
Allea mengerjap lalu perlahan membuka matanya, ia melihat langit-langit ruangan yang asing baginya. Di cobanya mengingat-ingat dimana dirinya sekarang dan apa yang sebelumnya terjadi. Seketika ia ingat Sandy yang tadi menyelamatkannya dari jeratan ranting di sungai saat mereka rafting. Lalu perlahan ia berniat bangun, tapi tangan kanannya tertahan. Ketika ditoleh ternyata ada Andre yang tertidur disampingnya sambil memegangi tangannya. Allea menghela nafas kecewa, padahal ia mau Sandy yang ada disampingnya. Kemana Sandy? Kenapa Andre yang disini?
"Andre.." panggil Allea sembari perlahan ia melepas genggaman tangan Andre.
"Eh...kamu udah bangun?" Andre pun terjaga lalu menggeliat dan mengucek matanya.
"Ini dimana?" tanya Allea yang masih bingung.
"Ini di klinik, gak jauh dari tempat kita rafting tadi.." jawab Andre lalu Allea membulatkan bibirnya. Seketika Allea tertegun melihat baju yang menempel di badannya.
"Yang gantiin baju aku tadi siapa Dre?" tanya Allea membuat Andre terkekeh. "Jangan-jangan kamu?" tuduh Allea.
"Bukan Allea.. Tadi perawat yang gantiin, masa ya aku?"
"Terus kamu ngapain disini?" tanya Allea. Andre pindah duduk di samping Allea.
"Ya aku jagain kamu lah, tadi kamu pingsan kelelahan. Sampai kaki kamu di obati aja kamu gak sadar kan?" jawab Andre membuat Allea langsung melihat ke pergelangan kaki kirinya yang kini di balut perban. Selama itu kah ia pingsan? Batin Allea. Lalu dimana Sandy? Gimana keadaannya sekarang?
"Mana kak Sandy?" tanya Allea tiba-tiba. Andre berdecak.
"Pikirin kesehatan kamu dulu.."
"Aku udah baikan. Dimana kak Sandy?" ulang Allea merasa Andre tak menjawab pertanyaannya. Allea beranjak turun, kakinya terasa sedikit senut-senut saat ia menapak.
"Kamu mau kemana Allea?" kejar Andre. Allea berjalan tertatih ke arah pintu. Andre berusaha memapah Allea.
"Aku mau cari kak Sandy, kamu gak mau kasih tau sih.." jawab Allea melepas tangan Andre dipundaknya.
"Sandy gak apa-apa.."
"Ya tapi aku pengen lihat sendiri"
"Kaki kamu belum boleh buat jalan cepat-cepat" kata Andre mengingatkan.
Belum sempat Allea menjawab Nayla muncul di pintu dan menghambur memeluk Allea.
"Kamu udah sadar Al, syukurlah.." kata Nayla.
"Iya. Aku udah gak apa Nay. Oiya, kamu tau kak Sandy dimana?"
Nayla menghela nafas tersenyum. "Kak Sandy ada diruangan sebelah ini, tenang aja dia gak papa koq.." lanjut Nayla. Allea bernafas lega.
"Kamu bisa anterin aku kesana?" tanya Allea. Nayla mengangguk.
"Yuk.." ajak Allea tapi Nayla menahan.
"Oiya Al, tadi aku minta Andre chat ke mas Arga kasih tau yang terjadi disini dan kondisi kamu sekarang" cerita Nayla.
"Hah...aduuh Nayla, kenapa di kasih tau sih? Nanti takutnya mama aku khawatir lagi kalo mas Arga cerita.." kata Allea menoleh ke Andre lalu menggaruk kasar kepalanya.
"Gak papa Al, aku tadi bilang kamu baik-baik aja koq. Mas Arga gak akan kasih tau mama kamu.." kata Andre menenangkan. Allea berdecak.
"Iya Al, lagian aku tadi juga khawatir, kamu koq belum sadar udah hampir sejam..maaf ya?" Nayla menimpali.
"Ya udah, aku mau telpon mas Arga dulu, tas aku dimana ya?"
__ADS_1
Andre menunjuk kursi disebelah bed Allea. Lalu Allea segera berjalan mendekat ke ranselnya untuk mengambil ponsel.
"Jangan cepat-cepat Allea, kaki kamu...ingat!" tandas Andre.
"Lupa" kata Allea nyengir.
