
Pagi itu semua berkumpul di ruang keluarga setelah sarapan. Papa Raffanda dan mama Tiara serius menagih cerita ke Sandy dan Allea. Kini mereka berdua duduk bersebelahan dan berhadapan dengan kedua orang tua mereka yang telah sabar menanti dari semalam. Sandy pun pasrah dengan kemungkinan amarah atau cacian yang akan ia terima dari mertuanya nanti. Ia pun bercerita apa adanya, lengkap dan tak ada yang ia kurangi atau tutupi. Entah keberanian dari mana yang muncul pada dirinya pagi ini. Ia hanya ingin sedikit mengurai kepenatannya. Sedangkan Allea tak banyak ikut bicara, hanya menyimak dan sesekali menambahkan.
"Jadi gitu mah, pah..." kata Sandy lalu tertunduk. Allea melirik Sandy sekilas lalu ikut menunduk.
Terdengar papa Raffanda menghela nafas. Sandy bersiap mendengar apa pun kemarahan mertuanya nanti. Beberapa detik berlalu tapi tak ada amarah apalagi cacian. Sandy memberanikan diri menatap kedua mertuanya. Tidak ada raut benci dan marah disana, yang Sandy lihat hanya dua orang tua yang saling memandang dengan tatapan sulit ditebak. Mama Tiara menatap Sandy sekilas lalu beralih melihat papa Raffanda.
"Sandy akan terima apa pun hukuman dari papa mama. Asal..jangan pisahkan Sandy dengan Allea.." kata Sandy. "Sandy sangat mencintai Allea, jadi itu semua gak mungkin hasil perbuatanku mah, pah!" lanjutnya.
"Tapi kenyataannya perempuan itu hamil kak, hamil anak kamu! Hasil perbuatan kalian!" sahut Allea mulai bernada emosi.
"Itu bukan anakku sayang. Waktu itu aku pingsan, jadi mana mungkin aku tiduri dia. Kamu jangan asal percaya!" sanggah Sandy.
"Masalah foto kemarin aku masih coba untuk gak percaya, tapi kali ini..?!" sahut Allea memandang Sandy penuh benci.
"Allea! Sandy ini masih suami kamu, jaga sikap kamu kalo bicara..toh ini semua juga belum tentu benar kan?" papa Raffanda memperingatkan Allea.
Allea menghela nafas kesal, ia melipat tangan di dada lalu membuang muka.
"Aku akan cari bukti pah, mah..kalo anak itu memang bukan anakku!"
"Sampai kapan? Nunggu anak itu lahir? Aku capek kak, mendingan kamu nikahi dia sekalian! Tinggalkan aku.."
"Gak akan!" jawab Sandy dingin menoleh ke Allea.
Allea memutar bola matanya lalu beranjak.
"Pah, mah...aku pamit duluan!"
"Lho, sebentar Allea..kita belum selesai ngobrol" kata mama Tiara.
"Aku harus pergi mah. Ada yang penting ini" jawab Allea sambil melihat jam tangannya.
__ADS_1
"Mau kemana? Aku antar ya?" tawar Sandy menahan tangan Allea.
"Gak perlu, aku bisa sendiri!" tolak Allea menepis tangan Sandy.
"Allea!" kali ini Arga yang bersuara. "Hargai suami kamu dong!"
"Bukannya aku gak menghargai, aku kan bawa motor mas. Nanti kalo diantar aku gak bisa pergi cek ke rumah produksi. Kak Sandy kan kerja!" jelas Allea sewot.
Ia merasa sebel karena semua tak ada yg memihak padanya dan malah mendukung suaminya.
"Ya sudah sayang, kamu berangkat aja. Hati-hati.." kata Sandy mengalah agar Allea tak meledak-ledak lagi.
Allea pun berpamitan, cium tangan ke papa mamanya, Arga lalu terakhir Sandy. Saat Sandy akan meraih wajah Allea untuk dicium, lagi-lagi Allea mengangkat sikunya lalu berjalan pergi. Papa mama mereka hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Allea. Sandy tersenyum pahit, dari kemarin Allea sudah menolak di sentuh. Hatinya sakit rasanya tiap kali Allea menghindarinya. Sandy kembali tertunduk memijit pelipisnya.
Selepas Allea menghilang Arga dan papa Raffanda pun juga pamit akan berangkat kerja.
"Papa tunggu kamu menemukan bukti. Semoga semua dimudahkan" kata papa Raffanda menepuk-nepuk pundak Sandy sebelum keluar serasa menyuntikkan semangat untuknya.
