Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
65. Detektif Baperan


__ADS_3

Dari kejauhan Nayla tengah mengawasi Andre, ia sengaja menguntitnya sampai tempat ini demi menghilangkan rasa penasarannya. Sekarang ia telah sampai sebuah tempat makan di dalam mall. Terlihat Andre menemui seorang wanita, Nayla memicingkan mata kurang bisa melihat jelas siapa. Andre dan wanita sexy itu sekarang memunggungginya. Nayla mendesah kesal lalu berjalan mencari meja dengan posisi yang pas agar bisa melihat keduanya tapi tak terlihat oleh mereka.


Nayla memekik menutup mulutnya. "Benar kan!" gumamnya saat memastikan yang bersama Andre itu adalah Amira.


"Ngapain mereka ketemu disini? Ada hubungan apa coba? Apa mau kerjasama untuk merusak hubungan Allea dan kak Sandy?" Nayla berbisik bicara sendiri.


"Sebaiknya lu gerak cepat, besok lu kasih bukti aja. Biar secepatnya lu bisa ikat dia" suara Andre pelan.


"Okey, gue juga udah gak sabar koq. Kali ini harus berhasil!" jawab Amira.


"Tenang aja, ini sudah setengah jalan, kirim aja ke mereka berdua sekalian!" titah Andre.


"Ya..ya..gue juga udah mikir gitu"


"Baguslah! Lu harus bisa meyakinkan dia, bikin dia mau mengakuinya!"


"Pasti!"


Nayla menajamkan telinganya, ia tak paham apa yang mereka bicarakan. Nayla pun diam-diam memotret mereka. Akan ia simpan untuk sebagai kalo Allea membutuhkannya suatu saat nanti. Setengah jam berlalu dan Andre masih disana. Nayla pun menunggu sambil asik memainkan ponselnya. Ia celingak-celinguk mengawasi ke arah meja Andre lagi. Tak lama kemudian Amira terlihat keluar dari foodcourt itu dan Andre juga sudah tak ada di mejanya.


"Waduh..jangan-jangan Andre udah duluan pergi, kecolongan nih!" gumamnya.


Nayla buru-buru berjalan mendekati meja Andre yang terlihat kosong. Ia menghela nafas kecewa lalu berniat pergi tapi saat memutar badan ternyata sudah ada Andre di depannya, keduanya pun sama-sama kaget.


"Andre!"


"Nayla!"


Seru mereka bersamaan, terlihat Andre senang melihat Nayla. Tapi tidak dengan Nayla, ia malah memasang muka jutek.


"Kamu ngapain Nay disini?"


"Mm..aku mau pesan take away" jawab Nayla beralasan. "Kamu sendiri ngapain?"


"Aku tadi memang makan disini, barusan aku tinggal ke toilet. Itu meja aku" Andre menunjuk meja di sebelah Nayla. Nayla manggut-manggut padahal ia juga sudah tau.


"Kenapa kamu gak makan disini aja? Kalo mau, aku temenin..gimana?" tawar Andre.


"Ini mau aku bawa pulang buat orang dirumah"


"Oowh..ya udah kamu pesan dulu aja, aku tunggu kamu" kata Andre lalu mengajak Nayla duduk di kursinya.


Nayla pun terpaksa memesan makanan untuk ia bawa pulang. Sambil menunggu ia akan mencari info dari Andre.


"Kamu sama siapa tadi kesini?" tanya Nayla saat mereka kini duduk menunggu pesanan Nayla siap.

__ADS_1


"Oh mmm...tadi sendiri"


"Sendiri koq makanannya ada dua?" kejar Nayla menunjuk bekas makanan di depannya.


"Mmm...anu tadi, aku kesini sendiri tapi terus ketemu temen. Ya udah tadi kita...jadi makan bareng deh" jawab Andre sedikit tergagap.


'Dasar buaya, pake bohong lagi!' umpat Nayla di hati.


"Oowh gitu.." jawab Nayla lalu asik dengan ponselnya agar ia tak terlihat nervous oleh Andre.


