
Sementara sedikit jauh dari tempat itu ternyata ada dua orang yang diam-diam mengawasi Andre dan Allea. Ya, Sandy dan Nayla juga tengah ada di tempat itu dan mereka datang hampir bersamaan. Sandy ternga-nga takjub bercampur tak menyangka saat melihat Allea berani memukul Andre, terlebih bagian vitalnya. Sementara Nayla memekik sambil membungkam mulutnya membuat Sandy terkekeh melihatnya.
"Kenapa Nay? Koq Andre yang dipukul kamu yang shock? Biar aja masa depan dia penyok!" goda Sandy sambil menunjuk Andre.
"Hiih...kak Sandy, ya gimana gak shock, siapa tau masa depan aku ada disana kan?"
"Hah?!" Sandy melongo bingung mendengar ucapan Nayla.
Nayla pun spontan membungkam mulutnya yang kelepasan.
"Udah kak, sana cepat susulin Allea! Kasian dia nangis tadi kayanya!" kata Nayla mengalihkan topik.
Sandy pun mengangguk lalu berlari menjauh, tapi ternyata tak langsung mengejar Allea. Sandy mendekati Andre yang masih duduk memegangi perutnya. Nayla yang berniat akan berlari pula ketempat Andre jadi urung karena melihatnya.
Sekarang gantian Sandy yang menarik kerah baju Andre hingga cowok itu berdiri lalu menghimpitnya di badan mobil.
"Sandy?!" Andre melebarkan matanya tak menyangka Sandy tiba-tiba muncul.
"Orang brengsek berotak sampah kaya lu memang harus diberi pelajaran!"
"Tolong ampuni kesalahan gue, San.." lirih Andre memelas.
"Lu mau diampuni?" Andre mengangguki Sandy yang masih mencengkeramnya. "Ya udah, lu bikin konfirmasi pers soal semua kebusukan lu ini dan bersihin nama gue, bisa?!"
"Tolong jangan itu, karier gue bisa hancur San.."
"Lu takut karier lu hancur?! Terus gue gimana setelah semua fitnah yang kalian bikin, hah?!" sahut Sandy.
Andre diam tak menjawab. "Gak berani?! Pengecut ya lu ternyata? Oke kalo gitu, sampai ketemu di kantor polisi!" ancam Sandy melepaskan cengkeramannya lalu pergi menyusul Allea.
Mendengar Sandy akan mempolisikannya, pikirannya melayang jauh membayangkan ia akan benar-benar mendekam di balik jeruji besi. Wartawan pun akan sibuk mengupas berita buruk tentangnya. Pasti karirnya juga otomatis akan merosot turun. Ia akan hancur kalo sampai itu terjadi, hancur sehancurnya.
"Aaaaarghh...!!" Andre berteriak frustasi sambil meremas rambut dengan kedua tangannya.
Nayla tergopoh-gopong mendekatinya. "Dre...you oke?" tanya Nayla khawatir.
Andre tak menjawab hanya melirik Nayla sekilas lalu mendongakkan kepala sambil masih bersandar dimobilnya.
"Andre?" ulang Nayla mengguncang bahu Andre membuat cowok itu menoleh. "Kalo kamu marah, aku terima koq. Aku yang kirim bukti rekaman suara kamu ke Allea. Terus terang, aku juga bingung...kamu tau kan Allea itu sahabat aku. Aku sayang sama dia, hati aku ikut sedih liat rumah tangga dia kaya gitu" jelas Nayla tertunduk.
"Terus...kamu gak peduli sama aku? Kamu fine-fine aja misal sebentar lagi Sandy penjarain aku? Gak sedih, gitu?!" protes Andre.
__ADS_1
"Bukan gitu. Justru aku peduli juga sama kamu, aku gak pengen kamu terusin semua ini. Aku gak mau kamu ngelakuin cara kotor buat dapatin apa yang kamu inginkan!"
"Aku juga pengen stop Nay, aku capek! Tapi aku juga takut kalo ancaman Sandy tadi gak main-main.."
