
Nayla buru-buru keluar dari kelas begitu tau ada nomor yang menghubungi ponselnya. Nayla tau betul nomor itu dari mana. Kebetulan kelas mereka juga telah selesai. Allea mengernyit melihatnya lalu perlahan jalan keluar menyusul Nayla. Sejak tau hamil Allea jadi otomatis bisa menahan kakinya untuk tak berlari. Sampai di luar kelas Allea melihat Nayla masih berbicara dengan raut wajah bimbang. Allea hanya mengawasi, tak ingin lebih mendekat lagi karena menghargai privasi sahabatnya.
"Al...liatin siapa?"
Allea menoleh sedikit kaget saat Rania menepuk pundaknya.
"Eh, itu Nayla. Aku liat tadi dia nerima telpon tapi kenapa pake menjauh segala. Tumben?" Allea angkat bahu heran.
"Oo..."
"Kamu tau gak Ran, itu telpon dari siapa?"
"Kalo sampai menjauh gitu sih biasanya dari keluarganya, kalo gak...dari lapas!" bisik Rania.
"Andre?"
"Iya! Aku perhatiin sekarang lumayan sering, seminggu sekali atau dua kali pasti Andre telpon"
"Oh ya?" Allea tak menyangka tapi bibirnya menyunggingkan senyum. Entah kenapa ia suka melihat kedekatan Nayla dan Andre.
"Iya Al, aku juga heran. Andre tuh kaya makin tergantung sama Nayla. Apa jangan-jangan mereka..." Rania tak melanjutkan kalimatnya karena Nayla mendekat. Ia dan Allea hanya saling lirik sambil mengulum senyum.
"Gaes, ke kantin yuk?!" ajak Nayla.
"Ayok...emang udah telponnya?" tanya Rania.
"Udah koq" jawab Nayla singkat.
"Siapa yang telpon, Nay?" ganti Allea yang tanya.
Nayla tersenyum kikuk sembari melempar pandangan ke Rania. Sementara Rania memberi anggukan kecil tanda menyuruh Nayla berterus terang pada Allea.
"Ehm...Andre, Al!" jawab Nayla membuat Allea tersenyum lega melihat Nayla masih berusaha jujur padanya.
"Emang ada apa Nay dengan Andre?" tanya Allea setelah mereka memesan makanan di kantin yang ada di samping kampus itu. Nayla melihat ke arah Rania lagi.
"Udah, cerita aja. Siapa tau Allea ada masukan buat kamu!" kata Rania membaca kebimbangan wajah Nayla.
"Nay..kamu gak perlu sungkan cerita masalah apa pun ke aku, termasuk masalah Andre. Aku seneng koq melihat kalian dekat, kamu gak perlu merasa gak enak ke aku!" kata Allea menggenggam tangan Nayla. Nayla tersenyum kikuk lagi.
"Iya...lagian Allea kan gak pernah ada ikatan sama Andre. Dan sekarang juga udah punya pacar halal, ya kan Al?" Rania nimbrung. Allea tersenyum mengangguk.
"Udah, ngomong aja. Andre kenapa?"
"Mmm...anu Al, sebenarnya udah tiga kali ini dia minta ke aku. Cuman...aku ragu aja, antara gak yakin mampu dan merasa gak pantas gitu!"
"Andre ngajak kamu nikah?" celetuk Rania.
"Hish...bukan!"
"Terus?!" tanya Allea dan Rania bersamaan.
"Dia minta tolong aku untuk ke apartemennya, untuk ambil surat-surat dan kunci rumah yang dia beli. Kamu pasti udah tau kan Al, kalo Andre beli rumah disini?"
"Iya, tau koq. Tapi buat apa dia minta kamu ambilkan?"
"Katanya..dia titip ke aku, dia bilang terserah mau diapakan yang penting rumah itu ada yang merawat. Karena sebelumnya dia udah minta tolong ke keluarganya tapi gak ada yang sanggup, semua pada gak punya waktu karena kesibukan.." Nayla menghela nafas. "Aku harus gimana dong Ran? Al?"
Allea dan Rania saling pandang sejenak.
"Ya udah sih, sanggupin aja!" timpal Rania.
"Tapi apa pantas? Aku kan bukan siapa-siapanya dia?"
"Ya kan dia cuma minta tolong biar ada yang merawat rumahnya. Tinggal cari orang aja buat bersih-bersih seminggu sekali, gitu kan beres Nay?" usul Allea.
"Al...gak cuma sekedar gitu?"
"Lho emang apa lagi?" Allea penasaran.
