Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
51. Jenuh Di Kurung


__ADS_3

"Mario.." gumamnya melihat layar ponselnya lalu melangkah ke balkon menjawab telpon Mario.


"Hallo...? Gimana..? Ah ngaco lu! Gak mungkin!"


📱"Iya, bener! Tadi bagian office bilang gitu. Setengah jam yang lalu sudah ada yang ambil rekaman CCTV itu atas nama Sandy, yaitu elu!"


"Gue beneran belum kesana, Mario! Ini aja lagi bangun tidur, nyawa juga belum genap" sanggah Sandy.


📱"Tapi gue juga gak bohong, San. Ini gue coba minta juga tapi gak diijinkan karena bukan yang bersangkutan dengan kejadian semalam dan katanya tidak bisa sembarang orang meminta. Yaa...ada benarnya juga sih.." jelas Mario panjang.


Sandy menghela nafas memijit pelipisnya lalu melihat jam tangannya. Masih sepagi ini, belum juga jam 8.


📱"Kalo gak, coba nanti lu datang sendiri deh, siapa tau lu lebih bisa meyakinkan mereka, gimana?"


Sandy berdecak. "Ya udah, nanti gue coba kesana. Tengkyu ya, sorry ngerepotin"


📱"Yoi, santai aja"


Sandy menutup telpon lalu berjalan masuk, dilihatnya Allea masih tidur. Sandy mendudukkan diri di sofa, pikirannya pun mulai kemana-mana. Bisa-bisanya rekaman CCTV itu sudah ada yang mendahului ambil. Tapi siapa? Apa mungkin OB gadungan itu? Masih pagi begini niat banget sih, batin Sandy. Lalu sedetik kemudian ponsel Allea berbunyi hingga mengagetkannya, buru-buru ia menyambar benda pipih milik istrinya itu. Ternyata Rania, Sandy pun beranjak ke balkon lagi.


Rania yang tadinya ingin menanyakan mata kuliah tambahan hari ini jadi malah terkaget-kaget diberitahu musibah yang menimpa Allea semalam. Sampai Rania kelepasan mengomeli Sandy yang baru mengabarinya hari ini. Sandy sampai menjauhkan ponsel dari telinganya mendengar omelan Rania. Ia pun memang tak kepikiran mengabari orang lain selain keluarga. Hingga akhirnya Rania mengakhiri telpon setelah berjanji akan menjenguk selesai kuliah nanti.


Sandy menghela nafas lalu memutar badannya berniat masuk tapi ia terperanjat.


"Kak..." Allea ternyata sudah berdiri didekat ranjang memegang tiang infus.


"Astaga, sayang..kamu gak boleh turun dulu!" setengah berlari Sandy menghampiri.


"Tapi aku pengen pipis.." kata Allea berbisik membuat Sandy nyengir.


"Ya udah ayo.." Sandy lalu memapah tubuh Allea menuju toilet sambil membawakan infusnya, ia pun membantunya sampai selesai termasuk membasuh wajah Allea dan mengeringkannya dengan telaten.


"Jangan turun dulu ya sayang.." kata Sandy membaringkan Allea lagi di ranjang setelah mereka selesai urusan toilet.


"Tapi kenapa? Aku kan udah baikan"


"Kata dokter belum boleh, tunggu dulu sampai nanti dokter cek lagi ya. Emang udah gak sakit perutnya?" Allea menggeleng.


"Kalo gitu sarapan dulu ya, aku suapin.." kata Sandy melihat menu sarapan Allea sudah ada di nakas. Mungkin diantar waktu ia menerima telpon tadi.


"Kamu sarapannya apa?" tanya Allea balik. Mengingat sejak semalam mereka bahkan belum makan. Sandy tersenyum.


"Aku gampang, nanti bisa beli di kantin kalo kamu selesai makan "


Allea mengangguk dan tak menolak saat Sandy memberinya suapan demi suapan menu rumah sakit yang terasa sedikit hambar di mulutnya.


"Udah sayang.." kata Allea saat Sandy akan memberinya suapan lagi.