"Ya itu konsekwensinya, Dre. Kamu berani berbuat ya harus berani dong nanggung akibatnya. Makanya mikir dulu yang panjang sebelum bertindak!" omel Nayla.
Andre menghela nafas kasar sambil mengacak rambutnya.
"Yang penting kamu udah berusaha minta maaf dan tulus dari hati. Kamu benar-benar menyesal kan?"
"Iya. Tapi..aku juga gak siap kehilangan karir aku yang aku rintis dari nol.." kata Andre menghela nafas panjang. "Kalo boleh milih, aku bersedia bayar berapa aja, kerja apa aja buat nebus kesalahan aku asal jangan dibalik jeruji.." lanjut Andre tertunduk tak ingin terlihat oleh Nayla matanya yang berkaca-kaca.
"Mungkin tadi kak Sandy bilang begitu karena emosi. Coba tunggu sampai dia tenang dulu, besok baru kamu hubungi atau datangi untuk minta maaf lagi dan bicara baik-baik" usul Nayla.
Andre diam, ia pikir ada benarnya juga kata-kata Nayla.
"Aku juga gak bisa jamin sih, tapi gak ada salahnya kan dicoba?"
Andre mengangguk. "Ya, semoga aja Sandy berubah pikiran dan Allea juga mau buka pintu maaf buatku" kata Andre.
Nayla ganti mengangguk. "Nanti aku juga akan bantu bicara sama Allea kalo dia udah tenang. Aku kenal Allea seperti apa, hati dia mudah luluh sebenarnya.."
"Hmm...ya. Disini memang aku yang gak tau diri, punya teman dekat sebaik Allea malah aku bikin luka hatinya karena obsesiku. Harusnya aku sadar diri dan bisa lebih berpikir waras saat punya niat merebut Allea dari Sandy.." kata Andre tersenyum getir.
🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀
Allea mengernyit ketika melihat Sandy sudah siap pergi dengan baju semi formal. Ia sendiri masih rebahan di sofa kamar dengan mode malas ditemani beberapa majalah dipangkuannya. Entah kenapa setelah bertemu dengan Andre kemarin moodnya jadi kurang baik. Ia kembali sedih teringat peristiwa kehilangan bayinya. Untungnya Sandy sangat mengerti, ia membiarkan Allea sesuka hati ingin menikmati harinya seperti apa. Sandy juga tak mengijinkan Allea kuliah dulu dan menyediakan apa pun yang istrinya suka di apartemennya.
"Ini kan weekend? Koq udah rapi?" tanya Allea merubah posisinya menjadi duduk bersandar.
Sandy tersenyum lalu mendekat ke Allea dan mencium keningnya.
"Kamu mau nemenin? Temenin aku yuk?"
"Emang kemana?"
"Mau menyelesaikan urusan yang belum tuntas" jawab Sandy membuat Allea mengerutkan dahi.
"Kemarin kan kamu udah ketemu Andre, sekarang giliran aku ketemu Amira. Aku akan temui dia membawa semua bukti yang ada, dia pasti gak akan bisa mengelak lagi! Ditambah satu bukti CCTV lagi dari polisi, soal terlibatnya dia saat Ananta kecelakaan" lanjut Sandy dengan wajah menyiratkan sedikit emosi.
Allea mengelus kedua pundak suaminya lalu mengalungkan tangan dileher Sandy.
__ADS_1
"Ya udah, hati-hati. Semoga hari ini semuanya selesai dan dia benar-benar bisa menjauh dari kamu, dari kehidupan kita. Aku pengen hidup tenang"
Sandy menyatukan keningnya pada kening Allea. "Iya, aku harap juga gitu. Makanya aku pengen ditemani, kamu mau kan? Kemarin aku juga temani kamu waktu ketemu Andre?"
"Kenapa gak pergi sendiri? Lagian kemarin itu bukan nemenin namanya tapi dibuntutin! Orang aku gak tau kalo kamu ikuti" sungut Allea.
