Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
98. Istri Mantan Napi


__ADS_3

"Dre...kamu kenapa? Andre?" Nayla mengguncang bahu Andre yang masih bergeming.


"Andre?! Kesambet kamu?!" goda Nayla memegang kedua sisi wajah Andre.


"Enggak.." jawab Andre masih dengan pandangan kosong.


"Ya terus kenapa? Jangan bikin aku takut dong!"


"Aku cuma kaget aja tau Allea hamil, ya..antara senang dan sedih juga teringat lagi apa yang pernah aku lakukan dulu, secara gak langsung aku yang membuat Allea keguguran. Aku merasa bersalah tapi juga bersyukur Allea akhirnya hamil lagi.."


Nayla tersenyum lalu mengusap punggung Andre. "Ya udah..jangan diingat lagi kejadian kelam yang udah lewat. Cukup bersyukur aja terus doain Allea biar kehamilannya kali ini sehat dan lancar"


"Iya..." jawab Andre datar.


Nayla memandang wajah Andre dengan tatapan menyelidik. Ia tak langsung percaya dengan alasan Andre. Bahkan pikiran Nayla sempat terbesit jika Andre shock mendengar Allea hamil, karena Andre masih menyimpan rasa.


"Koq ngeliatin aku gitu?"


Nayla terperanjat lalu menoleh ke arah lain begitu Andre tau saat ia menatapnya.


"Eh...enggak koq!"


"Kenapa?" kejar Andre.


"Enggak...gak papa, Dre!"


"Gak papa koq ngeliatinnya begitu? Kalo ada yang kamu pikirkan lebih baik ngomong langsung ke aku. Barangkali ada sesuatu yang bisa aku perbaiki atau aku bantu mungkin?" kata Andre ganti menelisik ke wajah Nayla.


"Ntar kamu marah kalo aku ngomong..?"


"Enggak. Apa? Ayo ngomong.."


"Emm...ya gak papa sih, tadi aku cuma kepikiran aja apa jangan-jangan hati kamu sebenarnya gak rela tau Allea hamil. Kan aku tau kaya apa dulu kamu ke Allea. Aku cuma mikir aja, apa tadi kamu shock karena hopeless, gagal jadi 'penanam saham' gitu.."


Seketika Andre terkekeh mendengar kata-kata Nayla. Ternyata Nayla masih ingat apa yang pernah ia katakan dulu. "Enak aja. Nayla Anastasia...kalo ngomong pliss jangan asal!" kata Andre mendorong pelan kening Nayla dengan kepalan tangannya.


"Ya kan aku cuma ngomong yang ada dipikiran aku! Katanya suruh cerita tadi.." sungut Nayla.


Andre berhenti terkekeh lalu menatap Nayla dengan tatapan yang sulit Nayla artikan.


"Nay...percaya sama aku. Aku udah tutup buku untuk semua cerita dan kenanganku dengan Allea semenjak aku masuk kesini. Aku sangat berusaha dan belajar mengikhlaskan apa yang bukan jadi takdirku. Dan makin hari aku makin paham apa dan siapa yang pantas aku perjuangkan..." kata Andre panjang.


"Terus terang tadi aku juga kepikiran Zeefana, sebelum aku tau kalo Allea hamil...aku ingin Allea bersedia mengurus Zeefana. Tapi karena aku tau Allea hamil tadi, makanya ada rasa sedih juga karena gak mungkin kalo aku minta Allea mengurus Zee. Lagipula belum tentu juga Sandy mengijinkan.." Andre menjeda dengan helaan nafas. "Aku pengen secepatnya keluar dari sini, biar aku bisa mengurus Zee sendiri tanpa merepotkan orang lain. Kasihan Zeefana..." lanjut Andre menerawang.


"Emang kamu bisa ngurusin bayi?" tanya Nayla sangsi setengah tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Yaa...pasti tetep butuh bantuan suster, tapi seenggaknya kan gak perlu mengganggu Allea dan aku masih bisa pantau. Dari pada sekarang, yang aku dengar tuh Zeefana sering banget seharian full sama suster. Karena oma opanya lagi sibuk-sibuknya diluar kota dan gak mungkin untuk dibawa."


"Kasihan ya..." Lirih Nayla trenyuh teringat wajah polos Zeefana.


"Makanya kan...tapi apa mungkin aku bisa cepat mengurusnya sendiri? Sedangkan hukuman aku aja belum ada setahun..." Andre mengusap wajahnya, Nayla melihat ada kesedihan bercampur galau disana.


