Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
88. Bikinin Pesenan Papa


__ADS_3

Allea, Sandy dan Mario masih dirumah pak Roby hingga malam tiba. Setelah selesai makan malam mereka pun mengobrol santai di ruang tengah. Sedangkan Sherly lanjut ke kamar karena Dio sudah mengantuk. Pak Roby terlihat begitu segar dan sehat biarpun baru saja keluar dari rumah sakit. Mungkin karena ia telah mengetahui kebenaran bahwa Sandy bukanlah ayah biologis dari perempuan bernama Amira itu. Pak Roby tau dari Sherly sehari sebelum ia keluar dari rumah sakit waktu itu. Ia juga sudah tau ternyata Andre lah otak dari semua ini, sama seperti yang lain ia pun tak menyangka. Bahkan mendengar Andre akhirnya menyerahkan diri pun Pak Roby terlihat bahagia seolah lepas semua beban di kepalanya.


"Sekarang kan semua sudah terungkap, papa juga udah sehat. Aku minta ke depannya papa jangan mudah terpengaruh hal apa pun yang belum tentu valid kebenarannya" kata Sandy.


"Iya, papa minta maaf...papa bersalah. Pokoknya masalah ini akan papa jadikan pelajaran berharga. Untuk selanjutnya papa akan lebih mendengarkan anak-anak papa.." jawab pak Roby dengan besar hati mengakui kesalahannya.


Allea dan Mario tersenyum senang mendengarnya.


"Harusnya dari kemarin dong pah, jadi papa gak perlu nginap lama-lama di rumah sakit gara-gara mikirin omongan perempuan itu. Masih banyak  hal penting yang lebih positif dan bermanfaat buat dipikirkan pah!" protes Sandy dengan suara sedikit meninggi membuat pak Roby tertawa setuju.


Allea pun mengelus punggung suaminya dan mengangguk saat Sandy menolehinya, mengingatkan agar Sandy tak terlalu keras memberi masukan ke papanya yang baru saja sehat.


"Ya sudah lah, yang penting sekarang semua sudah terlewati, San. Mungkin kalo gak begini kita juga gak tau kelakuan Andre sebenarnya. Dan ternyata Amira masih ada hubungan keluarga dengan dia" kata Mario menengahi. Allea pun mengiyakan.


"Iya, papa akan lebih berhati-hati


dan papa janji mulai sekarang papa akan fokus pikirkan hal yang penting aja." jawab Pak Roby.


"Nah..gitu dong pah. Jangan lupa juga kesehatan papa, itu hal terpenting diantara yang paling penting" timpal Allea membuat yang lain tertawa.


"Iya..tapi ada lagi yang penting selain kesehatan papa" jawab pak Roby.


"Apa itu pah?" tanya Allea dan Sandy bersamaan.


"Cucu dari kalian buat papa!" jawab pak Roby mantap membuat Allea tersipu. Sandy menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal.


"Iyaa...papa tenang aja, lagi usaha terus ini!" sahut Sandy.


Pak Roby tertawa sementara Allea memukul lengan atas suami tengilnya.


"Jangan cuma usaha yang biasa aja, kencengin lagi dong! Serius ini papa pesen cucu dari kalian" kata pak Roby makin membuat Allea memerah wajahnya.


"Iya pah, doakan secepatnya kita bisa kasih cucu buat papa ya?" jawab Allea.


"Papa mau berapa juga nanti aku bikinin pah, sebut aja" kata Sandy.


Allea buru-buru menyikut lengannya. "Gak mau ah kalo banyak, emang aku kucing apa?"


Para lelaki pun terkekeh mendengarnya.


"Lagaknya aja ini Al mau kasih anak banyak. Paling nanti baru satu dua udah lambaikan tangan pas ikut ngurusin" ledek Mario mencibir.

__ADS_1


"Alah jangan ngremehin gue lu. Gue ni suka sama anak-anak, apalagi nanti kalo punya anak sendiri. Udah pasti gak akan bosen dan lelah ngurusinnua. Kalo perlu ikut ngidam juga mau!" jawab Sandy.


"Bener ya?!" tunjuk Mario.


"Bener!" jawab Sandy mantap.


"Oke, catet ni Al. Besok pokoknya tiap kamu hamil yang ngidam Sandy semua!" celetuk Mario menunjuk Sandy seolah sedang mengutuk sahabatnya.


Allea dan pak Roby tergelak melihat kelakuan dua lelaki di depan mereka.


"Oke, siapa takut" jawab Sandy enteng lalu mencomot cemilan di depannya.


      ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️


Sandy membuka matanya lalu melirik jam dinding dikamar apartemennya. Masih jam 4 pagi, tapi matanya seolah sudah tak mau memejam lagi. Ia rupanya masih kepikiran obrolannya berdua dengan papanya kemarin. Mereka begitu serius membahas soal tindakan yang tepat untuk Amira. Sandy mengatakan kegalauannya pada pak Roby, soal Allea yang keberatan memperkarakannya dan soal penawaran konyol Amira. Tanpa ia duga sang papa lantas memiliki ide untuk menengahinya.


Pak Roby akan balik memberi penawaran pada Amira, yaitu membelikan sebuah rumah di pinggir kota yang tak familiar untuk ia tinggali sementara atau pun selama ia mau. Paling tidak, sampai anak yang ia kandung lahir tanpa harus meminta Sandy mengakui di depan publik. Jika Amira menyetujuinya, Pak Roby juga berjanji tak akan membawa polisi untuk kasusnya. Ia akan memaafkan Amira asal perempuan itu menerima tawarannya.


