
Esok siangnya, sekitar jam 12 siang. Aku dan Joseph naik mobil milik Joseph, membelah deras air hujan yang turun dari langit. Langit seakan menangis menumpahkan segala kesedihan. Warna gelap nan mendung itu seakan melambangkan perasaanku yang berkecamuk sekarang.
Aku bimbang, aku tegang, aku takut, aku cemas. Semua tercampur jadi satu. Dan titik pusat permasalahanku tetaplah pada: Erina. Semalaman terus aku pikirkan, mau itu saat makan atau sebelum tidurpun.
Aku selalu bertanya-tanya sendiri. Apa dia baik-baik saja? Itu pertanyaan utama, pusat yang akan menghubungkan semua pertanyaan selanjutnya. Kedua, dan seterusnya adalah; apakah dia sudah makan? Sudah istirahat? Apa yang sedang dia lakukan? Dan lain sebagainya.
Sekarang aku mengalah, tak mau membebani Joseph dengan segala pertanyaan-pertanyaanku. Selalu sama. Pasti: "Apa Erina baik-baik saja?", "Bagaimana Kau bisa tahu keadaan Erina sekarang?", atau "Bagaimana caranya kau bisa menemukan tempat Erina berada setelah sekian hari aku mencari-carinya?". Dan terus saja begitu.
Maka, karena tak mau menbuat Joseph pusing karenaku, aku hanya diam sepanjang perjalanan. Murung menatap tetesan air hujan dari balik jendela mobil. Jika Joseph bertanya sedikit, maka aku menjawabnya dengan mengangguk atau menggeleng saja (tanpa tersenyum).
Setelah menunggu perjalanan panjang itu, akhirnya hujan mereda. Langit kembali cerah di hiasi sisa guyuran air yang membungkus kota di aspal. Mobil milik Joseph melambat, memasuki salah satu pelataran rumah. Rumah yang indah nan sederhana, dengan kesan tentram dan damai. Bahkan sebelum kami sampai-pun, kami melewati pepohonan rindang dan tepi sungai yang panjang. Sungguhan belum pernah aku melewati tempat senyaman ini.
Kami berdua turun dari mobil. Joseph berjalan santai mengetuk pintu rumah itu, dan aku hanya mengekor sambil celingak-celinguk mengintip.
Berkali-kali Joseph memanggil (hanya dengan salam). Dan sekarang perlahan pintu berderit. Dibuka seseorang dari dalam sana. Aku mengintip.
Dan alangkah bahagianya aku saat itu. Adalah Erina. Wanita yang aku cari-cari sekarang ketemu, membuatku haru. Ya Tuhan! Aku memeluk adikku, tak peduli air mata menetes karna haru. Erina! Erina kau selamat! Terimakasih Tuhan...
Berkali-kali aku memeluknya, kemudian mencium, memeluknya lagi, mencubit pipinya. Dan diamlah Erina, dengan wajah bersemu merah. Terdiam seperti aku hanya memeluk tiang listrik.
"Sudahlah, Kak...aku baik-baik saja. Teramat malah," Erina mencegah pundakku, kikuk menjawab.
Akhinya kami ber-3, dengan Joseph tentunya, masuk dalam rumah. Rumah asing, rumah sederhana yang jika saat memasukinya terbawa oleh suasana nyaman.
Kami duduk di ruang tamu. Aku memandang sekitar, tembok yang kosong melompong (maksudku disini; tak ada hiasan dinding seperti album foto misalnya). Kemudian atap dengan plafon warna putih bersih tanpa kotoran, dan tentu lantai yang seperti tak pernah terjamak kaki sekalipun.
Aku senang, selebihnya terharu. Hingga aku lupa akan pertanyaan-pertanyaanku. Pertama tentang wanita gempal dan laboratorium milik Bu Neny. Kedua bagaimana aku bisa bersama Joseph, naik kereta pula. Ketiga, bagaimana Joseph bisa tahu rumah ini, bisa tahu tempat Erina, dan tentunya bagaimana Joseph bisa mengenal adikku. Ini aneh.
