
Tiba-tiba sentuhan dipundak mengagetkan Amira, hingga reflek langsung menoleh ke arah pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu.
"Lagi liatin siapa?" tanyanya.
"Ehm, bukan siapa-siapa koq" jawabnya singkat.
"Kalo gitu ayo kuantar pulang. Aku masih ada perlu setelah ini!" kata lelaki itu.
Amira pun menurut setelah memasukan obat dan vitamin yang telah ditebus. Kebetulan ia pun hari ini ada jadwal kontrol kandungan dan ia ingin periksa di rumah sakit ini. Dengan sedikit memaksa pula ia meminta Marco, lelaki yang menghamilinya untuk menemani periksa. Ia tau Marco setelah ini ada acara dengan anak dan istrinya, tapi Amira tak peduli. Sesekali ia ingin Marco bertanggungjawab pada calon bayi hasil perbuatannya. Amira ingin ditemani saat kontrol ke dokter karena ia pun selama ini selalu sendirian jika periksa. Lagi pula belum tentu juga setiap bulan ia bisa mencuri waktu Marco.
"Bulan depan aku ingin kamu sisihkan waktu lagi kalo aku periksa kandungan!" kata Amira saat mereka sudah di dalam mobil.
"Aku belum bisa janji!" jawab Marco sambil tetap melihat lurus ke depan.
"Kenapa? Kandungan aku sudah memasuki 9 bulan, sebentar lagi anak ini akan lahir. Ini anak kamu! Aku harap kamu nanti makin sering membagi perhatian untuk dia juga.."
"Kamu tau kan aku sudah beristri dan memiliki anak? Dan mereka gak tau soal kita! Ingat, dulu kita melakukannya karena bersenang-senang, Amira! Gak ada kesepakatan apa pun! Iya kan?" jawab Marco mulai bernada tinggi membuat Amira menatap tajam ke arahnya.
"Iya memang! Tapi apa kamu gak ada sedikitpun rasa sayang pada anak ini atau mungkin sedikit saja rasa iba pada dia? Mungkin memang dia tidak kita harapkan tapi tetap saja dia darah daging kamu!" Amira menunjuk perut besarnya.
"Cukup Amira, cukup! Jangan coba mempengaruhi aku, sudah bagus hari ini aku luangkan waktu buat dia! Jangan minta lebih, kita tidak ada perjanjian apa pun, termasuk soal anak dikandungan kamu!" sahut Marco membela diri.
"Oo begitu, ha? Kamu punya anak perempuan kan? Gimana perasaan kamu kalo anak perempuan kamu diperlakukan seperti ini dan-"
"Tolong jangan bawa-bawa anak aku!" sela Marco mengacungkan telunjuknya. "Ini semua gak ada hubungannya dengan keluarga aku terlebih anak aku! Kita melakukannya dulu karena have fun dan setelah itu selesai. Jadi harusnya aku sudah gak ada urusan lagi dengan kamu dan apa pun yang terjadi setelahnya.."
"Tega ya kamu ngomong begitu..?" Amira mulai berkaca-kaca.
"Amira...come on, jangan pake perasaan dong"
Amira menepis kasar tangan Marco yang akan menyentuh wajahnya.
"Jangan baper..karena kamu cuma sama aja seperti cewek-cewek penggoda lainya yang hanya ingin uang dan kesenangan, demi mendapatkan kemewahan...iya kan?" lanjut Marco.
"Iya...aku akui, dulu memang aku seperti itu. Tapi perlahan aku sadar itu semua salah dan menjijikkan! Bahkan orang yang menyadarkanku adalah orang yang ingin aku rusak rumah tangganya dan hampir aku kambing hitamkan karena anak ini. Dia yang membuat aku merasa malu, aku merasa gak tau diri terlebih karena kebaikkan keluarganya. Karena dia aku ingin berubah dan menata hidup lagi, jadi aku minta tolong...berikan sedikit tempat di hati kamu untuk anak ini!" kata Amira panjang.
Marco tak menjawab, mobil yang mereka naiki pun berhenti di depan rumah yang Amira tinggali pemberian papa Sandy.
"Kita sudah sampai" kata Marco saat Amira tak kunjung turun.
"Kamu boleh tak peduli lagi ke aku, tapi tolong kamu pikirkan anak ini. Makasih udah antar periksa hari ini.." kata Amira lalu turun dan berjalan masuk sembari mengelus perut besarnya.
'Mama gak rela kamu di perlakukan begini, mama akan perjuangkan keadilan buat kamu!' batin Amira.
Marco pun melaju meninggalkan kawasan itu dengan sejuta pikiran berkecamuk dihati dan kepalanya.
🍃 🍃 🍃 🍃 🍃 🍃 🍃 🍃 🍃
Allea tengah selesai menghabiskan bekal makan siangnya di kantin kampus. Hari ini ia dibuatkan bekal oleh mamanya, menu sehat untuk ibu hamil. Allea tentu saja tersentuh melihat mamanya makin perhatian sejak tau ia hamil. Akhir-akhir ini mamanya sering membawakan bekal menu sehat atau pun mengirimkan makanan ke apartemennya. Bahkan membelikan makanan saat Sandy ngidam ingin sesuatu yang aneh. Allea tersenyum sendiri mengingatnya, ia merasa beruntung banyak yang menyayanginya. Hamil pun suaminya yang mengambil alih masa ngidamnya hingga ia tak perlu merasa mual atau pun muntah layaknya ibu hamil pada umumnya.
