
Tapi sikap Sandy yang jelas memuji Allea membuat Amira merasa cemburu.
"Nanti kamu juga tau, udah dulu ya...makasih" kata Sandy mengakhiri panggilan sepihak tanpa ia tau disana Amira jengkel dan ngomel-ngomel sendiri.
Sandy menghela nafas sambil menghempaskan punggungnya di sandaran kursi. Allea mengambilkan gelas air didepannya lalu Sandy meneguknya sampai habis.
"Maaf ya sayang, lunch nya jadi kacau gara-gara Amira, gak tau malu banget dia, makin aneh aja kelakuannya..bener kan harusnya tadi gak usah di angkat?" kata Sandy.
"Ssstt...udah dong, kalo ngadepin kaya gini tu jangan emosi.." sela Allea lembut.
"Ya gimana gak emosi coba?"
"Kalo kamu kaya gini, nanti bisa-bisa dia malah makin penasaran lho!"
Sandy membuang nafas kasar lalu memijit pangkal hidungnya.
"Kak..udah dong, jangan di bawa stress. Ingat bentar lagi sidang!" Allea mengingatkan.
"Iya sayang, enggak koq. Tapi kamu gak marah kan denger semuanya tadi?" tanya Sandy menangkupkan kedua tangannya ke wajah Allea. Allea menggeleng tersenyum tipis.
"Bener?! Serius?!" ulang Sandy. Allea mengangguk.
"Kan aku yang minta kamu angkat telpon tadi, kalo aku marah ya lucu dong.." jawab Allea.
"Apa pun yang dia omongin jangan kamu dengerin, jangan bikin kamu jadi mikir macem-macem, ya?" kata Sandy menatap Allea lekat.
"Iyaa...aku percaya koq, aku percaya sama kamu. Kan bukan kamu juga yang godain dia?" jawab Allea tersenyum menurunkan tangan Sandy lalu menggenggamnya. "Aku tadi cuma pengen tau aja dia ngomong apa.." lanjut Allea.
"Ya kaya gitu sayang, kaya cewek kegatelan aja sekarang. Makanya kalo dia telpon sering gak aku angkat, males aja ujung-ujungnya bikin naik tensi.." Allea tertawa mendengarnya.
"Ya kamu jangan kepancing dong, kaya kalo ngadepin Andre itu lho..kamu bisa kalem, ini juga harus gitu" nasehat Allea.
"Tapi kalo Andre macem-macem ya aku gak janji bisa kalem terus sayang!" sahut Sandy.
"Iya..kalo memang keterlaluan silakan aja, cuma aku gak mau hal-hal yang mengganggu kaya gini bikin hubungan kita jadi gak sehat.." jawab Allea.
"Gak akan sayang! Asal kita sama-sama terbuka..jangan ada yang kita tutup-tutupi, apa pun itu cerita aja share aja, pasti semua juga akan baik-baik aja.." kata Sandy. Allea mengangguk-angguk menyunggingkan senyum.
"Kita buktiin ke dia kalo hubungan kita ini kuat, gak gampang dirobohkan dengan cara dia, tapi kalo bisa tetep hadapi dengan kepala dingin, misal ada hal kaya gini lagi...tapi ya semoga sih gak ada", kata Allea.
"Iya sayang, kamu udah tau kan tadi dia kaya apa.." Sandy merapikan rambut Allea ke belakang telinga. "Jadi aku minta tolong, apa pun yang kamu dengar jangan percaya kalo belum tanya langsung ke aku, ya?" lanjut Sandy.
"Iya...berlaku sebaliknya juga kan?" tanya Allea diikuti anggukan Sandy lalu ia mendekat ke wajah Allea. "Eeh...mau apa nih?"
__ADS_1
Buru-buru ia menahan wajah Sandy yang makin mendekat ke wajahnya.
"Mau ngobatin emosi" jawab Sandy tersenyum nakal.
"Jangan dong kak, ntar kalo bi Yanti kesini liat kita kan malu!" bisik Allea. Sandy tertawa pelan.
"Ya udah kalo gak boleh..." jawab Sandy lalu mencuri cium pipi Allea dengan cepat.
Allea jadi tersipu menahan tawa melihat kelakuan kekasihnya.
"Makan lagi aja yuk?" tawar Allea. Sandy mengangguk tersenyum.
Mereka pun makan lagi dengan perasaan yang sedikit plong karena sudah saling mengutarakan keinginan untuk hubungan mereka.
Selesai makan siang mereka berniat ke taman belakang rumah Sandy yang asri dengan hamparan rumput. Ada banyak tanaman hias yang dirawat dan ditata hingga terlihat cantik. Allea suka banget melihatnya, baru sekali ini ia main ke rumah Sandy sampai taman belakang. Setelah mengambil file skripsi yang ia print Sandy menyusul Allea. Ia pun mengajak Allea duduk di sofa ayunan yang ada di sisi kiri pintu. Tak lama kemudian bi Yanti membawakan mereka cemilan dan minuman dingin.
"Makasih ya bi.." ucap Allea. Bi Yanti tersenyum lalu berlalu setelah menyilakan Allea menikmati suguhannya.
Sembari membaca ulang file-filenya mereka ngobrol ringan kesana-kemari sambil menikmati cemilan. Sandy meletakkan kepalanya dipangkuan Allea. Semilir angin siang itu membuat mata Sandy berat ditambah ayunan yang mengayun pelan menambah kantuknya makin terasa. Semalam pun ia kurang tidur karena terlalu semangat menyelesaikan tugas bab akhirnya. Allea asik melihat-lihat ponsel, membalas chat anak mapala dan membuka sosmednya.