"Dia tuh bilang, aku di suruh nempatin juga. Daripada aku kost gitu, bahkan dia mau aku cari pembantu biar aku gak sendiri, coba? Dia yang mau nanggung semua biaya ini itunya! Kejauhan gak sih semua ini?" Nayla menggaruk kepalanya frustasi.
"Kejauhan ya naik ojol, Nay!" sahut Rania berusaha menghibur sahabatnya yang tengah galau.
"Iih...aku serius nih!" sungut Nayla sewot.
"Oh, siap!" Rania menghadap Nayla dengan tangan hormat. "Eh, tapi kenapa gak di jual aja sih?" lanjut Rania.
"Kata dia sementara jangan di jual dulu, karena kan rumah itu hasil kerja dia sendiri selama disini. Gimana dong, aku pusing nih, dia nagih jawaban melulu lewat telpon!"
"Jawab aja 'yess I will' gitu Nay!" goda Rania lagi membuat Nayla melotot keki.
Allea terkikik melihat kelakuan dua sahabatnya, hal itu menjadi hiburan tersendiri baginya.
"Allea nih, malah ikutan ngetawain!"
"Enggak..sensi banget sih. Kalo gak gini aja, kamu temui Andre dulu jangan ngomong lewat telpon. Tapi aku tanya dulu nih, kamu mau apa gak tinggal di rumahnya?"
__ADS_1
"Ya gak lah Al, aku gak enak sama keluarganya. Masa aku gak ada hubungan apa pun mau nempati rumah dia. Nanti keluarga Andre bisa berpikiran jelek dong ke aku!"
"Okey, kalo memang kamu gak mau coba kasih pengertian ke Andre yang bisa dia terima. Terus kasih second opinion aja, Nay!"
"Tapi apa Al, aku masih buntu ini?" kata Nayla nyengir menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ya usul aja ke Andre, misal rumah itu dikontrakin gimana? Kan malah lumayan, ada income pasif selama dia masih jalani hukuman?"
"Cerdas nyonya Sandy!" Nayla menjentikkan jarinya di depan wajah Allea. "Gue suka gaya lu!" seloroh Nayla yang mendadak menjadi cerah wajahnya.
Allea tak menjawab hanya mengibaskan rambutnya dengan gaya sok centil. Dua sahabatnya pun terkekeh.
"Okey, besok aku ke lapas deh! Semoga aja Andre setuju!" kata Nayla bersemangat lalu mulai menyendok makanan di depannya.
"Kenapa gak nanti aja Nay?" tanya Rania.
"Gak bisa, habis ini aku ada perlu kayanya sampai sore"
Rania membulatkan bibirnya manggut-manggut.
"Besok kamu ngomongnya pelan-pelan aja ya Nay ke Andre, biar dia gak merasa kaya di gurui..pasti Andre mau" kata Allea diikuti anggukan Nayla sambil mengacungkan ibu jarinya. Allea tersenyum lalu sibuk membalas chat sambil sesekali tersenyum.
"Kamu gak makan, Al? Senyam senyum aja nih.." protes Rania.
"Eh, aku masih kenyang. Ini aku lagi balesin chat kak Sandy.."
"Dia mau jemput kamu?"
"Iya nih katanya.." jawab Allea lalu tersenyum lagi.
"Ran, liat orang yang udah nikah gini senyum-senyum mulu koq jadi pengen juga mengarungi biduk ular tangga ya?" sindir Nayla melirik ke Allea. Rania terkikik mengangguk-angguk.
"Apaan sih?" Allea tertawa kecil.
"Eh gaes, itu mobil siapa ya? Koq kaya asing.." tiba-tiba Rania menunjuk sebuah mobil mewah berwarna putih yang berhenti di depan kantin.
"Mana?" mata Nayla mengikuti arah tangan Rania. "Oh iya ya, dosen baru kali ya? Coba kita tunggu aja dia turun siapa tau bawa pemandangan segar, ya kan?" timpal Nayla.
Rania pun mengangguk-angguk setuju, mereka lalu memantau dengan wajah antusias. Sementara Allea hanya melihat sekilas ke arah mobil itu lalu geleng-geleng kepala sambil mengulum senyum.
"Mana Nay, lama banget orangnya turun?" Rania mulai tak sabar.
"Iya nih, keburu penasaran!" jawab Nayla.
Tak lama kemudian seseorang itu turun dari mobil dan melepas kacamatanya. Sontak Rania dan Nayla tercengang.
"Waa...kena prank nih kita, Nay!
"Iya Ran, salah ngomong lagi kita tadi. Gak enak dong sama nyonya di sebelah kita ini.."
