
Aku berjalan melewati sebuah gang sempit di daerah tempat ku tinggal. Sepi. Tentu. Daerah permukiman ini sudah lama di tinggalkan. Karena apa? Tidak lain karena masalah tanaman maut itu. Semua orang ketakutan. Karena terlalu banyak orang yang meninggal kala itu. Aku? Aku memilih untuk tetap tinggal.
Aku pun menyadari satu hal. Aku tahu kenapa aku tak mati saat itu. Padahal aku juga masuk ke dalam rumah dan melewati banyak tanaman maut itu. Aku teringat. Saat aku masih di ambang pintu. Masih ternganga dengan mayat dan darah-darah yang mengalir di lantai rumah ku. Tanaman itu bergerak sendiri ke arah ku dan melilit kakiku. Aku masih ingat betul. Mereka menyerap keringat dan darah dari kaki kecil ku waktu itu. Seperti seekor lintah. Mereka sangat ganas. Namun aku tak mati. Aku pun terkadang merasa bingung. Terbuat dari apa aku ini? Bahkan sudah berapa buah peluru yang masuk ke dalam jantung ku? Berapa buah peluru yang masuk ke otak ku? Semua nya masih ada disana.
Aku berhenti di depan gerbang rumah ku yang megah. Kala itu matahari menyengat bumi. Aku baru saja pulang dari sekolah ku dengan menjinjing banyak makanan untuk Eliz dan Karel. Namun, apa yang ku lihat? Keramaian manusia-manusia itu memenuhi halaman rumah ku. Apa yang aku dengar? Mereka berteriak-teriak dengan menyebut-nyebut Marcues.
"Ilmu itu berbahaya!"
"Ilmu yang dimilikinya telah membunuh jutaan manusia!"
"Pengecut! Keluar kau sekarang juga!"
"Marcues ilmuwan sinting!"
Begitulah sepotong teriakan mereka hingga air liur itu muncrat kemana-mana. Cih. Kenapa baru sekarang?
Aku melangkah lebih dekat lagi dari gerbang dan berjalan masuk ke dalam sana. Tidak ada yang menyadari keberadaan ku. Tidak ada yang menyadari bahwa aku masuk. Tiba-tiba saja.
Pppprrraaannggg!
Sungguh di sayangkan untuk rumah ku yang megah. Batu itu di lemparkan dan menembus kaca yang mewah. Hancur berkeping-keping. Serpihan kaca-kaca itu jatuh ke tanah. Tidak. Eliza. Karel. Bagaimana dengan mereka? Aku masuk kedalam kerumunan itu. Melewati gelombang manusia yang tak henti-hentinya berteriak. Baru setelah aku menyela mereka dengan kasar. Mereka pun terdiam. Menatap aku yang terus berjalan santai melewati mereka. Berjalan terus berjalan hingga akhirnya jalan lurus ke ambang pintu itu terbuka khusus untuk ku. Kini semua orang sadar. Aku mengeluarkan kunci rumah itu dari saku ku. Ku putar kunci yang menempel pada pintu itu secara perlahan. Ku buka dan ku cari kedua anak itu. Tidak. Eliza. Ia menutupi salah satu matanya dengan tangannya yang dipenuhi darah mengalir. Dan ku tatap bocah laki-laki autis itu yang mengamuk tak terkendali.
Aku menghampiri Eliza. Ku sambar tangan nya dan kulihat mata manis itu terlukai oleh kaca yang menancap disana. Itu pastinya perih, Eliz. Aku tak terima semua itu terjadi begitu saja. Aku menaruh beberapa bungkusan makanan itu di atas meja. Ku biarkan Karel terus-terusan mengamuk tak terkendali. Aku berjalan menuju dapur. Ku ambil pisau daging ku.
Aku berdiri di ambang pintu. Semua orang masih terdiam. Menatap ku bagai menatap malaikat maut yang siap mencabut nyawa mereka semua. Dengan pisau di tangan ku itu, membuat mereka tak berani untuk berkata-kata atau bahkan berkutik sedikitpun. Ketika itu kembali ramai, di kejutkan dengan suara dering handphone seseorang. Persis ketika seorang laki-laki dewasa itu mengangkat telpon nya. Ku lempar pisau daging itu dan darah segar mengalir deras dari tubuhnya. Semua orang gemetaran. Menatap darah itu yang mengalir tiada henti. Bahkan sebagian pingsan, dan sebagian lagi muntah sampai biru.
"Setelah tanaman maut itu, aku lah yang berbahaya disini. Bahkan kalian tahu sendiri siapa aku ini bukan?"
Tak ada yang menjawab.
"Mengapa diam? Takut jika tiba-tiba aku mendekat sebagai malaikat maut?" Kataku.
Aku melangkah maju. Perlahan. Dan orang-orang itu pun ikutan mundur. Tak berani betul mereka dekat dengan ku.
