
Sementara itu Allea yang lebih dulu pamit keluar rumah sekarang telah ada di salah satu cafe. Ia sudah membuat janji dengan seseorang dan menunggunya dengan harap cemas. Berulang kali Allea menoleh ke pintu masuk tapi yang ia tunggu belum juga datang. Ia pun memainkan ponselnya untuk menghalau kegelisahannya. Dua pesan masuk dari Mario dan Sandy. Sandy menanyakan posisinya saat ini dan Mario menginfo pesanan jersey yang masuk hari. Allea tersenyum tipis, ia senang kegiatan sampingan dari suaminya ini makin hari makin berkembang. Bahkan omsetnya terus naik, biarpun Allea tak pernah menggunakannya karena uang belanja dari Sandy juga tak pernah kurang.
Allea membalas chat Mario tapi saat akan membalas chat Sandy tiba-tiba seorang wanita datang dan langsung duduk di depan Allea. Allea menutup chatnya lalu mengangkat wajah. Amira sudah duduk dengan wajah angkuh. Ya, siang ini memang Allea sengaja mengajaknya bertemu.
"Datang juga kamu?" kata Allea.
"Sorry gue telat, macet!" jawab Amira sambil merapikan rambut.
Allea tersenyum kecut, dan buru-buru mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
"To the point aja, aku ngajak kamu ketemuan disini karena pengen buktikan sendiri soal kehamilan kamu"
"Lu mau bukti apa lagi? Bukannya waktu itu sudah gue kirim juga foto hasil tes kehamilan gue?"
"Yah..memang. Tapi aku mau kamu buktiin sekarang!" jawab Allea sembari menyodorkan alat tes kehamilan di depan Amira.
Amira mendengus tertawa. "Okey, lu tungguin disini!" jawabnya.
Amira meraih testpack itu lalu menuju toilet. Allea pun mengekorinya dan menunggu di depan. Lima menit kemudian Amira keluar lalu memberikan testpack itu ke tangan Allea.
"Nih..buka mata lebar-lebar!"
Allea memandangi dua garis di tengah benda berbentuk panjang itu lalu beralih ke wajah Amira. Wajah cantik yang angkuh itu juga tengah memandang Allea dengan sombong.
"Sudah percaya kan kalo aku hamil?"
"Hmm...ya. Sekarang kita ke dokter bersama, karena aku juga pengen tau berapa minggu usia kehamilan kamu" kata Allea menarik tangan Amira.
Amira terperanjat lalu menepis paksa tangan Allea.
"Lu gak usah repot-repot! Urusan priksa kehamilan dan semua tentang bayi ini akan gue lakukan hanya dengan Sandy, bapak anak ini!"
__ADS_1
"Sama aja kan, nanti hasilnya juga bisa kamu kirimkan ke kak Sandy! Ayo!"
"No way! Tadi lu bilang pengen tau kehamilan gue kan? Sekarang sudah jelas gue hamil jadi urusan kita disini sudah selesai. Lu sebaiknya pergi karena gue juga ada urusan lain?" kata Amira beralasan sambil berlalu.
"Kenapa kamu ketakutan begini Amira?"
Degg!
Amira menghentikan langkahnya sejenak mendengar ucapan Allea lalu berbalik.
"Gak ada alasan takut buat gue, jangan khawatir nanti pasti gue kabari ke lu soal umur kehamilan anak Sandy ini.." kata Amira sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Gue cuma mau ke dokter di dampingi Sandy, bukan elu...calon mantan istri!"
Allea memandang punggung Amira yang menjauh dengan tatapan nanar. Jawaban Amira sungguh membuat hati Allea sakit. Dengan angkuh Amira menyebutnya 'calon mantan istri' seolah Sandy sudah membuat keputusan akan menceraikannya saja. Seolah perempuan itu sudah yakin Sandy akan menikahinya. Antara yakin atau tak tau malu, entahlah Allea sendiri juga tak paham.
"Dasar uler keket bermulut pedas!" gumam Allea menahan air matanya.
. 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀
"Hallo, Kevin?" Amira menelpon Andre saat masih dalam perjalanan setelah bertemu Allea.
📱: Kenapa?
"Lu tau? Allea baru saja ngajak gue bertemu dan tau gak..dia minta gue testpack!"
📱: Hah? Serius lu?
"Bukan cuma itu aja, tapi dia hampir maksa ngajak gue ke dokter buat periksa kandungan!"
📱: Terus?
__ADS_1
"Ya untungnya gue berhasil ngelak, bisa gawat kalo dia tau usia kandungan gue yang sebenarnya.." Amira menghela nafas kasar.
📱: sebaiknya lu cepetan aja kejar Sandy agar cepetan mau nikahin lu!
"Ya ini juga gue kejar terus, tapi Sandy kaya bersikeras gak mau mengakui anak ini! Gue harus gimana dong Kev..??" rengek Amira.
📱: Dengerin gue, lu kirim aja foto-foto kalian beserta bukti surat kehamilan lu ke bokapnya! Jangan lu tunda-tunda lagi, keburu kandungan lu membesar!
"Oke...sepertinya memang sudah waktunya.."
📱: Iyaa...kapan lagi?!
"Besok akan gue pastikan berita kehamilan gue karena ulah Sandy..sudah tersebar di seluruh PT. Prayoga Gemilang!"
Amira tersenyum licik sambil memutuskan sambungan telpon.
🔥 🔥 🔥 🔥 🔥 🔥 🔥 🔥
Hari berikutnya Sandy yang gagal mengajak Allea pulang ke apartemen pun makin pusing. Biarpun Sandy mengalah dengan ikut menginap lagi dirumah mama Tiara. Malamnya Allea malah mendiamkannya sampai pagi ini. Mereka pun berangkat sendiri-sendiri ke tujuan mereka. Baru setengah hari begini saja sudah membuat Sandy luar biasa tak nyaman, karena mereka memang jarang sekali saling diam dalam waktu yang lama. Mungkin karena Allea juga memendam rasa jengkel dan sakit hati terhadap perkataan Amira kemarin.
Dan ia juga tidak menceritakannya pada Sandy, Allea hanya memendamnya sendiri sambil memikirkan langkah apa yang akan ia lakukan setelah itu. Saat Sandy mengajak Allea makan siang pun Allea menolak. Allea berkata hari ini kegiatannya sangat padat, padahal itu hanya cara dia menghindar dari sang suami.
Sandy pun terpaksa makan siang di kantor saja dengan memesan online. Ia menikmati makan siangnya tanpa selera sambil setengah melamun memikirkan hubungan dengan istrinya yang makin hari makin kusut itu. Belum juga Sandy menghabiskan setengah porsi makan siangnya. Tiba-tiba...
Plekk...
Beberapa lembar foto vulgarnya bersama Amira dan amplop berisi surat keterangan hamil dari salah satu rumah sakit dilempar tepat di depannya. Sandy sontak mengangkat wajahnya kaget.
"Papa?!" Sandy menjatuhkan sendoknya.
"Papa gak nyangka...begini ternyata kelakuan kamu?!" kata pak Roby dengan wajah penuh amarah.
__ADS_1