
📱: Aku sangat ingin mengulangi malam itu denganmu Sandy..
Allea membulatkan matanya menatap layar ponsel Sandy.
"Apa ini?!" teriak Allea dengan wajah menahan marah.
"Itu cuma chat dari orang gak penting, please...kamu jangan terpancing ya. Love you.." jawab Sandy menenangkan meskipun pikirannya sendiri pun frustasi.
"Tapi siapa ini..?" kejar Allea mengacungkan layar ponsel di depan Sandy.
"Aku janji pasti akan ceritakan...tapi gak sekarang, ya?"
Allea memutar bola matanya sedikit kecewa.
"Aku lagi pengen banget, udah di ubun-ubun ini!" kata Sandy membuat Allea menahan tawa lalu memukul dadanya.
Sandy pun menautkan bibir mereka lagi lebih dalam sembari tangannya perlahan memindahkan ponsel dari tangan Allea ke nakas. Sandy lega Allea tak menolaknya,ia lalu mengangkat tubuh istrinya ke ranjang. Sandy ingin menghabiskan malam ini dengan Allea untuk mengobati pikirannya yang sedang kusut. Sekaligus menebus rasa bersalahnya karena memikirkan perbuatannya di foto yang Amira kirimkan. Biarpun fillingnya sendiri merasa tak melakukan perbuatan bejat itu.
🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀
Siang itu di apartemen Andre. Amira nyelonong masuk setelah Andre membukakannya pintu lalu menghenyakkan tubuhnya di sofa.
"Gimana? Sudah ada respon?" tanya Andre sambil menggigit sebuah apel.
"Belum, benar-benar sialan tu cowok!" Andre mendengus tertawa mendengar ucapan Amira.
"Gak ada balasan satu pun?!"
"Enggak! Tapi aku akan terus teror dia dengan foto itu!"
__ADS_1
"Kalo Sandy gak mempan, lu kirim juga ke nomor Allea! Kalo masih gak mempan juga lu kirim juga ke bokapnya. Biar mampus total dia!" kata Andre berapi-api lalu menggigit apelnya brutal terbawa emosi.
Amira memekik senang sambil menjentikkan jarinya.
"So brilliant! Okey..nanti gue akan coba kirim dulu ke nomor Allea"
"Udah lu save kontaknya kan kemarin?"
"Amaan!" jawab Amira menyatukan jempol dan telunjuknya.
Sementara Allea beberapa ini menjadi sering melihat Sandy melamun dan seolah ada yang mengganggu pikirannya. Seperti siang ini saat Allea mampir ke kantor Sandy, Allea mengetuk pintu sebelum masuk ruangan suaminya yang sedikit terbuka. Tapi tak ada jawaban, hingga Allea perlahan masuk. Ia mendapati Sandy sedang berdiri menyandarkan tubuhnya didepan jendela kaca besar di ruangannya. Pandangannya menerawang ke depan sambil melipat tangan di dada. Allea menghela nafas.
"Kak.." panggilnya. Tak ada ada jawaban bahkan menoleh pun tidak. "Sayang..?" ulang Allea tapi tetap sama. Sandy masih larut dalam lamunannya.
Allea pun mendekat dan menyentuh pundak suaminya. Sandy terperanjat.
"Eh, kamu koq tau-tau ada disini sayang?"
"Oh ya? Maaf aku gak dengar sayang. Kamu udah makan?"
"Sayang...kamu sebenarnya lagi mikirin apa? Apa yang mengganggu pikiran kamu?" Allea balik bertanya tak mengindahkan pertanyaan basa-basi Sandy. Diusapnya lengan Sandy naik turun sambil meletakkan wajahnya dipundak suaminya.
Sandy memijit keningnya. "Aku gak mikirin apa-apa koq.." jawabnya lalu mengecup pucuk kepala Allea.
"Sayang...kita ini suami istri, kalo kamu ada sesuatu jangan dipendam sendiri. Aku amati sejak teler di mobil kemarin kamu jadi sering ngelamun lho.."
Sandy tersenyum lesu, ditatapnya wajah istri cantiknya itu lekat. Dalam hati ia gak siap dan gak mau kalo sampai Allea tau lalu meninggalkannya. Pasti nanti Allea akan berpikir kalo ia mengkhianatinya. Ia gak bakal bisa kehilangan sosok yang selalu menentramkan hatinya ini.