"Udah kenyang?"


Allea mengangguk, Sandy pun tak memaksa karena sudah setengah porsi lebih Allea menghabiskan sarapannya. Sandy menyodorkan obat setelah Allea minum air.


"Kamu kerja?" tanya Allea setelah selesai menelan obatnya.

__ADS_1


"Gak lah sayang, masa kamu lagi kaya gini aku tinggal. Semalam aku udah ijin lewat sekertaris kalo hari ini aku gak masuk. Aku nanti cuma mau


keluar sebentar aja, kalo mama udah datang" jelas Sandy panjang.


"Mau kemana?"


"Ada perlu sebentar..ketemu Mario, ngobrolin soal orderan jersey" jawab Sandy terpaksa bohong. Karena kalo ia jujur jelas Allea akan melarangnya memperpanjang masalah semalam.


"Bener?" selidik Allea memicingkan mata. Sandy mengulum senyum.


"Iyaa...koq di curigai sih?" protes Sandy pura-pura.


"Ya takutnya kamu mau ke-"


Ceklek!


Pintu terbuka, keduanya reflek menoleh. Ternyata mama Tiara datang bersama Arga.


"Hai sayang..udah makan?" sapa mama Tiara. Allea tersenyum mengangguk. "Sandy belum kan? Ayo sarapan dulu, mama bawain nasi uduk lauk komplit nih.."


"Ya mah, sebentar" jawab Sandy mengangguk.


Arga langsung mendekat menghambur memeluk adiknya. Sandy pun berdiri menepi memberikan waktu untuk kakak iparnya.


"Udah seger aja. Gimana rasanya sekarang? Udah sehat kan?" sapa Arga mengacak-acak rambut Allea.


"Udah mas. Maaf ya, aku gak bisa jagain ponakan kamu, jadinya.." kata Allea mulai melankolis.


"Apa?"


"Bikin lagi yang banyak, gempur!" bisik Arga tapi masih tetap bisa di dengar oleh Sandy yang tengah berdiri disisi ranjang memasukkan satu tangan ke saku. Ia mengulum senyum sambil menggaruk belakang kepalanya tersipu. Sedang Allea langsung menepuk keras pundak Arga sampai meringis. Mama Tiara sampai geleng-geleng kepala melihat kedua anaknya yang memiliki cara sendiri dalam mencurahkan rasa kangen mereka.


"Sandy..jangan dengerin ya, ayo sarapan dulu" ajak mama Tiara.


Sandy pun langsung beranjak ke meja sofa dimana mertuanya menata makanan.


      🌺 🌺 🌺 🌺 🌺 🌺 🌺


"Iiih...jenuh banget deh!" gerutu Allea yang tengah rebahan di sofa. Ia menggesekkan kedua kakinya di sofa seperti anak kecil yang tengah ngambek. Sandy yang baru pulang kerja dan beberapa menit sampai apartemen pun jadi mengulum senyum pura-pura tak mendengar. Ia hanya melirik Allea sekilas lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Allea merasa bosan karena sepulang dari rumah sakit Sandy belum memberinya ijin untuk ke kampus atau kemana pun sendirian. Tentu saja dengan alasan Allea belum pulih sepenuhnya. Aktivitas sehari-hari saja sangat dibatasi oleh Sandy karena tak mau Allea terlalu kelelahan.


"Sayang..." rengek Allea begitu melihat suaminya keluar dari kamar mandi. Sandy sudah terlihat fresh dan santai dengan baju rumah.


"Hmm..." jawab Sandy sambil melangkah menuju kulkas.


"Aku bosen di rumah terus, kalo siang kamu kerja, aku gak ada temen..bingung mau ngapain. Kapan aku boleh keluar rumah?" kata Allea merajuk.


"Sabar sayang, sebulan lagi ya.."


"Hahh? Sebulan?!" Allea kaget sampai mendudukkan diri.


"Iya.." jawab Sandy menahan tawa. "Gak masalah kan, kegiatan mendakinya juga kebetulan di undur karena cuaca kurang mendukung, jadi gak papa dong" lanjut Sandy.

