Laboratorium - Merah

Laboratorium - Merah
Chapter 37 (Special Chapter/ Catrina Beatrice)


__ADS_3

Laboratorium? Inilah tempat pekerja praktikum berasal. Sungguhan menawan, meskipun bukan maniak sains sekalipun yang menjejali pemandangan seisi tempatnya. Alat-alat laboratorium (yang asing bagiku) disini tersusun rapi. Berjejeran di rak kayu yang jumlahnya banyak sekali.


Entah mengapa mendadak mulutku rasa terkunci. Aku merasa pengap. Rasa kagumku pada tempat ini hanya bertahan sebentar saja. Setelahnya, aku kembali cemas. Baru ingat tujuanku datang kemari.


Seorang wanita dengan tubuh gemuk, gempal mecotot dari buah pintu dari sebuah ruangan. Dirinya tersenyum simpul menghampiriku yang berdiri kaku.


"Kunjungan lagi? Silahkan, mari saya antar anda ke ruang praktikum" basa-basi pertamanya.


"Maaf, tapi saya punya tujuan lain," aku mengelak.


"Hm?"


"Dimana Erina Beatrice?" Itu tujuanku. Tak lain hanya ingin menjemput adikku dari tempat antah berantah ini. Erina belum memberikanku kabar baik maupun kabar buruk.


"Nona Erina, asisten Bu Crhistine Neny? Dia yang anda cari?"


Lantas aku mengangguk. Eh? Tapi, bukankah ekspresinya itu mendadak menjadi agak aneh dan menyeramkan? Misterius sekali. Bukankah suaranya barusan terdengar agak aneh dan mencekam? Entahlah. Bad feeling. Aku merasa ada yang janggal. Ada sesuatu yang tak beres disini.


"Ya. Di-dimana Erina? Ada kepentingan mendadak. Aku kakak kandungnya". Aku menelan ludah, menjawab dengan kikuk.


Wanita gempal itu membelakangiku. Tak melangkahkan kakinya, namun aku pandang punggung itu bergerak turun naik. Itu artinya dia sedang tertawa dengan membelakangiku. Tertawa tanpa suara.


"Sebelumnya, ijinkanlah saya untuk memberikan anda sebuah cerita yang amat saya sukai..." katanya sambil terus membelakangiku, punggungnya berhenti bergetak turun naik.


"Di sebuah kota, seorang raja yang arif nan bijaksana telah menjadi seorang terhormat. Di hormati oleh banyak rakyat di kota tersebut. Beliau di juluki dengan 'Sang Dewa'. Raja alim yang melindungi kelangsungan hidup rakyat kecil kala itu.


"Setiap 'Sang Dewa' pulang berburu, para rakyat akan bersorak-sorai: 'Lihatlah Sang Dewa pelindunf kita yang gagah berani', 'Hidup Sang Dewa!!'.


"Singkatnya, 'Sang Dewa' adalah orang yang sangat di cintai oleh para rakyat sekitarnya." Wanita gempal itu menghela napas, lantas masih terus membelakangiku.


"5 tahun berlalu cepat bagaikan ban menggelinding dari ketinggian bukit. 'Sang Dewa' suatu hari menyiapkan segala bekal perjalanan dan banyak perhiasan emasnya dalam kereta kuda. Beliau berangkat bersama para pengawal prajurit dan seorang kusir untuk meminang sang kekasih. Wanita berparas cantik bak bidadari dari kota lain. Beliau sudah pernah menjalin hubungan dengan wanita lain sebelumnya, namun cinta itu kandas karena sang wanita lebih memilih pria lain ketimbang dirinya.


"Kau tahu? Itu adalah hari paling membahagiakan teruntuk 'Sang Dewa'. Dalam perjalanan itu beliau terus membayangkan raut muka wanitanya. Membayangkan betapa cantik paras wanita yang hendak di pinangnya itu. 'Sang Dewa' menjadi tak sabar agar secepatnya dapat meminang wanitanya, lantas mencium manja tangannya yang bening.