"Mungkin sangat tidak sopan bagiku kepada mereka yang tidak tahu apa-apa dan hanya ikut-ikutan berteriak untuk tidak memperkenalkan diri. Aku lah, putra simpanan Marcues yang tidak di akui olehnya. Mungkin karena dulu nya aku yang masih kecil tak terlihat apa kekuatan ku sebenarnya. Ia berpikir bahwasannya aku adalah kelinci percobaan nya yang gagal. Pada nyata nya, tidak. Aku selamat dari tanaman maut itu, meskipun tanaman itu menghisap darah ku seperti lintah. Tapi aku tak mati." Semua orang mendengarkan dengan baik.
"Setelah adanya tanaman maut itu, satu hal yang kalian tak tahu. Marcues itu masih hidup. Dan aku membunuhnya. Awalnya ia ingin membunuh ku karena aku mengganggu proyek percobaan nya untuk menaklukkan dunia waktu itu. Ia menembak kan peluru ke arah jantung ku. Tapi aku tak mati." Aku merobek seragam yang saat itu ku pakai. Maka terlihatlah tubuh ku yang penuh dengan luka. Ku tunjuk di bagian jantung. Terdapat bekas luka tembakan disana. Semua orang kini ternganga. Mereka mulai berbisik-bisik. Merasa tidak percaya, maka aku pun menambahkan.
"Setelah semua itu selesai, aku bertemu dengan seorang anak laki-laki yang adalah anak tunggal dari seorang politikus. Ia membohongiku satu hal. Karena wanita itu, aku sampai berani membunuh anak seorang politikus seperti dirinya. Maka polisi berbondong-bondong mendatangi rumahku. Aku tertembak di kepala. Berkali-kali dan aku masih tak mati. Aku sehat sampai sekarang. Lagi-lagi di bagian jantung, tapi tetap saja itu tak berpengaruh apapun. Mataku juga sama. Tertembak satu peluru, tapi nyatanya aku masih tetap bisa melihat. Apa kalian masih tak percaya?" Kataku meneruskan. Kini mereka sungguhan terkejut bukan main. Semua ramai berbisik-bisik. Hingga terdengar seperti lebah yang baru saja mendapatkan nektar bunga.
__ADS_1
"Diam!" Aku berteriak sekali lagi. Kini semua orang terdiam menatapku.
"Diamlah! Atau ku bunuh kalian sekarang juga!" Kini suasana hening. Hanya tiupan angin segar yang menyelimuti kala itu.
Aku berjalan masuk ke dalam rumah. Mereka pun segera berlari ketakutan. Tergopoh-gopoh meninggalkan halaman rumah ku yang amat luas. Tapi tidak. Aku menembak kan beberapa peluru dari jendela dalam rumah. Satu dua dan tiga dari mereka terkapar di tanah. Mereka langsung histeris. Ku tembakkan lagi peluru ku. Empat, lima, dan enam peluru telah ku tembakkan. Dan mereka semua mati. Tujuh, delapan, dan sembilan. Hanya tinggal segelintir orang yang masih berusaha bangkit dari jatuhnya. Nyatanya tak sempat ia berdiri. Sepuluh. Peluru meledak di kepalanya. Selesai.
Aku menoleh ke arah Eliza. Ia masih tetap bertahan dengan darah yang terus saja mengalir. Aku membopong nya. Berlari melewati mayat-mayat itu menuju rumah sakit terdekat. Aku bahkan melupakan Karel. Sampai nya aku di rumah sakit, aku histeris memanggil perawat untuk mengobati luka nya. Cepat-cepat lagi aku berlari menuju ke rumah. Ku dorong kursi roda Karel secepat mungkin menuju rumah sakit. Bocah autis itu pun tak berhenti menangis dan memukul-mukul kepalanya sendiri. Aku tidak peduli. Aku sampai di rumah sakit. Aku duduk di sebuah bangku depan ruang oprasi. Baru lah aku mengangkat Karel dari kursi roda nya. Menggendongnya. Dan menenangkan nya. Hingga ia kembali tenang. Aku memangku nya. Seraya menunggu oprasi itu.
Hanya sekedar mencabut beberapa kepingan kaca yang menancap di matanya. Kami kembali pulang kerumah yang penuh dengan mayat-mayat lagi. Rumah kumuh yang sebenarnya aku pun ingin pindah dari sana. Tapi, tidak. Kenangan buruk itu lebih baik dari pada pindah. Mimpi indah ku selalu ada disini. Dengan foto-foto hitam putih di dinding.
"Istirahatlah. Maaf aku terlambat pulang. Dan membuatmu terluka." Aku tak dapat sekalipun menyembunyikan kekhawatiran ku.
Eliza hanya menggeleng.
"Dimana Karel? Dia sudah tidur? Dia sudah makan?"
"Ya. Karel sudah tidur di kamarnya. Dia sudah makan bersama dengan ku waktu menunggui mu di rumah sakit tadi."
"Dia baik-baik saja? Dia tidak terluka, bukan?"
"Lupakan, Eliz. Ada kalanya kau harus memperhatikan dirimu sendiri. Tidurlah yang nyenyak." Aku cukup mengeluarkan nada ku yang tinggi.
