
Pagi harinya, saat Sai terbangun, dirinya melihat Master Es yang sedang terbang di atas mukanya yang kini sedang terbaring. Sai kemudian bangkit dari tempat tidur nya sambil menyapa Master Es, “Master, kau sudah bangun sepagi ini ternyata, aku kira kau akan tidur lebih lama.” Sai meledek master Es.
“Heh, dasar kau ini.” Master Es membalasnya perkataan Sai dengan nada yang meledek juga, “Sudahlah, aku ingin berbicara hal penting dengan mu.” Master Es kini turun dan duduk di tepi kasur Sai.
“Hhm?”
“Dengar Sai, kau saat ini masihlah lemah, bahkan 3% kekuatan ku pun tidak akan sanggup kau lawan, karena itu, aku ingin kau belajar untuk menjadi Alchemist, semua itu agar kau dapat meracik obat mu sendiri, tetapi tenang saja, aku akan mengajarkan mu.”
“Tapi master, aku ingin segera menyelamatkan ibuku.” Sai mulai gelisah dengan keadaan ibunya, Sai berfikir ibunya bisa saja telah dianiaya atau di bunuh karena tidak menuruti perkataan tuanya.
Master Es kemudian menghela nafas pelan terlebih dahulu sebelum mulai berkomentar kembali, “Dengar Sai, aku tau kau bersikeras untuk segera menyelamatkan ibumu, tetapi apa kau yakin dengan kekuatan mu yang sekarang kau dapat mengalahkan orang orang yang akan menghalangi mu?”
Sai terdiam beberapa saat setelah mendengar ucapan dari Master Es, Sai kemudian mulai berkomentar lagi setelah beberapa menit berlalu, “K..kalau begitu, baiklah.” Dengan terpaksa, Sai harus menunggu lebih lama lagi untuk menyelamatkan ibunya, “Kalau begitu, bagaimana caraku untuk menjadi Alchemist?” Tanya Sai dengan wajah yang masih terlihat pucat.
“Untuk sekarang, aku akan membantumu saja, karena kau pasti akan menghabiskan waktu sehari penuh untuk membuka beberapa titik Meridian mu.” Master Es kemudian terlihat memasuki tubuh Sai, setelah beberapa menit kemudian, barulah Sai tiba tiba saja merasakan energi yang cukup deras dari tubuhnya, energi tersebut mengalir keseluruh urat milik Sai. Setelah Sai merasakan energi tersebut, Master Es kemudian muncul kembali setelah beberapa detik munculnya energi tersebut.
__ADS_1
Sai yang penasaran pun segera melontarkan pertanyaan, namun tangan kecil Master Es tiba tiba saja menyentuh bibir Sai, “Ssts, aku tau kau ingin bertanya apa. Jurus ini hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang telah mencapai Spirit Otot ke atas, semakin tinggi tingkatannya, maka akan lebih bagus lagi, tetapi kau ingat, aku yang sekarang hanyalah roh yang memiliki sekitar 5% kekuatan asliku saja, tetapi, 5% ini cukup untuk membantumu.” Master Es kemudian menarik tangannya yang kini terkena air liur Sai, “Dasar murid kurang ajar, kau past sengaja menjatuhkan air liurmu.” Master Es terlihat sedang mengelap tangannya itu kesebuah baju yang digantung tidak jauh dari mereka.
Sai terkejut dengan ucapan Master Es, dirinya tidak menyangka kekuatan yang berada di dunia ini melebihi beberapa film fantasi yang pernah dirinya tonton, ‘Ternyata dunia ini sungguh luas, ilmu yang kuterapkan di elemen ku sepertinya masihlah kurang, setelah aku menguasai beberapa jurus, aku pasti akan mencoba untuk menggabungkan nya.’ Sai larut dalam pikirannya hingga tidak menyadari dirinya sedang tersenyum jahat, yang pada akhirnya membuat Master Es menyentil keningnya itu hingga Sai terjatuh, “Etteteh, sakit nya, kenapa Master menyerangku?” Tanya Sai sambil menutupi keningnya itu.
Master Es tidak menjawab nya melainkan terlihat tertawa terbahak bahak melihat sai terjatuh, “Kau mirip sekali dengan adikku.” Master Es tertawa lebih kencang setelah mengatakan nya.
