
"Haaahh...!!!” Andre meninju udara dengan marah mendengar cerita dari Adin, OB palsu suruhannya.
"Maap tuan, saya juga gak nyangka akan bertemu mereka disana.." jawab Adin takut.
"Kamu harusnya pake topi atau masker gitu kalo keluar, jangan asal jalan aja!" tunjuk Andre ke muka Adin.
"Karena saya pikir aman..soalnya supermarket itu kan jauh dari apartemen tempat tinggal mereka.."
"Ya tapi nyatanya apa?! Ketahuan juga kan!"
"Tapi tadi saya gak sebut nama tuan sama sekali koq, ben-"
"Jawab terus aja kamu!!" bentak Andre murka. Adin pun terjingkat kaget.
"Ta-tapi...saya tadi berhasil lolos koq tuan" Adin masih membela diri.
"Gimana tadi cara kamu lolos?" selidik Andre.
"Ya saya berontak sekuat tenaga terus saya sempat dorong istrinya sampai jatuh, reflek aja sih...soalnya dia mau menghalangi saya waktu-"
"Goblok!!" sembur Andre menyela. Adin kembali terjingkat. "Target kamu itu Sandy, jangan sentuh Allea!"
"Saya reflek tuan.."
"Aarghh, gue gak mau dengar lagi alasan lu! Besok gue akan minta CCTV parkiran supermarket itu, kalo sampai muka lu keliatan...lu harus siap pergi dari kota ini, ngerti?!"
"Tapi...saya harus kemana tuan? Kerjaan saya gimana disini?"
"Itu urusan gue, nanti biar gue atur termasuk kerjaan lu. Gak usah khawatir!"
"Tapi saya gak mau lagi dikasih kerjaan kaya kemarin tuan..sudah cukup, saya takut kena karma tuan" kata Adin menunduk takut. Andre menaikkan satu tangannya menyuruh Adin diam.
"Lu tenang aja. Setelah beres masalah CCTV lu akan gue kabari harus kemana selanjutnya.." kata Andre melangkah pergi sembari menghisap vapornya. Meninggalkan Adin yang mengangguk sambil tertunduk merasakan semakin ada penyesalan dihatinya.
🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂
Satu jam kemudian Allea sudah didorong keluar dari ruang tindakan kuretase menuju ruang rawat VIP yang sudah di pesan oleh Sandy.
"Allea..." kata Sandy pelan. Reflek ia berdiri dari kursi tunggu.
Semua yg menunggu langsung mengikuti sampai depan ruang rawat Allea. Allea terlihat belum sadar dan wajahnya pucat.
"Pak Sandy, kemungkinan pasien akan sadar sekitar satu sampai dua jam lagi" kata dokter yang mengiringi Allea. "Setelah itu harus banyak istirahat dan belum boleh beraktifitas dulu, ada kemungkinan pasien akan merasakan nyeri diperut setelah sadar nanti tapi itu hal yang wajar" lanjut dokter. Sandy mengangguk-angguk.
"Ya dok. Boleh ditemani di dalam kan dok?" tanya Sandy.
"Boleh saja. Tapi jangan terlalu banyak orang ya dan sebaiknya bergantian. Saya permisi ya.."
"Terimakasih dok" ucap Sandy mengangguk dibalas anggukan pula oleh dokter yang kemudian berlalu.
Begitu selesai ditempatkan dan suster pergi, Sandy perlahan mendekat duduk di samping ranjang Allea. Ia menyisir dari wajah dan berhenti di perut rata Allea. Beberapa waktu sebelum di tempat ini ada sesuatu yang indah tengah tumbuh disana, yang bahkan belum mereka sadari. Tapi sekarang...
__ADS_1
Sandy menghela nafas lalu meraih pelan tangan Allea, mengecupnya cukup lama dan menggenggamnya.
"Sudah..jangan terlalu dibuat stress. Kamu juga harus istirahat, jangan sampai gak tidur ya.." kata mama Tiara mengelus pundaknya.
Sandy mendongak melihat mertuanya yang selalu memberikan kata-kata menentramkan hati. Sungguh Sandy merasa beruntung, ia merasa menemukan kembali sosok mama Shafia di dalam diri mertuanya ini. Hangat, penyayang dan cara bicaranya selalu menyejukkan, yang menurun pula pada Allea.