Tapi Sandy ragu, apa Amira akan bersedia? Bagaimana jika Amira menolak? Padahal Allea juga terlihat keberatan kalo ia memenjarakan Amira. Sandy memijit keningnya lalu melihat Allea yang masih tertidur di sampingnya. Perlahan ia membelai rambut dan wajah cantik istrinya. Ternyata Allea terusik meskipun Sandy menyentuh begitu pelan.


"Kamu koq udah bangun?" tanya Allea masih memejam.


"Aku gak bisa tidur lagi" jawab Sandy sambil membenamkan kepala Allea di dadanya.


"Kenapa? Ada yang kamu pikirin?" Allea mendongak menghadap suaminya.


"Iya, aku kepikiran soal itu.." kata Sandy lalu menceritakan singkat keinginan papanya.


Mata Allea jadi terbuka lebar dan ikut hilang rasa kantuknya. Ia balas memeluk Sandy sambil mengusap lembut punggungnya.


"Kita tunggu dulu aja keputusan dia, siapa tau dia mau, kan?"


"Iya, semoga begitu. Tapi kalo tidak..?"


"Ya nanti coba aku ikut bujuk dia, jangan buru-buru di polisikan ya sayang. Kasihan.." Allea mulai lagi merengek agar Sandy mengampuni Amira.


Sandy menghela nafas lalu mencium pucuk kepala Allea.


"Hati kamu itu terbuat dari apa sih, sayang? Segampang ini kamu bisa maafin dia, padahal suami kamu ini digodain lho, mau direbut paksa, ditelanjangi lagi...biarpun gak semua sih.."


Allea terkekeh pelan. "Aku cuma memposisikan diri jadi dia. Pasti dia begitu karena bingung dan tertekan, hamil tanpa ada yang bertanggungjawab. Sedangkan hatinya masih terobsesi sama kamu.."

__ADS_1


"Halah...itu kan salah dia sendiri" kata Sandy tak sependapat.


Allea tersenyum lalu merengkuh wajah Sandy. "Hei...jangan gitu dong. Aku tau suami aku ini hatinya juga baik.."


"Tapi aku gak sebaik kamu, apa lagi kalo ingat semua masalah ini bikin kehilangan calon anak kita. Maaf sayang, aku masih belum bisa maafin dia begitu aja.." kata Sandy menatap Allea dengan sendu.


Allea balas menatap lekat, ia tak mengira ternyata meskipun Sandy jarang membahas dan tak terlihat begitu sedih tapi justru sekarang Allea melihat kesedihan itu nyata di matanya. Berarti kesan kuat sesaat setelah Allea di curet waktu itu memang hanya demi menguatkan dirinya. Hati Allea jadi tumbuh rasa penyesalan terlebih jika mengingat ia sempat begitu egois dengan mengira dirinya lah yang paling kehilangan. Padahal sesungguhnya justru lelakinya ini yang paling merasa sakit karena kehilangan tapi ia pandai menyimpannya sendiri.


"Kamu tau kan, aku yang paling menginginkan anak dari kamu?" lirih Sandy.


"Iya..aku tau. Tapi dulu kamu yang mengingatkanku juga, kalo semua ini sudah takdir. Mungkin anak itu belum rejeki kita, iya kan?" Allea mengulang kata-kata Sandy dahulu sambil membelai rambut suaminya.


Sandy menghembuskan nafas berat lalu mengecup kening Allea. Ia pun masih ingat tapi entah mengapa setelah tau penyebab Allea keguguran hatinya jadi susah mengikhlaskan.


"Aku pengen hidup tenang, aku gak mau lagi ada ganjalan dihati. Apa lagi hidup dengan menyimpan benci. Kamu juga pasti begitu kan sayang?" lanjut Allea. Sandy mengangguk biarpun belum sepenuhnya setuju.


"Ya sudah, kamu coba dulu bujuk dia. Kalo dia gak mau, nanti aku pikirkan cara lain" kata Sandy.


"Benar ya?!" Sandy mengangguk membuat Allea langsung mengeratkan pelukannya senang.


"Tapi nanti dulu.." Allea jadi mengendorkan pelukannya.


"Kenapa?"


"Kalo aku maafin dia, aku minta kamu lebih fokus!"


"Fokus apa?"


"Fokus bikinin pesenan papa!" jawab Sandy berbisik di telinga Allea.


Allea tersipu lalu memukul dada bidang Sandy.


"Koq jadi kesitu sih topiknya? Kan lagi ngobrolin hal penting juga.." sungut Allea pura-pura cemberut.


"Lho..itu juga penting, prioritas malah! Kan kita utang janji bikinin cucu buat papa?" kata Sandy tersenyum nakal sambil menaikkan alisnya.


"Bukannya tiap hari kamu ngajak bikin?" tanya Allea membuat Sandy terkekeh.


"Ya gak papa dong, pokoknya mau aku gempur terus sampai jadi!"


Allea memutar bola matanya pasrah saat tangan suaminya mulai membuka kancing piyama ditubuhnya. Di susul bibirnya yang mulai ******* bibir Allea penuh gairah. Entah mengapa, akhir-akhir ini ia lebih sulit mengendalikan diri kalo sudah berdua dengan Allea. Di matanya Allea selalu menggoda biarpun memakai baju tertutup sekalipun.

__ADS_1


__ADS_2