Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
48. Buntu


__ADS_3

"Kenapa gak kepikiran sih?!"


"Apa?!"


Sandy tak menjawab tapi langsung beranjak mengambil laptopnya dan kembali lagi duduk di ranjang. Dengan cepat Sandy menyalakan laptop  lalu jarinya sibuk menari-nari diatas keyboard.


"Mau ngapain?" tanya Allea penasaran.


"Sebentar sayang.." jawab Sandy tetap fokus entah mengakses apa dari laptopnya selama beberapa menit.


Allea yang tak sabar menunggu lalu berdecak beranjak turun dari ranjang.


"Eeh...mau kemana?" cegah Sandy.


"Mau ke kamar mandi dulu, kamu lama sih.. Ditanyain gak mau cerita!" sewot Allea. Sandy menghela nafas membiarkan Allea menuju kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Allea kembali ke samping Sandy dengan segelas minuman coklat hangat di tangannya. Sandy mengendus aroma coklat yang menggoda selera itu.


"Hmm...wangi banget, bagi dong.." pintanya merayu. Allea bergeming dan tetap saja menyeruput coklat hangatnya. "Ngambek nih?" goda Sandy. Bibir Allea meruncing.


"Iyalah! Kamu tu nyari apa? Kepikiran apa? Aku kan pengen tau.." berondong Allea.


"Sini dong, dekat sini kalo mau tau" sahut Sandy.


Allea lebih merapatkan duduknya lalu Sandy menunjuk layar di laptopnya.


"Aku lagi cek CCTV kantor lewat sini, siapa tau aja ada petunjuk" kata Sandy lalu menyeruput minuman coklat yang masih ada di tangan Allea. Allea membulatkan bibirnya mengangguk-angguk.


"Terus gimana, udah dapat petunjuk?"


"Belum sih, selama lembur di ruangan aku gak ada yang aneh sampai kamu datang semua normal" jawab Sandy mengambil alih minuman ditangan Allea dan meneguknya lagi.


"Coba cek tempat lain? Sebelum ke ruangan sendiri kamu pergi ke ruangan lain gak?" Allea pun ikut memutar ulang rekaman CCTV di ruangan Sandy. Sementara Sandy mengernyit mencoba mengingat-ingat.


"Oiya..aku sempat ke pantry tapi cuma sebentar koq. Cuma minta tolong OB buatin kopi aja.."


"Udah cek CCTV pantry?" tanya Allea.


"Buat apa sayang, kan dia cuma bikin kopi. Tadi udah aku liat gak ada yang aneh sih.." jawab Sandy lalu meletakkan gelas di nakas.


"Coba mana, aku pengen liat.." Allea meminta Sandy memutar CCTV pantry. Dengan segera jari Sandy menari di keyboard. Enter.


"Ini.." tunjuk Sandy ke layar.


Allea melihatnya dengan serius, memang tak ada yang aneh OB itu terlihat hanya membuat kopi dan menuang air ke gelas lalu keluar pantry.


"Iya sih gak ada yang aneh"


"Makanya kan.."


"Mmm...kalo selama dia jalan dari pantry ke ruangan kamu gimana? Udah di liat? Soalnya cuma ada satu OB itu kan yang masih belum pulang.."

__ADS_1


Benar juga, batin Sandy.


Ia lalu Sandy beralih mencari CCTV dari arah luar. Matanya mengekor tajam melihat gerakan si OB saat membawa kopi ke ruangannya. Beberapa menit kemudian mereka sama-sama menunjuk ke layar sambil saling berpandangan.


"Itu?!"


"Itu dia ngapain?"


Seru mereka hampir bersamaan dengan mata membulat. Memang sekilas tak terlihat jika mata tak jeli, si OB membawa nampan sambil berjalan lalu ia memasukan sesuatu ke gelas air putih milik Sandy.


"Dia masukin apa ke minum kamu itu?" tanya Allea mengernyit sambil lebih mendekatkan matanya ke layar. Tangannya pun memutar ulang rekaman CCTV itu


"Kurang ajar tu orang! Maksudnya apa dia masukin sesuatu ke minuman aku?!" umpat Sandy menahan emosi.


"Sebentar, sabar dulu sayang.." kata Allea mengusap punggungnya. "Coba kamu ingat dulu, siapa nama OB itu? Kamu kenal gak?"


Sandy menghela nafas kasar lalu mengusap wajahnya menerawang.


"Aku ingat kemarin dia gak pake name tag, ck.." jawabnya berdecak.


"Tapi kan tetap bisa di cari sayang, bukannya di kantor ada daftar semua OB? Kamu ingat mukanya kan?"


"Hmm...coba nanti aku cari. Dia masukin apa ya? Terus buat apa dia ngelakuin itu?!" gumam Sandy mulai yang mengeras rahangnya.


"Kalo dilihat dari efeknya kemarin ya kemungkinan itu obat perangsang menurutku" jawab Allea.


"Ya tapi biar apa coba?"


"Bukan gitu...kamu ni ah, minta di habisi lagi ni kayanya, hemm?" kata Sandy langsung mengunci pinggang Allea dengan kedua tangannya.


"Enggaaak...aku kan cuma jawab, efek obatnya ya kaya kemarin malam itu. Yang pas ada orang maksa datang ke kantor terus endingnya.." Allea mengerling tak meneruskan kata-katanya.


"Iya-iyaa...untung waktu itu kamu bisa datang. Coba kalo OB kemarin terus mengirim wanita ke ruangan aku, gimana? Terus dia ngerayu-rayu aku, terus..."


"Iih..." spontan Allea mencubit keras perut Sandy hingga mengaduh. "Awas ya sampai berani celap-celup sembarangan!" tunjuk Allea sewot kembali meruncing bibirnya. Sandy terkekeh lalu mengecup bibir Allea gemas.