Mereka pun terkikik antara malu dan tak menyangka. Allea pun terkekeh melihat kekonyolan dua sahabatnya. Kasak-kusuk mereka pun langsung terhenti begitu Sandy mendekat.
"Kak Sandy to...mematahkan harapan! Kirain siapa tadi!" celetuk Nayla diiyakan Rania.
"Waduh sorry girls, gak maksud. Emang udah gak ngenalin mukaku lagi nih?"
"Bukan mukanya kak, tapi tangkringannya! Mobil baru nih kayanya.." goda Nayla.
"Iya nih, dalam rangka apa kak? Allea koq gak cerita Al?"
"Masa beli mobil aja harus diumumin sih, norak tau!" bisik Allea.
"Eh iya ya.." mereka terkekeh lagi. "Tapi dalam rangka apa, Al?" kejar Rania.
"Ini lho, kan sebentar lagi ada-"
"Eh sayang, kita udah ditunggu lho!" spontan Allea memotong ucapan Sandy sambil meremas tangan suaminya memberi kode agar tak meneruskan ucapannya. "Kita berangkat sekarang aja yuk! Takutnya macet, yuk gaes kita duluan ya, bye...!" pamit Allea lalu menggamit lengan Sandy.
Sandy pun menurut, ia mengangguk pada dua teman Allea yang tengah saling pandang dengan berekspresi bingung lalu berjalan mengikuti istrinya. Sandy pun belum paham maksud Allea
"Kenapa sih?" bisik Sandy setelah keluar dari kantin.
"Jangan kasih tau ke mereka dulu kalo kita mau punya baby"
"Owh...emang kenapa sayang?"
"Ya belum pas aja waktunya, biar nanti aku yang kasih tau mereka. Gak papa kan sayang?"
"Iya gak papa, terserah kamu. Tadi bilang dong pas chat aku. Mereka kayanya curiga tadi.." kata Sandy.
"Udah gak papa, biarin aja"
"Ini kita langsung ke rumah sakit kan?"
"Iya dong, dokter Elyana udah nungguin" jawab Allea lalu masuk mobil saat Sandy membukakan pintu untuknya.
Mobil mereka pun membelah jalanan yang ramai lancar itu menuju rumah sakit. Allea mengakui, mobil yang Sandy hadiahkan karena ia hamil itu memang nyaman. Biarpun awalnya Allea sempat keberatan dan akan menolak tapi nyatanya Sandy tetap bersikeras membeli untuknya. Dan siang ini kali pertama mereka menggunakannya untuk periksa kandungan Allea. Sandy pun menepati janji untuk menyiapkan waktu khusus saat Allea akan periksa kandungan. Wanita mana yang tak bahagia dan merasa beruntung.
__ADS_1
Kurang dari setengah jam mereka sampai dan menunggu antrian tak begitu lama. Sampai akhirnya Allea di panggil untuk timbang berat badan serta cek tensi. Beberapa menit kemudian mereka masuk ruang obsgin. Seperti sebelumnya, Allea ditanya soal ada tidaknya keluhan dan di minta naik bed untuk USG. Sandy antusias sekali melihat calon bayi mereka biarpun masih belum berbentuk. Sembari menggerakkan alat USG dokter menjelaskan semua tentang perkembangan calon bayi mereka.
"Perkembangan babynya bagus ya, sepertinya tidak ada masalah" kata dokter Elyana saat mereka kembali duduk berhadapan.
"Syukurlah kalo gitu dok. Berarti tidak ada catatan khusus kan dok?"
"Gak ada, ini nanti saya resepkan vitamin saja dan penguat kandungan masih ya. Ada mual gak ya Al?"
"Ehm, gak ada dok. Kebetulan yang ngidam malah..." Allea melirik ke arah Sandy.
"Oowh..." Dokter Elyana tertawa kecil. "Gak papa, sabar aja ya Sandy. Di nikmati aja, jarang-jarang lho.."
Sandy menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Iya dok, menikmati koq. Tapi..saya pengen nanya ni dok kalo boleh.."
"Silakan, tanya apa?"
"Kalo trimester awal gini, babynya boleh sering ditengokin gak ya?"
Allea langsung menginjak kaki Sandy. "Kamu ih, koq tanya gitu sih.." bisik Allea malu. Ia tak mengira Sandy berani menanyakan hal itu pada dokter El.
"Ya gak papa dong sayang.." jawab Sandy meringis menahan sakit karena injakan sepatu Allea.
"Gak papa Allea, santai aja"
"Tuh kan! Kata dokter gak papa koq.." Sandy tersenyum menang.
