
Dokter menatap Sandy lekat lalu melepas kacamatanya sebelum menjawab. Sandy dan Allea pun berdiri bersiap menunggu kalimat dari dokter yang mempunyai kemungkinan apa pun untuk papa mereka.
"Gimana papa saya dok?" kali ini Allea tak sabar.
"Syukurlah...pak Roby sudah kembali lebih stabil. Misal kondisi beliau tetap seperti ini sampai tiga hari ke depan, hari berikutnya bisa dipindah ke ruang rawat inap biasa.."
Kata-kata dokter langsung di sambut helaan nafas lega dari keduanya sambil merapatkan tubuh mereka.
"Syukurlah...aku tau papa pasti kuat!" kata Allea berbisik.
Sandy mengangguk haru lalu mereka saling menyunggingkan senyum.
"Boleh saya masuk dok?" tanya Sandy.
"Silakan, tapi tolong jangan lama-lama ya. Pasien butuh istirahat.."
Sandy mengangguk pasti. "Terimakasih dok. Sayang, aku lihat papa dulu ya" pamitnya berbisik pada Allea lalu segera masuk setelah Allea mengangguk.
Allea menunggu di luar dengan perasaan lebih plong. Setidaknya satu beban mereka, lebih tepatnya beban Sandy sudah sedikit berkurang. Sementara masih menunggu kabar dari sekretaris suaminya yang sedang perjalanan ke rumah sakit. Dalam hati Allea berdoa semoga semua akan baik-baik saja dan mereka bisa melewati semua ini bersama. Belum ada sepuluh menit Allea menunggu sambil memainkan ponsel, Sandy sudah keluar lagi dengan terburu-buru. Allea pun bangun dari duduknya.
"Kenapa?"
"Aku harus ke IGD dulu, Ananta sudah sampai. Aku pengen lihat kondisinya.."
"Aku ikut!" Allea menyela.
"Kamu disini aja sayang, tolong temenin papa ya. Kalo Ananta udah beres aku balik sini lagi!" kata Sandy sambil menangkupi wajah Allea.
Allea menghela nafas kecewa. "Ya udah, tapi jangan lama-lama. Kamu juga butuh istirahat, belum makan juga kan?" selidik Allea.
"Iya..nanti kita makan sama-sama. Sebentar ya.." Sandy kemudian berlalu setelah mengecup singkat kening Allea.
Allea kembali menghela nafas sambil mendudukkan tubuhnya lagi. Matanya masih mengekori Sandy yang berjalan menjauh. Batinnya merasa iba, sudah pasti suaminya sangat lelah, hari ini ada banyak hal yang membuat pikirannya penuh.ย Mungkin saja sudah dari beberapa hari yang lalu Sandy memendamnya hingga hari ini akhirnya ia meruntuhkannya di pelukan Allea.
Allea mengusap wajahnya singkat, ia tak sabar menunggu pagi. Besok ia ingin mencari tau hal yang masih mengganjal di pikirannya. Kebetulan besok juga jadwal kuliahnya hanya dua jam, mulai jam 8 pagi. Setelah kuliah selesai ia akan langsung berangkat. Ponsel Allea bergetar, ada chat masuk dari Nayla dan Rania hampir bersamaan. Nayla mengajaknya gym lagi sementara Rania menanyakan kebenaran berita soal Sandy. Allea menghela nafas, ia khawatir kalo berita itu akan terus meluas dikampus. Nama suaminya akan bertambah buruk di mata semua orang, terlebih dosen dan rektor-rektor disana. Padahal dulu Sandy termasuk mahasiswa lulusan terbaik. Satu per satu Allea membalas chat dari dua sahabatnya lalu menon-aktifkan ponsel. Ia ingin istirahat dari urusan ponselnya malam ini dan hanya ingin fokus pada suami juga mertuanya.
"Sayang..."
Allea terjingkat karena tiba-tiba Sandy sudah kembali dan duduk di sebelahnya.
"Maaf...kaget ya?" sesal Sandy mengelus pipi Allea.
