Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
58. Terpaksa Memaafkan


__ADS_3

"Sayang...aku jangan di hukum kaya gini dong" rayu Sandy saat mereka sudah ada di kamar.


Allea membelakangi Sandy sambil menahan senyum, ia sebenarnya tak serius dengan ucapannya tadi.


"Aku bakal kasih tau tapi kamu janji ya jangan marah?"


Allea masih pura-pura diam tapi sekuat tenaga menahan senyum terlebih melihat wajah memelas suaminya. Allea mengambil majalah lalu dengan sok cuek membacanya di sofa kamar mereka.


"Sayang?" Panggil Sandy mengambil tempat di samping Allea lalu bergelayut manja di pundak istrinya.


"Hmm.."


"Kalo aku cerita soal klien tadi kamu marah gak?"


"Tergantunglah..ceritanya gimana dulu" jawab Allea membolak-balik majalahnya berlagak acuh. Sandy menghela nafas menyiapkan kalimat.


"Tadi klien aku yang baru, yang belum aku kenal sebelumnya ternyata...mmm.." Sandy menjeda kalimatnya ragu.


"Apa?" tanya Allea menoleh dengan tatapan datar.


"Ternyata..dia itu dapat rekomendasi ke perusahaan dari...Amira. Tapi swear, aku beneran gak tau menahu kalo mereka saling kenal. Bahkan aku gak nyangka kalo tadi Amira akan ikut datang di ujung meeting.." jelas Sandy panjang.


"Oowh...cuma itu?" Sandy mengangguk cepat. "Kirain apaan, hmm.." lanjut Allea menutup majalah lalu berdiri.


"Eeh..tunggu!" Sandy menahan tangan Allea hingga Allea terduduk lagi di sofa.


"Apaan lagi?"


"Kamu gak marah?" tanya Sandy heran di luar dugaannya.


"Emang harus?" Allea balik tanya, kali ini ada senyum tipis di bibirnya. Sandy menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal.


"Yaa...aku kira kamu bakal marah kalo tau Amira terkait dengan klien aku?"

__ADS_1


"Yang ada kaitannya sama dia itu klien kamu sayang, bukan kamu kan? Memangnya bakal sering ketemu?"


"Ya belum tentu, pastinya aku mau meminimalisir aja nanti dan akan aku bikin syarat, misal meeting tidak melibatkan orang yang tak berkepentingan dengan pembahasan meeting, gimana?"


Allea mengendikkan bahu. "Baguslah. Aku percaya sama suami aku koq, aku juga akan belajar memahami posisi kamu sekarang. Sebagai dirut kamu pasti mau gak mau akan bertemu banyak orang, termasuk orang yang gak kamu inginkan...iya kan? Yang penting kamu harus bisa jaga hati dan jaga diri" kata Allea panjang.


Sandy tersenyum, hatinya lega terlebih mendengar jawaban Allea yang membuatnya ingin menghabisinya saat itu juga. Sandy mengangguk mantap.


"Aku pasti jaga hati buat kamu, makasih ya sayang.." Sandy menghambur memeluk Allea erat lalu menciumi wajahnya. "Aku memang gak salah menikahi kamu, my queen.." lanjut Sandy masih meraupi wajah Allea dan memeluknya gemas.


Allea pun menahan wajah Sandy saat akan menyatukan bibirnya.


"Iih...gak mau ah, bau alkohol!" tolak Allea membuat Sandy terkekeh.


"Btw, aku gak jadi di hukum kan?"


"Tetep jadilah!" jawab Allea lalu menjulurkan lidah.


"Wuih...berani ya? Kalo gitu aku mau minta paksa sekarang juga! Gak ada ampun pokoknya!"


     ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️


Di kampus, saat selesai kuliah jam pertama. Allea bolak-balik memeriksa ponselnya tapi belum juga ada balasan telpon dari rumah produksi jersey yang ia tunjuk. Sudah dua kali pula ia menelpon tapi tak ada jawaban. Minggu ini semua pesanan sudah harus selesai dan lanjut di cek untuk memastikan tidak ada cacat produksi. Setelah itu lanjut dikemas dan dikirim ke konsumen.


Akhir minggu depan kegiatan hiking kampus akan di laksanakan. Oleh karenanya semua urusan jersey harus sudah selesai, karena Sandy atau pun Mario juga sedang sibuk dengan pekerjaan mereka. Ia pun pasti juga akan sibuk mengurus persiapan hiking jadi tak ada yang bisa dilimpahi selain ia sendiri yang harus handle. Allea mengetuk-ngetukkan ponsel ke dahinya dengan gelisah. Hingga suara chat masuk sampai mengagetkannya. Dari rumah produksi ternyata, Allea lalu menyunggingkan senyum setelah membacanya. Mereka menyampaikan bahwa pengerjaan jersey sudah hampir selesai dan meminta maaf karena tak sempat mengangkat telpon lantaran kekurangan orang hingga semua sangat sibuk. Allea pun memakluminya, yang penting bisa selesai sesuai target, pikirnya.


Dengan langkah riang dan hati lega ia berjalan menuju lift kampus. Allea akan ke basecamp mapala sebentar untuk memastikan lokasi hiking mereka minggu depan.


Tingg..


Pintu lift terbuka, Allea langsung masuk karena lift kebetulan sepi. Hanya ada satu orang mahasiswa tengah berdiri membaca buku. Allea tak terlalu memperhatikannya dan menekan tombol agar pintu tertutup.


"Allea..."

__ADS_1


Allea terjingkat mendengar namanya dipanggil oleh mahasiswa di belakangnya. Suara itu..Allea langsung menoleh.


"Andre.." reflek ia langsung mundur.


"Jangan takut, aku cuma mau.."


"Stop! Jangan dekat-dekat!" teriak Allea panik. Andre mengangkat kedua tangannya.


"Okey..okey, aku cuma ingin minta maaf soal.." Andre perlahan mengulurkan tangan kanannya.


"Mundur! Atau aku teriakin?!" ancam Allea menunjuk Andre.


Andre menghela nafas lalu mengangguk-angguk sembari mundur hingga kini mereka sama-sama bersandar berseberangan. Mata Allea masih mengawasi Andre tajam dengan wajah penuh benci.


"Al...kamu jangan liat aku kaya gitu dong. Aku serius pengen minta maaf ke kamu soal...kelakuan aku yang dulu" Allea masih diam hanya menatap waspada.


"Kamu gak percaya?" tanya Andre.


"Rasa percaya aku udah terkikis sama kelakuan kamu!" jawab Allea dingin.


"Kalo gitu biar kamu percaya, aku gak akan ikut kegiatan hiking besok. Mungkin kamu akan merasa aman kalo gak ada aku.." kata Andre mencoba membujuk Allea agar percaya.


"Dan aku janji, aku gak akan ganggu kamu lagi, kamu mau maafin aku kan?" ulang Andre.


Pintu lift terbuka sebelum tujuan Allea. "Pergi!" kata Allea sambil menunjuk keluar lift.


"Allea, please..."


"Aku maafin, kalo kamu pergi sekarang!" kata Alle menyela agar Andre segera pergi dari hadapannya. Ia pun sebenarnya terpaksa bilang akan memaafkan karena jujur sebenarnya hati Allea masih sakit jika mengingatnya.


"Ya..okey, aku pergi.." Andre pun segera melangkah keluar.


Pintu lift pun tertutup lagi dan Andre masih berdiri disana dengan hati pilu.

__ADS_1


'Allea...kamu tunggu aja saatnya nanti, pasti kamu akan menangis dipelukanku..' batin Andre berbalik lalu melangkah pergi.


__ADS_2