
Nayla menggigit bibir bawahnya, ia memutar otak mencari jawaban agar Allea tak mecurigainya berbuat macam-macam dengan Andre. Tapi otaknya buntu karena ia sendiri pun bangun dengan keadaan tak menyangka Allea akan menelponnya.
"Eh, Al...ini gak seperti yang kamu pikirkan. Aku...gak ngapa-ngapain sama Andre. Beneran...serius!" jawab Nayla tergagap.
📱:'Ya terus? Kamu ngapain bisa tidur disana? Awas ya kalo sampai kamu sama dia-'
"Enggak Al!" potong Nayla. "Andre gak apa-apain aku, nanti aja aku ceritain ya. Habis ini aku kirim hasil rekaman kemarin, bye!"
Nayla buru-buru menutup telpon sepihak, ia khawatir Andre akan mendekat dan semua jadi ketahuan. Karena cowok itu terus-terusan memanggilnya. Setelah menyimpan ponselnya Nayla buru-buru menyambangi Andre.
"Kenapa Dre?"
Ternyata Andre tak ada dikamarnya tapi terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Nayla menghela nafas lalu berjalan ke dapur, mengedarkan pandangannya. Mencari sesuatu yang bisa ia buat sarapan untuk mereka. Nayla memutar bola matanya saat melihat isi kulkas Andre yang minim makanan bahkan cemilan pun tak ada dan hanya ada minuman kemasan serta bir kalengan. Lalu ia ingat cake potong yang ia pesan online semalam belum tersentuh sedikit pun. Nayla mengambilnya dari kamar Andre dan menatanya di piring kecil. Selanjutnya membuat segelas susu coklat hangat dan susu vanila untuk Andre. Setelah siap ia membawanya ke mini bar yang ada didekat dapur. Nayla duduk di salah satu kursinya dan membuka ponsel. Dengan cepat ia mengirimkan bukti rekaman suara Andre pada Allea beserta bukti rekaman isi galeri ponsel Andre.
Begitu selesai Nayla langsung mengamankan ponsel di tasnya. Ia menatap tajam Andre dengan meruncingkan bibir saat cowok itu mendekat ke mini bar. Andre tersenyum melihat Nayla sudah menyiapkan sarapan. Ia pun terlihat segar dengan wajah fresh habis mandi.
"Kenapa?" tanya Andre heran melihat muka Nayla.
"Kamu sengaja kan bikin aku gak pulang semalam?" tuduh Nayla menunjuk ke muka Andre.
"Siapa yang sengaja, aku bener ketiduran Nay, sorry..! Aku sempat kebangun jam 12 tapi gak tega mau bangunin, kamu pules banget" jawab Andre menahan tawa, Nayla masih cemberut.
"Alasan! Tapi kamu gak apa-apain aku kan?" tanya Nayla was-was sambil memeluk diri. Andre terkekeh.
"Apaan sih? Ya gak lah, orang baju kamu aja juga masih rapi gitu koq, gak kaya orang habis di..." Andre tak melanjutkan kalimatnya.
"Kamu pernah ya..?" tunjuk Nayla menyelidik.
"Pernah apa?"
"Ya pernah 'begituin' cewek!"
"Jangan ngaco ah, udah buruan sarapan! Habis ini aku anter kamu pulang!" titah Andre seolah tersinggung dengan pertanyaan Nayla.
Andre duduk di depan Nayla lalu menyambar gelas susu coklat Nayla.
"Eeh...itu punyaku, ini punya kamu yang putih. Special buat orang habis mabuk!" cegah Nayla merebut kembali gelas susunya lalu menyodorkan susu vanila ke depan Andre.
"Ada racunnya gak nih?" goda Andre.
__ADS_1
"Gak, cuma sianida sesendok!"
Andre tersenyum kecut, ia meminum setengah gelas susu vanilanya lalu mencomot sepotong cake dipiring.
"Siapa yang telpon kamu tadi?" tanya Andre menyuap potongan kue terakhirnya.
"Allea"
Andre langsung tersedak, Nayla melebarkan matanya dan buru-buru memberi Andre minum.
"Kenapa sih?"
Wajah Andre berubah murung. "Allea ngomong apa tadi?"
"Cuma ngajak janjian ketemu dosen bareng" dusta Nayla.
"Dia tau kamu disini?" Nayla menggeleng karena memang tadi Nayla tak menjelaskannya. Andre lalu menghela nafas.
"Kenapa?" ulang Nayla sok polos padahal ia tau Andre tengah galau.
"Nay..aku harus gimana menurut kamu?" tanya Andre tiba-tiba.
"Emang gimana perasaan kamu sekarang?"
"Kacau, Nay. Aku merasa gak punya muka kalo harus bertemu Allea. Aku malu, aku merasa bersalah tapi..aku juga bingung harus gimana?"
"Kamu menyesal?" Andre mengangguk lemah. "Temui kak Sandy dan Allea, minta maaf ke mereka!"
"Gak, aku belum siap mereka tau hal ini! Aku gak sanggup mengakui semua ini didepan Allea!"
Terlambat! Allea udah terlanjur kuberitahu, batin Nayla menatap Andre sedih.
"Cepat atau lambat mereka akan tau Dre, kak Sandy gak berhenti nyari bukti. Jadi menurut aku lebih baik kamu mengakuinya sekarang!"
Andre berdecak menggaruk kasar kepalanya.
"Kamu gak mikirin perasaan Allea? Kalo seandainya kak Sandy terpaksa menikahi Amira, pasti Allea hancur! Padahal itu semua bukan perbuatan kak Sandy..."
"Tapi..."