"Kamu udah balik. Gimana Ananta?" tanya Allea.
"Masih belum sadar, tapi kondisinya stabil koq. Aku masih nunggu kabar soal mobil Ananta, kemungkinan di ponselnya ada bukti foto hasil tes Amira tadi siang. Misal dia udah sempat ambil fotonya sih.."
"Mobil Ananta dimana sekarang?"
"Di kantor polisi, aku udah minta tolong orang buat kesana dan cek ponselnya di mobil. Kemungkinan jatuh di area bawah setir"
"Lho, bukannya kertas bukti hasil tes juga ada ya? Kan bisa di lihat sekarang kalo masih di saku atau.."
__ADS_1
"Gak ada sayang" potong Sandy. "Itu yang aneh, gak tau kenapa menurutku kecelakaan ini juga janggal.." lanjut Sandy menerawang. Mereka pun menghela nafas bersamaan.
'Apa lagi ini?' batin Allea lelah.
"Ananta sama siapa sekarang?" tanya Allea.
"Tadi sudah ada yang datang bersama keluarganya, ternyata dia sudah punya tunangan. Aku baru tau.." kata Sandy lalu merebahkan kepalanya dipangkuan Allea setelah melepas jaketnya.
"Hmm...atasan yang kurang perhatian!" celetuk Allea sambil tertawa kecil.
"Gimana mau perhatiin sekretaris, orang atasannya sendiri aja kurang perhatian juga koq" sungut Sandy di balas cibiran oleh Allea.
"Siapa bilang?" protes Allea.
"Aku!" jawab Sandy menarik tangan Allea lalu menggenggamnya.
Allea mengulum senyum lalu matanya melihat plester kecil di siku Sandy, ia mengernyit.
"Ini kenapa?"
"Gak papa. Ini cuma bagian dari tes tadi siang, buat second opinion aja. Jadi perlu ambil darah aku sedikit" jelas Sandy lalu memejamkan mata.
Allea kembali melihat Sandy dengan rasa bersalah. Suaminya sampai rela melakukan apa pun untuk membuktikan kalo anak di rahim Amira itu memang bukan benihnya.
"Makan dulu yuk?" ajak Allea. Sandy menggeleng kecil sambil memejam. "Tadi kan udah janji, katanya mau makan sama-sama?" tagih Allea mengguncang pelan pundak Sandy.
"Aku pengen tidur sebentar aja sayang, boleh ya?"
Allea menggeleng. "No! Kamu kalo udah tidur susah nanti di ajak makan, ayo sebentar aja. Makan sedikit juga gak papa..yuk!" Allea membangunkan tubuh Sandy.
๐บ ๐บ ๐บ ๐บ ๐บ ๐บ ๐บ ๐บ
Allea sepakat bertemu di sebuah cafe dengan dua sahabatnya setelah kuliah. Entah kenapa ia merasa parno sendiri dengan tatapan orang-orang di sekitar kampus. Tatapan yang seolah menanyainya soal kasus suaminya sekarang. Padahal mereka bertanya pun tidak, bisik-bisik juga tidak. Mungkin memang benar, itu hanya ketakutan Allea sendiri hingga ia tak berani berlama-lama di kampus. Jadi disinilah ia sekarang, duduk di meja outdoor dengan minuman latte di depannya.
Ia telah sampai lebih dulu dan memberitahu lewat foto dimana ia duduk pada dua sahabatnya yang masih dalam perjalanan. Sambil menunggu, Allea membalas chat Sandy yang menanyakan posisinya dan mengajaknya pulang ke apartemen nanti malam. Allea bimbang, masih ada keinginan di hatinya menunggu hasil tes itu. Tapi di sisi lain ia juga mulai tak tega membiarkan Sandy sendirian di apartemen.
"Masih suka latte?"
Allea terperanjat mendengar suara seseorang yang tiba-tiba sudah duduk di depannya.
"Andre? Kamu koq..?"
