
"Argh, shitt!!" umpat Sandy.
"Sayang, stop!"
"No!"
Suara bell pun kembali terdengar, dua kali lalu tiga kali berturut-turut membuat Allea tak lagi fokus.
"Sayang, please...nanti kita lanjut lagi!" pinta Allea.
"Aarghh..!" Sandy mengerang kesal karena merasa terganggu saat tanggung waktu seperti ini.
Ia pun mempercepat iramanya dan memilih menuntaskannya saja. Keduanya menjatuhkan diri ke ranjang dengan nafas memburu. Allea mengatur nafasnya lalu buru-buru turun dari ranjang dengan memakai baju sekenanya.
"Maaf ya.." kata Allea mengecup singkat kening Sandy sebelum berlalu.
Ia tau Sandy sebenarnya masih belum ingin mengakhirinya. Sandy mengangguk lesu tapi menyunggingkan senyum tipis. Allea pun berjalan cepat ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Sandy yang telah memakai bajunya kembali masih duduk bersandar di ranjang menyangga dahinya sambil terkantuk.
"Kamu istirahat ya, aku temui Nayla dulu" kata Allea begitu selesai membersihkan diri.
"Jangan pergi kemana-mana ya" kata Sandy mengulangi.
"Iya sayang"
Allea pun keluar setelah memastikan Sandy memejamkan mata.
"Lama banget sih, habis ngapain kamu?" protes Nayla begitu Allea membukakan pintu.
"Aku baru habis mandi, kak Sandy tu gak enak badan. Dari tadi tidur" jawab Allea.
"Oowh..." Nayla membulatkan bibirnya lalu nyelonong masuk dan duduk di ruang tamu.
Allea mengulum senyum di belakang Nayla dan menghela nafas lega karena Nayla tak mencium aktifitas mereka barusan.
"Eh iya, kamu mau minum dingin apa panas?"
"Dingin deh. Kalo gak ngrepotin sekalian sama cemilannya ya, hehe.."
"Waduh ngrepotin! Aku baru gak ada cemilan Nay! Sorry...ntar kita pesen online aja ya?!" Allea terkekeh sambil sedikit berteriak dari dapurnya.
"Huuu...! Tau gitu tadi aku sumbang!" seloroh Nayla.
"Mau ngomong apa sih? Udah kaya besok pindah ke planet lain aja!" tanya Allea.
Nayla meneguk minuman yang Allea beri lalu mengambil ponselnya di tas.
"Waktu kamu cerita masalah kak Sandy kemarin aku kepikiran. Apalagi setelah Andre kaya ngomong serius gitu ke kamu.."
__ADS_1
"Aku gak paham Nay. Memang kenapa?" Allea mengerutkan keningnya.
"Coba kamu lihat ini!" Nayla memberikan ponselnya.
Perlahan Allea memutar vidio yang ada di ponsel Nayla. Di vidio itu tampak Andre dan Amira tengah mengobrol dengan serius. Ini vidio kedua yang Nayla tunjukkan setelah sebelumnya dulu pernah juga Nayla memberinya vidio Andre bertemu seorang cewek mirip Amira. Kali ini lebih jelas, memang disini Amira yang bertemu Andre.
"Kamu curiga gak sama Andre? Koq menurut aku dia ada hubungannya ya..?" tanya Nayla sedikit berbisik.
"Tapi kan disini gak kedengaran mereka ngomongin apa Nay, jadi ya bukti ini masih kurang akurat"
"Oiya, wait! Satu lagi.."
Nayla lalu merogoh tasnya dan mengambil sesuatu dari dalam.
"Sorry kalo baru kasih tau, dulu waktu ikut kamu cari kak Sandy di tanah kosong itu...aku sempat nemuin ini!" Nayla memelankan suaranya.
"Vapor? Ini koq kaya punya.."
"Andre kan?!" sambung Nayla. Allea mengangguk.
"Tapi vapor kaya gini juga banyak yg punya Nay.."
"Waktu ketemu dia, aku udah nanya Al. Dia ngaku lho kalo ini punya dia! Cuma aku gak bilang jujur dapat ini dari mana.."
Allea ternga-nga menutup mulutnya, Nayla pun menceritakan secara detail pertemuanya dengan Andre saat membahas soal vapor itu. Termasuk saat Andre berkata vapor itu sudah rusak dan sengaja ia buang.
Nayla mengendikkan bahu. "Aku gak tau juga sih. Tapi ini bisa jadi bukti kuat kan buat kamu?"
"Aku tadi siang juga dapat bukti rekaman CCTV dari depan hotel. Memang disana sekilas aku kaya melihat Andre ikut membawa kak Sandy yang teler keluar hotel. Terus dia masuk hotel lagi.."
