LET ME LOVE YOU BABY

LET ME LOVE YOU BABY
111 S2


__ADS_3

Mereka pun sampai di Rumah, Aron melihat sekeliling Rumah nya Gabriel. sedangkan Gabriel pergi kedapur untuk mengambil minuman untuk mereka.


" kenapa kalian masih berdiri bukan nya malah duduk." ucap Gabriel berjalan kearah meja, gabriel pun meletak kan minuman yg ia bawa dari dapur barusan." ayok duduk." ajak Gabriel kepada kedua sahabat nya, mereka pun duduk.


" ini beneran rumah kamu riel?..." tanya Aron sedikit ragu. karna rumah nya ngk kelihatan mewah bangat seperti rumah Gabriel di irlandia dulu.


" bukan, ini rumah almarhum nenek gw, yg di amanah kan kepada mom untuk di jaga." jeles Gabriel.


" owh kirain papa Regan yg beli rumah ini, tapi kok aku di bawa kesini?..."


" lah terus mau di bawa kemana? mau kerumah Ricard? atau kamu udah beli rumah sendiri di sini?..."


" Ricard kan tinggal di rumah nenek nya masa aku di sana juga, mana ada aku punya uang banyak untuk beli rumah sendiri."


" emang lu ngak bawa uang?..." tanya Ricard


" ada sih uang tabungan aku, tapi ngak tau cukup nya sampai kapan."


" cerita kekita, knp kamu bisa kesini pasti ada masalahkan? tapi di kampus baik ajakan?..." tanya Gabriel


" baik kok, biasa debat lagi sama mama aku, aku bosan tau dengar itu terus dari kecil ampe sekarang, lagian dia ngak pernah perduli sama aku semenjak kecil selalu menyalahkan aku, seolah aku pembunuh tau ngak, emang aku salah apa sih! aku ngak pernah mengecewa kan dia atau nakal di sekolah, di rumah aku di anggap seperti angin yg tdk pernah terlihat di mata nya, sampai aku pernah berpikir aku ini anak pembantu atau mama ku, dia semakin membenci ku karna aku sanggat mirip sama almarhum papa ku, apa aku kelihatan pembunuh?..."tanya Aron dgn sedih.


mengingat sikap mama nya terhadap diri nya yg ngak pernah mengangap dia ada membuat Aron semakin sedih, tapi lucas (saudara tiri ) nya selalu mengangap diri nya saudara,dan mengajak nya bermain, namun...kalo di ketahui oleh Maria(mama) lucas akan di marahi karna berdeketan dgn Aron,sampai mereka besar ttap lucas tdk di boleh bergaul dgn Aron.


" hey...jgn bersedih, kamu bukan pembunuh itu adalah kecelakaan dan sudah menjadi takdir papa kamu, dan kamu harus menjalani hidup ini dgn baik jgn mensia sia kan pergorbanan papa kamu, lagian kejadian nya sudah sanggat lama, jadi cobalah melupakan hal yg harus di lupakan, harus menjalani hidup bahagia, aku yakin papa sangat ingin melihat kamu bahagia bukan seperti ini." ucap Gabriel sambil menepuk pelan pungung Aron sedang kan Aron hanya diam menyimak dgn baik perkataan Gabriel.

__ADS_1


" benar tuh yg di bilang Gabriel, kita memiliki takdir masing-masing dan kamu jgn menyia-sia kan ini semua dan jgn mengecewa kan papa mu, kalo dia masih hidup dia pasti ngak bakalan suka melihat kamu yg menyalahkan diri kamu juga atas kematian nya, bagi orang tua anak adalah no 1 mereka rela melakukan apa saja demi melindungi anak nya, bukan kah papa mu juga seperti itu dia melindungi kamu kan?..." tanya Ricard, Aron hanya menundukan kepala ia benar-benar merindukan sosok seorang ayah di dalam hidup nya, namun takdir sudah berkata lain ia harus kehilangan sosok pahlawan di usia sangat muda. ia juga sangat bersyukur di pertemukan dgn Gabriel dan Ricard dan kedua orang tua Gabriel yg selalu menyayangi nya.


" terimakasih atas selama ini yg kalian berikan kepada ku,dan kalian selalu mendengar ceritaku, dan selalu menyemangati aku, dalam sedih kalian selalu menghibur ku, aku sanggat bahagia memiliki sahabat seperti kalian." ucap Aron dgn tulus ia tak bisa menahan rasa sedih nya, dia tdk menyangka akan berkumpul dgn kedua sahabat nya yg sudah seperti saudara itu.


Gabriel dan Ricard pun mendekat sama Aron dan merangkul pundak nya Aron yg tengah menangis mereka berdua pengen ketawa melihat Aron menangis tapi takut nanti Aron kesal dan marah sama mereka jadi mereka berusaha tdk untuk tertawa.


