
Sandy pun membaca satu per satu pesan dari Andre yang perlahan membuat rahangnya mengeras.
"Kurang ajar Andre.." Sandy mengumpat pelan mengepalkan tangannya.
"Aku akan kasih tau dia kalo kita udah nikah, secepatnya pokoknya!" ujar Allea.
"Jangan. Biar aku aja yg kasih tau dia sayang, dengan cara aku.."
"Tapi aku gak mau ada keributan, ya?"
Sandy tak menjawab hanya menghela nafas kasar lalu memalingkan wajahnya.
"Kak...jawab dong, jangan pake ribut-ribut ya, janji?"
"Ya gak bisa janji dulu dong sayang, kita liat dulu sikonnya nanti kaya apa.." jawab Sandy.
Lagi pula gimana Sandy gak marah saat Andre mengirim pesan ke Allea mengatakan kalo dia kangen hingga gak tahan pengen bertemu dan memeluk Allea. Andre bercerita gimana galau hatinya berhari-hari tak bisa menghubungi Allea. Kalo dulu mungkin Sandy masih bisa menahan emosi karena sadar posisinya yang belum sepenuhnya berhak atas Allea. Tapi sekarang sudah berbeda, ia sudah menjadi suami sah Allea.
Beberapa detik berlalu dan mereka hanya saling diam. Lalu Allea ganti menghela nafas dan memeluk Sandy dari belakang.
"Ya udah terserah kamu, tapi sebisa mungkin jaga emosi kamu ya" kata Allea meletakkan kepalanya di punggung Sandy hingga Sandy merasakan kenyamanan di dadanya. Sandy pun mengangguk lalu menggenggam tangan Allea. Entah kenapa Allea seolah mentransfer energi positif untuk meredam emosi di hatinya.
🔥 🔥 🔥 🔥 🔥 🔥 🔥 🔥
Allea dan Sandy telah sampai di tanah air, pesawat mereka mendarat hampir tengah malam. Dengan badan yang sama-sama lelah mereka memilih pulang ke rumah papa Sandy yang tak terlalu jauh dari airport. Tentu saja Allea juga mengabari papa dan mamanya kalo mereka telah sampai dan menginap di rumah mertuanya. Tiba di rumah mereka dibukakan gerbang oleh pak Aris satpam rumah yang senang menyambut kepulangan tuan mudanya bersama sang istri yang ia kenal baik.
Karena terlalu lelah, setelah membuatkan teh untuk Sandy Allea langsung tidur begitu selesai membersihkan diri tanpa menunggu Sandy selesai mandi. Ia pun tak sempat membereskan barang bawaan yang masih tercecer di ruang tengah. Pak Roby pun tak mengetahui kepulangan mereka karena juga sudah tidur sejak jam 10 malam.
Keluar dari kamar mandi Sandy mendapati istrinya yang sudah pulas dengan wajah lelah. Ia tersenyum melihat secangkir teh panas di nakas.
"Kelelahan gini tapi masih sempat aja bikinin minum," gumam Sandy mengusap pipi Allea lalu mencium keningnya.
Sandy lalu menyesap teh panas buatan Allea ,dibawanya duduk di sofa yang ada dikamarnya sambil membuka-buka ponsel. Ia memilih salah satu foto di galeri ponsel lalu mengunggahnya ke Instagram. Foto yang ia ambil diam-diam sebelum Allea bangun saat mereka menginap di hotel Turki. Tak lupa pula ia menandai Allea agar Allea tau yang ia lakukan. Dan pastinya Andre juga akan melihat foto itu. Sandy ingin melihat reaksi Andre dan ia sudah siap menghadapinya besok.
"Foto itu akan menjelaskan semuanya, semoga kamu bisa mengartikannya sendiri Dre" kata Sandy pelan.
'Allea udah sepenuhnya milik aku Dre, kamu gak ada hak mencintai istri orang', batin Sandy jengkel mengingat kembali isi pesan Andre untuk Allea.
Sandy pun meletakkan ponsel dan tehnya di nakas lalu menyusup dibalik selimut, ikut tidur memeluk Allea yang telah bermimpi.
❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️
Paginya Allea bangun lebih awal dan membuat sarapan dibantu bi Yanti. Setelah semua beres ia mandi dan membangunkan Sandy yang masih meringkuk dibalik selimut.
"Kak.. Sayang...bangun, ayo sarapan dulu" Allea mengusap lengan Sandy beberapa kali tapi tak ada respon.