"Makasih ya mah" kata Sandy tulus. Mama Tiara mengangguk tersenyum.
"Papa kamu sudah tau tentang ini?" tanya mama Tiara. Sandy menggeleng.
"Aku belum berani kasih tau mah.." jawab Sandy bimbang karena ia tau pasti papanya pun akan menjadikannya tersangka atas keadaan Allea saat ini. Apalagi pak Roby pun juga sangat menginginkan cucu darinya.
"Gak papa ,kabari aja. Beliau juga berhak tau, apa pun nanti reaksinya kamu terima aja, sabar.. " kata mama Tiara seolah tau apa yang Sandy pikirkan.
"Ya mah ,nanti aku kabari papa. Mama menginap disini kan?" tanya Sandy. Mama Tiara tersenyum lagi.
"Mungkin mama cuma tunggu sampai Allea sadar, setelah itu mama sama papa pulang, kasian Arga...tadi dia bilang gak bawa kunci rumah. Besok pagi mama kesini lagi" jelas mama Tiara.
Sandy mengangguk. Tak lama kemudian ponsel mama Tiara bergetar, ada chat masuk dari papa Raffanda.
"San, mama keluar dulu ya..papa pengen gantian masuk" kata mama Tiara akan beranjak.
"Ehm...mah, biar aku aja yang keluar. Mama papa silakan disini dulu gak papa. Aku panggilkan papah ya" usul Sandy lalu beranjak keluar.
"Owh...ya sudah kalo gitu, makasih ya" kata mama Tiara dibalas senyum tipis oleh Sandy.
Beberapa saat kemudian Sandy membiarkan kedua mertuanya di dalam. Sedangkan ia diluar berusaha menghubungi papanya. Tapi beruntungnya, beberapa kali Sandy telpon tapi tak dijawab oleh pak Roby. Jadi ia hanya mengirimkan chat saja mengabarkan kondisi Allea sekarang. Seperti apa marah papanya nanti ia akan terima, memang ia pantas menjadi bagian yang disalahkan. Karena ia lalai menjaga Allea meskipun itu bukan kesengajaan.
Tiba-tiba ia teringat Mario yang rumahnya pun tak jauh dari supermarket itu. Secepatnya ia mengirim chat, meminta tolong agar besok jam 7.30 begitu office supermarket buka Mario segera kesana. Menemui pihak office dan meminta rekaman CCTV. Sandy benar-benar ingin tau kemana larinya OB gadungan itu atau paling tidak ingin tau nomor kendaraannya agar bisa dilacak. Tak berapa lama Mario pun membalas dan menyanggupinya. Sandy sedikit lega, ia mencoba menelpon papanya kembali tapi tetap tak diangkat. Sandy menghela nafas kasar memijit keningnya.
"Papa kemana sih ini?!"
"Sandy!"
Sandy terperanjat tiba-tiba mama Tiara sudah di depannya.
"Ya mah?"
"Allea udah sadar, nanyain kamu tuh.."
"Owh ya mah" buru-buru Sandy akan berlari masuk.
"San, tunggu.." tiba-tiba mama Tiara menghentikan langkahnya. Sandy pun menoleh. "Mama sudah kasih tau kondisi Allea sekarang dan mama sudah memberi pengertian juga ke Allea, misal nanti dia bersikap gak seperti yang kamu inginkan, tolong maklumi ya.." pinta mama Tiara.
Sandy menghela nafas lalu mengangguk, ia pun bergegas masuk. Allea tampak masih dipeluk oleh papa Raffanda untuk ditenangkan. Melihat Sandy masuk Allea langsung keluar dari pelukan papanya dan memandang Sandy dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
"Itu Sandy datang. Kalian bicara baik-baik ya? Jangan saling menyalahkan.." bisik pak Raffanda sambil merapikan rambut Allea. Dua orang tua mereka pun sengaja menepi memberi ruang untuk mereka berbicara berdua dengan berpamitan pulang.
"Sayang..." perlahan Sandy mendekat setelah mereka hanya tinggal berdua.
Allea tertunduk tangannya meremas selimut di pangkuannya.
__ADS_1
"Kamu boleh marah koq.." bisik Sandy yang sudah duduk ditepi ranjang Allea. Allea tak menjawab.
