
"Kamu gak mau dirumah dulu aja sayang? Aku lihat kayanya kamu belum fit?" kata Allea sambil memakaikan dasi dileher Sandy.
Di lihatnya pagi itu suaminya tampak masih lesu tapi tetap bersiap akan berangkat kerja. Sandy melingkarkan tangannya di pinggang Allea.
"Aku harus berangkat sayang, Ananta kan masih di rumah sakit. Dan hari ini ada meeting penting yang udah terjadwal dari minggu lalu.."
"Jangan maksain diri ya, kalo gak enak badan pulang cepat aja kaya kemarin. Kan bisa pantau kerjaan dari rumah?"
"Gak bisa sayang, aku harus gerak cepat biar bukti itu sampai ke tangan aku. Mungkin nanti siang aku mampir ke rumah sakit setelah meeting. Semoga Ananta sudah sadar.."
"Iya...semoga gitu" jawab Allea mengalungkan tangannya ke leher suaminya.
"Aku pengen sebelum papa dipindah ke rawat inap biasa, udah ditemukan bukti. Karena Amira terus mendesak aku minta dinikahi, bisa gawat kalo papa sudah sadar. Papa pasti juga desak aku nikahi dia secara siri!" jelas Sandy disusul helaan nafas panjang.
Allea menundukkan kepala Sandy lalu mencium keningnya cukup lama.
"Kamu pasti bisa temukan bukti itu, aku juga gak akan biarkan kamu menikahi Amira.." jawab Allea menatap Sandy lekat.
Sandy balas menatap Allea, mencerna kata-kata istrinya barusan. Pikirannya menjadi muncul berbagai pertanyaaan, mengartikan tatapan Allea. Sandy menyisir pipi Allea dengan satu tangannya.
"Aku lebih baik membawa kamu pergi jauh tanpa orang lain tau dan meninggalkan semuanya! Daripada harus menikahi perempuan itu!" kata Sandy menatap Allea tajam.
Allea pun langsung memeluk Sandy, mengusap punggungnya naik turun. Ia tau Sandy mulai terbawa emosi.
"Sstt...iya aku tau. Semua pasti ada waktunya menemukan jalan keluar, kita jangan lari dari masalah. Aku tau suami aku ini kuat, ya?!" bisik Allea menepuk-nepuk pundak Sandy memberinya keyakinan.
Sandy mengangguk singkat dan tak bicara apapun saat Allea melepas pelukannya. Ia hanya mencium wajah Allea lalu berpamitan berangkat.
Selepas Sandy pergi, Allea segera bersiap melakukan rencananya bersama Nayla. Ia sempatkan membuka sosmed lalu mengintip sosmed Andre. Biasanya Andre akan mengunggah di storie-nya soal kegiatannya hari ini.
"Okey. Ternyata jadi syuting ftv di taman kota, baiklah! Kita mulai dari sana saat jam makan siang!" gumam Allea lalu membuang nafas besar.
Allea memberi tanda 'like' pada storie Andre, sengaja ia lakukan untuk memancingnya. Ia tau pasti nanti Andre akan merespon. Benar saja, setelah kuliah Allea membuka lagi ponselnya dan sudah ada pesan dari Andre. Andre memberitahu Allea lokasi break syutingnya dan ingin Allea menyempatkan waktu melihatnya syuting. Allea pun menyanggupi datang bahkan membawa makan siang untuk mereka berdua.
Sampai dekat lokasi syuting Andre, Allea tak langsung mendekat. Ia masih memantaunya dari jauh, meskipun tak lama kemudian Andre melihatnya dan melambai padanya. Allea tersenyum dan balas melambai, Andre terlihat berbicara sebentar dengan seorang pria disana, sepertinya berpamitan. Setelah itu ia mendekati Allea, mereka pun mengambil tempat agak menepi dari kru. Andre terlihat sangat senang Allea mendatanginya, apalagi membawakan makan siang untuknya.
"Makasih ya Al makanannya" kata Andre setelah mereka selesai makan.
"Hmm...gak papa. Sekalian aku juga pengen liat proses syuting tu kaya apa" Allea tersenyum beralasan.
"Iya, itung-itung kamu refreshing juga kan? Aku tau, pasti kamu juga penat mikirin masalah Sandy.."
__ADS_1
"Ehm...oiya, ngomong-ngomong kamu masih ada syuting lagi habis ini?" tanya Allea mengalihkan topik saat Andre sudah mulai merembet pembicaraan.
"Kebetulan udah selesai. Oh ya, ada yang mau aku tunjukkan ke kamu. Ayo ikut?"
"Apaan sih? Mau kemana?"
"Ada deh. Ayo ikut sebentar ke mobil aku!" jawab Andre langsung menarik tangan Allea.
Allea pun terpaksa mengikuti Andre berjalan menuju parkiran yang tak begitu jauh dan masuk mobil tapi sengaja tak menutup pintu disisinya.
"Aku mau tunjukin sesuatu ke kamu. Coba lihat ini.."
Andre mengambil paperbag berisi map yang di dalamnya terdapat brosur rumah lengkap dengan surat-suratnya.
"Wahh...kamu beli rumah, Dre?" tanya Allea takjub.
"Iya. Tapi gak cash sih, itu dicicil 3 kali. Ini baru aja selesai"
"Kereeen. Nah, ini baru namanya cerdas, hasil kerja ada wujudnya sekaligus investasi juga! Gak sia-sia kamu sering bolos kuliah!" kata Allea tertawa kecil. "Aku ikut seneng, Dre!" Allea menutup map dan menyerahkan lagi pada Andre. Andre pun memasukkan lagi map itu ke paperbag lalu membuka-buka ponselnya.