Tapi diam-diam ia mengulum senyum, ada rasa senang, bangga sekaligus haru hatinya mendengar ucapan Andre. Ia merasa sekarang Andre makin dewasa dalam berpikir. Mungkin tempat inilah yang ikut berperan mengubah diri Andre, Andre tak lagi egois dan meledak-ledak karena obsesinya seperti dulu. Nayla pun diam-diam mendoakan agar sifat positif Andre ini tak hanya ditempat ini saja tapi akan terus melekat sampai Andre bebas nanti.


Nayla sedikit tergeragap saat Andre meraih pergelangan tangannya. "Ini buat kamu, dipakai ya!"


"Bagus banget! Ini kamu yang bikin?" tanya Nayla sambil mengamati gelang anyaman dengan inisial namanya dibagian tengahnya.


"Iya, kemarin kita diajari bikin ketrampilan kaya gitu. Aku juga bikin satu lagi.."


'Jangan-jangan buat Allea?' batin Nayla was-was.


"Ini untuk Zeefana.." kata Andre.


Nayla merutuki pikiran negatifnya pada Andre. Ternyata bukan untuk Allea seperti yang ia kira. Diraihnya gelang mungil warna baby pink itu, ada tulisan 'zee' disana.


"Bagus, imut gelangnya..kamu jago banget bikin. Pasti Zeefana suka deh.." kata Nayla memuji hasil karya Andre.


"Ah..masih amatiran koq" jawab Andre tersipu senang mendengar Nayla memujinya. "Oiya, Allea ngidam apa btw?" lanjut Andre tiba-tiba penasaran.


"Oh iya, tau gak Allea tuh bumil paling enak mungkin ya.." sahut Nayla membuat Andre menaikkan alis. "Dia tuh sama sekali gak ada morning sickness, ngidam aja katanya jarang!"


"Ya tapiii...ada tapinya, ngidamnya pindah ke kak Sandy! Dari morning sickness, gak suka bau parfum sampai pengen makan ini itu pokoknya kak Sandy yang nanggung deh! Bahkan kata Allea kak Sandy sama sekali gak ngeluh malah menikmati sindrom kehamilan simpatiknya. Coba kamu bayangin Dre..gimana gak bahagia jadi Allea?" cerocos Nayla tak sadar membuat hati Andre mencelus.


Tapi Andre berusaha bersikap biasa, ia tau diri namun tak bisa ia pungkiri masih ada rasa cemburu mendengar semua yang Nayla katakan. Ia sedikit cemburu pada Sandy yang menurutnya beruntung, bisa menggantikan sesuatu yang biasanya menyiksa bagi sebagian orang hamil. Tapi Sandy dengan gentlenya mau bahkan menikmati hal itu. Tiba-tiba Andre merasa malu, ia teringat dulu pernah mengatai Sandy cemen karena tak tahan dengan bau vanila dari vapornya. Nyatanya sekarang, ia bahkan tak ada apa-apanya dibanding cowok yang ia katai cemen itu. Ia akui, cinta Sandy untuk Allea memang lebih besar dan nyata di banding miliknya dulu. Sandy bukan sekedar berjuang mendapatkan Allea tapi juga total memberikan rasa sayang dan cintanya untuk wanita yang pernah ia puja itu.


"Aku ikut bahagia dengar Allea hamil meskipun sedikit kaget. Dan soal Sandy yang gantiin ngidam, yaah...itu wajar aja sih namanya juga suaminya kan?" kata Andre tak mau memuji Sandy didepan Nayla.


"Iya memang, tapi jarang lho ada yang begitu ikhlas kaya kak Sandy!" bela Nayla.


"Besok misal kamu hamil aku juga mau koq nanggung ngidamnya!" celetuk Andre spontan.


"Ha?" Nayla melongo kaget. "Apa Dre?"


"Eh...ehm, maksud aku besok kalo aku udah nikah aku juga mau nanggung ngidamnya istri aku, gitu..." jawab Andre sedikit salting membuat Nayla terkikik. "Kamu juga belum tentu mau sama bekas napi.." lanjut Andre lirih lalu menyuap makanan didepannya.


"Ngomong apa sih ini? Gak enak banget didengar, ganti topik ahh!" jawab Nayla sewot mendengar Andre ngomong 'bekas napi'.


Andre tersenyum tipis lalu lanjut menyuap lagi makanannya.