" udahlah Ron, jgn sedih gini dong, kamu bukan cewek loh yg harus nangis jgn lebay deh, kita ngerti kok perasaan kamu, bersikap jantan dong." ucap Ricard, Aron melirik kearah Ricard. dgn ttp sinis.


" emang cewek aja yg bisa nangis cwok juga bisa, cwok seperti kalian mana ada bisa menangis kalian ngak punya perasaan tau ngak." ujar Aron dgn kesal


" aku ngak ikut2an tadi knp kena sembur juga." ucap Gabriel kesal." kita kan mau menghibur kamu supaya ngak nangis kyak anak alay dan kamu jgn terlalu sungkan dgn kita bukan kah kita saudara?..." sambung Gabriel mengingat janji mereka di masa kecil yg mengatakan kalo mereka akan menjadi saudara dan saling melindungi satu sama laen, seberapa jauh nya mereka nanti namun tali persaudaraan tdk akan pernah putus atau pudar.


" kenapa harus ada alay nya sih, aku benci dgn kata alay." kesal


" maka nya jgn nagis kalo ngak mau dikatain alay sama kita." jwab Gabriel dgn tersenyum


" enak aja bilang gw ngak pernah olahraga, gw olahraga tiap minggu yah liat nih gw punya ototkan walau pun ngak sebesar punya kalian sih." ucap Aron dgn kesal dan memperlihatkan otot tangan nya kpd kedua sahabat nya itu.


" iya lu punya kok."ucap Gabriel dgn menahan tawa nya.


" udah ah, knp jadi membahas ini sih ngak ada yg laen apah di ceritain, aaa iya aku lupa, si kembar mana? pasti mereka udah besar ya sekarang?..."


" udah pasti dong Ron, kamu aja udah tua." ujar Ricard terkekeh.


" masih muda bulum tua keles!." ucap nya ngak terima.

__ADS_1


" santuy bro jgn ngegas dong."


" udah-udah, si kembar ngak ada di rumah yg cewek pergi jalan-jalan sama fanya anak om Kenan dan yg cwok pergi berlibur selama seminggu bersama tiga teman nya."


" owh padalah kangen bangat sama mereka, oh iya cariin tempat tinggal untuk aku dong hottel juga ngak papa."


" kenapa ngak tinggal di sini aja." ucap Gabriel menawarkan Aron tinggal di rumah nya.


" tdk bisa, ngak enak tinggal di rumah kamu terus waktu kecil juga seperti itu. sekarang aku ingin tinggal sendirian, dan cari kerja supaya nanti uang aku ngak cepat habis."


" masa seorang mahasiswa tinggal di hottel yg benar aja dong, nanti kamu di kira ****** lagi sama anak sekampus." Ucap Ricard dgn bercanda


" akukan belum sekolah tapi emang aneh yah kalo tinggal di hottel?..."


" ngak juga sih tapi menurut aku lebih baik tinggal di apartemen aja dari pada di hottel, di hottel tempat nya gimana gitu."ujar Gabriel memberi saran.


" ya terserah kalian aja yg penting jgn terlalu mewah nanti ngak sanggup lagi aku membayar nya, yg ada aku jadi pemulung di indo."


" emng kamu ngak bawa uang apah ke indo." tanya Ricard


" kan aku udah bilang aku ngak bawa uang, aku cuma membawa uang tabungan aku aja, aku pergi aja dia ngak nanya malah terlihat senang gitu aku pergi."😧


" ya udahlah banyak2 bersabar, mungkin di balik ini ada hikmah nya, nanti kita cariin apartemen untuk kamu tapi hari ini ginap di sini, pasti mom sangat senang melihat kedatangan kamu."


" kalo butuh perkerjaan datang ke kaffe aku, pasti aku kasih kerja nanti."

__ADS_1


" oke sip thank you men."


Gabriel pun membawa Aron kekamar tamu untuk beristirahat. papa Aron meninggal gara-gara kecelakaan mobil saat monolong Aron kecil yg hampir di tabrak oleh mobil dan membuat nyawa tdk bisa di selamat kan lagi. dan semenjak itu lah Maria mulai menyalah kan Aron atas kematian suami nya dan menganggap putra nya seorang pembunuh, karna tdk terima atas kepergian sang suami. dua bulan setelah kematian suami nya sikap Maria semakin menjadi-jadi dia selalu mengabaikan Aron kecil dan membiarkan Aron sendirian di rumah besar yg di tepati dua orang pembantu yg menemani Aron di rumah, hingga akhir nya ia bertemu sama Ricard dan Gabriel dan hidup nya mulai berubah dgn hadir nya dua orang yg baru ia kenal diawal sekolah. yaitu Ricard dan Gabriel."


__ADS_2