"Hah?! Serius? Mana coba, aku boleh liat?"
Allea pun memberikan ponselnya dan membiarkan Nayla melihat sampai selesai. Wajah Nayla pun seolah yakin di vidio itu memang Andre.
"Kamu dapat ini dari mana?"
"Ada, dari teman SMA aku yang kebetulan punya ruko di depannya"
"Ya udah, ini kamu sudah ada beberapa bukti. Laporin aja!"
"Gak bisa Nay! Gak bisa asal lapor dengan bukti kaya gini, aku butuh bukti pengakuan dia, dari mulut dia, kalo memang dia terlibat dan lain sebagainya!"
Nayla diam, hanya manggut-manggut kecil.
"Dan yang paling penting, aku butuh kejelasan kalo yang kak Sandy dan Amira lakukan itu semua memang gak benar. Aku kasihan melihat kak Sandy, dia sampai frustasi tiap berusaha cari bukti selalu ada yang gagalkan. Mungkin saking dia penat memikirkan banyak hal sekarang jadi drop.." kata Allea panjang sambil menerawang.
"Sabar ya Al.." kata Nayla menggenggam erat tangan Allea seolah mentransfer kekuatan untuk sahabatnya. Allea mengangguk-angguk.
__ADS_1
"Aku juga pengen bantu..tapi gimana caranya?" kata Nayla pelan.
Mereka pun terdiam beberapa saat. Allea pikir, jika Andre dan Amira memang ada hubungan dengan semua ini, berarti memang mereka berniat merusak pernikahannya dengan Sandy. Allea sama sekali tak mengira jika ada Andre ditengah masalah ini. Kalo begini ceritanya, ia juga akan bermain cantik seperti yang mereka ajarkan. Lalu tiba-tiba Allea mendapat satu ide, ditariknya Nayla mendekat lalu membisikinya sesuatu.
"Haaa...?? Harus aku nih?"
"Ya iyalah, kamu kan udah pernah.." goda Allea mengerling tak meneruskan kalimatnya.
"Iih...apaan sih Al!" Nayla tersipu.
Allea terkikik. "Tapi kamu hati-hati ya, jangan sampai terjadi apa-apa. Cari tempat yang aman tapi tetap ada orang!" titah Allea.
"Siap nyonya boss!" kata Nayla memberi hormat layaknya ajudan ke atasannya yang di sambut toyoran dikepalanya dari Allea. Mereka pun tertawa.
Ting tung...
Suara bell menghentikan tawa mereka.
"Siapa ya?"
"Biar aku bukain!" Nayla lalu berlari kecil menuju pintu.
"Pesanan atas nama Sandy?" Seorang ojol mengulurkan satu plastik makanan pada Nayla.
"Eh, sebentar pak. Al..!! Kamu pesan makanan ya?! teriak Nayla sambil menoleh ke dalam. Allea lari tergopoh-gopoh mendekati Nayla.
"Enggak koq. Atas nama siapa pak?" tanya Allea.
"Sandy, kak. Sandy davindra. Tadi sudah chat yang menerima nanti kak Allea"
"Benar sih, itu saya"
"Kalo begitu tolong di terima ya kak, sudah dibayar koq. Terimakasih"
Ojol pun berlalu meninggalkan Allea dan Nayla yang saling pandang dengan wajah bingung.
"Kak Sandy katanya tidur?" tanya Nayla ketika mereka berjalan lagi ke ruang tamu.
"Iya tadi tidur. Masa orang tidur bisa pesan martabak? Ya udah nih kamu buka aja, di makan. Aku mau cek ke kamar dulu.." kata Allea mengangsurkan plastik bungkusan martabak pada Nayla lalu bergegas ke kamar.
Sandy memang masih terlihat meringkuk dibalik selimut. Saat Allea mendekat dan mengusap wajahnya pun suaminya tak terjaga. Allea lega demam Sandy sudah turun.
"Beneran tidur kayanya.." gumam Allea.
Pandangannya beralih ke nakas dan terlihat ponsel Sandy disana. Dibukanya ponsel Sandy dan ternyata benar, ada pesanan makanan online di aplikasi ojolnya. Sekitar setengah jam lalu, lengkap dengan chat note dari Sandy tentang siapa yang akan menerima makanannya nanti. Mungkin Sandy mendengar saat ia berteriak pada Nayla tadi, kalo ia sedang tak punya cemilan. Lalu diam-diam memesankan cemilan untuk mereka. Allea mengecup wajah suaminya beberapa kali dan menatap lelakinya yang tengah pulas itu. Allea tersenyum, betapa Sandy masih memikirkannya saat ia sendiri pun sedang tak sehat.
"Makasih ya sayang.." bisik Allea membetulkan selimut Sandy lalu berjalan keluar kamar.
__ADS_1