Sandy terkekeh. "Iya deh. Terus gimana, mau ikut kan?"
Allea memutar bola matanya terlihat berpikir. "Ya udah, tapi aku nanti mau tunggu di mobil aja. Males ntar dibilang posesif sama si uler keket!"
Sandy tertawa. "Iyaa, terserah kamu aja, sayang" jawab Sandy lalu mencuri cium bibir Allea sekilas.
Mereka pun bersiap dan segera menuju tempat yang disepakati untuk bertemu. Mobil Sandy membelah jalanan kota yang belum begitu padat itu. Ia tak sabar ingin menunjukkan bukti itu di depan Amira, mobil pun melaju sedikit diatas rata-rata. Untung Allea tak protes dan masih asyik dengan buku yang ia bawa. Sandy tersenyum dan sesekali mengelus pucuk kepala Allea.
"Kamu beneran gak mau ikut turun?" tanya Sandy begitu mereka sampai.
Allea menggeleng. "Kamu aja, biar aku tunggu disini"
"Okey, aku gak akan lama koq"
Sandy pun berjalan masuk setelah Allea mengangguk. Sandy sebenarnya ingin Allea ikut turun menemui Amira, ia ingin menunjukkan bahwa rumah tangga mereka baik-baik saja. Tapi sepertinya Allea tak ingin ikut terlibat, ia pun tak berani memaksa. Takut mood Allea bertambah buruk nantinya.
Allea pun sebenarnya tak benar-benar acuh, dari mobil ia tetap mengawasi suaminya yang sudah ditunggu oleh Amira yang datang lebih dulu. Allea mengeratkan rahangnya saat melihat Amira menghambur akan memeluk Sandy tapi dengan cepat Sandy menepisnya. Mereka lalu duduk berhadapan dan Sandy terlihat berbicara langsung pada topiknya. Karena terlihat saat Sandy mulai mengeluarkan ponsel dan menunjukkannya di depan Amira. Ditambah sebuah map berisi kertas, entah apa itu Allea tak paham.
Setelah membaca kertas itu Amira menangis sambil terlihat memohon tapi Sandy bergeming. Baru ketika tangis Amira semakin menjadi Sandy berbicara sesuatu sambil menunjuk ke arah mobilnya. Allea mengernyit dan makin kaget saat Amira tau-tau berjalan cepat kearah mobil Sandy. Amira mengetuk kaca mobil dengan masih menangis, Allea pun terpaksa menurunkan setengah kaca mobilnya. Di belakang Amira, Sandy sudah menyusul dengan wajah menahan marah.
"Al..bisa tolong turun dulu, kita bicara sebentar?" tanya Amira dengan berderai air mata.
Allea bingung, ia ingin turun karena tak tega tapi Sandy menggeleng tegas.
"Kamu mau bicara apa?" tanya Allea datar.
"Aku minta maaf Al untuk semua yang sudah aku lakukan. Aku minta maaf dari hati, tapi aku mohon jangan laporkan aku ke polisi." isak Amira membuat Allea melebarkan matanya ke arah Sandy.
Sandy pun membuang muka sambil memasukkan kedua tangan disaku celananya. Memang ia belum memberitahu Allea perihal melaporkan Andre dan Amira ke polisi. Allea terpaksa membuka pintu mobil dan belum sempat ia keluar Amira sudah bersimpuh duduk memegangi tangan Allea.
"Aku pengen minta tolong satu hal lagi, aku mohon kamu sudi mengabulkannya.."
"Amira..kamu mau apa?" tanya Allea panik. "Apa pun keputusan suami aku akan aku ikuti. Jadi kamu gak perlu mohon-mohon seperti ini, percuma!" jawab Allea tanpa ingin tau permintaan Amira.
"Aku cuma minta pengakuan dari Sandy soal anak ini misal media membahasnya, cukup sampai dia lahir aja..." kata Amira membuat Allea melotot kaget.
__ADS_1
"Apa??" lirih Allea hampir tak terdengar.
Ia tak mengira Amira akan memberinya penawaran konyol ini.