"Kamu yang kuat ya! Rumah tangga itu ibarat sekolah yang tak pernah usai, jadi mama minta kamu sabar bimbing Allea.." kata mama Tiara mengusap pundak Sandy.
"Ya mah, biarpun ujian kali ini terasa berat seolah gak ada jalan keluar..."
"Jangan bicara begitu. Kalo kamu memang yakin, berjuanglah! Cari bukti seperti yang kalian mau, sampai dapat! Cepat atau lambat kebenaran pasti terungkap.."
Sandy menoleh menatap wajah mertuanya yang membuatnya sejuk itu.
"Mama yakin kamu bisa, kamu pasti kuat memimpin Allea lewati ini semua!"
"Kenapa mama bisa yakin? Padahal Allea hampir tak mau percaya Sandy lagi.." kata Sandy menerawang sedih.
"Ada cerita yang belum kamu tau.." mama Tiara menjeda kalimatnya, Sandy pun menoleh penasaran.
__ADS_1
"Dulu waktu mama papa baru berencana menikah, kami juga mengalami peristiwa yang hampir mirip seperti kalian ini.."
"Ada juga yang mengaku hamil anak papa begitu mah?" tebak Sandy. Mama Tiara menggeleng.
"Bukan mengaku hamil lagi tapi ada seorang wanita, mantan papa..yang datang membawa anak berusia setahun. Dia mengaku itu anak dari papa, bahkan ia membawa bukti tes DNA-nya"
Sandy menaikkan alisnya kaget. "Lalu mah?"
"Yaa...karena mama saat itu belum begitu matang, jadi ya seperti Allea. Mama marah, benci..bahkan ingin membatalkan pernikahan kita. Tapi, papa minta di berikan kesempatan..."
"Lalu, mama berikan kesempatan buat papa?" tanya Sandy disusul anggukan mama Tiara.
"Papa berhasil meyakinkan mama, papa begitu gigih berusaha mencari bukti hingga akhirnya mendapatkan seorang saksi yang tau bahwa anak itu bukan darah daging papa. Melainkan anak hubungan dengan pria lain yang lari dari tanggungjawab. Dan hasil tes DNA itu juga palsu" pandangan mama Tiara menerawang seolah melempar kembali ingatannya berpuluh tahun silam. Sandy pun ternga-nga.
"Berbekal itulah papa meyakinkan mama dan mama kembali luluh, mama percaya lagi pada papa. Lalu wanita itu akhirnya pergi dengan sendirinya bersama rasa malunya.." lanjut mama Tiara.
Sandy mengangguk-angguk kecil mendengar kisah lama mertuanya. Ia tak menyangka ujian hidup mereka hampir sama. Sandy jadi paham kenapa tadi mertuanya seolah tak kaget mendengar masalahnya. Karena ternyata beliau berdua sudah lebih dulu pernah mengalaminya. Kalo mereka dulu tak saling percaya dan berjuang, pasti tak akan sampai sejauh ini. Bahkan mungkin pernikahan beliau berdua sudah batal. Gak akan ada Allea dan Arga seperti sekarang.
"Sandy gak mengira mama papa punya cerita pahit yang hampir sama begini mah.."
"Semua orang pasti punya cerita pahit masing-masing. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Jadi mama harap kamu dan Allea bisa sama-sama melewati masalah ini dengan baik.."
"Sandy juga pengennya begitu mah, pengen Allea percaya dan kasih kesempatan buat membuktikan kalo semua ini gak benar. Tapi sepertinya Allea-"
"Nanti biar mama bantu kasih pengertian ke Allea ya. Kalo mama sedang berdua dengan Allea mama akan nasehati" sela mama Tiara membuat Sandy kembali semangat ingin membuktikan pada Allea dan semuanya.
"Makasih ya mah" Sandy menghambur memeluk mertuanya. "Makasih, mama selalu ada disaat kita sedang ditimpa ujian"
"Iya...sama-sama. Kamu jangan sungkan dengan mama, butuh cerita atau masukan apa pun mama siap dengarkan" jawab mama Tiara mengusap punggung Sandy.
"Oh ya mah, aku minta tolong..papa Roby jangan sampai tau dulu ya..." kata Sandy melepas pelukannya.
__ADS_1
Mama Tiara mengangguk tersenyum. Sandy pun merasa beruntung memiliki mama mertua sebaik ini, ia merasa menemukan sosok mamanya kembali pada diri mertuanya. Mertua yang mendukungnya saat istrinya sendiri meragukannya. Tapi ia tak akan tinggal diam, ia bertekad akan berjuang pula seperti papa Raffanda. Ia akan meyakinkan Allea dan memperjuangkan pernikahan mereka.