Allea pun menelpon kakaknya, sekitar sepuluh menit ia mengobrol dengan Arga. Meyakinkan kakaknya kalo dia dan Sandy baik-baik aja. Allea juga berpesan pada Arga untuk tidak perlu menjemputnya kesini. Ia akan tetap pulang bareng kelompok mapala kampusnya. Allea pun mewanti-wanti agar jangan ceritakan hal ini dulu ke mamanya, ia takut mamanya khawatir dan tak akan memberinya ijin kegiatan mapala lagi.
Selesai menelpon Allea mengajak Nayla menuju kamar Sandy di rawat. Andre tampak diam sambil tersenyum kecut tak ingin mengekori Allea. Tapi baru sampai pintu Allea melihat seorang cewek sudah berdiri di depan Sandy. Amira.
'Ngapain tu cewek kesini?' batin Allea kesal.
"Itu Amira kan?" tanya Nayla berbisik. Allea mengiyakan. "Aku tunggu disini aja Al" lanjut Nayla. Allea mengangguk, ia terus melangkah masuk.
Di nakas samping Sandy tampak ada parcel buah dan sekotak kue. Terlihat juga Sandy seperti sedang beradu mulut sambil menatap tak suka pada Amira.
"Allea, sayang..." panggil Sandy sambil mengulurkan tangannya begitu melihat Allea muncul di pintu. Amira menoleh menatap Allea sinis. Allea pun mendekat di samping Sandy, memegang tangannya. Lalu ia melirik Amira sekilas.
"Gimana keadaan kamu?" tanya Allea. Sandy tersenyum tapi wajahnya masih ada sisa-sisa lelah.
"Aku udah baikan sayang. Kamu gimana?"
"Aku juga gak papa. Ehm, koq dia ada disini, ngapain?" tanya Allea pelan. Amira terlihat memutar bola matanya sambil melipat tangan di dada.
"Gak tau sayang! Aku gak nyuruh dia kesini koq.." jawab Sandy berbisik.
"Ya terus? Dia tau mana?" kejar Allea.
"Kebetulan aku tau kegiatan ini dari web kampus. Aku kesini inisiatif aku sendiri koq.." tiba-tiba Amira menyela. "Tadinya sih pengen liat Sandy rafting, tapi malah kaya gini keadaannya gara-gara nolongin kamu.." lanjut Amira masih menatap Allea tak suka.
"Oh ya?" Amira mendengus.
"Kenapa? Kamu keberatan?" tanya Allea santai.
"Jelaslah...aku gak rela ngeliat Sandy kaya gini, dulu aja waktu kita dekat aku gak pernah bikin dia kaya gini.."
"Cukup Amira!" sela Sandy. "Tolong pergi sekarang!" usir Sandy. Sandy memegang tangan Allea erat lalu menatapnya. Allea menggeleng sambil tersenyum tipis mengisyaratkan agar Sandy menahan diri.
"Kenapa sih..aku kan cuma bicara apa adanya.." rengek Amira manja.
"Iya..aku tau. Kamu gak pernah bikin kak Sandy kaya gini, karena kan kamu gak punya love storie..status aja juga gak jelas. Kalo kita kan..." Allea menggantungkan kalimatnya lalu melihat ke arah Sandy yang balas tersenyum mendengar Allea bisa membalas kata-kata Amira. Sandy lalu mencium tangan Allea.
Terlihat wajah Amira jengkel melihatnya terlebih mendengar Allea berkata seperti itu.
"Tapi kan semua juga tau, aku yang pertama ada di hati Sandy, bukan kamu.." kata Amira bangga.
Sandy menghela nafas memegang keningnya frustasi mendengar Amira masih saja menggali cerita masa lalu mereka di depan Allea. Ia makin erat menggenggam tangan Allea, ia takut Allea akan berlari pergi keluar dari sana. Tapi ternyata...
"Iya..itu benar koq, kamu memang yang pertama..yaa biarpun cuma seumur jagung dan ninggalin luka. Terus sekarang pengen balik lagi biarpun udah ditolak, ngenes banget ya.." jawab Allea pura-pura berekspresi kasihan tapi penuh ejekan. Amira meradang, ia menghentakkan kaki dengan kesal.
"Kamu..!" tunjuk Amira emosi.
"Kenapa?" sahut Allea santai. "Gak malu ya? Kalo dulu udah ninggalin ya sekarang jangan minta lebih dong. Kan udah ada yang punya juga.." lanjut Allea tersenyum manis ke Amira.
"Aargh...awas ya kamu! Liat aja nanti!" teriak Amira malu bercampur jengkel lalu berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Pintu keluar kiri lurus aja ya.." kata Allea sambil melambai centil menertawai Amira.