Tapi aku membiarkan pertanyaan-pertanyaan itu lenyap saja seketika. Santai saja, masih ada banyak waktu untuk bertanya. Yang terpenting sekarang, kami bisa berkumpul dengan aman, tanpa ada gangguan sedikitpun.
***
Setelah basa-basi tak penting, Joseph melambaikan tangan, tersenyum hendak meminta ijin pulang. Dia pamit dengan tak lupa menjabat tanganku.
__ADS_1
Lepas itu, aku mulai teringat akan 3 pertanyaan itu. Aku akam segera bertanya, di bawah penerangan lampu teras ini pula. Malam hari, gerimis membungkus. Dan kami di temani dengan teh panas dan kentang goreng.
"Beruntung Kakak bertemu Joseph. Maafkan aku kemarin pergi tanpa bilang dulu," Erina meneguh teh.
"Eh? Kau mengenal Joseph?"
"Ya. Sudah lama sebenarnya. Maaf kami baru memberitahu. Kami tahu, ada waktunya Kakak akan melontarkan banyak pertanyaan pada kami. Maka aku jawab, perlahan-lahan, satu demi satu."
Aku manggut-manggut, tak banyak tanya. Mengalah saja, lebih baik aku mendengarkan daripada terus menyela Erina, sehingga dia sulit untuk menjelaskan.
"Joseph rekan Kakak kerja itu, memiliki pekerjaan sampingan loh, dan aku juga agak heran. Bagaimana bisa dia mengatur waktu sedemikian agar dapat mengerjakan keduanya dengan gampang." Erina menjelaskan. Sambil sesekali mencolek kentang goreng yang di potong kecil-kecil itu pada saus di piring.
Tapi, Joseph? Pekerjaan sampingan? Segera aku menyimpulkan. Kalau Erina bisa mengenal Joseph dan Erina pula bekerja di laboratorium, maka tentulah dapat di tebak Joseph juga bekerja sebagai karyawan di laboratorium itu. Tapi bagaimana bisa? Lalu, mengapa juga hingga sekarang aku tak tahu soal itu?
"Ya. Joseph adalah dokter hewan dan karyawan Bu Neny. Sudah dua tahun Joseph bekerja di laboratorium itu..." begitu kata Erina, seperti dapat membaca pikiranku.
"Maaf...maafkan aku, Kak. Apa yang Kakak khawatirkan padaku itu sama sekali tak salah. Kakak pantas mencemaskanku, setimpal dengan apa yang aku kerjakan." Wajah ceria Erina berubah menjadi sendu, dia meletakkan gelas teh di meja, lantas menatapku prihatin.
"Jujur aku bingung mau menjelaskan masalah pekerjaanku dari mana. Tapi yang jelas, aku dan Joseph punya rencana besar yang secara tak langsung dapat menyelamatkan kita semua."
"Apa maksudmu?" Aku menjadi tambah tak paham. Hei? Joseph benar-benar karyawan Bu Neny?
"Aku dan Joseph akan menghancurkan semua penemuan milik Bu Neny. Termasuk bayi tabung itu, dasar tukang plagiat. Sudah tak dapat membuat, mengapa harus rela mencuri pula?"
Kami terdiam cukup lama, menyisakan suara air yang jatuh dari langit, membasahi tanah di malam hari. Hingga kemudian aku teringat dengan laboratorium itu, sontak mendesak Erina menjawabnya.
"Erina! Aku baru ingat, wanita gempal itu, karyawan Bu Neny, dia menyuntikku dengan cairan aneh, entah apa, kemudian satpam! Satpam itu mati! Bersimbah darah, dan aku tak tahu apa penyebabnya. Wanita itu menceritaiku sebuah cerita tentang raja dan kusir pengkhianat kemudian menggabungkannya denganmu!!" Aku berseru, tak peduli pernyataanku barusan tak jelas dan tak dapat di cerna.
"Iya, Kak. Joseph yang membawamu, naik kereta. Dia kabur dengan menyelamatkanmu, membopongmu dengan sedikit perlawanan dari para karyawan Bu Neny. Lalu satpam itu, aku juga kurang tahu."