"Aku tau kamu pasti kecewa kan?" lanjut Sandy, Allea mulai terisak. Lalu Sandy meraih perlahan tangan Allea yang bebas dari infus dan meletakkan di wajahnya.
"Kamu boleh pukul aku, aku akan terima koq...aku memang lalai jagain kamu, sampai harus kehilangan anak kita.." kata Sandy pelan dengan suara bergetar.
Allea makin terisak tangannya pun mulai bergerak, Sandy siap dan rela kalo Allea memukulnya. Sandy memejamkan mata tapi ia menahan nafas ketika dirasa Allea justru menarik kepalanya mendekat dan memeluknya. Sandy menghela nafas, menyambut pelukan istrinya yang masih menangis.
"Aku memang kecewa..tapi aku juga minta maaf..harusnya pas ada filling kemarin aku langsung cek, biar kejadiannya gak kaya gini.. mungkin kamu yang lebih kecewa.." kata Allea lirih lalu terisak dipelukan Sandy.
Sandy diam, ia membiarkan Allea meluapkan isi hatinya.
"Padahal aku tau kamu pengen cepat punya anak, aku malah gak-"
"Udahlah sayang.." potong Sandy menahan getir mendengar Allea ikut menyesali. Didekapnya Allea lebih dalam. "Mungkin memang belum rejeki kita sekaligus mungkin teguran buat kita, biar ke depannya kita lebih siap.." kata Sandy berusaha menenangkan istrinya biarpun matanya juga berkaca-kaca. Allea mengangguk menghapus air matanya meskipun tetap menetes.
"Sekarang kita harus besar hati menerima keadaan, dan gak boleh terus-terusan sedih..ya sayang?" lanjut Sandy, Allea pun mengangguk-angguk.
Sandy melepaskan pelukannya, menghapus air mata Allea di wajahnya yang sembab lalu mengecup keningnya. Kedua tangan Sandy kini menangkupi wajah Allea.
"Kita ikhlaskan yang udah terjadi biarpun semua butuh waktu. Udah ya, sekarang tidur lagi..kamu harus banyak istirahat." nasehat Sandy. Allea pun menuruti.
Ia pun merubah sandaran ranjang Allea lebih tinggi agar nyaman dan menyelimutinya. Setelah Allea berbaring Sandy mengusap lembut wajah Allea lalu beranjak ke sofa untuk mencoba tidur juga. Perlahan ia merebahkan punggung ke sofa, menyatukan kedua tangannya ke belakang kepala. Matanya mencoba memejam tapi tetap tak bisa terlelap. Allea pun sama, ia gelisah dan hanya menoleh ke kanan dan kiri tak bisa tidur. Sandy yang mendengar gerakan Allea pun membuka mata lalu menoleh.
"Kak..." panggil Allea pelan.
"Hemm? Kenapa sayang?"
"Gak bisa tidur.." jawab Allea lalu menepuk tempat di sebelahnya.
Sandy tersenyum tipis lalu bangun dan mendekat ke ranjang Allea. Reflek Allea menggeser tubuhnya memberi tempat tapi kemudian mendesis memegang perutnya yang terasa nyeri.
"Eeh...pelan-pelan sayang, kamu belum boleh asal gerak lho.." kata Sandy ikut mengusap-usap perut Allea.
"Ssh...maaf lupa, reflek tadi" jawab Allea meringis.
"Masih sakit?"
"Sedikit koq. Temani aku tidur disini ya kak?" pinta Allea.
"Iyaa..." jawab Sandy lalu mencium perut Allea. Allea tersenyum tipis.
Sandy pun mengambil posisi disebelah kanan Allea dan mengulurkan tangan kirinya agar Allea bersandar dipelukannya. Entah karena terbiasa tidur berdampingan atau apa, sekejap kemudian mereka sudah sama-sama terlelap dengan saling menggenggam tangan seperti kebiasaan mereka tidur setelah menikah.
❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️
Paginya, Sandy mengerjapkan mata saat mendengar ponselnya berbunyi pelan. Perlahan ia turun dari ranjang agar Allea tak terjaga.
"Mario.." gumamnya melihat layar ponselnya lalu melangkah ke balkon menjawab telpon Mario.
"Hallo...? Gimana..? Ah ngaco lu! Gak mungkin!"
__ADS_1