'Benar kan? Kamu pasti gak sudi punya suami mantan napi, kamu hanya kasian ke aku...' batin Andre pahit.

__ADS_1


Padahal tak demikian, Andre tak tau hati Nayla memang tulus. Andre bahkan tak tau sekuat apa Nayla mengatur detak jantungnya agar tak jedag-jedug mendengar kata-katanya tadi.


       🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀


Sore ini di rumah pak Roby, acara syukuran empat bulanan di gelar. Atas kesepakatan bersama, tempat sengaja dipilih dirumah Sandy. Undangan pun tak begitu banyak, hanya orang-orang pilihan keluarga dan tetangga kanan kiri sesuai keinginan Sandy dan Allea. Acara pun berlangsung lancar dan khusyuk, jam sembilan malam para tamu undangan sudah pulang dan hanya satu dua yang masih mengobrol di teras depan dengan pak Roby dan Sandy. Sementara Allea duduk di ruang keluarga ditemani Nayla dan Rania.


"Huufh...legaa banget acara udah selesai, lancar sesuai keinginan...ya dek?" kata Allea seolah berbicara dengan bayinya sambil mengelus perutnya yang mulai sedikit menyembul.


"Iya Al, aku ikut senang. Berarti udah mulai masuk trimester kedua ya?"


"Iya Ran, semoga aja kak Sandy udah gak ngidam lagi, kasian.." jawab Allea lalu mereka tertawa.


"Oiya Al, kapan hari Andre nitip salam ke kamu, katanya semoga lancar untuk acara empat bulanannya, gitu.." cerita Nayla.


"Oh ya? Dia udah tau kalo aku hamil ya?"


"Iya Al, gak papa kan?"


"Gak papa, Nay. Sampaikan terimakasih ya kalo kamu ketemu dia lagi" jawab Allea.


"Okey. Tapi aku belum tau mau jenguk lagi kapan, dia tuh kadang aneh ngomongnya. Meskipun sekarang menurutku banyak berubah jadi lebih baik.."


"Ngomong aneh gimana maksudnya?" Rania jadi penasaran diikuti anggukan Allea.


Nayla lalu menceritakan pertemuan terakhir kemarin dengan Andre, juga omongan Andre soal ingin mengasuh Zeefana dan kata-kata Andre soal ngidam yang tertuju padanya. Rania terkekeh mendengarnya, sementara pikiran Allea malah tertuju pada Zeefana,ia merasa iba pada bayi mungil yatim piatu itu.


"Jangan ngetawain dooong!" Nayla mendorong pelan bahu Rania sambil tersipu.


"Kamu nih gak peka deh Nay, berarti Andre tuh ada maksud ke kamu!"


"Maksud apa sih, Ran? Jangan bikin hoax deh!"


"Ya itu tadi, kalo besok kamu hamil dia mau nanggung ngidamnya kaya kak Sandy, berarti kan Andre tuh pengen punya masa depan bareng kamu. Ah, Nayla nih, masa kaya gini aja masih perlu penjelasan sih?!" kata Rania gemes.


"Yaa aku kan gak punya stok kePEDEan sebesar itu dong, Andre mana mau sama yang model kaya aku. Dia begitu karena cuma aku yang jadi temannya saat ini.." kata Nayla merendah.


"Ya tapi kan Andre kemarin udah ngomong Nay, biarpun secara gak langsung!"


"Aku tuh butuhnya yang 'live' alias siaran langsung Raniaaa.. Kalo gitu kan gak jelas! Dia juga belum mempertegas koq, biarin dulu deh.." jawab Nayla bergaya sok centil. Rania memutar bola matanya lalu menepuk dahi. Allea terkikik melihat dua sahabatnya beradu argumen.


"Emang misal suatu saat Andre berani mempertegas, kamu mau gak?" tanya Allea to the point. Nayla menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Gak tau ah, pusing. Aku mau liat dulu sikap dia ini berubah gak kalo misal besok udah keluar dari lapas. Eh tapi, masih lama ya..?" jawab Nayla sambil menerawang membuat Allea merasa tertohok. Karena secara tak langsung ia dan suaminya yang turut andil membuat hukuman Andre jadi selama itu.


"Kamu gak malu kan misal jadi istri mantan napi?" goda Rania.

__ADS_1


"Ya enggaklah..aku terima masa lalu suamiku, apapun dan siapapun dia.." jawab Nayla datar tapi terlihat serius.


__ADS_2