
Nayla melajukan motor maticnya dengan kecepatan penuh, air matanya masih terus mengalir. Diusapnya bibirnya berkali-kali agar ia melupakan kejadian di apartemen tadi, tapi nyatanya makin ia menyentuh bibirnya ia malah makin mengingatnya.
"Dasar Bodoh! Bego! Baperan!" Nayla mengumpati dirinya sendiri sambil sesekali mengetuk-ngetuk helm dikepalanya. Bisa-bisanya ia kecurian ciuman pertamanya, oleh Andre lagi, orang yang jelas-jelas tak mencintainya. Kenapa tadi ia mengikuti Andre sampai tempat itu dan menolongnya? Kalo akhirnya malah jadi seperti ini kejadiannya?
'Sadar dong Nayla...sadar! Andre tu gak bisa move on dari Allea, ngapain sih masih diharapin? Lagian orang mabuk koq di dengerin, jelas aja semua yang di katakan bukan dari hatinya!' batin Nayla berkecamuk.
"Aaaaakhh...!!!" teriak Nayla sambil menarik lebih dalam lagi gas motornya.
"Awas aja ya kamu Andre, aku gak akan maafin kamu! Kalo perlu next time aku tambah tamparan buat kamu !" gumam Nayla mengusap air matanya yang kembali tumpah.
🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀
Jam sebelas malam Allea terjaga, ia mengernyit merasai tempat disebelahnya yang dingin.
"Kemana kak Sandy?" gumam Allea.
Ia pun bangun menoleh ke sekitar kamar tapi tak menemukan sosok suaminya. Allea beranjak keluar kamar lalu menghela nafas melihat Sandy masih berkutat dengan laptopnya. Beberapa saat Allea hanya memperhatikan sambil melipat tangan di dada. Terlihat Sandy berkali-kali menguap dan mengusap tengkuknya, Allea geleng-geleng kepala. Sudah pasti suaminya itu sebenarnya lelah tapi masih memaksakan diri. Perlahan Allea berjalan mendekat.
"Kalo udah capek besok lagi, kan masih ada waktu.." kata Allea sambil mengelus punggung suaminya. Sandy sedikit terperanjat tiba-tiba Allea sudah ada di belakangnya.
"Eh...kamu koq bangun, kenapa sayang?"
"Kamu dong yang kenapa belum tidur?"
Sandy menghela nafas seolah mengurai penatnya. "Aku lagi banyak kerjaan ini sayang, pusing"
"Kerjaan kantor?" tanya Allea lalu tanpa diminta ia memijit pundak suaminya.
"Iya...ada dua proyek besar bersamaan. Belum lagi mikirin orderan jersey kemarin, kita belum dapat kain yang sesuai dengan kemauan pemesan. Udah cari ke beberapa tempat juga belum ketemu.." jelas Sandy.
__ADS_1
"Oowh...memang harus sama persis jenis kainnya?"
"Yaa...ga harus, yang penting kualitasnya bagus. Mereka berani bayar mahal berapa pun itu, ughh...enak banget sayang" jawab Sandy sampai mendongak keenakan merasai pijitan Allea di pundak dan lehernya.
"Aku boleh bantu?" tawar Allea.
"Bantu gimana?" Sandy menarik tangan Allea agar duduk di sampingnya.
Allea menyudahi memijit lalu duduk.
"Besok coba aku ikut carikan kainnya yang untuk bahan jersey. Kayanya aku ada beberapa teman yang keluarganya usaha kain gitu, gimana?"
Wajah Sandy yang tadinya kusut menjadi cerah seperti mendapat angin segar.
"Wahh...boleh banget sayang. Coba kamu cari info dulu, besok kabari aku secepatnya ya, biar bisa cepat di proses pengerjaannya!" jawab Sandy bersemangat. Allea pun mengangguk-angguk.
"Ya udah, sekarang tidur yuk. Kamu jangan kurang istirahat dong..nanti sakit gimana?"
"Iyalah, mau apa lagi? Kan udah dapat sedikit solusi jadi penatnya udah agak berkurang dong, udah dipijit juga.." jawab Allea sambil bergelayut manja di lengan Sandy. Mereka pun berjalan berangkulan menuju kamar.
"Gak ada tawaran pijit plus plus nih?" goda Sandy yang langsung mendapat cubitan di perut dari Allea.
❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️
Sandy kembali ke ruang kerjanya dengan wajah lumayan kusut. Meeting siang ini sedikit alot hingga menguras energinya biarpun semua masih terkendali. Ia melihat jam tangannya sembari menjatuhkan tubuh di sofa ruangan miliknya.
Sekarang pikirannya kembali lagi ke buntut dari peristiwa Allea pendarahan. Sama seperti Mario yang tak membuahkan hasil saat ia meminta rekaman CCTV untuk melacak kemana perginya si OB gadungan itu. Jawaban yang ia dapat pun sama, petugas tetap menyampaikan kalo sudah diambil oleh pihak yang bersangkutan dengan nama Sandy. Bahkan sampai ia mengeluarkan bukti identitas pun juga tak ada hasilnya. Untungnya Sandy sempat menanyakan ciri-ciri orang yang sudah mengambil vidio CCTV itu. Hal itu membuatnya bertanya-tanya dan mencurigai seseorang. Tapi ia berniat akan menyimpan sendiri dulu untuk sementara sampai ada bukti lain yang ia dapat.
Ponselnya berdenting tanda ada chat masuk. Mario. Menanyakan perihal kain untuk pesanan jersey yang masih kurang. Kemarin Allea sudah berhasil mendapatkan kain seperti yang customer mereka inginkan. Dan diluar perkiraan malah ada tambahan 100 potong jersey lagi. Entah kenapa usaha sampingan mereka ini justru makin berkembang setelah mereka lulus kuliah dan punya pekerjaan tetap.
__ADS_1
Sandy menepuk keningnya, ia sampai lupa menanyakannya pada Allea. Tiga hari ini mereka sedang tinggal terpisah karena Allea menginap di rumah mama Tiara seperti yang Sandy janjikan berapa hari lalu. Sandy pun menelpon istrinya, satu kali, dua kali, tidak di angkat. Ia menghela nafas kasar.
"Kemana sih, lagi urgent malah menghilang!" gerutu Sandy.
Ia mencoba kembali untuk ketiga kalinya, tapi sama. Tak ada jawaban dari Allea.
"Alleaaaa...awas aja ya, minta dihajar ini nanti malam!" kata Sandy mengeraskan rahangnya sambil memijit pelipis.
Antara sebel pengen marah tapi juga tak bisa karena membayangkan wajah Allea pun rasa marah bisa berubah jadi gairah baginya.
Tak kurang akal, ia pun menelpon ponsel mama Tiara karena ia pikir mungkin Allea sedang di belakang dan tak membawa ponselnya. Dua kali dering langsung terjawab.
📱"Hallo San, gimana?"
"Hallo mah, mmm...Allea ada di dekat mama gak ya? Aku telpon koq gak diangkat?"
📱"Lho, memangnya gak bilang sama kamu kalo mau ke kampus?"
"Apa?! Ke kampus mah?" tanya Sandy tersentak bangun dari sofa.
📱"Iya..udah dari sejam yang lalu berangkatnya naik ojol, katanya ada yang penting harus ketemu langsung sama teman kampusnya, gitu.."
"Enggak mah, belum kasih kabar ni ke aku. Kan harusnya juga belum boleh ke kampus mah, masih aku mintakan cuti biar seratus persen sehat dulu.." Mama Tiara tertawa kecil mendengarnya.
📱"Jangan khawatir, mama lihat Allea sudah sehat koq. Ya udah coba di telpon lagi aja, siapa tau hp di silent jadi gak dengar.."
"Ya mah, makasih.."
Sandy menutup telpon lalu buru-buru menyambar kunci mobilnya. Dengan langkah lebar ia berjalan menuju mobil dan melajukannya menyusul Allea ke kampus.
__ADS_1
'Baru juga seminggu udah main kabur-kaburan aja, bikin khawatir orang! Di suruh istirahat malah ke kampus! Kalo ketemu Andre gimana?' batin Sandy memarahi Allea sampai alisnya hampir bertaut tapi tetap fokus menyetir.
Sejak kejadian Andre mengikuti mereka ke apartemen itu, Sandy jadi selalu memasang alarm siaga satu tiap Allea keluar rumah. Ia gak mau Andre sampai menyentuh Allea lagi. Padahal tanpa ia sadar justru Andre lah akar dari penyebab kehilangan anak mereka...