang tersengal-sengal.
__ADS_1