"Kak...koq pulas banget sih? Bangun dulu yuk..." Allea kembali membangunkan suaminya kali ini dengan sedikit menggoyangkan tubuh Sandy. Tapi malah...
"Awh...kak! Nakal ya kamu!"
Pekik Allea kaget saat Sandy tiba-tiba menarik tubuh Allea ke atas tubuhnya. Sandy tertawa penuh kemenangan.
"Salah sendiri nakal duluan sukanya" jawab Sandy menciumi pundak Allea yang masih memakai piyama handuk sebatas paha. Wangi sabun mandi yang segar pun langsung menyebar ke hidung Sandy.
__ADS_1
"Nakal apa? Aku kan bangunin ngajak sarapan.."
"Bangunin cuma pakai handuk kaya gini? Yakin..cuma ngajak sarapan, gak ada yang lain?" goda Sandy.
"Apaan sih?" tangan Sandy menahan tubuh Allea yang akan beranjak. "Ayo dong bangun, kamu udah mulai kerja belum hari ini?"
"Belum, paling ngecek kerjaan dari rumah aja. Aku pengen cari apartemen dulu sama kamu"
"Tapi aku nanti ke kampus dulu sebentar ya, paling sebelum tengah hari sudah selesai."
"Iya, nanti aku jemput"
"Ya udah ayo bangun mandi terus kita sarapan bareng, aku mau ganti baju dulu" kata Allea lalu mencium kening dan kedua pipi Sandy.
Sandy mengiyakan dan akhirnya membiarkan Allea lepas dari pelukannya setelah mendapat morning kiss.
Mereka pun sarapan juga bersama pak Roby yang sudah siap akan ke kantor. Di sela-sela sarapan mereka mengobrol liburan honeymoon kemarin. Sandy juga bercerita ke papanya bahwa ia dan Allea ingin tinggal di apartemen. Pak Roby akhirnya menyetujuinya biarpun sebenarnya berat hati dan ingin mereka tinggal bersamanya saja.
"Nanti pasti kita sering-sering kemari pah, jangan khawatir" kata Sandy.
"Iya pah, nanti kalo off kuliah sesekali kita nginap disini. Biar Allea masakin buat papa ya.." hibur Allea ikut menambahkan. Pak Roby tersenyum senang.
"Iya...yang penting kalian akur-akur terus dan saling jaga dimana pun kalian tinggal" pesan pak Roby lalu diiyakan oleh Sandy dan Allea.
Siangnya Allea telah selesai menemui dosen membimbing di kampus, ia langsung menghubungi Sandy agar menjemputnya. Setelah itu ia langsung menyusul Nayla dan Rania di kantin. Allea memesan siomay lalu duduk semeja dengan dua sahabatnya.
"Cieee...yang pulang honeymoon udah buka segel, jadi nyonya deh sekarang!" celetuk Nayla membuat Allea tersipu lalu meletakkan telunjuknya di depan hidung.
"Gak papa dong Al, kan udah sah" Rania ikutan menggodainya.
"Nayla!" bisik Allea keki. "Pakai saringan dong kalo nanya.." wajah Allea pun tambah memerah.
Nayla dan Rania pun terkikik puas bisa menggodai Allea.
Sambil makan Allea diberitahu akan ada kegiatan mapala lagi yaitu mendaki gunung. Tentu saja Allea excited mendengarnya. Sudah lumayan lama mapala tak mengadakan kegiatan itu.
"Oiya Al, btw Andre hubungi kamu gak?" tanya Rania memelankan suaranya. "Kemarin aku lihat dia mukanya tu kusut banget, udah gitu sekarang jarang ikut kuliah" lanjut Rania.
"Iya, aku di inbox sama dia kemarin pas masih di Turki, mana kata-katanya kaya gitu lagi.." jawab Allea berbisik.
"Kaya apa?" tanya Nayla penasaran.
"Ya gitulah kaya cowok bilang kangen ke ceweknya. Aku kadang heran deh sama dia tuh, pikirannya koq udah kaya orang terobsesi aja" kata Allea mendadak ada rasa jengkel membicarakan Andre. Tapi Allea sengaja tak menunjukkan isi pesan Andre pada Nayla karena menjaga perasaannya. Nayla hanya manggut-manggut lalu membuka-buka sosmednya.
"Terus kak Sandy tau gak? Marah gak ke kamu?" tanya Rania.
"Ya aku kasih tau, tapi dia sih marahnya ke Andre, bukan ke aku."
"Kamu harus secepatnya kasih tau Andre soal status kamu sekarang Al.." kata Rania.
"Iya..tapi kemarin kak Sandy katanya yang mau kasih tau Andre.."