__ADS_1


"Namun naas. Nasib memprihatinkan menimpanya pada hari itu juga. 'Sang Dewa' terlalu lengah pada hari itu. 'Sang Dewa terlalu senang di buai oleh kasmaran hingga tak sadar ada seorang pengkhianat. Pengkhianatan di atas pengkhianatan. Kusir itu, kusirnya yang terampil memecut kuda-kudanya itu ternyata busuk. Licik.


"Kusir itu sudah merencanakan rencana busuknya selama jauh hari. Saat jalanan terjal, ketika mereka sampai di jalanan sempit yang di bawahnya ada jurang menganga, maka si kusir menjatuhkan kereta kuda itu bersama 'Sang Dewa' dan para prajurit pengawal lainnya. Kusir busuk itu menginginkan kekuasaan dan harta.


"Emas, perak, berlian, bekal perjalanan, semuanya masuk ke dalam jurang itu. Berserakan ke mana-mana. 'Sang Dewa' terlalu lengah, 'Sang Dewa' tak pernah menyangka watak si kusir sialan ini. Maka beliau dengan para prajurit itu sudah dapat di pastikan mati."


Jantungku berdegup kencang. Sama sekali aku tak menikmati cerita itu. Apa hubungannya? Wanita gempal ini pendongeng?


"Setelah insiden mengenaskan itu. Si kusir tertawa lepas, memandang 'Sang Dewa' dan para prajurit yang terjerumus ke dalam jurang menganga itu. Licik. Sebelum kereta genap jatuh ke dalam jurang, kusir busuk itu minggir, tak lupa membawa beberapa harta berharga.


"Lagipula, tanpa membawa apapun, pulang-pulang dia sudah menjadi raja, sudah menguasai. Sudah menjadi pemimpin bagi para rakyat kecil itu. Si kusir merasa puas. Kusir itu tak melanjutkan menempuh perjalanan ke wanita berparas cantik itu, si kusir busuk ini pulang ke kerajaan. Menanti pengesahan raja baru." Wanita itu mengakhiri ceritanya.


Perlahan-lahan dia membalik badan, sungguh pelan gerakan itu. Hingga pada akhirnya tersadarlah aku atas semua keganjilan ini. Aku terjebak, aku terpojok, aku kurang teliti, dan aku memang terlalu gegabah mengambil keputusan.


Wanita gempal itu membawa jarum suntik. Untuk awal seperti ini, aku hanya beranggapan itu tak penting. Toh ini kan laboratorium, pastinya sudah tak asing jika ada alat seperti itu.


Namun sekarang napasku tercekat, mau bergerak saja aku tak kuasa. Selebihnya aku diam membatu, tak bisa bergerak bagai disihir. Wanita itu hendak menyuntikkan cairan aneh dalam tubuhku!


"Dengar! Sekali pengkhianat, maka hingga selamanya akan di kenal sebagai pengkhianat. Camkan ini, adikmu ibarat kusir busuk itu; menusuk Bu Neny dari belakang," wanita gempal itu sekarang menatapku dengan sinis, jarak kami hanya tinggal satu langkah.


"Kau juga kurang teliti. Aku sudah menghukum satpam bodoh itu, enak saja membiarkan parasit sepertimu masuk."


Satpam? Satpam garang itu? Jujur saja aku memang tak paham apa maksudnya. Tapi ragu-ragu aku menoleh ke belakang, tepat ruang satpam itu bekerja. Dan sekarang aku baru tahu...


Satpam garang itu...sekujur badannya berdarah-darah. Darah segar! Aku tafsir mungkin baru beberapa menit lalu kejadian seram ini berlangsung pada tubuh tinggi itu. Apa yang terjadi? Apa yang terjadi dengan satpam itu? Ya Tuhan, aku tak kuasa menyaksikan ini semua.


"Kamu jangan panik gitu dong...seseorang yang melanggar peraturan 'kan sudah pantas mati?" Dia tertawa terkekeh. Ya Tuhan!!


Dia bergegas menyuntikkan cairan itu. Benar-benar mengenai kulitku, kulit lengan. Aku saja masih terpaku, membelalak menatap kejadian yang tak bisa aku hindari ini.


"Untuk beberapa menit lagi kau akan tak sadarkan diri, biar atasanku saja yang mengurusmu nanti..."