"Besok ke kampus jam berapa kak?" tanya Allea sambil melihat ponselnya. Sepi, tak ada jawaban. "Kak? Sayang..?" ulang Allea. Tetap tak ada pergerakan.
Allea menurunkan ponselnya lalu tersenyum menghela nafas. Dilihatnya Sandy sudah terlelap dipangkuannya sambil masih memegang filenya. Perlahan diambilnya file Sandy, dilihatnya wajah Sandy yang tengah pulas. Ia jadi tak tega membangunkannya tapi Allea juga harus pulang. Dilihatnya jam diponsel, jam 2.15. Allea membelai rambut Sandy beberapa kali lalu menepuk pipinya pelan.
"Sayang..bangun, aku mau pulang..sayang..?"
"Duhh...aku koq malah jadi ketiduran nih sayang.." kata Sandy memijit pangkal hidungnya. Ia pun beranjak duduk.
"Udah gak apa-apa, kamu istirahat ya..aku mau pulang aja"
"Aku anterin kamu ya"
"Gak usah, kamu capek..semalam pasti begadang kan?" tebak Allea. Sandy tersenyum mengakui.
"Iya tapi gak apa, nanti pulang dari anter kamu aku langsung tidur koq.."
"Jangan bandel dong.."
"Kamu dong yang jangan bandel, mau dianterin pulang koq gak mau, kan mumpung aku ada dirumah.."
"Aku kan bisa pulang sendiri, kamu pesenin taxi online aja gak papa.." tawar Allea.
"Daripada naik taxi online mending aku sendiri yang pastiin kamu sampai rumah, ya! Udah gak boleh nawar lagi, aku cuci muka dulu kamu tunggu didepan" kata Sandy tegas. Allea pun menyerah, ia mengangguk lalu berjalan ke depan setelah berpamitan pada bi Yanti.
__ADS_1
🌺 🌺 🌺 🌺 🌺 🌺 🌺
Di sebuah mall Andre tengah menikmati vapoornya setelah menghabiskan makan siang. Ia datang seorang diri karena Allea menolak ajakannya. Tapi ia sudah berjanji ketemu juga dengan Amira disini. Andre melirik jam tangannya lalu kembali menghisap vapoornya dalam-dalam.
"Sialan bener tu Sandy!"
Amira datang semerta-merta membanting tasnya di sebelah Andre. Membuat Andre terperanjat kaget.
"Woy...kalem dong, datang-datang ngamuk..kenapa lu?"
"Tadi gue udah kirim makanan sesuai ide lu, tapi yang ada malah katanya dia kasihin ke satpamnya!" Amira cerita berapi-api.
Andre terkekeh. "Kasian...ditolak mentah-mentah ni ceritanya?!"
"Ini semua gara-gara lu sih, niatnya biar bisa ngobrol manis malah ujung-ujungnya tadi kita berantem!" protes Amira cemberut.
"Koq gara-gara gue, elu nya aja yang gak hoki!" ujar Andre. "Lagian tadi niat aku kasih ide tu biar Allea cemburu terus mereka yang berantem, ini malah elu sama Sandy yang berantem.." lanjut Andre menahan tawa.
"Boro-boro mereka berantem, yang ada tadi Sandy malah kaya muji-muji ceweknya, emang kaya apa sih Allea itu? Gue jadi pengen ketemu langsung!" sambung Amira kesal.
"Allea tu special, kalo gak..buat apa gue jauh-jauh nyampe sini" kata Andre menerawang.
"Oh ya?" Amira mendengus sinis.
"Iyalah...kayanya memang perlu berjuang keras buat dapatin cewek kaya Allea, tapi kalo lu mau mundur gak papa...gue akan maju sendiri.."
"Siapa bilang gue mundur? Ini baru pemanasan, Sandy pasti nanti juga balik lagi ke gue..tunggu aja.." kata Amira naif.
"Yakin banget lu, kalo gue liat Sandy itu tipe cowok setia. Kalo dia udah dapat ya pasti akan dia jaga, gue kan pernah ngomong..lu jangan berharap terlalu tinggi?"
"Kalo gitu berarti lu juga jangan mengharap Allea terlalu tinggi dong, iya kan?" balas Amira.
"Itu lain, Sandy boleh aja pertahankan Allea tapi gue juga akan berjuang...berjuang sampai dapat!"
Amira tertawa pelan. "Oke terserah lu aja..kalo gitu rencana berikutnya apa?" tanya Amira. Andre angkat bahu, ia belum dapat ide apa pun. Otaknya sedang tidak bisa diajak berpikir.
"Gimana sih lu, katanya mau berjuang?" ledek Amira geleng-geleng kepala.
Andre tak menanggapi, ia sibuk mengepulkan asap demi asap dari vapornya. Beberapa saat kemudian ponsel Amira berdering, Andre melirik, ia tau itu dari siapa. Setelah menjawab telpon dengan bernada manja Amira pamit.
"Mau kemana lu?" tanya Andre.
"Ada perlu sebentar.."
__ADS_1
"Jangan keseringan berduaan, ntar kalo jadi tiga bingung sendiri.." celetuk Andre.
"Bukan urusan lu, bye!" jawab Amira centil lalu melenggang pergi. Andre hanya diam geleng-geleng kepala.