Allea merogoh tasnya dan mengambil vitamin kehamilannya lalu meminumnya. Ia terbiasa melakukannya sebelum suaminya telpon dan menanyakan. Karena pasti setiap hari Sandy mengingatkan Allea biarpun istrinya tak pernah lupa. Allea berniat menyimpan kembali vitaminnya di tas tapi malah terjatuh dan menggelinding.
"Aduh!" Allea meletakkan tasnya dan mencari kemana jatuhnya obat itu.
__ADS_1
"Ini punya kamu, Al?" Nayla mengacungkan obat Allea. Allea nyengir lalu mengangguk. "Kamu hamil ya?!" pekik Nayla tertahan setelah membaca sekilas kemasan obat yang ia pegang.
"Iya, Nay.." jawab Allea kembali nyengir malu lalu mengambil vitamin dari tangan Nayla dan menyimpannya di tas. Nayla buru-buru duduk di sebelah Allea.
"Really?! Waahh...seneng banget dengernya! Selamat Alleaa..!!" kata Nayla memeluk Allea. "Eh, udah berapa bulan? Koq gak kasih tau ke kita nih?" protes Nayla melepas pelukannya.
"Kasih tau apa?" tiba-tiba Rania muncul membawa nampan berisi bakso dan bumbu-bumbunya.
"Udah pada duduk tenang dulu deh!" jawab Allea. "Aku memang mau kasih tau ke kalian, tapi nunggu waktu yang tepat aja.." lanjutnya.
"Apa sih?" Rania masih bingung.
"Kita mau punya ponakan!" celetuk Nayla.
"Wahh, bener Al?" Allea mengangguk pada Rania. "Ciee...calon bunda nih, selamat ya Al! Seneng deh akhirnya yang di tunggu datang juga. Oiya, emang udah berapa bulan?"
"Minggu depan udah masuk tiga bulan"
"Waduh..udah mau tiga bulan aja, Al!"
"Iya nih, udah mau tiga bulan baru kasih tau ke kita. Tega nih! Untung aja kemarin-kemarin aku gak ajak kamu lari-lari atau naik gunung, kalo iya pasti merasa bersalah banget sekarang!"
"Iya, untung aja aku juga gak ajak jajan yang aneh-aneh. Kalo iya, kan kasian ponakan aku.."
Allea terkikik mendengar celotehan heboh dari dua sahabatnya.
"Bisa aja kalian ini. Aku minta maaf ya kalo baru kasih tau karena memang aku dan kak Sandy sengaja pengennya kasih tau nanti pas pengajian empat bulanan. Tapi ini tadi malah udah ketahuan sama Nayla, hehe...ya udah sekalian aja.."
"Hmm...gitu ya. Untung tadi ketahuan jadi lebih cepet kita tau, ya kan Ran?" Rania mengangguk setuju.
"Beres, Al!"
"Siap, pasti aman Al!" Allea tersenyum lega mendengar jawaban dua sahabatnya.
"Oiya Nay, gimana masalah rumah Andre?"
"Udah beres, Al. Untung dia mau nerima masukan dari kamu kemarin. Bahkan ini udah ada yang rencana mau ngontrak?"
"Oh ya? Bagus dong!"
"Iya, biarpun cuma enam bulan sih.."
"Koq gitu? Emang orang mana?" tanya Rania.
"Dia asli jawa timur, jadi dia itu cuma tinggal disini buat beberapa bulan aja untuk dinas kerja. Udah berkeluarga koq, tapi belum punya anak.."
"Oo gitu.."
"Iya..bahkan dia udah kasih DP lho, udah ditransfer ke rekening Andre kemarin?"
"Dari mana kamu tau kalo udah masuk, kan rekening Andre?" selidik Allea.
Nayla pun kembali mengukir senyum rikuh plus malu-malu. Wajahnya yang memerah tak bisa lagi ia sembunyikan.
__ADS_1
"Phone banking Andre aku yang pegang sekarang. Dia yang minta gitu sih, katanya biar gampang ngurus semua yang berhubungan sama sewa rumah, gitu.."
"Ooo..." jawab Allea dan Rania bersamaan sambil saling berekspresi menggodai Nayla.
"Iih...kalian ini, jangan gitu dong. Aku jadi pengen malu nih.." Nayla menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Yee...kenapa malu, gak papa kali! Kan itung-itung belajar mengelola keuangan bareng, katanya pengen mengarungi biduk ular tangga...ya kan Al?" goda Rania.
"Iya bener itu. Udah lanjut aja Nay, pokoknya kita dukung!" Allea menimpali membuat wajah Nayla makin memerah.