"Sayang...koq ngeliatin aku kaya gitu sih?" tanya Allea membuyarkan pikiran Sandy.
__ADS_1
"Eh, maaf...huuufhh.." Sandy menghela nafas dalam.
Allea pun menuntun Sandy duduk di sofa, suaminya itu langsung membanting punggungnya ke sandaran sofa lalu mendongak. Allea ikut mensejajarkan kepalanya di samping Sandy.
"Sayang...apa ada hal yang aku gak tau?" tanya Allea pelan.
Sandy menatap Allea lagi, memang ia berniat akan jujur ke Allea. Tapi ia bingung harus mulai dari mana. Makin ia tahan dan pendam sendiri makin tersiksa rasanya. Ini semua memang kebodohannya, harusnya saat itu ia tak meladeni Amira. Pasti kejadian kemarin bermula karena ia terlalu banyak minum dan malah bertemu dengan Amira, pikirnya. Padahal seingatnya, minuman kemarin tak begitu beralkohol. Tapi kenapa di gelas terakhir kepalanya terasa begitu pusing?
"Sayang...tu kan ngelamun lagi?" protes Allea tapi bernada lembut.
Sandy menghela nafas lagi untuk ke sekian kali.
"Memang ada yang belum kamu tau.." Sandy memberanikan diri memulai bicara. "Tapi kamu janji ya, kalo aku cerita nanti, kamu jangan berpikir-"
"Apa soal chat yang kamu bilang gak penting kemarin?" potong Allea.
"Ya, itu salah satunya. Kamu percaya kan sama aku?" Sandy menangkupi wajah Allea dengan satu tangannya sementara tangan lainnya menggenggam tangan Allea.
"Kamu belum cerita koq aku udah disuruh percaya sih?" tanya Allea tersenyum geli. "Memangnya chat itu dari siapa?" lanjutnya.
"Itu kemarin..Amira" jawab Sandy. Senyum Allea pun sedikit memudar. "Dia membual seolah kita berdua melakukan sesuatu. Makanya aku minta kamu percaya aku, kamu tau kan dia kaya apa? Udah berapa kali aja aku blokir nomor dia, tapi tetap aja cari cara!"
Allea mengatupkan bibirnya, 'kenapa perempuan itu masih saja mengganggu suaminya?' batin Allea.
"Kamu marah?" tanya Sandy, Allea mengendikkan bahu.
"Percaya aku ya, please..." kata Sandy lagi lalu mendekat ke bibir Allea, menciumnya dengan lembut.
Allea memang tak menolak tapi entah kenapa hatinya kali ini gundah dan belum bisa sepenuhnya percaya. Ia berharap semoga isi chat Amira waktu itu memang hanya bualan dan imajinasi perempuan itu saja.
__ADS_1
Allea pun kembali ke apartemen sambil menata hatinya, agar tak terpengaruh isi chat Amira dan hanya percaya pada ucapan suaminya saja. Terlebih sepertinya ia tak melihat kebohongan di mata Sandy. Hingga saat ia sibuk berchat dengan rumah produksi jersey, beberapa chat masuk dari nomor asing. Allea mengernyit, apa itu dari customer yang mengirim contoh model jersey? Batin Allea lalu membukanya dan membuatnya membungkam mulut. Seketika air matanya berdesakan keluar membasahi pipinya.
Beberapa foto Sandy sedang tidur bersama Amira di sebuah ranjang hotel. Posisi mereka sungguh membuat Allea sakit. Terlihat Amira memakai baju yang sangat kurang bahan dan Sandy pun membuka semua kancing kemejanya sambil memeluk Amira. Allea terisak, sakit banget rasa didadanya. Ternyata semua ini bukan sekedar bualan, tapi memang sudah terjadi dan mereka melakukan hal itu di belakangnya, pikir Allea. Allea terduduk lemas dilantai lalu membenamkan wajahnya dan makin terisak. Ia meneruskan chat itu ke nomor Sandy, Allea ingin tau reaksi suaminya sekaligus penjelasan darinya nanti...