"Lihat ni Al, foto-foto realnya. Dari depan sampai tiap ruangan.." Allea pun lebih menggeser duduknya mendekat dan melihat foto-foto rumah Andre.
"Kamu suka?"
Allea mengangguk mantap. "Bagus banget! Aku doain pasangan kamu besok juga suka dengan semua yang udah kamu siapkan ini!"
"Ehm...Al, kalo boleh jujur aku sebenarnya membeli rumah ini untuk..kita berdua!"
"Apa??" sontak Allea membulatkan matanya lalu terkekeh. "Andre, Andre...udah dong! Aku ini udah menikah dan aku sangat cinta sama suami aku-"
"Tapi dia udah khianati kamu Allea.." sahut Andre.
"No..aku kenal suami aku dan aku percaya dia!"
"Allea...come on, kamu sadar dong!" Andre membanting punggungnya disandaran kursi sambil memegang kepala dengan kedua tangan.
"Kamu yang sadar!" kali ini Allea yang menyela. "Kita ini udah sama-sama dewasa. Kamu juga gak kurang apapun, kamu goodlooking, punya kerjaan, mapan, kamu bisa pilih wanita model apa aja yang kamu mau, Dre!"
Andre menoleh menatap Allea tajam. "Tapi aku gak menemukan yang seperti kamu!"
"Karena kamu gak mencoba buka hati! Ayolah Dre, memangnya gak ada orang lain yang bisa bikin kamu jatuh cinta?"
__ADS_1
Andre mendekatkan wajahnya ke wajah Allea hingga Allea memundurkan wajahnya.
"Aku gak segampang itu Al, kalo iya mungkin aku udah gonta-ganti cewek! Dan perasaan ini sudah sangat mengakar dihati aku!"
"Ya itu karena kamu terlalu menuruti obsesi kamu! Coba buang jauh-jauh keinginan gila kamu ini, karena sampai kapan pun kita udah gak bisa bersama! Udah saatnya kamu melangkah maju, jangan jalan ditempat terus seperti ini!"
Andre membuang nafas kasar lalu menyangga kepalanya diatas setir.
"Kamu...jangan membuat semua yang udah aku siapkan ini sia-sia, Allea. Aku lakuin ini semua setelah aku tau apa yang Sandy perbuat dibelakang kamu!"
"Aku udah bilang kemarin, kamu gak usah ikut mikirin masalah rumah tangga aku!"
"Kamu masih mau bertahan setelah Sandy berbuat seperti itu?!" tanya Andre memicingkan mata.
"Ini ujian kita, Dre. Dan bukan berarti aku harus minta pisah sebelum semua jelas! Tolong kamu jangan terlalu berharap!" jawab Allea. "Maaf...misal aku dan kak Sandy berpisah pun aku belum tentu akan menerima kamu!" lanjut Allea tegas.
"Alleaa...aku harus apa biar kamu bisa nempatin aku dihati kamu?!" tanya Andre memegang kedua lengan Allea. Allea menepis lalu menggengam kedua tangan Andre.
"Gak ada keharusan apapun dan aku juga gak minta kamu siapin apapun. Cuma satu!"
"Katakan! Apa pun akan aku usahakan!"
"Really?!" Andre mengangguk cepat. "Lupain aku! Mulailah lembaran baru tanpa ada nama aku! Sudah waktunya kamu berpikir secara waras, Dre"
Andre langsung menepis genggaman Allea sambil mendesah kasar.
"Aku yakin kamu bisa, gak harus langsung ada cinta. Kalo kamu nyaman dengan seseorang, pertahankan dia! Seperti aku dan kak Sandy yang saling ingin mempertahankan!" kata Allea panjang.
"Cinta aku untuk kak Sandy gak gampang tergantikan dengan orang lain. Aku pamit pulang ya!" lanjut Allea mengelus singkat pundak Andre lalu keluar menuju motornya.
Andre memandangi Allea menjauh melajukan motornya, lagi-lagi Allea membuat hatinya patah dan teriris. Terlebih kata-kata terakhir Allea sebelum pamit. Lantas apa hasil dari semua yang sudah ia lakukan sejauh ini? Ia sama sekali tak mendapat hasil, biarpun Allea tengah dihantam badai buah dari perbuatannya bersama Amira. Allea seperti benar-benar menutup hatinya dan tak sedikitpun memberinya ruang untuknya. Bagaimana jika nanti Allea tau dibalik semua masalahnya ini ternyata dialah otaknya!
"Aaargghh!!" Andre mengerang frustasi sambil menjambak rambut dengan kedua tangannya. "Allea, kenapa sih? Kenapa..? Aargh!!" Andre kembali menggebrak setir mobilnya.
Lalu Andre membawa mobilnya pergi dari tempat itu dengan terus menghapus air matanya yang tumpah. Kepalanya mulai berdenyut, pikirannya pun penuh dan buntu dengan berbagai gempuran rasa dihatinya. Ada kecewa, kesal, sedih dan penyesalan bahkan takut bercampur menjadi satu. Allea benar-benar berhasil membuat Andre merasa tersingkir dan tak berguna.
Allea memang sengaja mengatakan semua hal tadi untuk menekan pikirannya. Agar Andre down dan merasa gagal dengan semua ide busuknya, yang sebenarnya sudah mulai tercium oleh Allea. Setelah ini Allea pun bisa menebak, Andre akan pergi minum untuk mengusir penatnya. Allea pun sebenarnya tak benar-benar pergi dari tempat itu. Diam-diam ia mengikuti kemana Andre pergi, memastikan tempat mana yang Andre pilih untuk mabuk-mabukan.
"Nay..giliran kamu! Aku sharelok tempatnya ya, hati-hati.." kata Allea setengah berbisik sembari menelpon Nayla.
📱: 'Iyaa, okey...aku meluncur!' jawab Nayla.
__ADS_1