"Tapi...aku gak mau mikir kejauhan ah, aku cuma jalani aja apa yang ada saat ini. Lagian..kita dekat kaya sekarang itu karena Andre lagi ada di masa sulit. Kalo Andre keluar nanti bisa aja kan kita jadi gak sedekat ini lagi.." kata Nayla menerawang.
"Ya jangan gitu dong mikirnya. Harus positif thinking!"
"Iya, Nay. Menurut aku Andre bukan cowok tipe begitu, dia pasti tau siapa yang ada di dekatnya waktu dia susah. Dan siapa yang cuma ada saat dia senang.." kata Allea.
Nayla tersenyum tipis tapi tetap saja ia tak berani berharap banyak. Sekarang ia sudah cukup bahagia bisa sedekat ini dengan Andre dan kalo pun nanti mereka harus jauh lagi, hatinya udah siap. Sementara Allea bisa berpendapat demikian karena ia pernah ada diposisi Nayla. Berawal karena dulu ia memberikan makan untuk Andre saat dihukum, Andre jatuh hati padanya. Gimana enggak, saat itu tak ada yang peduli melihat ia dihukum kecuali Allea. Dari situlah cinta Andre tumbuh dan tumbuh. Bahkan mengejarnya sampai kota ini, biarpun endingnya berakhir pahit karena Andre salah melangkah. Jadi menurut Allea, pikiran Andre pun akan sama pada Nayla. Semakin hari mereka makin dekat, saat Andre merasa makin nyaman bersama Nayla, pasti ia tak akan melepasnya begitu saja. Terlebih Nayla mau menemaninya di saat Andre jatuh dititik terendah begini. Allea mengulum senyumnya sambil melirik Nayla, dalam hati ia selalu mendoakan mereka akan bersama nantinya. Seperti dirinya dan Sandy..
❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️
Pagi itu di apartemen, Sandy dan Allea sedang menikmati sarapan. Sandy menyantap salad buah buatan Allea. Entah kenapa dua hari ini ini perutnya sedikit nyaman saat menyantap buah pagi hari. Sedangkan Allea makan roti isi daging, ia sengaja tak membuat menu beraroma coklat karena takut suaminya tak kuat mencium aromanya. Ya, selama Allea hamil jadi Sandy yang sensitif jika mencium aroma coklat, perutnya pasti akan bereaksi. Allea gak tega membuat suaminya mual-mual jadi sebisa mungkin ia meminimalkan. Sambil sarapan mereka sesekali ngobrol ada membuka ponsel masing-masing.
"Eh sayang, anak Amira udah lahir lho!" kata Allea.
"Mmm..." jawab Sandy sambil memasukkan suapan terakhirnya.
"Iya, katanya cewek, nih..!" Allea menunjukkan layar bergambar foto bayi Amira di depan Sandy.
"Oowh.." jawab Sandy melihat sekilas.
"Koq cuma 'mmm' sama 'owh' sih?!" protes Allea.
"Aku udah tau sayang, tadi pagi papa chat. Semalam Amira kasih kabar ke papa"
"Koq gak kasih tau aku?"
"Lha ini kamu udah tau. Lagian tadi waktu papa chat aku cuma baca aja karena masih ngantuk. Habis itu balik tidur lagi ngelonin guling gede ini" jawab Sandy melirik Allea.
Allea pun mencibir, ia memang melihat tadi pagi Sandy membuka ponsel sebentar lalu meletakkannya lagi dan kembali menyusup ke pelukannya.
"Kasihan lho dia, gak ada yang dampingi waktu lahiran cuma sama suster yang kerja dirumah. Orang tuanya datang pas babynya udah lahir.." celoteh Allea.
Sandy mengangguk-angguk sembari meneguk tehnya. "Dia chat ke kamu apa gimana?"
"Iya tadi, ya dia cuma ngabari aja kalo bayinya udah lahir. Iih...lucu banget sih, gemess!" Allea masih memandangi foto bayi Amira di ponselnya.
"Semua bayi kan memang lucu. Dan nanti yang ini pasti lebih lucu dan gemes!" jawab Sandy mengelus perut Allea seolah cemburu istrinya memuji bayi lain. Allea menahan tawa, ia tau hal itu.
Sandy pun duduk mensejajarkan kepalanya pada perut Allea, melingkarkan tangan di pinggang istrinya dan menciumi calon bayinya disana. Allea tersenyum mengelus rambut Sandy.
'Segini gak terimanya ya kamu kalo aku muji anak orang lain' batin Allea.
"Aku boleh nengokin anaknya Amira gak, sayang?" tanya Allea hati-hati.
__ADS_1
Ia sengaja tak menawari suaminya karena ia tau pasti Sandy akan menolak ajakannya. Jika diijinkan pun ia akan pergi dengan dua sahabatnya. Sandy lalu mengangkat kepalanya dan menatap Allea dalam. Allea pun jadi salah tingkah, ia merasa salah bertanya melihat raut wajah Sandy.
'Ya jelas gak diijininlah Alleaa...pake nanya lagi!' rutuknya dalam hati. Jelas aja suaminya tak akan rela ia datang kesana, pikirnya.