"Aku juga ada janji sama orang management disini, tapi kayanya dia agak telat ini" jelas Andre sambil melihat jam tangan digitalnya . Allea mengangguk-angguk.
"Kalo deal nanti, aq akan syuting ftv di taman kota" kata Andre bercerita tanpa diminta.
Allea mencebikkan bibirnya. "Bagus deh, karir kamu makin naik. Semoga bisa jadi jalan sukses kamu"
"Ya semoga. Kamu apa kabar?" tanya Andre.
"Baik" jawab Allea singkat.
__ADS_1
"Gak mau nanya balik soal kabar aku?" goda Andre nyengir memperlihatkan lesung pipinya.
Allea mengangkat bahunya singkat. "Aku lihat kamu juga baik kayanya, jadi gak usah di tanya!"
Andre mendengus tersenyum. "Kamu yang sepertinya gak baik-baik aja!"
"Maksudnya?"
"Aku udah dengar soal Sandy dan Amira" Allea terhenyak meskipun Andre memelankan suara.
"Hmm...ya, ini ujian pertama pernikahan kita" jawab Allea.
"Kamu masih kasih Sandy kesempatan?"
"Ya! Dia janji akan buktikan kalo itu bukan anaknya!"
"Allea..kamu gak pantas di giniin!"
"Ini semua belum jelas, Dre. Kita masih cari kebenarannya!"
Andre menghela nafas. "Allea...buka mata kamu dong!"
"Udah, stop! Tolong kamu gak usah ikut mikirin masalah ini, Dre. Ini masalah keluarga aku.."
"Ya tapi aku udah relain kamu buat dia, malah kaya-"
"Woi! Siapa suruh duduk di kursi aku?!"
Nayla tiba-tiba datang menepuk meja, mengagetkan mereka dan otomatis menghentikan paksa kalimat Andre.
"Apaan sih Nay, datang-datang kaya preman aja! Aku tadi yang duluan duduk disini!" ketus Andre jengkel karena Nayla mengacaukan pembicaraannya dengan Allea.
"Ya gak bisa lah, aku udah janjian sama Allea di meja ini!" Nayla tak mau kalah.
"Hei, cewek preman...kamu aja cari kursi lain sana! Semua pengunjung disini tau kalo tadi aku duluan yang duduk disini! Ini kursi aku!"
"Udah-udah...jangan pada ribut! Malu di lihat orang!" bisik Rania.
"Ya gak bisa gitu dong, mana buktinya? Orang gak ada tulisannya juga kalo ini kursi kamu!" Nayla tetap bertahan ngeyel.
"Ini baru mau dibikin!" jawab Andre membuat Rania menahan tawa.
Memang di meja itu hanya ada tiga kursi, jadi Nayla yang merasa sudah lebih dulu ada janji dengan Allea jelas tak mau mengalah.
"Ssstt...kalian ini! Udah dong, koq gak ada yang mau ngalah sih?" lerai Allea.
Andre pun berdiri lalu mendekat ke samping Allea.
"Aku gak rela kamu di selingkuhin. Kalo kamu udah gak mau lagi sama Sandy, kamu masih simpan nomor aku kan? Pintu hati aku masih terbuka buat kamu.." bisik Andre lalu melangkah pergi. Meninggalkan Allea yang hanya diam tapi menatapnya tajam sampai Andre menghilang masuk ke meja lain di dalam ruangan.
"Ngomong apa dia? Songong banget sih.." Nayla menggerundel sambil menghenyakkan pantatnya di kursi bekas Andre.
__ADS_1
"Udah, gak usah di bahas. Gak penting!" jawab Allea.
Jelas ia tak mungkin bilang ke Nayla, karena biarpun Nayla suka adu mulut dengan Andre tapi tetap Nayla masih punya rasa untuk Andre. Kalo Nayla dengar perkataan Andre tadi, pasti itu hanya akan menyakiti hatinya. Allea pun tak menyangka bertemu Andre disini terlebih mendengar Andre menawarkan pintu hatinya lagi kepadanya.