__ADS_1
"Kalo begini namanya kamu gak cinta sama Allea, kamu bikin dia sedih karena kamu ngerusak kebahagiaan dia. Aku jadi gak yakin kamu lakuin semua ini karena cinta!" kata Nayla melirik Andre sinis.
Andre diam, ia menghembuskan nafas panjang lalu menengadahkan wajahnya.
"Ingat..gak ada kejahatan yang sempurna, bangkai kalo disimpan terus suatu saat akan tercium juga!" imbuh Nayla makin membuat Andre frustasi dan terpojok.
Tapi Andre berpikir perkataan Nayla ada benarnya. Lagi pula ia tak dapat apapun dari apa yang sudah ia lakukan sejauh ini. Allea tetap masih bersama Sandy dan yang paling menyakitkan, Allea tetap tak akan mau menikah dengannya misal berpisah dengan Sandy. Lantas apalagi yang ia cari? Jika nanti Sandy akhirnya mendapatkan bukti bahwa semua ini ulahnya, bukan tak mungkin ia hanya tinggal menunggu waktu kapan polisi akan menjemputnya. Lalu bagaimana reaksi keluarganya nanti? Bagaimana karirnya yang sedang naik saat ini? Bagaimana masa depannya? Apa akan ia habiskan dibalik jeruji besi? Ia bisa terjerat sejumlah pasal jika Sandy benar-benar mempidanakannya.
Andre memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut memikirkan semua itu.
🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂
Di apartemen, Allea benar-benar menahan marah sekaligus gondok. Setelah ia tau Andre memang benar otak dari semua masalah rumah tangganya. Udah begitu, saat Allea meminta bertemu Andre seolah menghindar. Padahal Allea masih berpura-pura tak tau dan tak mengatakan untuk apa ia ingin bertemu. Allea hanya bilang ada hal penting yang ingin ia sampaikan, biasanya dulu Andre selalu antusias dan segera menyempatkan waktu. Tapi kali ini Andre seolah sudah punya firasat bahwa Allea akan menumpahkan segala marah dan sumpah serapah karena kartunya sudah ketahuan. Allea pun belum memberitahu Sandy juga sampai sekarang, hingga ia pun kerap terlihat badmood dan cemberut di depan Sandy tanpa sebab. Sandy sampai bingung dibuatnya dan mengira istrinya sedang PMS.
Pagi ini setelah tau pesannya tak dibalas dari semalam, Allea menelpon Andre. Ia gak tahan lagi, udah habis kesabarannya pada Andre.
"Bisa ketemu nanti?" tanya Allea dingin dan to the point setelah Andre mengangkat telponnya.
📱: Kayanya belum bisa, aku masih syuting Al..
"Syuting dimana? Biar aku kesana, ini penting kita harus ngobrol!" Andre diam berpikir. "Kalo gak ntar aku samperin ketempat kamu syuting ajalah! Aku maksa!"
📱: Eeh...jangan Al! Ya udah nanti selesai syuting aku kabari kamu. Kita ketemu ditempat lain aja.
"Bener ya, awas kalo bohong!" ancam Allea lalu mematikan ponselnya. Ia tak tau disana Andre meremas rambutnya frustasi dan belum menyiapkan mental untuk menemuinya.
Selesai menelpon Allea mengomel pelan sambil meruncingkan bibirnya. Hingga tak sadar Sandy mengawasinya dari tadi sambil menyesap kopi buatannya. Allea pun meletakkan ponsel dimeja makan lalu bergegas masuk ke kamar mandi sebelum Sandy sempat menanyainya.
Sandy pun makin penasaran, seolah tau Allea tengah menyembunyikan sesuatu. Ia mendekat ke meja makan dan membuka-buka ponsel istrinya. Semakin lama ia melihat, wajahnya makin berubah emosi, rahangnya mengeras, tangannya mengepal menahan amarah melihat isi ponsel Allea yang menunjukkan sejumlah bukti.
'Bedebah kamu Andre!' gumam Sandy karena benar-benar tak menyangka.
Ia pikir selama ini Andre tak terkait apa pun dalam permasalahannya dengan Amira. Tapi ternyata semua diluar dugaannya. Dan selama ini ternyata Allea juga diam-diam ikut menyelidiki hingga berhasil mendapatkan bukti. Ia sama sekali tak mengira Allea akan melakukan ini semua. Tapi kenapa Allea tak memberitahunya? Apa beberapa hari ini Allea berwajah masam karena hal ini? Muncul berbagai pertanyaan di kepala Sandy. Ia mendesah kesal lalu mengirimkan semua bukti-bukti kelakuan Andre itu ke ponselnya. Setelah terkirim Sandy menghapusnya dari chat ponsel Allea. Agar nanti Allea masih mengira ia belum tau semua itu. Sandy akan mengikuti sekaligus melihat dulu apa yang akan Allea lakukan setelah ini. Tapi ia juga tak akan diam saja dan hanya melihat. Sandy bertekad ingin mempersiapkan juga tempat yang layak untuk Andre. Ia merogoh sakunya dan menelpon Ananta yang sudah kembali bekerja lagi beberapa hari ini.
"Nan...cancel second opinion. Siapkan pengacara kantor kita saja!" titah Sandy.
📱: Lho tapi kenapa pak?
"Udah pokoknya lakukan saja. Nanti kita bicara lagi dikantor!"
__ADS_1
Buru-buru Sandy mengakhiri telponnya karena khawatir Allea tiba-tiba keluar dari kamar mandi dan mendengar percakapannya dengan Ananta. Allea akan menaruh curiga padanya. Sebisa mungkin Sandy memasang wajah biasa dan menelan dulu emosinya di depan Allea.