Aku membelalak. Joseph?
"Begitulah. Anggap saja aku dan Joseph adalah partner, atau Kau anggap sekutu saja. Kami di nilai sebagai pengkhianat karena mencoba menggagalkan segala rencana Bu Neny. Wanita itu gila tahta dan harta demi dendam kesumatnya.
__ADS_1
"Maka aku saat itu mencari tempat aman untuk sementara, tak menyangka bahwa Kakak akan mencariku, kemudian terlibat dalam masalah itu. Maafkan aku..." sekarang Erina tertunduk lebih dalam.
"Jangan bertarung dengannya, Erina..." aku melirih (juga sebenarnya tak tahu mengapa kata itu bisa terucap seketika).
"Kenapa?"
"Kalian akan kalah telak, percayalah. Itupun jika salah satu pihak dapat menang, maka akan ada salah satu korban. Perasaanku tetap berkecamuk." Aku menghela napas, meneguk teh hangat.
"Tidak, Kak. Kita akan melawan tanpa ada pertumpahan darah. Bukankah sekarang jaman semakin maju? Peperangan bukan hanya soal adu fisik saja. Kita berpengetahuan luas, jadi ada banyak cara untuk menggagalkan penemuan berbahaya milik Bu Neny." Erina mengepalkan tinju, bersemangat sekali mengatakannya.
Gerimis mulai mereda. Awan-awan dan bintang kemerlip mulai kembali menghiasi langit. Seakan keluar dari tempat persembunyiannya. Aku mendongak melihat langit malam yang begitu indah. Rembulan, indah.
Namun hari mulai malam, aku mendongak melihat jam di tangan kiriku. Pukul setengah sepuluh malam. Aku dan Erina memilih beristirahat. Sejenak membereskan piring dan gelas teh, kemudian menutup pintu dan beranjak beristirahat. Tidur.
***
Aku tarik kesimpulannya. Jadi memanglah benar akan perasaan burukku selama ini. Berhari-hari aku terus di hantui oleh pikiran-pikiran negatif yang selalu timbul hingga aku menyerah untuk menyangka hal-hal buruk yang akan terjadi kedepannya.
Terlebih lagi soal pekerjaan Erina yang selalu membuatku gusar tak karuan. Aku memang tak punya hak untuk melarangnya melakukan ini-itu. Lagi pula, sudah kujelaskan bahwa menjadi ilmuwan adalah angan-angannya sejak masih di kepang dua. Alias masih kecil.
Teringat olehku, saat Erina memenangkan lomba biologi tingkat nasional, terkekeh membawa piala berwarna emas ke dalam rumah, lantas bersorak memeluk ibu, ayah, dan aku secara bergantian.
Ibu? Ayah? Sudah sejak kapan mereka meninggalkan keluarga kecil kami? Aku lupa, yang jelas sudah bertahun-tahun aku dan Erina hidup mandiri. Aku pula selalu mengajarkan kemandirian dan keberanian pada wanita itu sejak kecil.
Dan...
Buruknya lagi aku, Erina, dan Joseph akhirnya terlibat dengan laboratorium sialan itu. Keadaan memaksa kami supaya tegar dan tidak lemah. Alangkah menyusahkan hal semacam itu. Selebihnya mengganggu pekerjaanku, selalu membuatku tak fokus kala sedang berkutat dengan alat di klinik.
Kenyataannya, Joseph ternyata selama ini adalah karyawan Bu Neny, dua tahun malah. Sungguh! Bagaimana bisa mereka berdua bersekutu, lantas tak memberitahu apapun tentang pekerjaan itu. Itulah mengapa Joseph berlagak menenangkanku saat aku berkeluh kesah tentang kewaspadaanku pada pekerjaan Erina.
Tapi... ya sudahlah. Lagi pula sekarang yang terbaik adalah keselamatan mereka berdua. Keselamatan adikku Erina, dan keselamatan rekanku, Joseph.
***
__ADS_1