"Gak sayang..emang aku model kaya gitu apa?"


"Ya kan bisa aja, orang lagi kena pengaruh obat!"


"Owh iya ya, berarti kalo lagi kena pengaruh obat gak papa ya? Kan gak sengaja.." goda Sandy menaik turunkan alisnya.


Allea langsung memukul membabi buta kesal dengan jawaban suaminya yang membuatnya keki. Sandy pun tertawa menang berhasil membuat Allea cemburu dan malah makin menguatkan pelukannya.


"Iiihh...awas aja kalo beneran kaya gitu! Rasain nih, uh! Uhh!" Allea menggelitik pinggang Sandy lalu mendorongnya sekuat tenaga.


Brukk! Dugg! Sandy terpental jatuh ke sisi ranjang. Allea memekik kaget menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia tak menyangka akan membuat Sandy terlempar jatuh.


"Awhh...aduuhh, Allea...nakal kamu.." rintih Sandy.


"Eh...sayang, maaf..." buru-buru Allea menyusul turun. Terlihat Sandy memegangi kepalanya dengan posisi terkapar miring. "Aku gak sengaja. Kak...maaf, aku gak maksud kaya gini tadi" Allea menyambar bantal di ranjang untuk menyangga kepala Sandy dipangkuannya.

__ADS_1


"Sakit ya?" Sandy tak menjawab Allea, hanya mengangguk dan mengaduh lirih. Lalu perlahan matanya memejam. Allea panik, di tepuknya pipi Sandy, diguncangnya pula bahunya sambil memanggil-manggil. Allea khawatir saat jatuh tadi kepala Sandy terbentur. Lalu...ahh, ia takut membayangkan.


"Aduh, kak! Sayang, bangun! Bilang dong mana yang sakit? Kak?! Kak Sandy bangun!!" teriak Allea ketakutan.


"Tapi bo'ong!" kata Sandy tiba-tiba membuka mata dan menjulurkan lidahnya lalu dengan cepat ia bangun berlari kabur menjauh dari Allea. Allea terbelalak antara kaget dan sebel.


"Iiihhh....nyebeliiinn!!!" teriak Allea menggema sambil memukuli bantal dipangkuannya.


Dari kamar mandi Sandy tertawa keras, puas menjahili istrinya yang kini pasang wajah ditekuk. Allea sebel tapi ia lega Sandy cuma pura-pura.


      🌺 🌺 🌺 🌺 🌺 🌺 🌺


Dikantor, dengan langkah cepat Sandy masuk kembali ke ruangannya. Di tutupnya pintu dengan keras, ia kecewa dengan laporan HRD yang ternyata tak menemukan nama atau pun kenal dengan wajah OB semalam. Itu artinya OB semalam palsu dan berhasil menyusup ke kantornya dengan memakai seragam yang begitu mirip. Hingga berhasil mengelabui satpam atau pun sisa orang yang ada sebelum lantai 8.


"****!!" Sandy meremas kertas didepannya dengan perasaan gondok lalu melempar masuk ke tempat sampah.


Ia mengulang-ulang kembali rekaman CCTV saat si OB palsu itu memasukkan obat perangsang ke minumannya. Sudah beberapa hari ini ia belum berhasil menemukan jawaban, siapa si OB itu sebenarnya dan siapa yang menyuruhnya? Terlebih alasan kenapa ia memasukan obat itu. Pasti ada lanjutan niat jahat yang orang itu siapkan seandainya waktu itu Allea tak datang.


Tapi kenapa? Apa kesalahannya sampai seolah ia seperti diincar untuk di celakai? Yang pertama racun itu lalu sekarang obat perangsang. Entah apa akan ada apa lagi..


"Hhh..." Sandy menghela nafas frustasi. Ia membanting punggungnya pada sandaran kursi, mendongakkan kepala sambil memejam lalu memijit pangkal hidungnya. Pikirannya buntu saat ini.


"Gini mungkin ya, memimpin perusahaan pasti banyak yang ingin menusuk dari belakang.." gumamnya.


Dalam hati ia berpikir apa mungkin rivalnya yang kalah tender bulan lalu? Atau ada rekan kerja yang tak menyukainya? Padahal belum ada satu tahun ia menggantikan posisi papanya di perusahaan. Sandy menghela nafas lagi lebih dalam.


"Okey...stay strong, waspada dan hadapi!" kata Sandy mensugesti diri.


Lalu terdengar panggilan di ponselnya. Allea. Dengan cepat Sandy menjawab.


"Hallo..?"


📱"Idih...lemes banget bestie!" seloroh Allea menggoda suaminya. Sandy tertawa pelan.


"Kenapa sayang? Udah pulang dari kampus?"


📱"Udah. Aku cuma mau nanya, jadi nemenin belanja gak? Kalo sibuk biar aku berangkat sendiri gak papa.."


Sandy menepuk keningnya, ia baru ingat janjinya akan menemani Allea belanja sampai belum kesampaian.


"Oiya, maaf sayang..aku lupa. Emang kamu mau belanja sama siapa?"


📱"Ya sendiri. Boleh kan?"


"Jangan!" sahut Sandy cepat. "Aku anterin aja, aku gak sibuk koq, tunggu aku pulang ya?"


📱"Asiiik...okey sayang. Hati-hati pulangnya, love you"


"Hmm...love you too"


Mereka pun mengakhiri panggilan dan Sandy segera merapikan meja kerjanya. Ia pikir, daripada pusing terus memikirkan masalah ini, lebih baik ia refreshing menemani Allea belanja sekalian diner di luar nanti.

__ADS_1


__ADS_2