
Setelah Lily telah membersihkan dirinya, Sai kemudian mengajaknya untuk keluar dari tempat perawatan nya.
“Baiklah, ayo kita keluar.” Sai tersenyum manis menghadap Lily.
Wajah Lily seketika terlihat memerah merona walaupun tidak terlalu merah, “Baik.” Ucap Lily pelan sambil menghadap ke bawah.
Sai dan Lily pun meninggalkan rumah perawatan tersebut untuk ke rumah makan mengisi perut mereka.
* * *
Dikediaman Sai, terlihat seseorang sedang mengobarak ngabrik sesuatu, ‘Kalau tidak salah aku menyimpan nya disini.’ sosok tersebut sedang mencari cari sebuah barang.
‘Nah, ini dia.’ Sosok tersebut kemudian membuka sebuah kotak yang cukup besar lalu mengangkat benda yang berada di dalamnya.
“Ayah, benda apa itu.”
“Ah, Yuzu, ini barang milik kakak mu, ayah berniat memberikan nya saat kakak mu nanti pulang sebagai juara.” Sosok tersebut bukan lain dan tidak lain adalah Zi Quan.
“Tapi kalau Kakak Sai tidak menang bagaimana?” Yuzu bertanya dengan satu jari menyentuh bibirnya.
Ayah Sai tertawa lepas saat mendengar ucapan Yuzu, baginya, Sai lebih kuat dari anak seumuran nya, bahkan kemampuan nya tidaklah wajar bagi ayahnya sekalipun, “Tenang saja, ayah yakin jika kakak mu ini akan menang, tetapi kalau dia tidak memenangkan Turnamen ini, ayah tetap akan memberikan nya.” Ayah Sai tersenyum tipis sambil mengelus kepala Yuzu.
“Ayah, ngomong ngomong, kapan kita akan menyelamatkan ibu?” Wajah Yuzu seketika berubah menjadi pucat saat menanyakan tentang ibunya.
‘Yuzu, maafkan ayah karena tidak dapat menyelamatkan ibumu.’ Zi Quan melihat anaknya itu dengan tatapan sedih, “Ah, Yuzu tenang saja, ayah dan kakak mu pasti akan pergi menyelamatkan ibumu.” Zi Quan berusaha tersenyum meskipun sebenarnya tidak kuat menahan sedihnya.
__ADS_1
Saat Zi Quan sedang berbicara dengan Yuzu, pintu luar terbuka dan suara langkah kaki berjalan terdengar, ‘Sai apakah sudah pulang?’ Batin Zi Quan.
“Ayah, aku pulang.”
* * *
Sai menyapa sambil membuka pintunya, Sai juga mengandeng tangan Lily saat berjalan pulang, ‘Hhm, aneh, kenapa tidak ada yang menjawab?’ Pikir Sai.
Saat Sai sedang membuka alas kakinya, ayah Sai pun menampakkan dirinya, “Sai, kau sudah pulang, mari makan.” Ayah Sai mengajak Sai keruang makan.
“Tapi ayah, aku dan Lily telah makan sebelum sampai disini, aku hanya ingin mengantar Lily pulang dan mengambil sebuah barang saja sebelum pergi lagi ke turnamen.” Sai sebenarnya berniat untuk pergi ke kediaman Yin Long, karena dirinya juga ingin mengetahui keadaan temanya itu setelah pulang dari pertempuran.
“Ah, kalau begitu tunggu sebentar, ayah akan segera kembali.” Zi Quan berlari lumayan cepat ketempat sebelumnya.
Sai sadar dari tadi dirinya tidak melihat kedua adiknya itu, biasanya mereka akan segera menyambut kakaknya jika pulang, Sai pun bertanya kepada Yuzu, “Yuzu, kemana Loli dan Amai?” Sai bertanya sambil mencoba membuka sebuah makanan ringan yang berada didepannya itu.
Yuzu mengambil beberapa makanan ringan di depannya sebelum menjawab, “Amai dan Loli sedang berbelanja kebutuhan makanan sehari-hari, karena itu mereka belum terlihat.” Selepas menjawab pertanyaan, Yuzu pun memakan satu buah kue yang berada di antara kedua jarinya.
“Ouh yah kak, turnamen akan dimulai 4 jam lagi kan?” Yuzu kali ini bertanya tetapi sebelum itu dirinya sudah menelan habis kue yang berada di mulutnya.
“Yah, kira kira begitu.” Sai tersenyum tipis.