"D-dimana Erina!!!" Aku berteriak untuk terakhir kali. Terakhir kali? Ya. Dia benar, setelah beberapa menit aku memang telah tak sadarkan diri. Jatuh pingsan begitu saja, gelap. Dan entah apa yang terjadi selanjutnya aku tak tahu. Erina...

__ADS_1


***


Entah suara gaduh apa. Entah apa penyebab suara antah berantah itu. Bising, terang (terlalu malah). Aku sendiri telah tersadar, perlahan mengedipkan mata. Apa yang terjadi?


Aku sudah genap membuka mataku. Tak tahu betul apa yang sedang terjadi, selebihnya pikiranku terbatas untuk saat ini mengetahui apa yang terjadi sekarang. Yang pasti aku sedang berada dalam tempat ramai.


Kereta api. Kereta api? Entah mengapa aku bisa berada di tempat ini. Lampu penerangan ruangannya juga amat terang, memekakan mata. Apa yang terjadi!?


Namun semua rasa cemas dan bingung itu segera musnah. Joseph dengan terburu-buru menghampiri tempat duduk. Tepat dia duduk di sampingku membawa beberapa roti dan dua botol air mineral. Buru-buru dia memberikan sebotol. Dan tanpa pikir panjang akupun menerima, lantas meneguknya perlahan.


Aku masih mengumpulkan nyawa, bernapas senormal mungkin. Lagi pula kepalaku masih pusing untuk berpikir ; bagaimana ada Joseph di sini? Dan terlebih lagi mengapa aku berada dalam kereta ini? Apa aku hanya bermimpi soal laboratorium dan wanita gempal itu?


Aku menoleh, memandang pemandangan malam yang gelap dari jendela kereta. Pandanganku tak luput juga dengan bulan purnama yang bersinar. Baik, sekarang aku sudah bisa mempertanyakan semua pada Joseph.


"Apa yang terjadi, Jo? Bukankah aku tadi tak bersamamu?" Aku memandang lelaki itu. Begitupun dengannya yang tak mengalihkan pandangannya dariku sedikitpun.


"Ada banyak yang perlu dijelaskan. Aku tak punya banyak waktu, lagipula Kau akan tahu dengan sendirinya nanti". Joseph menjawab.


"Bagaimana bisa aku denganmu? Katakanlah, Jo. Bukankah ini masalah besar? Bagaimana pula dengan Erina? Apa dia baik-baik saja?"


"Kau masih saja mencemaskan adikmu"


"Bagaimana tidak?! Sudah seharian aku tak melihatnya, aku khawatir, Jo..."


Joseph hanya tersenyum, seperti semua baik-baik saja. Sementara napasku masih tersengal, bukankah ini masalah yang besar? Mengapa dia menganggap seolah-olah semua sudah lalu begitu saja.


"Maafkan, untuk pertanyaan pertamamu mungkin tak dapat aku jawab sekarang. Tapi untuk pertanyaan keduamu aku jelas sanggup. Sekarang aku mengantarmu menemui Erina, menggunakan kereta. Transportasi terbaik untuk saat ini." Begitu dia menjelaskan sejelas mungkin.


Baik. Aku lupakan perihal laboratorium dan wanita gempal itu. Serta bagaimana cara Joseph dapat membawaku kemari. Sungguh aku tak ingat apapun, aku hanya ingat wanita itu ingin mengantarku menemui Erina, bukan? Ada banyak kejadian yang sudah aku lupakan sekarang. Ah, yang terpenting Joseph sudah membawaku untuk segera mememui Erina. Erina...sekarang kakakmu ini akan memastikan keadaanmu.


"Kita kemana?" Tanyaku.


Joseph sekilas tersenyum, sambil menjelaskan jalur kereta ini, menunjukan kota yang akan kita tempuh, serta tak lupa dengan pemandangan malam indah dari luar jendela kereta. Aku? Selebihnya hanya manggut-manggut mengerti.

__ADS_1


"Kau jangan banyak tanya dulu, Catrina. Makan saja dahulu, aku sudah membeli beberapa bekal untuk perjalanan kita."


***


__ADS_2