"Oh ya? Maksudnya ngasih tau dengan cara kaya gini bukan?" tanya Nayla senyum-senyum memperlihatkan layar ponselnya di depan Allea. Terlihatlah postingan Sandy semalam yang menandainya dengan foto dua pasang kaki di balik selimut.
Allea kaget bercampur malu lalu menutup mulut dengan tangannya.
__ADS_1
"So sweet..." celetuk Rania meletakkan tangan di kedua pipinya.
"Oh my God! Kak Sandy!" Allea memekik pelan tapi dalam hati mengomeli suaminya.
"Cieeee...." ledek dua sahabatnya.
"Kalo itu namanya gak cuma kasih tau ke Andre tapi juga ke semua orang!" kaya Allea menepuk keningnya.
"Ya gak papa Al, kalian kan udah jadi pasangan halal. Lagian ini foto juga gak vulgar menurutku" kata Rania.
"Apanya nih yang vulgar?" Sandy tau-tau sudah datang dan duduk di sebelah Allea.
Allea memasang wajah ngambek lalu menunjuk layar ponselnya yang terpampang foto unggahan itu. Sandy nyengir.
"Maaf...gak sempat bilang dulu, kan semalam kamu udah tidur. Jadi ini yang dibilang vulgar tadi?" tanya Sandy. Allea mengangguk.
"Enggak kak, kalo menurut kita gak vulgar koq" sahut Nayla yang langsung diiyakan Rania.
"Tuu kan, temen kamu aja gak masalah. Udah dong santai aja, kan katanya pengen kasih tau ke Andre?" kata Sandy lalu menyuap siomay dari piring Allea.
"Iya Al, lebih baik secepatnya Andre tau. Daripada harus kucing-kucingan lagi kan?" kata Rania.
"Betul!" sahut Sandy.
"Kalo udah tau gitu kan ada kemungkinan dia cepet move on-nya Al.." timpal Nayla.
"Betul lagi!" jawab Sandy lagi lalu meminta Allea menyuapinya.
"Iih...kamu nih betal-betul melulu sih? Awas aja kalo bikin huru-hara!" omel Allea.
Sandy tak menjawab hanya tertawa lalu meminta lagi siomay di sendok Allea.
"Ini siapa yang jajan, siapa yang makan sih?" tanya Nayla melihat Sandy terus memakan siomay Allea.
Sandy mengulum senyum sambil mengunyah makanannya.
"Ya gini Nay, katanya kalo makan dari piring istri tu beda rasanya..." jawab Allea menyindir Sandy.
"Iya...ada lophe-lophenya gitu.." timpal Sandy membuat mereka tertawa.
Setelah urusan di kampus selesai Allea mengajak Sandy mampir ke rumah mamanya dulu untuk melepas kangen dan mengantarkan oleh-oleh yang mereka beli. Arga kaget melihat kedatangan Allea dan Sandy begitu membukakan pintu, ia pun langsung memeluknya satu per satu melepas kangen.
"Gimana, enak gak?" bisik Arga jahil menggodai adiknya.
Allea langsung melepas pelukan kakaknya lalu memukul pundaknya.
"Mas Arga!" teriak Allea tertahan. Lagi-lagi Allea dibuat tersipu malu. Untung Sandy sedang di dapur menemui mama Tiara.
"Apa sih koq mukul? Mas kan cuma nanya, kalo enak ya mas mau otw..gitu" seloroh Arga.
"Rese!" sembur Allea lalu ngeloyor ke dapur menyusul Sandy.
Mama Tiara menawari mereka makan dan istirahat dulu sampai malam disana tapi keduanya bercerita perihal apartemen. Mama Tiara pun tak memaksa dan membiarkan mereka memilih yang terbaik. Selesai makan mereka pun pamit dan melanjutkan tujuan.
Satu persatu mereka datangi apartemen yang menjadi rekomendasinya. Dari tiga pilihan belum ada yang cocok menurut mereka. Hingga akhirnya Arga memberi info lewat chat kalo ada apartemen temannya yang akan dijual. Setelah mendapatkan alamatnya mereka pun meluncur. Jalanan siang ini lumayan padat dan panas. Sampai di satu perempatan lampu merah Allea melihat tukang asongan yang menjual minuman dingin. Ia pun menurunkan kaca dan memanggilnya agar mendekat. Allea membeli dua botol minuman dingin untuk mereka dan kembali menutup kaca mobil. Tanpa ia tau ada sepasang mata yang melihat wajahnya dari mobil lain di belakangnya.
__ADS_1