Pukul 5.50 sampailah aku di gerbang sekolah. Terlihat satpam itu. Sudah ku duga. Dia pasti akan menutup gerbang lebih pagi karena ini adalah hari rabu. Ada upacara sialan itu. Untungnya aku sudah menyiapkan sarapan untuk Eliza dan Karel. Untunglah aku bisa membuka mataku lebih pagi. Aku berjalan melewati gerbang.
"Kau di cari Bu Disa di ruangannya, Steyf."
Aku hanya menoleh padanya. Untuk apa guru itu memanggilku? Cih. Aku tak menjawab apapun. Kejadian kemarin cukup membuatku banyak pikiran. Aku hanya masuk ke gedung sekolah yang besar itu dan tidak peduli apapun yang di katakan satpam itu.
Aku masuk ke dalam kelas. Aku malas untuk mengikuti upacara. Aku meletakkan kepalaku di atas meja. Lantas tiba-tiba saja aku tertidur. Saat ku terbangun, bel sudah berbunyi nyaring. Pukul 6.40. Hah? Apakah upacara sudah selesai? Sungguhan tadi aku tak mengikuti upacara wajib itu? Semua anak berlarian duduk di tempat duduk mereka masing-masing. Segera mengambil beberapa buku dan alat tulis mereka dari tas. Siap sekali mengikuti pelajaran pagi itu. Aku meregangkan otot-otot ku sejenak. Lantas tiba-tiba seorang guru datang. Tak heran. Ya. Guru bahasa inggris datang ke kelas kami. Karena memang itu adalah jadwal bahasa inggris.
"Steyf.. kau di minta Bu Disa datang ke ruangannya." Katanya sambil menatapku.
Astaga. Apa sih? Guru itu membuat kehidupan jauh lebih rumit.
"Cepat, Steyf. Beliau sudah menunggu mu dari tadi pagi." Guru di depan ku itu semakin melotot.
Aku segera bangkit dari duduk ku dan berjalan keluar ruangan yang pengap itu. Segera ku berjalan menuju sebuah ruangan dimana guru sialan itu berada. Sebelumnya, ku lihat seorang gadis berambut pendek keluar dari ruangan itu. Namun, sepertinya ia tak melihatku.
Aku masuk ke dalam sana. Tanpa mengetuk, ku dobrak pintu itu dengan rasa kesal yang tersisa. Ku lihat guru sialan itu. Bersama dengan... Ya. Murid laki-laki yang beberapa hari lalu sempat ku pukul dan jatuh ke lantai kelas.
__ADS_1
"Bisa kau mengetuk pintu terlebih dahulu?" Guru itu menatap tajam ke arah ku.
Aku mengetuk pintu itu yang sudah ku buka.
"Duduk. Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu."
Maka aku pun duduk. Ku tatap lekat-lekat bocah ingusan di depan ku itu. Alasan kenapa aku ada disini adalah tak lain karena bocah bajingan ini. Laki-laki tapi begitu pengecut.
"Steyf. Benar kau memukuli Amar sampai mimisan?"
"Lalu?"
"Jawab!" Guru itu kehilangan kesabaran nya. Aku terdiam.
"Sudah berapa kali, Steyf? Kau ini senior. Kewajiban mu adalah memberi contoh kepada junior mu. Sekarang katakan apa alasan mu membuat nya sampai seperti itu?"
Aku menatap bocah itu. Dia ikutan menatap ku.
"Heh... Cepat katakan padanya. Kenapa aku harus memukul mu waktu itu? Cepat katakan!" Kini malah aku yang menyuruhnya.
"Steyf! Aku bertanya padamu. Jawab dengan jujur! Bukan malah mengadu domba keadaan."
"Bahkan ada korban disini. Harusnya kau bertanya sendiri kepada korban. Memintanya untuk bersikap jujur dan berterus terang. Disitulah letak kebodohan manusia. Bertanya malah pada tersangka. Saat tersangka berbohong mereka akan percaya. Dan menganggap korban lah yang bersalah."
Hening. Ya. Ruangan itu hening. Tak ada percakapan apapun setelah aku mengatakannya. Sepertinya itu cukup amat menusuk bagi guru sialan itu.
"Benar, bukan?" Aku kembali menatap bocah itu.
"Siapa nama mu? Amar, bukan? Nama yang jelek." Ucapku.
Dia langsung bangkit dan melotot tajam ke arah ku.
"Sialan!" Ujarnya.
"Sudah cukup, Steyf! Aku tak mau tahu. Besok, kau harus datang ke sekolah dan bawa orang tua mu." Guru itu tak pernah kehabisan suara tinggi nya.
"Oke. Masalah selesai, bukan? Aku harus kembali ke kelas. Kasian Bu Retna, dia mengajar dengan peluh bercucuran tapi tak ada yang memperhatikan." Kataku lantas berdiri dan keluar begitu saja.
Orang tua? Sudah ku duga. Dari tersohornya nama Marcues. Tidak ada yang tahu mengenai keluarga simpanan nya.
__ADS_1