“Hhm, aku yakin Master Es selalu menjahilinya.” Sai memalingkan wajahnya, dirinya juga tidak langsung berdiri, dirinya kini sedang duduk diantara kasurnya dan kasur Loli.
Master Es kemudian mengusap air mata nya yang keluar tadi saat dirinya tertawa terbahak bahak, setelah itu barulah Master Es berkomentar kembali, “Sudahlah, tidak usah dibahas. Ouh ya, ngomong ngomong soal adik, siapa gadis kecil itu?” Master Es menunjuk kasuatu arah yang tidak lain adalah kasur dari Loli.
“Ouh, aku tidak menyangka kau mempunyai kebaikan hati seperti ini, sebelumnya aku belum pernah bertemu dengan orang yang ingin menyelamatkan seseorang yang bukan keluarga nya. Namun, sepertinya kini aku menemukan nya. Tetapi, aku hanya ingin mengatakan sesuatu, jangan lepaskan pandangan mu darinya, karena bisa saja dirinya mengambil kesempatan untuk membunuhmu.” Master Es terkekeh kecil.
Sai kemudian berdiri dari tempat dirinya terjatuh tadi sebelum membalas perkataan dari Master Es, “Aku tidak yakin itu benar, karena, aku menyaksikan mimpinya itu walaupun dari luar.” Sai menggeleng gelengkan kepalanya pelan sebelum kembali berkata, “Kalau begitu, obat apa yang aku akan buat nanti?” Sai memilih untuk mengalihkan pembicaraan nya.
Master Es menyadari muridnya itu tidak ingin membahas tentang loli lebih jauh lagi, Master Es pun juga tidak membahas nya lebih jauh, dirinya kemudian mulai memberitahu kepada Sai obat apa yang akan diraciknya.
__ADS_1
Sebenernya Sai memiliki dua maksud tertentu saat dirinya mengalihkan pembicaraan nya, pertama, dirinya tidak ingin membahas tentang loli lebih jauh, kedua, dirinya ingin segera mempelajari pembuatan pil, bagi Sai, ini adalah momentum yang sangat besar dalam hidupnya, karena dirinya belum pernah mempelajari hal seperti ini di bumi, namun sai pernah melihat hal ini saat dirinya membaca beberapa komik Fantasy, hal ini membuat Sai bersemangat.
“Pil yang akan kau buat bernama, Pil Perkembangan 100 hari.” Ucap Master Es sambil menutup kedua matanya.
Baru saja master Es membuka matanya setelah menutupnya beberapa detik, Master Es melihat Sai telah menggunakan pakaian yang rapih dan telah mempersiapkan uangnya, “Kalau begitu, mari kita pergi.” Sai terlihat tersenyum lebar.
* * *
Beberapa jam setelah itu, terlihat senyuman Sai kini berubah menjadi pucat pasi, bahkan Sai terlihat menghela nafas dari waktu ke waktu, “Master, ini sungguh sulit, apa cara ini sudah tepat?” Sai kembali mengeluh. Sai memang beberapa kali sebelumnya telah mengeluh dengan kata" yang sama, namun keluhan nya itu tidak direspon baik oleh Master Es.
Master Es kemudian melirik ke sebuah keranjang yang kini sudah terlihat kosong, Master Es hanya bisa menghela nafas panjang setelah melihat persediaan nya untuk membuat obat kini telah habis karena Sai terus gagal dari waktu ke waktu.
“Aku punya satu cara lagi agar kau dapat membuat Pil Perkembangan seratus hari, namun aku tidak menjamin ini akan mudah. Tetapi karena kau telah menghabiskan bahan pil nya, kau pokoknya harus melakukan nya.” Master Es kini terlihat menjadi sosok yang menyeramkan di mata Sai, terlebih lagi senyumannya yang terlihat seperti orang mesum, “Tetapi, sebelum itu, kau tidak akan pergi lagi sebelum memberi tahu adikmu kan?”
‘Gawat, saking bersemangatnya, aku sampai melupakan adikku.’ Sai tersenyum canggung sebelum membalas pertanyaan dari Master Es, “Ah, iya, aku lupa, hehe.” Sai kemudian melirik adiknya itu yang masih tertidur pulas sebelum bangkit dari lantai penginapan nya dan berjalan ke arahnya.
__ADS_1