__ADS_1


Allea meruncingkan bibirnya, memang suatu kebetulan dan keberuntungan. Allea gak harus absen meninggalkan kegiatan kegemarannya itu karena ia masih harus istirahat. Hiking yang akan datang terpaksa di undur menurut info dari dua sahabatnya yang menjenguknya saat masih di rumah sakit kemarin.


Sandy mendekat ke sofa dan duduk di sebelah Allea sambil membawa sepiring kecil cake dari kulkas.


"Kue dari siapa ini di kulkas? Enak nih..." kata Sandy mengalihkan topik.


"Enak ya?" ulang Allea, Sandy mengangguk. "Bener?"


"Iya, ini aja mau nambah lagi" jawab Sandy nyengir.


"Syukur deh kalo enak, paling gak ada yang suka sama buatan tanganku sendiri. Biarpun hasil dari kegabutan dan kesepian karena dikurung suami!" ujar Allea membuat Sandy terbahak.


"Ini kamu yang bikin sayang?" Allea mengangguk. "Koq bisa, dulu kenapa aku gak pernah dibuatin kue?" protes Sandy.


Allea ganti tertawa. "Itu juga karena iseng tadi lihat resep di youtube gampang kayanya, bahan juga ada...ya udah"


"Wahh...gabut aja bisa bikin kue enak kaya gini, kalo gitu aku tambah cutinya jadi 2 bulan!"


"Hahh...gak mauuuuu!!" teriak Allea menggema hingga Sandy mengernyit menahan tawa sambil menghabiskan cake suapan terakhirnya.


"Kak!! Aku gak mau cuti 2 bulan!! Gak mau!!" rengek Allea mengekori Sandy menuju kulkas.


"Gak mau 2 bulan? Ya udah 3 bulan ya..?" goda Sandy. Allea memukul lengan Sandy gemas.


Sandy mengambil cake lagi dan meletakkan di meja makan lalu melingkarkan tangannya di pinggang ramping Allea.


"Aku dianter ke rumah mama aja kalo disuruh 2 bulan cuti" sungut Allea. "Sebulan aja udah tersiksa!" lanjut Allea tertunduk.


"Hahaha...gak sayang, bercanda!" jawab Sandy geleng-geleng kepala melihat Allea menanggapinya serius.


"Terus berapa lama dong?" kejar Allea.


"Dua minggu?" Allea menggeleng manja. " Ya udah sepuluh hari deh"


"Kenapa gak seminggu aja sih?" tawar Allea.


"Nawar, malah aku balikin jadi sebulan lho!" ancam Sandy mencubit dagu Allea. Allea meruncingkan bibirnya membuat Sandy gemas lalu mengecupnya.


"Istriku kalo ngambek malah cantik..." bisik Sandy, Allea merengek manja lalu mereka menautkan bibirnya lagi.


"Besok aku antar ke rumah mama ya..." bisik Sandy disela mereka mengambil nafas.


"Bener boleh?" tanya Allea.


"Hmm...tapi jangan lama-lama ya, nanti aku kangen..." bisik Sandy dengan nafas sudah memburu. Allea pun tersenyum mengangguk lalu menyambut bibir Sandy yang sudah membungkamnya lagi. Sedang asik mereka berpagut lalu ponsel Sandy berdering mengagetkan mereka. Sandy membuang nafas kasar.


"Sialan Mario!" umpatnya. Allea terkikik geli melihat wajah lucu suaminya yang seketika berubah mood.


"Hallo? Apa?! 500 pcs jersey?! Astagaaa....arghh!!"


Tiba-tiba Sandy jadi uring-uringan, antara kaget, senang tapi juga bingung mendengar ada orderan mendadak yang jumlahnya lumayan. Mario terkikik di seberang sana, tak kalah frustasi.


"Sebentar, gue ambil nafas dulu biar bisa mikir! Jangan telpon-telpon lagi, nanti gue aja yang telpon lu!" jawab Sandy lalu mematikan telpon sepihak tak peduli disana Mario mengumpatinya.

__ADS_1


__ADS_2