‘Aku akan menunjukkan kehebatan ku kali ini, demi kembali bertemu ibuku, aku akan melawan seluruh sekte yang menghalangi ku.’ Sai mengepalkan tangannya itu, dirinya telah membuat tekad untuk melawan seluruh sekte dan aliran jika ingin menentang nya.
Berbeda dengan Yuzu, Lily hanya diam dan memperhatikan, sekali sekali memang Lily sering berbicara, namun entah apa yang merasuki nya hingga tidak berbicara.
__ADS_1
Keheningan pun tercipta, Sai hanya memakan sebuah makanan ringan yang tersedia untuk menunggu ayahnya datang, tidak beberapa la kemudian setelah Sai menunggu, akhirnya ayahnya datang, namun Sai menjadi penasaran dengan kotak yang di bawa oleh Ayahnya itu.
“Ini buka lah Sai.” Zi Quan memberikan kotak yang lumayan besar tersebut ke Sai.
Sai pun menerima nya dengan lapang dada, dirinya kemudian membuka kotak tersebut, ‘Apa ini? aku bisa merasakan kenyamanan saat kalung ini berada di depan ku. Sebenernya kalung apa ini?’ Sai merasakan sebuah sensasi yang membuat dirinya seakan merasa terlindungi, aura yang dikeluarkan kalung tersebut membuat Sai sungguh tenang.
Master Es yang melihat kalung tersebut dari dalam pun memberi tahu muridnya itu di dalam pikirannya, “Itu adalah kalung Asgord milik clan Kuno yang berada di dimensi 8, kalung itu sepertinya yang membuat mu berada di dimensi ini, aku tidak tau bagaimana cara clan mu mengubah kalung ini, tetapi saat dilihat memang ini adalah kalung Asgord, tetapi aura nya sangat berbeda.” Master Es memberi penjelasan.
“Asgord?”
“Iya, nama kalung ini aku yakin bernama Asgord, kalung ini mempunyai kekuatan untuk berpindah tempat saat merasa pemilik nya jatuh dari ketinggian yang tajam. tetapi aku tidak tahu jika kalung ini dapat membuat dirimu terjatuh di dimensi ini.” Master Es berfikir keras, dirinya tidak pernah mengetahui terdapat sejarah seperti ini, bisa dikatakan kejadian seperti Sai ini adalah kejadian pertama kali.
“Lalu sebenarnya Master Es kenapa bisa berada di sebuah Cincin? bukankah Master Es adalah seorang tetua besar di dimensi 8?” Sai belum begitu puas, dirinya pun mulai bertanya kembali, karena mungkin saja Master Es mempunyai petunjuk tentang clan nya.
Master Es menjawab pertanyaan dari Sai dengan gelengan kepala, lalu diikut dengan omongan, “Tidak, Aku tidak tau tentang clan mu, mungkin saja mereka berasal dari dimensi yang lebih tinggi. Tetapi yang aku herankan, kenapa mereka membuang mu?” Master Es berfikir keras ingin menebak.
“Ah, sebaiknya nanti saja aku menjawab mu lebih jauh, karena sepertinya keluarga mu berfikir roh mu sudah tiada.” Master Es terkekeh sebelum tiba tiba saja menghilang dari pandangan Sai.
Sai kemudian sadar kembali dan menemukan tatapan aneh dari ayahnya dan adik adiknya, “Sai, sepertinya kau sakit, ingin ke tempat tabib terlebih dahulu?”
Sai tersenyum canggung melihat ekspresi wajah ayahnya, “Ah, tidak tidak, aku hanya merasa familiar dengan kalung ini.” Sai membalas nya dengan senyuman tipis.
“Yah, sepertinya memang benar, karena, ka..kalung i..ini” Zi Quan merasa agak ragu untuk memberi tahu kepada Sai bahwa Sai hanyalah anak yang di adopsi oleh dirinya.
Zi Quan kemudian memberanikan diri untuk mengucapkan nya, “Maaf Sai, sebenarnya, kau ayah temukan di sebuah ranjang bayi di sebuah sungai, dan saat itu juga, kau sedang di pakaian kalung, tetapi saat itu, kalung yang dirimu kenakan masih lah kecil, ayah tidak terlalu tahu kenapa bisa menjadi besar, tetapi, ayah telah menganggap dirimu sebagai anak ayah sendiri.” Zi Quan memberitahu tanpa memperdulikan adik adiknya Sai yang lain.
__ADS_1