"Sayang...kamu ternyata jago juga ya ngadepin yang model gitu. Belajar darimana?" Sandy merengkuh Allea hingga duduk lebih mendekat.
Allea cuma tersenyum simpul sambil menaikkan alisnya.
"Rahasia dong. Lagian dulu udah sia-siain kamu koq sekarang gatel" sungut Allea membuat Sandy tersenyum mengelus rambutnya. Memang Amira gak tau diri, batin Sandy.
"Kenapa tadi tu orang? Hampir aja mau nabrak aku, jalan gak pake mata. Aku siram teh panas juga lama-lama.." Nayla masuk meletakkan dua gelas teh sambil mengomeli Amira. Sandy dan Allea tertawa.
"Biasa Nay, orang aneh.." jawab Sandy. Nayla ikut tertawa.
"Oiya Al, kata perawatnya tadi kamu udah bisa pulang. Kalo kak Sandy nunggu infus habis dulu.." jelas Nayla.
"Iya Nay, makasih ya", jawab Allea tulus. Nayla mengacungkan jempolnya.
"Makasih ya Nay, aku masih lama dong berarti...",Sandy mendongak melihat kantong infusnya yang masih setengah lalu berdecak.
"Ya gak papa kak, biar vit dulu kondisi kamu. Sabar.." kata Allea mengusap punggung Sandy.
"Ya udah kalo gitu aku mau ke tempat anak mapala kumpul dulu, ngabari mereka. Soalnya tadi pada nanyain kondisi kalian. Gak jauh dari sini koq.." pamit Nayla.
"Ya Nay, salam ya...bilangin kita udah gak papa.." kata Sandy yang diiyakan Allea.
"Eh iya Nay, ini kamu bawa aja!" seru Sandy menunjuk oleh-oleh dari Amira di nakas.
"Beneran kak?" Sandy mengangguk menyilakan. "Okey, makasih ya kak.." ucap Nayla sambil memungut semua makanan bawaan Amira lalu melenggang keluar dengan girang.
"Udah nyicip belum tadi makanannya? Koq disuruh bawa Nayla semua?" goda Allea setelah Nayla keluar.
"Gak minat nyicip" jawab Sandy datar sambil meraih ponselnya di nakas.
"Oh ya, terus minatnya nyicip apa dong?"
"Yang ini.."
Cup...dengan cepat Sandy mengecup bibir Allea. Spontan Allea menyikut perut Sandy gemas.
"Aduh..." Sandy merintih memegang perutnya.
"Eh...maaf sayang, habis kamu sih asal cium aja. Kalo ada yang liat gimana?" omel Allea sambil mengelus perut Sandy.
Sandy mengulum senyum, ia tau Allea tak sengaja. Lagi pula entah kenapa rasa sayangnya pada Allea terasa makin besar setelah mereka melewati bahaya bersama di sungai tadi. Sandy makin merasa takut kehilangan.
"Kita foto disini yuk?" ajak Sandy.
"Buat apa sih foto disini? Lagi pake baju klinik gini nih.." kata Allea menutup wajahnya.
"Ya gak papa. Biar jadi kenangan aja, kita sama-sama bukan cuma pas senang tapi juga pas susah kaya gini" jawab Sandy. "Mukanya jangan ditutup dong sayang.." kata Sandy berusaha membuka tangan Allea yang menutup wajahnya tapi Allea menolak.
Sandy menggelitik pinggang Allea hingga mereka tertawa-tawa. Akhirnya Allea menuruti kemauan Sandy ,ia takut infus Sandy lepas kalo terlalu kuat bergerak.
Mereka gak sadar dari tadi ada yang diam-diam mengintip dari sela jendela. Andre. Untuk ke sekian kalinya rencana yang ia susun bersama Amira gagal. Ya, tentu saja tadi Amira kemari karena info darinya. Andre berharap Allea akan cemburu saat tau Amira bersama Sandy dikamar klinik. Lalu mereka bertengkar, Allea keluar meninggalkan Sandy untuk kemudian menangis dipelukannya.
Tapi ternyata semua tak seperti yang Andre kira. Hubungan Allea dan Sandy malah makin mesra, terlebih saat ia melihat Sandy mengecup bibir Allea. Benar-benar membuatnya meradang, belum lagi Amira yang mengiriminya chat berisi umpatan karena menurut Amira ide Andre berefek sangat buruk baginya. Allea bahkan bisa membuatnya malu di depan Sandy. Allea ternyata tak selembek yang ia kira, itu yang belum Amira paham..
__ADS_1