Andre mengeluarkan rokok elektriknya lalu menghisapnya dalam dan mengepulkan asapnya ke samping. Aroma vanila pun tercium, mata Nayla tertuju pada vapor Andre. Vapor yang beda dari biasanya biarpun aromanya sama.


"Vapor kamu ganti ya?" tanya Nayla.


"Hmm...iya nih"


"Yang lama kemana?"


"Itu..udah rusak Nay"


"Oowh...rusak atau..hilang?"


Andre melirik Nayla sekilas. "Rusak, Nay" jawabnya.


Nayla pun mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Benda yang ia dapat dari tanah ilalang saat mengantar Allea mencari Sandy waktu itu.


"Ini punya kamu bukan?"


Seketika Andre terbatuk-batuk. "Kamu dapat dari mana?"


"Jawab dulu pertanyaan aku! Ini milik kamu bukan?" Nayla mengacungkan vapor di depan Andre.


Andre tak mengira melihat Nayla memegang vapornya yang hilang. Ia bahkan tak tau dimana benda itu terjatuh. Sekarang malah sudah ada ditangan Nayla. Andre bingung harus menjawab apa. Ia menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal.


"Dre!" seru Nayla membuyarkan pikiran Andre. "Jawab!"


"Mmm...itu bukan, eh maksud aku itu punyaku..memang rusak tapi lama gak aku pakai jadi aku ga sadar kalo hilang, gitu " jawaban Andre makin membuat Nayla kesal.


"Kamu temuin dimana?" ulang Andre.


"Aku temukan ini di suatu tempat yang jauh dari kampus! Ini vapor bisa jalan sendiri kesana apa gimana?"


Degg!


"Tempat mana?" kejar Andre.

__ADS_1


"Ya ada lah, jauh dari apartemen kamu juga pokoknya!" jawab Nayla tak mau berterus terang.


"Aku juga gak tau Nay, orang lama gak aku pegang" dalih Andre menyembunyikan rasa kagetnya.


"Gak usah bohong kamu.."


"Bohong apa sih?"


Nayla mengurungkan niatnya mencecar Andre soal mobil Sandy yang juga ada di tanah kosong itu. Sementara ia akan menahan diri dulu, sampai ia menemukan cara agar Andre bercerita sendiri tanpa harus ia paksa.


"Ya udah kalo gitu" Nayla memasukkan kembali vapor Andre.


"Lah..koq dibawa Nay? Sini kembalikan, itu kan punya aku" protes Andre.


"Buat apa? Katanya rusak kan?"


"Hehe...iya sih" Andre tersenyum garing.


"Kalo gitu biar aku buang aja nanti, aku duluan ya!" kata Nayla setelah mengulurkan uang pesanannya ke waiters.


"Eh, Nay...tunggu!" cegah Andre menarik tangan Nayla.


"Kenapa lagi?"


"Kamu berarti udah gak marah sama aku?"


"Marah soal apa?"


"Waktu aku gak sadar cium ka-"


"Ssstt..." Nayla seketika membungkam mulut Andre sambil celingukan. "Jangan bahas lagi soal itu, udah basi!" bisik Nayla melotot.


Andre mengangguk-angguk menahan tawa sambil menurunkan tangan Nayla. Wajah Nayla pun memerah lalu berpaling ke arah lain.


"Kamu maafin aku kan?"


"Jangan GR, masih membekas ini!"


"Apanya? Ciumannya?" goda Andre berbisik.


"Mau ditampar lagi?" ancam Nayla mengangkat tangannya membuat Andre terkekeh. "Awas ya kamu, sakit hati aku ni belum sembuh tau! Dasar buaya!" sembur Nayla lalu ngeloyor pergi meninggalkan Andre yang terkikik sambil geleng-geleng kepala.


Andre tak tau gimana Nayla setengah mati harus menata degub jantungnya saat berdekatan dengannya. Ada rasa kesal, jengkel tapi juga senang bercampur menjadi satu. Padahal ia lagi mengawasi Andre layaknya detektif tapi malah hatinya kadang terbawa perasaan saat di dekat cowok tengil itu.


"Huuffh...detektif baperan! Baperan koq sama targetnya?" gumam Nayla menepuk keningnya sambil tancap gas.

__ADS_1


__ADS_2