"Boleh aja berhubungan di trimester awal kehamilan. Asal tetap hati-hati dan jangan terlalu sering. Terlebih Allea pernah ada riwayat keguguran, jadi harus extra hati-hati.."
"Tuh kan, dengerin!" kali ini Allea yang merasa menang.
"Gak papa, yang penting kan boleh!" jawab Sandy tengil dan langsung dapat hadiah cubitan dari istrinya.
Dokter El geleng-geleng kepala melihat tingkah pasangan di depannya itu. Senyumnya pun tak berhenti mengembang melihat kelakuan mereka.
"Ehm...kalo sudah tidak ada yang ditanyakan, saya perbolehkan pulang. Dan ini resep vitaminnya jangan lupa ditebus ya!" kata dokter Elyana.
"Oh ya baik dok, ini saya juga pengen cepat sampai rumah" celetuk Sandy lagi-lagi membuat dokter tertawa.
"Kak Sandy, ih! Permisi ya dok, makasih.." Allea buru-buru pamit sambil mencengkeram gemas lengan suaminya. Dokter El pun mengangguk menyilakan.
"Awh...sakit sayang!" protes Sandy meringis mengusap lengannya saat ada di luar ruangan.
"Biarin, kamu sih bikin keki aja, malu dong sama dokter El!" sungut Allea.
"Kenapa malu sih sayang? Kita kan masih newbie banget, wajar dong nanya-nanya. Lagian dokter juga gak keberatan kan?"
"Ya aku yang keberatan!"
"Masa sih, coba sini aku gendong beneran berat gak?" goda Sandy.
Allea memutar bola matanya. "Besok lagi aku gak mau ajak priksa ah!" Allea pura-pura mengancam.
"Eeh...jangan dong sayang! Aku kan papanya, masa gak boleh ikut?"
"Ya habis kamu sih.."
Sandy tersenyum lalu merangkul Allea merapatkan ke pelukannya.
"Kamu tau gak sih, aku belum pernah sebahagia ini. Tau kamu hamil, liat anak kita di USG tadi dan kalian sehat, rasanya...gak bisa diungkapkan pokoknya!" kata Sandy lalu mengecup pelipis Allea.
Allea menatap Sandy sekilas, ada haru dihatinya mendengar kata-kata suaminya.
"Maaf ya, kalo mungkin aku berlebihan, itu semua karena rasa bahagia aku!" sambung Sandy setelah mereka duduk menunggu di depan apotik rumah sakit.
"Sebenarnya aku juga senang, semoga aja bulan-bulan berikutnya waktu badan aku udah kaya ikan buntal kamu gak akan berubah. Jangan berkurang sikap manis kamu yang seperti sekarang.."
"Sstt...gak akan!" jawab Sandy menempelkan telunjuknya dibibir Allea. "Justru aku makin sayang dong, makin ganti bulan makin cepat kita bisa lihat anak kita. Pasti aku makin gak sabar nanti!" lanjut Sandy merapikan rambut Allea ke belakang telinga.
"Kalo aku gendut? Gak masalah?" rengek Allea manja.
"Gak sayang, ditubuh kamu anak kita berkembang, anak kita bisa tumbuh. Jadi apa pantas aku permasalahkan?" jawab Sandy membuat Allea tertunduk antara haru dan bahagia. "Lagian ,gimana pun tubuh kamu nanti...tetap menggoda buat aku!" lanjut Sandy setengah berbisik.
"Gombal!"
"Bener!"
"Kalo perutku makin gede kan makin sering pake daster, emang masih menggoda?"
"Justru tambah menggoda dong, pake daster kan aksesnya malah gampang!" jawab Sandy kembali menggodai Allea.
"Iih...tetep aja belok kesana lagi ya topiknya!" gemas Allea menarik hidung mancung suaminya.
"Aduh!" sontak Sandy mengusap-usap hidungnya yang sedikit merah. "Sayang...mommy nakal nih, kita apain ya enaknya?" bisik Sandy mendekat ke perut Allea yang masih rata sambil mengusapnya.
"Hayo..jangan ngajarin anak aneh-aneh, ah!" kata Allea membelai rambut Sandy.
Dan pemandangan mereka bercengkerama itu tertangkap jelas oleh sepasang mata yang sedari tadi melihat mereka datang. Pemilik sepasang mata itu pun hanya bisa tersenyum getir tapi juga berusaha berbesar hati untuk ikut bahagia melihat kebahagiaan mereka. Tak ada lagi rasa ingin merebut kebahagiaan karena ia sudah cukup malu dengan kebaikan dan kesempatan yang mereka berikan. Ia tau diri sekarang...
__ADS_1